Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Cahaya matahari pagi menyelinap perlahan melalui celah gorden, menyebarkan kehangatan lembut yang menyentuh permukaan kulit. Clark adalah yang pertama kali terbangun.
Di sampingnya, sosok suaminya masih terlelap pulas, jauh dari kesan dingin dan menakutkan yang biasanya ia tampakkan di hadapan dunia. Garis rahang yang tegas kini terlihat lebih lunak, kerutan tipis yang sering menghiasi dahi itu pun lenyap sejenak, seolah waktu sedang berhenti memberi jeda istirahat bagi pria yang memikul begitu banyak beban berat di pundaknya.
Tanpa sadar, sebuah senyum tipis terukir di bibir Clark. Perlahan, seolah takut memecah keheningan pagi itu, ia mengangkat tangan, menyentuh pelan alis tebal milik Dante, lalu menurunkan jemarinya dengan hati-hati menelusuri pipi yang terasa sedikit kasar karena janggut tipis yang mulai tumbuh.
"Aku sungguh beruntung..." gumamnya lirih, hampir tak terdengar, penuh rasa syukur yang mendalam.
Belum sempat ia menarik kembali tangannya, sepasang jari besar tiba-tiba melingkar erat namun lembut di pergelangan tangannya.
"Menggodaku sejak matahari baru naik?" suara Dante terdengar serak berat, khas orang yang baru terbangun, namun menyimpan nada menggoda yang tak asing lagi.
Clark tersentak kaget, menarik napas pelan.
"Kakak ternyata tidak tidur?"
"Hmm."
"Lalu bagaimana Kakak tahu aku menyentuhmu?"
"Karena sejak tadi ada seseorang yang diam-diam mencuri kesempatan mengagumi wajahku," sahutnya tenang.
Tawa kecil lolos dari bibir Clark. "Aku hanya ingin memastikan suamiku masih tetap menjadi pria paling tampan sedunia."
Kali ini Dante perlahan membuka mata. Manik gelapnya yang pekat seketika terkunci lekat pada wajah istrinya yang hanya berjarak beberapa inci darinya, menyelimuti mereka dalam kehangatan yang tak terucapkan.
"Dan bagaimana hasil pemeriksaannya?"
"Masih sangat tampan, tak ada yang berubah."
"Kalau begitu..." Dengan satu tarikan ringan namun pasti, Dante menarik pinggang Clark hingga tubuh mereka menempel sempurna, merasakan detak jantung masing-masing yang berirama serasi. "...di mana hadiahnya?"
Clark berpura-pura mengerutkan kening, berpikir sejenak. "Hmm.. bukankah semalam sudah?"
"Bukan itu."
"Ciuman?"
Dante mengangguk perlahan, menatap bibir istrinya. "Itu baru yang benar."
Clark menggeleng tak berdaya namun tersenyum lebar, lalu menurut mengecup bibir suaminya sekilas. Namun Dante tak berhenti di situ, tangannya beralih menahan tengkuk Clark, mendekatkan wajah mereka kembali dan memperdalam sentuhan itu perlahan, hingga napas sang istri terasa tersengal dan pipinya merona merah padam saat akhirnya mereka berpisah.
"Kakak..."
"Hm?"
"Aku sudah lapar."
Dante terkekeh pelan, suara rendah itu terdengar begitu menenangkan. "Baiklah, mari kita turun dan sarapan."
Di lantai bawah, aroma harum berbagai hidangan yang baru matang telah memenuhi setiap sudut ruangan, menyambut kehadiran tuan rumah dengan kehangatan yang tak pernah terasa dulu.
Sejak kepulangan mereka ke kediaman utama, seluruh pelayan kembali menjalankan tugasnya dengan tertib dan penuh hormat. Begitu Dante dan Clark melangkah masuk sambil saling merapatkan jemari, seisi ruangan langsung menundukkan badan memberi salam.
"Selamat pagi, Tuan. Nyonya."
"Pagi semuanya," jawab Clark dengan senyum ramah yang tulus, membuat banyak hati yang dulu takut padanya kini perlahan merasa nyaman.
Meja makan panjang itu sudah terisi penuh dengan hidangan lezat. Namun saat mereka baru saja duduk dan hendak mulai menyantapnya, dering ponsel Dante memecah ketenangan pagi itu. Sekilas ia melirik layar, dan nama yang terpampang di sana membuat raut wajahnya seketika berubah datar kembali.
"Andrew?" tanya Clark pelan.
"Hm."
"Angkat saja, Kak."
"Tidak ingin."
Clark terkekeh pelan melihat tingkah suaminya. "Jangan kekanak-kanakan begitu."
Dengan enggan Dante akhirnya menggeser tombol hijau. "Apa?"
Suara nyaring dan riang Andrew langsung terdengar meledak dari seberang sana. "Selamat pagi, Tuan Es Batu abadi!"
"Ada perlu apa?"
"Aku sedang bosan sekali hari ini."
"Lalu hubungi orang lain."
"Kita bertemu saja yuk?"
"Tidak."
Klik. Tanpa basa-basi Dante langsung memutus sambungan telepon itu.
Clark menahan tawanya melihat kelakuan itu, ia tak menyangka orang yang akan bekerja sama dengan ayahnya untuk membunuh Dante ternyata punya hubungan seperti ini di masa lalu.
Tentu saja ia tidak tau karna dulu tidak sedekat ini dengan Dante.
Belum berlalu hitungan detik, ponsel itu kembali berdering untuk yang kedua kalinya. Dante menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak menahan diri agar tidak melempar benda itu ke sudut ruangan.
"Ada apa lagi?"
"Tadi aku lupa bilang sesuatu!"
"Apa?"
"Hari ini aku sudah berangkat ke rumahmu."
Dante langsung berdiri tegak, suaranya sedikit meninggi. "Jangan berani-berani datang ke sini!"
"Terlambat sudah, Tuan Muda. Aku sudah berdiri tepat di depan gerbang besarmu sekarang."
Dante seketika terpaku di tempat. Clark yang mendengarnya pun spontan menoleh ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Benar saja, sebuah mobil sport hitam yang mencolok baru saja berhenti di sana.
Tak lama kemudian, sosok Andrew melompat turun sambil melambaikan tangan lebar-lebar ke arah jendela seolah ia adalah kerabat jauh yang sudah puluhan tahun tak berkunjung.
Wajah Dante perlahan menggelap, urat di lehernya sedikit menegang. "Pria itu benar-benar sedang mencari masalah..." gerutunya rendah.
Clark segera meraih tangan suaminya erat sebelum pria itu benar-benar melangkah keluar dengan amarah yang meluap. "Kakak, mungkin dia memang punya sesuatu yang penting untuk di katakan."
Clark berharap sekali agar Andrew dan Dante bisa bersahabat, dengan begitu kematian Dante atau bisa di bilang dirinya nanti bisa terhindarkan.
"Tuan... di depan ada seorang pria bernama Tuan Andrew. Beliau bersikeras ingin masuk dan berkata... beliau adalah sahabat lama Tuan."
Dante mendengus kasar. "Aku tak pernah memiliki sahabat yang berisik seperti dia."
Clark menutup mulutnya, berusaha sekuat tenaga menahan tawa agar tidak meledak di tempat. Namun sebelum Dante sempat memberi perintah apapun, suara Andrew sudah terdengar jelas dari luar pintu, seolah sengaja diperkeras agar terdengar hingga ke dalam.
"Clark! Tolong aku dulu! Satpam di sini galak sekali, seolah aku mau mencuri rumah ini!"
'Lebih baik mencuri rumah daripada nyawaku,' batin Clark sambil terkekeh.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