Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Malam di kediaman Anderson berlangsung tenang. Setelah seharian penuh berdebat dengan anak-anak tirinya, mengatur menu makan malam, dan membuat peraturan baru yang membuat seluruh penghuni rumah pening, Arabelle akhirnya tertidur pulas.
Tubuhnya terbungkus selimut hangat. Di awal tidur, posisinya masih aman. Ia memeluk guling yang sengaja diletakkan di tengah ranjang sebagai perbatasan negara antara dirinya dan Nathan. Sayangnya, kebiasaan tidur Ara memang tidak bisa dipercaya. Sedikit demi sedikit tubuhnya bergeser. Mula-mula hanya mendekat. Lalu memeluk sesuatu yang terasa hangat. Dan tanpa sadar, guling yang dipeluknya sudah tergeser jauh entah ke mana.
Sementara itu, Nathan masih tertidur lelap di sisinya. Hingga menjelang subuh, pria itu terbangun karena merasa ada sesuatu yang menindih tubuhnya.
Perlahan ia membuka mata dan lalu langsung membeku. Kepala Arabelle bersandar nyaman di dadanya. Satu tangan wanita itu melingkar di pinggangnya erat. Bahkan, salah satu kaki Ara ikut melintang di atas tubuhnya seolah Nathan adalah guling ukuran raksasa. Nathan menatap langit-langit kamar beberapa saat.
Mencoba menerima kenyataan hidupnya. Kemudian melirik jam di atas nakas. Pukul enam tepat, hari ini ia memiliki rapat penting sejak pagi. Saat Nathan berniat menggeser tubuh Ara perlahan agar bisa bangun, suara alarm mendadak memenuhi kamar.
Nathan langsung mengernyit. "Alarm macam apa itu..." Gumamnya pelan.
Ara yang sedang tidur langsung tersentak bangun.
"Hah?!" Tangannya bergerak panik mencari ponsel. Setelah beberapa detik, alarm akhirnya berhasil dimatikan.
Ara menguap kecil, karena masih mengantuk. Kemudian perlahan membuka mata. Awalnya ia hanya berkedip bingung. Lalu menyadari ada sesuatu yang aneh. Ara mengernyit, perlahan mendongakkan kepala. Tatapannya langsung bertemu dengan Nathan yang sedang menatapnya datar.
Otak Ara berhenti bekerja, beberapa detik ia hanya menatap Nathan. Lalu menunduk, melihat tangannya yang masih melingkar di pinggang pria itu. Melihat posisi tubuhnya, melihat kakinya yang masih menindih Nathan.
"Aaah!" Ara langsung menjerit.
Refleks tubuhnya bergerak lebih cepat daripada otaknya. Satu tendangan telak meluncur begitu saja. Nathan yang sama sekali tidak siap langsung terlempar dari ranjang.
"Ugh!" Tubuh pria itu jatuh ke lantai dengan suara keras.
Ara membeku, Nathan juga membeku. Nathan masih terduduk di lantai sambil memegang pinggangnya. Sedangkan Ara menatapnya dengan wajah pucat.
"Ya ampun..." Gumam Ara.
Nathan perlahan mengangkat kepala, tatapannya datar.
"Minta maaf!"
Ara langsung mengangguk cepat. "Maaf!"
Nathan masih diam.
"Maaf banget!"
Nathan tetap diam.
"Aku refleks!"
Nathan menarik napas panjang.
"Arabelle..."
"Iya?"
"Lain kali kalau kaget..." Nathan memijat pelipisnya. "Jangan pakai jurus tendangan."
Ara langsung menunduk bersalah.
Namun, beberapa detik kemudian ia kembali mengangkat kepala.
"Tapi salah Tuan juga."
Nathan menatapnya tidak percaya. "Salahku?"
"Iya."
"Apa lagi sekarang?"
Ara menunjuk Nathan. "Tuan membuang gulingnya,"
"Hah?!" Nathan langsung terdiam setelah terkejut tidak akan bertanya lagi pada wanita keras kepala itu.
Tiga puluh menit telah berlalu sejak insiden pagi yang membuat Nathan terjatuh dari tempat tidur akibat tendangan refleks Arabelle. Kini Ara sudah berada di dapur.
