Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggur di Balik Semak
Di balik semak-semak lebat di pinggiran kota Ragonves, dua sosok duduk bersembunyi dengan hati-hati. Daun-daun rimbun menutupi mereka dari pandangan siapa pun yang lewat, sementara sinar matahari sore menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola cahaya yang menari di tanah.
Vega Arcsein dan Barteil Aerhas duduk bersandar pada batang pohon tua, botol anggur di tangan mereka sebagai perayaan kecil atas keberhasilan rencana mereka. Wajah Vega berseri-seri karena kepuasan, sementara Barteil masih setengah tidak percaya dengan apa yang telah mereka capai.
"Hahaha!" tawa Vega menggema pelan, ia memegangi kepalanya sambil tetap tertawa. "Wanita itu pasti ribut dengan suaminya sekarang! Bayangkan, Belinda Helrena, istri pemimpin keluarga Sienta yang terkenal dingin, kini berdebat dengan Kenta karena pengaruhku!"
Barteil menggeleng-gelengkan kepala, tetapi senyumnya lebar. "Tak hanya mencuci otaknya, Vega. Kau juga membuatnya seperti boneka. Keluarga Sienta benar-benar dibodohi olehmu. Aku tidak percaya kita bisa sejauh ini."
Vega menyesap anggurnya, menikmati rasa manis yang menyebar di lidahnya. "Ini baru permulaan, Barteil. Tunggu sampai rencana berikutnya berjalan. Keluarga Sienta akan hancur dari dalam sebelum mereka menyadarinya."
Namun, tiba-tiba senyum Vega sedikit memudar. Ia menepuk dahinya dengan kesadaran.
"Tapi aku masih ragu," ucapnya, suaranya menjadi lebih serius. "Nyonya Belinda pasti tidak akan melepaskanku jika rencanaku berhasil. Wanita seperti dia—setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia akan berusaha mengikatku."
Barteil mengangkat alisnya. "Seperti Ratu Elerana?"
Vega mengangguk lesu. "Ya. Sama seperti Ratu Elerana. Belinda mungkin akan terus mencariku jika apa yang diinginkannya tercapai. Dia tidak akan membiarkanku pergi begitu saja."
Ia menatap botol anggur di tangannya, pikirannya melayang.
"Aku harus pergi dari negeri ini setelah semuanya selesai," pikirnya. "Aku tidak ingin ditawan oleh Belinda—atau wanita lain mana pun yang terobsesi padaku."
Barteil terkekeh, menepuk pundak Vega dengan kasar. "Itu risiko yang kau ambil, kawan. Lagipula, aku yakin Nyonya Belinda akan mengurungmu dan bergantian mengendalikanmu. Kau yang suka memanfaatkan wanita, mungkin kau juga akan dimanfaatkan oleh yang kau manfaatkan."
Vega memutar matanya. "Kau tidak membantu, Barteil."
"Tapi aku benar, kan?"
Vega hanya mendengus, tidak bisa membantah. Ia menyandarkan kepalanya ke batang pohon, menatap langit yang mulai jingga.
"Sial," gumamnya. "Aku harus mempersiapkan semua persiapan sebelum aku pergi dari negeri ini. Dokumen, uang, kuda, dan rute pelarian. Aku tidak bisa terjebak di sini."
Barteil mengangkat bahunya. "Sudahlah, Vega. Itu masih lama. Saat ini, kita fokus saja pada rencana kita menghancurkan keluarga Sienta demi Tuan Muda Grey. Kau bisa memikirkan pelarianmu nanti."
Vega tidak menyahut. Matanya masih tertuju pada langit, pikirannya bekerja cepat.
"Aku harus mencari cara lain agar kemungkinan itu tidak terjadi," pikirnya, tersenyum kecut. "Mungkin aku bisa membuat Belinda berpikir bahwa aku telah mati. Atau mungkin aku bisa melarikan diri ke kerajaan tetangga."
Ia menggenggam botol anggurnya lebih erat.
"Apapun caranya, aku tidak akan membiarkan diriku terperangkap oleh wanita mana pun. Aku sudah cukup banyak berurusan dengan ratu dan bangsawan yang terobsesi."
Barteil yang melihat Vega diam bertanya, "Kau merencanakan sesuatu, ya?"
Vega menoleh, senyum misterius di bibirnya. "Selalu, Barteil. Selalu."
Ia mengangkat botol anggurnya sebagai isyarat.
"Untuk rencana kita. Untuk kehancuran keluarga Sienta. Dan untuk kebebasanku dari wanita-wanita gila yang terus mengejarku."
Barteil tertawa, mengangkat botolnya juga. "Untuk semua itu!"
Mereka berdua menyesap anggur mereka dalam diam, menikmati momen kemenangan kecil di balik semak-semak.
Namun, di kejauhan, bayangan Garius Vincentes mengamati mereka dari balik pepohonan. Mata-mata Grey itu mencatat setiap kata yang diucapkan Vega.
"Tuan Grey akan senang mendengar ini," pikir Garius. "Vega berencana melarikan diri setelah rencananya berhasil."
Dengan gerakan tak terdengar, ia menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan Vega dan Barteil yang masih tertawa di balik semak-semak.