NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:670.4k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Permohonan Laporan Dicabut

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun aktivitas di rumah sudah mulai berjalan. Suara langkah kaki dan derit pintu tak mampu mengusir ketegangan yang menggantung di udara.

Kamil berdiri di dekat pintu, satu tangan dimasukkan ke saku celana, wajahnya tampak datar, tapi rahangnya mengeras—menandakan ada sesuatu yang sedang ia tahan. Di hadapannya, Hakim sudah rapi dengan kemeja kerja, sementara Iqbal berdiri sedikit menyamping, memperhatikan dengan tatapan tajam.

"Hari ini jangan lupa kamu ke kantor Abang," ujar Hakim, suaranya tegas tanpa basa-basi. Ia melirik sekilas jam di tangannya. "Pukul sepuluh nanti kita harus sudah di rumah sakit, minta Aldo cabut laporan penganiayaan itu."

Kamil menghela napas pelan, matanya bergeser ke arah lain, seolah enggan menatap langsung.

"Harus sama aku ya?" tanyanya, nada suaranya terdengar setengah hati.

Hakim langsung menoleh cepat, alisnya berkerut.

"Ya iyalah. Kamu yang melakukan penganiayaan itu, gimana sih?" jawabnya, mulai kehilangan kesabaran.

Kamil mendecak pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding.

"Ya maksudku… diwakilkan Abang aja. Aku gak usah ikut," katanya, kali ini dengan nada yang lebih dingin. "Males harus ketemu sama lelaki yang sudah merebut Amanda dariku."

Ucapan itu langsung memancing reaksi. Iqbal yang sejak tadi diam, kini angkat bicara dengan nada tajam. "Dia gak merebut, ingat itu!"

Kamil menoleh cepat, sorot matanya berubah tajam, tapi ia memilih diam. Tangannya mengepal perlahan, menahan emosi yang hampir meluap.

Hakim menghela napas panjang, jelas sudah lelah menghadapi keras kepala adiknya. Ia menatap Kamil dalam-dalam, kali ini tanpa emosi berlebih—justru terdengar lebih dingin.

"Aku sih gak masalah kalau kamu gak mau minta maaf," ucapnya pelan tapi menusuk. "Tapi ya… konsekuensinya kamu masuk penjara."

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan tak terbantahkan.

Tak menunggu jawaban, Hakim langsung berbalik. Langkahnya tegas meninggalkan Kamil yang masih berdiri di tempat, terpaku dengan pikirannya sendiri.

Iqbal ikut menyusul, sempat melirik Kamil sekilas—tatapan yang penuh penilaian, tapi juga sedikit kekhawatiran—sebelum akhirnya ikut pergi.

Pintu tertutup. Dan kini, tinggal Kamil sendiri.

Sunyi. Namun bukan sunyi yang menenangkan—melainkan sunyi yang penuh tekanan.

Kamil menghembuskan napas kasar, lalu mengacak rambutnya frustasi. Bayangan Amanda dan Aldo kembali berputar di kepalanya, bercampur dengan ancaman penjara yang baru saja dilontarkan Hakim.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, Kamil mulai merasa terpojok. Dan kali ini, tidak ada yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.

Pukul sembilan tepat, Kamil sudah berdiri di depan gedung kantor Hakim. Langkahnya mantap, tapi wajahnya masih menyisakan ketegangan. Bayangan dinginnya jeruji besi yang mungkin akan menunggunya… jauh lebih menakutkan daripada sekadar menelan harga diri.

Egonya, untuk kali ini, kalah.

Begitu pintu ruangan terbuka, Hakim langsung mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang dibaca. Tatapannya langsung tertuju pada Kamil yang berdiri di ambang pintu.

"Nah gitu dong… tanggung jawab." ucap Hakim tanpa basa-basi.

Kamil hanya mendengus pelan, lalu melangkah masuk. Tangannya masuk ke saku celana, wajahnya datar, meski jelas ada rasa enggan yang ia tahan.

