NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan

Hari-hari berganti minggu, namun bagi Nayara, waktu seolah berhenti berputar di dalam tembok tinggi kediaman Arya. Setiap pagi selalu sama: bangun, sarapan sendirian atau ditemani keheningan jika Arya sedang pergi, lalu menghabiskan waktu dengan membaca buku, melukis di sudut teras yang diizinkan, atau sekadar menatap hamparan Kota Semarang yang tampak begitu dekat namun terasa begitu jauh.

Rumah ini memiliki segalanya—makanan lezat, fasilitas lengkap, keamanan yang tak tertandingi—tapi tak memiliki hal paling sederhana yang ia rindukan: kebebasan dan tawa yang tulus.

Siang itu, saat Nayara sedang duduk melukis pemandangan kota dari kejauhan, Bima datang membawa segelas teh hangat. Wajah pria tua itu tampak iba melihat gadis yang dulu ceria kini sering menatap kosong ke depan.

"Nona Nayara belum bosan?" tanyanya pelan, berusaha memulai percakapan ringan.

Nayara tersenyum tipis, tak sampai ke mata. "Bosan itu kata yang kurang tepat, Pak. Saya hanya... rindu. Rindu berjalan kaki ke pasar pagi, rindu duduk di teras rumah sambil mengobrol dengan tetangga, rindu suara berisik kendaraan yang dulu saya keluhkan. Di sini terlalu tenang. Sampai-sampai suara detak jam dinding terdengar seperti teriakan."

Bima mengangguk pelan. "Saya mengerti perasaan Nona. Dulu saya juga berpikir seperti itu saat pertama kali masuk bekerja untuk keluarga Tuan Arya. Tapi percayalah, ketenangan di sini adalah hasil dari perjuangan yang tak pernah berhenti. Tuan Arya menjaga Nona dengan cara yang mungkin Nona anggap kejam, tapi itulah satu-satunya cara yang beliau tahu."

Belum sempat Nayara menjawab, suara mobil terdengar memasuki halaman. Itu suara mobil Arya. Biasanya ia pulang saat senja, tapi hari ini masih sore. Hati Nayara berdebar tak menentu. Akhir-akhir ini, pertemuan mereka semakin sering menyisakan perasaan campur aduk—antara takut, hormat, dan rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan.

Arya masuk dengan langkah berat. Jasnya kusut, wajahnya lelah, dan ada goresan kecil di sisi rahangnya yang belum sempat dibersihkan. Melihat itu, rasa sedih mendadak menguasai hati Nayara, menggantikan rasa rindunya sejenak.

"Anda terluka," ucapnya tanpa sadar berdiri.

Arya berhenti sejenak, menatap gadis itu yang menatapnya dengan kekhawatiran tulus. Ia mengangguk singkat, tak banyak bicara, lalu berjalan masuk menuju ruang tengah. Nayara mengikutinya dari jarak agak jauh, melihat pria itu duduk lemas di sofa sambil melepas dasinya dengan kasar.

Tanpa disuruh, Nayara mengambil kotak obat yang tersedia di lemari dapur. Ia mendekat perlahan, ragu sejenak sebelum berbicara. "Bolehkah saya membersihkannya? Kalau dibiarkan bisa infeksi."

Arya menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk. Saat jari-jemari halus Nayara menyentuh kulitnya untuk membersihkan luka, tubuh Arya menegang seketika. Sudah bertahun-tahun tak ada yang menyentuhnya dengan niat tulus merawat, bukan untuk menyakiti atau meminta sesuatu. Sentuhan itu begitu lembut, begitu kontras dengan dunia kasar yang ia huni setiap hari.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Nayara pelan saat sedang mengoleskan obat antiseptik.

"Musuh lama," jawab Arya singkat, matanya tak lepas dari wajah gadis itu. "Mereka tak akan berhenti mencoba menjatuhkanku. Dan setiap hari aku harus siap jika suatu saat mereka menemukan celah..."

Ia berhenti bicara saat menyadari betapa khawatirnya tatapan Nayara. "Lupakan saja. Kau tak perlu memikirkannya."

"Saya tidak bisa melupakannya," sahut Nayara tiba-tiba, suaranya sedikit bergetar namun tegas. "Setiap kali Anda terluka, saya merasa bersalah. Seolah-olah keberadaan saya di sini hanya menambah beban Anda. Mungkin... mungkin benar jika saya tidak ada di sini, Anda tidak akan terganggu."

Arya langsung bangkit berdiri, membuat Nayara mundur terkejut. Tatapan pria itu berubah tajam, bercampur emosi yang meluap. "Jangan pernah bicara seperti itu. Kau bukan beban, Nayara. Kau adalah satu-satunya hal yang membuatku sadar bahwa masih ada dunia yang waras di luar sana. Jika kau pergi... aku tak tahu apa yang akan kulakukan."

Kalimat itu terucap begitu cepat, begitu jujur, hingga keduanya terpaku dalam keheningan panjang. Arya menyadari ia hampir mengucapkan sesuatu yang tak seharusnya, sesuatu yang bisa membuatnya semakin lemah. Namun melihat mata Nayara yang berkaca-kaca namun tak lagi penuh ketakutan, ia tak sanggup menarik kembali kata-katanya.

"Kehidupan di sini memang menyesakkan bagimu," ucap Arya akhirnya dengan nada jauh lebih lembut. "Aku tahu aku tak bisa menggantikan keluargamu atau kebebasanmu. Tapi percayalah, setiap dinding tinggi ini kubangun bukan untuk mengurungmu... melainkan untuk memastikan kau tetap aman sampai saat yang tepat tiba."

Nayara menahan tangisnya, mengangguk pelan. Perlahan ia mulai mengerti bahwa penjara yang ia tempati ini sebenarnya adalah benteng pertahanan terakhir yang dimiliki seorang pria yang sudah terlalu sering kehilangan segalanya. Dan di tengah kesunyian yang menyesakkan itu, benih-benih perasaan mulai tumbuh tanpa izin—menghubungkan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan.

 

Lanjut ke Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!