"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 1, Anak Yang Dilahirkan Untuk Menjadi Raja
Fajar baru saja mengusap langit Jakarta Utara dengan semburat keemasan ketika bus Transjakarta yang ditumpangi Anna dan Jeevan berhenti di sebuah halte. Jarum jam menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Jalan ibu kota telah terbangun lebih dulu daripada matahari; deru kendaraan mengalun seperti orkestra yang tak pernah mengenal jeda. Gedung-gedung bertingkat memantulkan cahaya pagi, sementara aroma roti disudut jalan bercampur dengan embusan angin yang membawa samar bau laut.
Anna melangkah turun terlebih dahulu, jemarinya menggenggam sebuah buket bunga berisi mawar putih, lili, dan eucalyptus yang dibungkus kertas krem sederhana. Hadiah itu dipilihnya semalam dengan hati-hati sebagai ucapan selamat kepada adik iparnya yang baru saja lulus kedokteran dengan predikat cumlaude. Satu-satunya dokter di keluarga besar itu, kebanggaan semua orang.
Gaun hijau emerald yang dikenakannya jatuh anggun hingga betis. Potongannya sederhana tanpa hiasan berlebihan. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, hanya sebagian besar dipilin ke belakang menggunakan jedai bergaya Korea yang membuat wajahnya tampak lembut. Penampilannya tidak mencolok, tetapi menyimpan keelokan yang tenang, layaknya daun muda setelah di guyur hujan.
"Ayo," ujar Jeevan singkat.
Anna mengangguk sembari menyesuaikan langkah suaminya.
Rumah keluarga Jeevan berdiri dikawasan perumahan yang padat, dikelilingi pagar putih dengan halaman mungil penuh tanaman hias. Dari luar saja sudah terdengar suara riuh suara tawa para tamu.
Belum sempat memencet bel di dinding benteng rumah, pintu pagar besi tinggi itu terbuka.
"Jeevan! Anna!" seru salah seorang kakak sepupunya Jeevan.
Suasana mendadak hangat. Saudara-saudara berdatangan menyambut. Adik Jeevan yang hari itu menjadi pusat perhatian tampak mengenakan kemeja putih rapi. Senyumnya lebar menerima ucapan selamat dari setiap tamu.
"Selamat ya, Dokter!" Anna menyerahkan buket bunga itu.
"Wah, Kak Anna...cantik sekali bunganya. Terima kasih." Katanya seraya memandang buket bunga itu.
"Semoga ilmunya membawa manfaat." Ucap Anna lagi seraya tersenyum.
Ucapan itu tulus, lahir dari hati yang ikut berbahagia.
Tak lama kemudian acara syukuran dimulai. Doa dipanjatkan. Aroma nasi kebuli, sate, sop buntut, ayam bakar, serta aneka kue memenuhi rumah. Gelak tawa saling bersahutan memenuhi ruang makan.
Anna duduk di samping Jeevan.
Awalnya ia menikmati obrolan ringan. Sampai akhirnya ibu mertuanya, Bu Ratih, meletakkan sendok perlahan dan menatap mereka dengan senyum tipis.
"Anna..."
"Iya, Bu?"
"Kalian menikah sudah berapa tahun sekarang?"
"Hampir lima tahun, Bu."
"Oh..."
Satu kata itu terdengar ringan, tetapi mengandung sesuatu yang membuat udara mendadak terasa berat.
"Kapan punya anak?"
Suara percakapan di meja seolah melambat.
Anna masih mempertahankan senyumnya.
"Do'akan saja ya, Bu."
"Doa terus sih. Tapi kalau cuma doa tanpa hasil bagaimana?"
Beberapa anggota keluarga terkekeh kecil.
Belum selesai disana.
"Memangnya kamu sibuk apa sih? Jangan sampai lupa, perempuan itu tugas utamanya melahirkan. kalau belum kasih saya cucu, nanti keburu saya meninggal."
"Iya, benar," sahut salah satu bibi. "Adik iparmu saja sudah jadi dokter. Masa kamu belum jadi ibu? Jangan-jangan memang susah punya anak?"
Kalimat terakhir jatuh seperti batu ke permukaan danau. Riaknya menyentuh setiap sudut hati Anna.
Tangannya menggenggam ujung serbet di bawah meja.
Ia ingin menjawab.
Namun kata-kata terasa membeku.
Di sampingnya, Jeevan membuka mulut.
"Bu, soal itu---"
"Jeevan!"
Suara ayahnya memotong.
"Ayah dengar, kantormu akan mengeluarkan inovasi baru ya?"
Jeevan menoleh. "Iya, Yah."
"Hebat..."
Percakapan berpindah begitu saja.
Dalam hitungan detik perhatian Jeevan terseret menuju pembahasan pekerjaan bersama saudara-saudara Ayahnya.
Anna melirik suaminya sekilas.
Ia berharap lelaki itu kembali pada percakapan sebelumnya. Namun harapan kadang rapuh seperti gelembung sabun; indah sesaat, lalu lenyap tanpa suara.
Pertanyaan demi pertanyaan masih berdatangan.
"Kamu sudah periksa ke dokter kandungan?"
"Jangan pilih-pilih makanan."
"Katanya stres bikin susah hamil."
"Kasihan Jeevan kalau belum punya keturunan."
