NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Leonard." panggil Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi keseriusan, sementara tatapannya masih tertuju ke luar jendela.

"Ya, Tuan." jawab Leonard sigap. Wajahnya dipenuhi rasa hormat, sementara tubuhnya kembali berdiri tegak di depan meja kerja.

"Tadi kau hanya menjelaskan tentang kehidupan Rani setelah dewasa." ucap Adrian pelan. Alisnya sedikit berkerut. "Bagaimana dengan asal usulnya? Bukankah aku juga memintamu menyelidiki masa kecilnya?"

Leonard mengangguk pelan.

"Benar, Tuan." balas Leonard serius. Wajahnya dipenuhi kehati-hatian. "Itulah yang sebenarnya ingin saya sampaikan berikutnya."

Nathan yang masih berada di dalam ruangan ikut menoleh.

"Ada hasilnya?" tanya Nathan penasaran. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.

"Sedikit." jawab Leonard singkat. Rahangnya mengeras. "Tapi belum bisa dipastikan."

Adrian segera berbalik menghadap Leonard.

"Jelaskan semuanya." ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegasan.

Leonard membuka map lain yang sejak tadi belum disentuh.

"Kami menelusuri data kependudukan Bu Rani hingga lebih dari dua puluh tahun ke belakang." jelas Leonard. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.

"Lalu?" tanya Adrian. Nada suaranya terdengar lebih rendah.

"Nama Rani Saputri memang tercatat secara resmi." jawab Leonard. "Tetapi ada kejanggalan."

"Kejanggalan apa?" tanya Nathan cepat. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.

Leonard mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dokumen.

"Data kepindahannya." jawab Leonard. "Saat Bu Rani masih berusia sekitar delapan tahun, keluarganya berpindah dari sebuah desa kecil ke kota lain."

Adrian langsung terdiam.

"Desa kecil?" ulang Adrian pelan. Wajahnya mulai berubah serius.

Leonard mengangguk.

"Nama desanya..." ucap Leonard sambil melihat berkas. "Desa Sukamaju."

Mata Adrian sedikit membesar.

"Desa Sukamaju?" gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Nathan memandang Adrian bergantian dengan Leonard.

"Tuan mengenal desa itu?" tanya Nathan heran. Alisnya terangkat.

Adrian tidak langsung menjawab.

"Itu kampung tempat aku dibesarkan." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi berbagai

kenangan yang mulai bermunculan. Ruangan mendadak sunyi. Leonard kembali membuka lembar berikutnya.

"Bukan hanya itu, Tuan." lanjut Leonard. "Menurut beberapa warga lama yang masih tinggal di sana, memang pernah ada seorang anak perempuan bernama Rani."

Tatapan Adrian langsung tertuju pada Leonard.

"Seorang anak perempuan?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi harapan.

"Iya." jawab Leonard mantap. "Namun ingatan mereka sudah tidak terlalu jelas karena kejadiannya sudah sangat lama."

Adrian mengepalkan tangannya perlahan.

"Apa mereka mengatakan sesuatu tentang

anak itu?" tanyanya.

Leonard mengangguk pelan.

"Salah satu warga tua mengatakan bahwa Rani sering bermain bersama seorang anak laki-laki dari keluarga miskin yang kerap menjadi sasaran perundungan anak-anak lain." jelas Leonard. Wajahnya dipenuhi kesungguhan, sementara matanya tertuju pada Adrian.

Jantung Adrian berdegup lebih cepat. Wajahnya dipenuhi keterkejutan, sementara berbagai kenangan masa kecil perlahan kembali memenuhi pikirannya.

"Anak laki-laki itu..." gumam Adrian lirih.

Nathan menatap Adrian.

"Apakah itu Tuan?" tanyanya hati-hati. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.

Adrian menggeleng pelan.

"Aku belum yakin." jawab Adrian tenang. "Dulu banyak anak yang bermain bersama."

Leonard kembali melanjutkan.

"Warga itu juga mengatakan sesuatu yang cukup menarik." ucap Leonard.

"Katakan." balas Adrian tegas. "Anak perempuan itu pernah menyelamatkan temannya saat mereka hampir hanyut di sungai." jelas Leonard.

Adrian membeku. Beberapa detik lamanya ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Nathan memperhatikan perubahan ekspresi atasannya.

"Tuan?" panggil Nathan pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan.

Adrian mengembuskan napas perlahan.

"Aku... masih mengingat kejadian itu." ucap Adrian lirih. Sorot matanya mulai menerawang jauh.

Leonard dan Nathan saling berpandangan.

"Waktu itu aku terpeleset di tepi sungai setelah hujan deras." lanjut Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kenangan lama. "Seorang anak perempuan menarik tanganku sebelum aku terseret arus."