Hakim berdiri, meraih kunci mobil di meja.

"Kita berangkat sekarang. Jangan sampai telat, sebelum jam besuk kita harus sudah di sana."

Tak ada jawaban. Kamil hanya mengikuti.

Di dalam mobil, suasana begitu hening. Mesin menyala, jalanan mulai ramai, tapi di dalam kabin… hanya ada suara pendingin udara dan sesekali deru kendaraan dari luar. Hakim fokus menyetir, rahangnya sesekali mengeras, sementara Kamil menatap keluar jendela, pikirannya berputar tak karuan.

Tak ada percakapan.

Tak ada yang ingin membuka luka lebih lebar.

Rumah sakit itu berdiri megah dengan aroma khas antiseptik yang langsung menyergap begitu mereka masuk. Langkah kaki mereka menggema di lorong yang bersih dan dingin.

Belum sempat bertanya ke resepsionis, dua sosok sudah berdiri menunggu di depan ruang perawatan.

Tante Leni dan suaminya.

Tatapan mereka langsung tertuju pada Kamil. Udara seketika berubah tegang.

Kamil berhenti sejenak. Nafasnya tertahan. Untuk sesaat, ia tampak ragu.

Namun Hakim menyikut lengannya pelan, seolah memberi isyarat—lakukan sekarang.

Kamil menelan ludah, lalu melangkah maju.

"Saya… minta maaf, Tante," ucapnya akhirnya, suaranya terdengar datar. Bukan karena tidak serius… tapi lebih karena terpaksa.

Tante Leni menatapnya tajam. Wajahnya jelas menunjukkan kemarahan yang belum padam.

"Maaf?" ulangnya pelan, tapi penuh tekanan. "Kamu hampir mencelakai anak saya, Kamil."

Suaminya berdiri di samping, diam, tapi sorot matanya sama kerasnya.

Kamil menunduk sedikit, tapi tidak benar-benar menunjukkan penyesalan yang dalam. Tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Hakim maju selangkah, mencoba mengambil alih situasi.

"Kami paham kemarahan Tante," ucapnya tenang, terukur. "Dan kami tidak membenarkan apa yang Kamil lakukan. Tapi kami datang ke sini dengan itikad baik."

Tante Leni menyilangkan tangan di dada.

"Laporan itu tidak akan saya cabut. Biar dia belajar tanggung jawab."

Kamil langsung mengangkat wajahnya, tapi sebelum ia bicara, Hakim lebih dulu melanjutkan.

"Kalau laporan tetap dilanjutkan… proses hukum akan berjalan," katanya pelan, tapi penuh makna. "Dan itu bukan hanya berdampak ke Kamil. Akan ada konsekuensi lain yang mungkin tidak menguntungkan untuk semua pihak."

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Tante Leni terdiam. Suaminya melirik sekilas ke arahnya, seolah mulai mempertimbangkan.

"Konsekuensi seperti apa?" tanya suaminya akhirnya.

Hakim menatap mereka bergantian.

"Masalah ini bisa melebar. Nama baik, urusan keluarga, bahkan hal-hal yang mungkin tidak ingin kita bawa ke ranah publik… bisa ikut terseret. Ingat Tan, saat itu Aldo menginap di apartemen wanita yang belum sah jadi isternya."

Hening.

Tante Leni menghela napas panjang. Wajahnya masih keras, tapi kini ada keraguan di sana. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata, "Kalau Aldo setuju… saya akan pertimbangkan."

Hakim mengangguk pelan.

"Kami menghargai itu, Tante."

Di dalam ruang perawatan, Aldo terbaring dengan wajah pucat. Beberapa luka masih terlihat jelas, perban melilit di bagian tertentu. Namun matanya… tetap tajam.