Anna hanya tersenyum.
Senyum yang dipakainya seperti patung saat badai-- tidak mampu menghentikan hujan, hanya menyembunyikan betapa basah dirinya.
...🌼🌼🌼...
Menjelang siang, acara syukuran selesai.
Para tamu mulai berpamitan.
Laki-laki berkumpul di ruang tengah menikmati kopi sambil membicarakan pekerjaan, investasi, hingga keberhasilan sang dokter baru dalam keluarga.
Sementara itu, tanpa perlu di minta secara langsung, Anna berdiri membawa piring-piring kotor menuju dapur.
Istri dari adiknya ayah mertuanya, Bibi Maya, sudah lebih dulu menggulung lengan baju.
"Ayo, Na. Kita kerjakan bareng."
"Iya, Bi."
Bak cuci piring segera dipenuhi busa. Suara gemericik air mengiringi kesibukan mereka. Piring bertumpuk seperti menara kecil, gelas-gelas berdenting lembut ketika disusun di rak.
Anna mencuci.
Bibi Maya membilas.
Sesekali mereka saling tersenyum.
Berbeda dengan ruang tengah yang riuh, dapur terasa jauh lebih tenang. Hanya terdengar suara bunyi keran dan sesekali tawa samar dari luar.
Beberapa menit berlalu.
Bibi Maya menghentikan gerakannya.
Ia menoleh kepada Anna.
"Na.."
"Iya, Bi?"
"Sulit ya...menikah dengan Jeevan?"
Pertanyaan itu begitu pelan, bahkan nyaris tenggelam oleh suara air.
Anna terdiam.
Tangannya tetap menggosok piring, ia memilih tidak menjawab dan pada akhirnya Bibi Maya menghela napas.
"Menurutku, Jeevan pria yang baik. Tapi...dia dari kecil dimanja. Semua kebutuhan diurus Mamanya."
Anna menatap buih yang perlahan hanyut menuju saluran pembuangan.
Lalu ia mengangkat wajah. Senyumnya tetap sama, tipis dan lembut. Seperti embun yang tetap bertahan meski matahari mulai menghangat.
Anna hanya mengangguk. "Iya, Bi."
Tidak ada keluhan atau pun air mata pada mata Anna. Hanya sebuah senyum yang menyembunyikan seribu kalimat yang memilih dikubur.
Bibi Maya memandang Anna dengan iba. "Yang sabar, ya."
"Iya."
Jawaban itu begitu lirih hingga hampir larut bersama suara air.
...🌼🌼🌼...
Di ruang tengah, Jeevan akhirnya memperhatikan ke arah dapur.
Ia melihat istrinya masih berdiri sejak tadi.
Tanpa banyak bicara, ia bangkit.
"Aku ke dapur bentar."
Ayahnya mengangguk santai.
Jeevan berjalan menuju dapur tepat ketika Anna selesai mengikat kantong sampah hitam berisi sisa makanan dan plastik bekas.
"Biar aku buang."
Anna menoleh. "Ngga usah, Mas. Biar aku saja."
"Gak apa-apa, ini berat loh."
Jeevan mengambil kantong itu.
Belum sempat melangkah ke luar pintu belakang---
"JEEVAN!"
Suara Bu Ratih menggema dari ambang dapur.
Semua orang menoleh.
Jeevan berhenti.
Ibunya berjalan cepat dengan wajah berubah masam.
"Kamu sedang apa?"
"Mau buang sampah, Bu." Jawab Jeevan.
"Taruh!"
Suasana mendadak membeku.
"Sejak kapan kamu buang sampah?"
"Bu, cuma sebentar---"
"Ibu bilang taruh!"
Anna mendekat ke arah suaminya, lalu menepuk lengan suaminya pelan. Seraya mendongak ia menatap wajah suaminya.
"Taruh, Mas. Biar aku saja." Ucap Anna pelan.
"Tapi, Na. Tadi kamu kesusahan loh..." sela Jeevan.
Bu Ratih menoleh tajam ke arah menantunya.
"Anna."
"Iya, Bu."
"Kamu itu istri."
Anna menunduk sopan.
"Jangan biasakan suamimu melakukan pekerjaan seperti ini."
Jeevan mendekat ke arah ibunya lalu memegang lengan sang ibu penuh kelembutan.
"Bu, sudah. Aku cuma mau bantu Anna saja, dia---"
"Dengar baik-baik."
Nada suara Bu Ratih terdengar penegasan.
"Jeevan itu putraku. Dia di besarkan seperti seorang raja. Dari kecil dia tidak pernah di suruh mencuci piring. Tidak pernah mengepel, tidak pernah menyapu, apalagi membuang sampah."
Kalimat demi kalimat menghantam seperti ombak yang tak memberi jeda.
"Kalau setelah menikah malah kamu suruh kerja begini, buat apa dia punya istri?"
...🌼🌼🌼...
Hai, apa kabar?
Ada yang sama perlakuan ibu mertua kepada kalian? Dan untuk reader yang belum menikah jangan sampai punya mertua kaya Anna ya heheh.
Jangan lupa komen, vote, like, subscribe dan jangan pernah loncat-loncat bab!!!
Next chapter 🤍🤍🤍🤍🤍
...BERSAMBUNG...