Nathan membelalakkan mata.

"Jadi..." gumam Nathan.

"Aku tidak pernah melihatnya lagi setelah keluargaku pindah ke kota." ucap Adrian. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran yang semakin besar.

Leonard kembali membuka satu amplop kecil.

"Tuan..." panggil Leonard hati-hati. "Kami juga menemukan sesuatu."

"Apa itu?" tanya Adrian.

Leonard mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah mulai pudar.

"Foto ini kami peroleh dari salah satu warga desa." jelas Leonard. Wajahnya dipenuhi keseriusan.

Adrian segera menerima foto itu.

Di dalam foto terlihat beberapa anak kecil sedang berdiri di depan sebuah pohon mangga besar. Wajah mereka buram karena usia foto yang sudah sangat tua.

Namun salah satu anak perempuan terlihat mengenakan pita rambut berwarna putih.

Adrian menatap foto itu tanpa berkedip.

"Pita putih..." gumamnya lirih.

Nathan ikut mendekat.

"Tuan mengenal pita itu?" tanyanya penasaran.

Adrian mengangguk perlahan.

"Aku ingat..." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi nostalgia. "Setiap hari anak perempuan itu selalu memakai pita putih yang sama."

Leonard tersenyum tipis.

"Itulah sebabnya kami mulai menduga Bu Rani mungkin adalah anak perempuan tersebut." jelas Leonard.

Nathan langsung berkata, "Kalau begitu kemungkinan besar Bu Rani memang teman masa kecil Tuan." Wajahnya dipenuhi antusias.

Namun Leonard segera menggeleng.

"Belum bisa disimpulkan." ucap Leonard tegas. Wajahnya dipenuhi kehati-hatian. "Foto ini terlalu buram, dan tidak ada bukti yang benar-benar memastikan bahwa anak perempuan itu adalah Bu Rani."

Adrian mengangguk pelan.

"Kau benar." balas Adrian tenang. Wajahnya kembali serius. "Aku tidak ingin mengambil kesimpulan hanya karena sebuah kebetulan."

Leonard kembali membuka catatan terakhir.

"Masih ada satu petunjuk lagi." ucap Leonard.

"Apa lagi?" tanya Adrian.

"Menurut warga desa, sebelum keluarganya pindah, Rani pernah kehilangan sebuah kalung kecil berbentuk bulan sabit." jelas Leonard.

Mata Adrian langsung membesar.

"Kalung bulan sabit?" ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

"Iya, Tuan." jawab Leonard.

Adrian perlahan membuka laci meja kerjanya.

Nathan dan Leonard memperhatikan dengan heran.

Dari dalam laci, Adrian mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang tampak sudah sangat tua.

Ia membukanya dengan hati-hati.

Di dalamnya terbaring sebuah kalung mungil berbentuk bulan sabit yang masih tersimpan rapi meski dimakan usia.

Nathan menahan napas.

"Tuan... jangan-jangan..." ucap Nathan terbata-bata. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Adrian menggenggam kalung itu erat.

"Kalung ini..." ucap Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi kenangan. "Dulu ditemukan di tepi sungai, tepat setelah aku berpisah dengan teman masa kecilku."

Ruangan kembali dipenuhi keheningan.

Leonard menatap kalung itu dengan saksama.

"Kalau begitu..." ucap Leonard pelan. Wajahnya dipenuhi harapan. "Mungkin ini bukan sekadar kebetulan."

Adrian menggeleng pelan.

"Mungkin." jawab Adrian tenang. "Tapi aku ingin bukti yang tidak bisa dibantah."

"Lalu apa perintah Tuan?" tanya Leonard.

Adrian menutup kembali kotak kayu itu dengan hati-hati.

"Kembali ke Desa Sukamaju." ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi tekad. "Temui semua warga tua yang masih hidup. Cari guru sekolah, kepala dusun lama, bidan desa, atau siapa pun yang masih mengingat Rani."

"Siap, Tuan." jawab Leonard mantap. Wajahnya dipenuhi semangat.

Nathan ikut mengangguk.

"Saya akan membantu penyelidikannya." ucap Nathan serius. Wajahnya dipenuhi keyakinan.

Adrian kembali memandang foto lama di tangannya.

Di dalam hatinya, harapan yang selama bertahun-tahun terkubur perlahan mulai hidup kembali. Namun hingga saat ini, semuanya masih sebatas petunjuk.

Belum ada satu bukti pun yang benar-benar memastikan bahwa Rani Saputri, wanita yang kini tinggal di rumahnya, adalah gadis kecil yang pernah menyelamatkan hidupnya bertahun-tahun yang lalu.

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!