NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Telat

Angin sore menerpa wajah mereka saat motor melaju keluar dari gang kos. Jalanan tidak terlalu ramai, tetapi cukup untuk membuat Jayden merasakan jarak di belakangnya.

Cheyrin duduk sedikit jauh dari punggung Jayden, tubuhnya sedikit menegang agar tidak menyentuh kaos basket yang basah keringat itu.

Jayden menoleh sedikit ke belakang tanpa mengurangi kecepatan.

"Dekat dikit dong. Nanti kalau ada polisi tidur lo jatoh."

Cheyrin menggeleng cepat.

"Nggak mau. Baju lo basah bau keringat."

Jayden mengernyit, tapi sudut bibirnya tetap naik.

"Yaelah peluk aja. Gue mau ngebut ni."

"Nggak," tolak Cheyrin tegas sambil menahan tasnya erat-erat.

"Lo mandi dulu baru suruh gue peluk."

Jayden hanya tertawa kecil mendengar itu. Ia tidak memaksa lagi, hanya sedikit memperlambat laju motor agar Cheyrin merasa lebih aman.

Sepanjang jalan, Cheyrin tetap menjaga jarak, sementara Jayden diam-diam memperhatikan spion. Ia tidak berkomentar lagi, tapi raut wajahnya jelas puas karena Cheyrin tetap mau dibonceng.

Motor Jayden berhenti sekitar lima puluh meter sebelum restoran. mesinnya perlahan mereda.

Cheyrin melepas helm dan turun, lalu menoleh bingung.

"Kenapa berhenti jauh banget? Restorannya kan di depan sana."

Jayden menurunkan standar samping dan melepas helmnya juga. Ia menyandarkan motor dengan tenang.

"Tempat parkir depan restoran penuh. Kalau gue masuk lebih dekat, nanti malah susah keluar."

Cheyrin mengerutkan kening, tapi alasan itu terdengar masuk akal.

"Oh... yaudah."

Ia melirik jam di ponselnya. Wajahnya berubah panik.

"Aduh, gue telat banget ni, gue masuk dulu ya."

Cheyrin berlari kecil menuju pintu belakang restoran tanpa sempat mengucapkan terima kasih panjang. Sebelum menghilang di balik pintu, ia menoleh sekilas.

"Makasih udah nganter, Jayden."

Jayden hanya mengangguk kecil dari tempatnya berdiri.

"Semangat kerjanya."

Setelah Cheyrin masuk, Jayden tidak langsung pergi. Ia bersandar pada motornya, menatap pintu restoran itu sebentar sebelum akhirnya menyalakan kembali mesin dan pergi.

Cheyrin segera mengganti pakaian dan masuk ke area dapur. Udara panas dan aroma rempah langsung menyambutnya. Ia melihat Evan, yang sedang memeriksa bagian dapur.

Dengan langkah cepat ia menghampiri, lalu menunduk sedikit.

"Maaf, pak Evan. Saya telat absen. Jalannya agak padat tadi."

Suara Cheyrin terdengar pelan, penuh rasa bersalah. Ia benar-benar tidak suka membuat timnya menunggu.

Evan menoleh, mengamati wajah Cheyrin sejenak. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk pelan.

"Sudah, tidak apa-apa. Yang penting kamu datang dengan selamat."

Ia menepuk pundak Cheyrin pelan, suaranya tenang dan tidak mengandung amarah.

"Besok diusahakan lebih awal. Sekarang fokus ke kerjaan kamu aja, ya."

Cheyrin mengangkat wajahnya, lega bercampur malu.

"Iya, pak. Makasih."

Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung bergerak ke meja persiapan. Beban di hatinya sedikit berkurang karena sikap Evan yang bijaksana itu.

Cheyrin baru saja mulai memotong sayur ketika ia menangkap bisik-bisik dari sudut dapur. Dua staf bagian cuci piring saling bertukar pandang, lalu salah satunya, Rani, menghampiri dengan ekspresi setengah penasaran setengah hati-hati.

Rani menurunkan suara, seolah tidak ingin Pak Evan mendengar.

"Chey, boleh nanya nggak? Kok kayaknya Pak Evan suka ngebedain kamu sama yang lain?"

Cheyrin berhenti sejenak, pisau di tangannya terhenti di atas talenan.

"Maksudnya gimana, Ran?"

"Ya itu," jawab Rani pelan.

"Telat lima menit aja biasanya langsung kena tegur. Kamu telat banget tadi, tapi Pak Evan cuma tepuk pundak. Nggak marah sama sekali."

Ia menatap Cheyrin lurus-lurus, lalu bertanya langsung.

"Kamu... ada hubungan apa sama Pak Evan?"

Cheyrin menghela napas panjang. Ia tahu kecurigaan seperti ini pasti muncul kalau perlakuan bos terasa berbeda.

"Nggak ada apa-apa, Ran. Aku cuma karyawan biasa di sini. Mungkin Pak Evan lagi baik aja hari ini."

Rani mengangguk pelan, tapi raut wajahnya masih penuh tanda tanya. Ia kembali ke tempatnya tanpa menambah komentar lagi, meninggalkan Cheyrin yang melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan tidak nyaman.

.

.

Restoran akhirnya tutup pukul sebelas malam. Suara pintu besi yang diturunkan bergema pelan di gang belakang. Para staf satu per satu pulang, meninggalkan Cheyrin duduk di anak tangga depan dengan tas di pangkuan.

Ia menatap ponselnya berulang kali. Jayden tidak kunjung datang, tidak ada pesan masuk, tidak ada telepon. Sejak sore tadi, Jayden memang tidak memberi kabar lagi.

Angin malam mulai terasa dingin. Cheyrin merapatkan cardigannya dan kembali melihat ujung jalan yang sepi.

Tepat saat itu, mobil hitam milik Evan keluar dari parkiran restoran. Lampu depan menyorot ke arah Cheyrin yang masih duduk sendirian. Mobil itu melambat, lalu berhenti tepat di depannya.

Kaca jendela turun, wajah Evan terlihat tenang seperti biasa.

"Cheyrin? Belum pulang?"

Cheyrin berdiri cepat, sedikit gugup karena bertemu bosnya di luar jam kerja.

"Iya pak belum. Saya masih menunggu jemputan."

Evan mengangguk pelan, matanya menelisik ke arah jalan yang kosong.

"Udah larut loh ini. Jemputannya belum datang juga?"

Cheyrin mengangguk kecil, tidak ingin banyak bicara.

"Iya, Pak."

Evan membuka pintu mobil dari dalam.

"Yaudah, naik saja. Saya antar pulang. Nggak baik menunggu sendirian sampai malam begini."

Cheyrin ragu sejenak. Menolak terasa tidak sopan, menerima juga membuatnya tidak nyaman.

"Em, nggak usah, Pak. Saya bisa nunggu lagi."

"Enggak perlu sungkan," potong Pak Evan singkat.

"Udah ayok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!