Dingin. Pintu terbuka. Aldo langsung menoleh. Tatapannya bertemu dengan Kamil. Tak ada emosi berlebih. Tak ada amarah meledak. Justru… terlalu tenang. Dan itu jauh lebih menekan.

Kamil berdiri kaku di dekat pintu. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tampak benar-benar kehilangan kata-kata.

Hakim maju lebih dulu, menyapa dengan sopan, lalu menjelaskan maksud kedatangan mereka. Aldo mendengarkan tanpa menyela.

Ketika selesai, ia hanya melirik sekilas ke arah orang tuanya. "Aku ikut keputusan Mama sama Papa," ucapnya singkat.

Tak ada drama. Tak ada tuntutan. Seolah ia benar-benar melepaskan semuanya ke tangan orang tuanya.

Namun sebelum memalingkan wajah, ia sempat menatap Kamil sekali lagi.

Dingin.

Dan penuh arti.

Seolah berkata—ini belum selesai.

Kamil menahan napasnya. Dadanya terasa sesak.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari… masalah ini tidak akan berhenti hanya dengan kata maaf.

1
Hadi Mulyono
namanya kedzoliman di bayar kontan .siapapun orangnya
Mama Lilik
syukurin kamil itu hukumanmu... karma berjalan
Hadi Mulyono
di tinggal nikah Kamil
Hadi Mulyono
Andra lama banget sih timbang bilang suka aja .tar raya di ambil orang baru nyesel.
Yuyun Zampiet
tetap semangat raya apapun yg terjadi, demi ibu dan adik2mu💪
Hadi Mulyono
jangan bilang plng mau balikan sm Andra ya
Hadi Mulyono
kalo tau anak Amanda bukan anaknya pasti jg Amanda bakal di tinggalin
Hadi Mulyono
Kamil di bodohin Amanda ..ee Tar maknya Amanda sadar liat kamil
shesil
5tahun baca di aplikasi ini dan baru sekarang ketemu cerita yg bagus banget.
Asli keren banget ini alurnya, bikin penasaran pengen baca terus. Udah gitu authornya bisa bawa emosi readernya. Jarang² saya baca novel sampe kebawa emosi dan ini salah satu novel tsb. Terharu waktu Raya di podcast dani sumarno dan saat Andra mau ngelamar dia
Top pokoknya deh
fatmiatun sahono
orang tua nya Aldo kemana
kan itu viral....semestinya tau media online itu habat lho efek nya. orang tua Aldo yg nolak tempo hari ke di ujung dunia ya....Ampe TDK muncul🙏💪
echa purin
👍
Ria Gazali Dapson
kasian bu anisa, ank nya 22 nya bikin onar kel
Ria Gazali Dapson
punya temen bukan nasehatin yg bagus, malahan d suruh tambah zinah nya, amel amanda, perempuan durjana, naudzubillah
Na Lyna: raya menuju kesuksesan.. sikamil ma panda menuju kehancuran...
total 1 replies
shesil
jangan² Ananda = Amanda
Ria Gazali Dapson
mil lol tukang tipu ketemu amando lol tukang tipu, klop banget, ntar ank nya jdi mafianis lol🤣
Ria Gazali Dapson
sukron yuh , dapet barang rongsok, gadis rasa joken😄😄😄, g ush pke rem lagi, langsung jozzz😄😄, bablas 😄
Ria Gazali Dapson
ya x , kalo cow cew nginep , cuma men hape doangan , yg laen nya ber gercep lla , mil lol mil lol 🤣
Anonim
sebenarnya pemeran utama nya siapa ada raya, amanda,ananda jd bingung
Kale
semoga nnti amanda lahiran,anaknya plek ketiplek wajah ayah biologisnya si Dion,,dn jngn ada orang ketiga diantara raya dn dokter andra Thor,jika mereka berjodoh,jngn sampai raya terluka untuk yg kedua kalinya
Kale
justruh yg lbh bahagia nnti raya sama dokter andra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!