"Mas, ini siapa?" matanya sudah mulai berembun dengan menahan sesak di dada
"Hanya teman" jawab suaminya singkat.
"Apakah seorang teman pantas berkata mesra!" Suara Bela mulai bergetar.
"Ah bawel! mengapa ponselku kau buka hah!" Wanita itu malah mendapat hardikan dari suami yang selama ini ia banggakan.
"Aku sudah bilang dia hanya teman" tambahnya lagi.
"Jika benar dia hanya teman, mengapa ada video ini!" Hancur sudah hati Bela mengetahui bahwa suaminya berhubungan dengan wanita lain bahkan sepertinya bukan hanya sekali.
"Yaudah lah, wajarkan aku mencari yang lebih seksi, lihat dirimu yang tak terawat, beratmu semakin bertambah, siapa yang bernafsu, bahkan kau telanjang pun pusaka ku tak bereaksi" Suaminya malah berkata demikian kemudian berlalu keluar kamar.
Dulu saja ia puja puji wanita yang sekarang menjadi istrinya. Tapi setelah 2 Tahun menikah ia sudah mencari wanita lain hanya karena berat badan yang terus meningkat. Apakah Bela akan menyerah atau justru bangkit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak tahu malu
"Apa kau yakin sayang?" tanya papanya.
"Iya pa, bagaimana pun mas Bani adalah ayahnya, Bela tidak mungkin menyimpan berita ini tanpa memberitahu mas Bani dan keluarganya" Bela sudah mulai sadar dan menerima kenyataan.
Setelah berhari-hari kehilangan semangat hidup akhirnya ia kembali pada kondisi normal walau rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran anaknya Dio.
"Baiklah jika itu maumu, ingat apapun yang terjadi selalu beritahu papa dan kakak-kakakmu, kami selalu ada untukmu Bela" ucap papanya seraya memeluk anak perempuannya itu.
Kedua kakaknya terharu melihat suasana yang begitu hangat. Papanya tak pernah pilih kasih menyayangi mereka sejak kecil. Bahkan mereka berduapun tak masalah jika papanya lebih mengistimewakan Bela dibanding mereka berdua.
"Bela akan pulang pa, Bela akan menyelesaikannya sendiri masalah rumah tangga ini" Ucapnya lagi.
"Jika terjadi sesuatu cepatlah beritahu kami" kata Baim mengingatkan. Bela pun mengangguk tanda mengerti.
Kemudian Bela diantar oleh Baim kerumahnya. Ketika sampai di kediamannya, ia melihat mobil suaminya terparkir di halaman rumah mereka. Bela tersenyum mendapati mobil suaminya tandanya Bani sedang dirumah.
"kakak akan pulang, ingat hubungi kakak jika terjadi sesuatu" setelah mengatakan itu Baimpun berlalu pergi.
Bela membuka pintu rumah yang tak dikunci. Ia melihat keadaan rumah yang berantakan. Seperti sedang terjadi sebuah adegan dewasa terlihat dari pakaian yang bercecer di sofa ruang tamu. Bela lalu melangkah menuju kamarnya dan disana ia tak mendapati suaminya. Kini ia beralih ke kamar mendiang anaknya namun sama tidak ada orang.
"Kemana mas Bani" tanyanya sendiri sambil terus melangkah menuju ke segala arah.
Setelah puas menggeledah lantai kedua rumahnya, kini ia turun berencana mencari keberadaan suaminya ke arah dapur.
"Di dapur tidak ada juga berarti tinggal 1 ruangan, kamar tamu" ucapnya sambil melajukan langkahnya ke arah yang belum ia hampiri.
Ketika ia ingin membuka pintu kamar tamu terdengar samar-samar suara desahan dari dalam kamar mandi lantai bawah. Ketika ia mendekat ternyata pintu kamar mandi itu tidak tertutup dengan rapat sehingga dengan mudan Bela membuka pintu itu dan..
"mas!!!" teriak Bela.
Matanya melotot ketika melihat adegan yang tidak senonoh itu di hadapannya. Ingin rasanya ia menangis namun dengan sekuat tenaga ia harus menahannya. Ia tak mau terlihat lemah seperti sebelumnya. kejadian itu juga bukan hal yang mengejutkan karena Bela sudah melihat adegan serupa di dalam video mereka berdua di ponsel suaminya.
Mereka berdua mematung dengan posisi seperti kuda yang sedang kawin. Bukannya berhenti Bani malah melanjutkan aksinya dengan gerakan lebih cepat sehingga keduanya mendesah tak karuan. Bela yang berada di situasi itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sungguh manusia tidak tahu malu, hatinya berkata. Kemudian Bela kembali menuju ruang tamu. Ia berharap Bani segera menyusulnya.
......................
"Papa khawatir pada Bela, apa sebaiknya kita susul kesana" kata Ilham bertanya pada Baim dan Bima.
"Jangan pa, kita percayakan pada Bela. Sepertinya ia sudah kembali bangkit. Namun jika terjadi sesuatu pada Bela, aku pastikan hidup lelaki itu tidak akan tenang" Jawab Baim dengan nada datar.
Ia percaya bahwa adik perempuannya itu sudah tersadarkan eh kebucinannya selama ini.
"Baiklah, kita tunggu saja kabarnya, semoga anakku baik-baik saja" balas Ilham yang sangat khawatir akan anak perempuan satu-satunya itu.
......................
"Sudah puas mas?" tanya Bela ketika ia menyadari bahwa Bani sudah menyusulnya keruang tamu namun hanya dengan memakai kolor.
"Ck, dia istrimu sayang?, pantas saja kamu tak ingin menyentuhnya" Fera bersuara dan seperti tak berdosa mengatakan hal seperti itu pada pemilik pakaian dan perhiadan yag ia gunakan.
Bani mengambil baju dan celananya yang berserakan di sofa lalu memakainya. Sedang wanita di hadapan Bela dengan melipat kedua tangannya sudah mengenakan baju minim milik Bela sewaktu masih langsing.
"Kemana saja kamu, dimana anakku?" Bani berkata seolah tak terjadi apa-apa disana.
Bela sangat menyayangkan mengapa ia dulu begitu mencintai lelaki bajingan ini.
"Aku ingin bicara hanya denganmu, tak perku ada orang asing yang ikut campur" sambil menatap ke arah Fera Bela menarik lengan suaminya menaiki anak tangga dan menuju kamar mereka.
"Ck, dasar gendut" sungut Fera. Namun Bela tak memperdulikannya.
bagusnya di kasih hukuman sm suaminya biar sadar