Rambutnya diikat asal ke belakang, sementara kedua tangannya terlipat di depan dada. Ia berdiri di tengah dapur besar keluarga Anderson layaknya seorang inspektur yang sedang melakukan pemeriksaan mendadak.
"Telurnya sudah direbus semua?"
"Sudah, Nyonya."
"Roti gandumnya?"
"Sudah dipanggang."
"Alpukatnya?"
Salah satu pelayan perempuan yang semalam paling vokal mengeluh tentang Ara diam-diam memutar bola matanya.
Namun, Ara keburu melihatnya.
"Kamu!"
Pelayan itu langsung menegakkan badan.
"Iya, Nyonya?"
"Kalau nggak suka lihat aku, bilang saja."
Pelayan itu langsung pucat. "Bukan begitu, Nyonya."
Ara mengangkat alis. "Bagus, kalau ada yang mau protes langsung pergi saja dari sini," Lalu ia kembali memeriksa buah alpukat yang sudah dipotong-potong, Ara mengangguk puas.
Di atas meja dapur sudah tersusun berbagai bahan sarapan yang tadi malam ia minta. Beberapa pelayan tampak bekerja dengan hati-hati karena sejak pagi wanita itu terus mengawasi mereka. Ara mengambil satu potong alpukat lalu mencicipinya.
"Hm ... ini manis."
Lalu, Arabelle, membuka kulkas dan berdiri di sana.
"Besok kita beli buah lebih banyak." Kata Ara.
"Baik, Nyonya."
"Jangan cuma apel. Tambah pisang, jeruk, pepaya juga."
"Baik, Nyonya."
Ara mengangguk lagi. Kemudian berjalan mengelilingi dapur sambil memperhatikan pekerjaan para pelayan.
Hari itu suasana rumah masih sangat sepi. Maklum saja, hari itu akhir pekan. Theo, Alya, dan bahkan Elang kemungkinan masih tertidur nyenyak di kamar masing-masing.
Saat sedang memperhatikan pelayan menyiapkan susu hangat, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah luar dapur. Beberapa pelayan langsung menegakkan tubuh.
Ara ikut menoleh. Nathan muncul dengan jas kerjanya dan rambutnya sudah rapi meski masih sedikit lembap setelah mandi. Begitu melihat Nathan, ingatan Ara langsung kembali pada kejadian setengah jam lalu. Tentang dirinya yang tanpa sadar memeluk pria itu sepanjang malam. Lalu menendangnya hingga jatuh dari tempat tidur.
Ara langsung mengalihkan pandangan. Nathan juga tampak berdehem pelan. Seolah keduanya sepakat untuk pura-pura melupakan kejadian memalukan tersebut. Nathan melirik meja dapur yang penuh dengan bahan sarapan.
Nathan lalu memperhatikan telur rebus yang tersusun rapi. Kemudian roti gandum, lalu buah alpukat.
Satu alisnya terangkat. "Kamu serius dengan menu ini?"
Ara menatapnya heran. "Kenapa?"
Nathan menghela napas pendek. "Tidak ada."
Namun, dalam hati ia sudah bisa membayangkan seperti apa reaksi ketiga anaknya nanti saat melihat sarapan tersebut.
Begitu selesai sarapan, Nathan berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas yang dikenakannya lalu melirik jam tangan.
"Aku berangkat dulu."
Ara yang sedang meminum segelas air hanya mengangguk.
"Tolong jangan bawa pulang anak lain lagi ya," goda Ara.
Nathan mengangkat sebelah alis, "apa?"
Ara menunjuk ke arah lantai atas.
"Yang tiga itu saja sudah cukup bikin pusing."
Nathan hampir tersenyum tetapi ia berhasil menahannya.
"Mohan sudah menunggu di depan."
"Baik, Tuan Nathan."
Tak lama kemudian Nathan meninggalkan rumah.
Suara mobil yang menjauh terdengar samar dari halaman depan. Begitu pintu utama tertutup, senyum Arabelle perlahan muncul.
Senyum yang membuat beberapa pelayan langsung merasa tidak enak.
"Sudah cukup." Gumamnya melirik jam tujuh pagi. Lalu wanita itu berjalan menuju lantai dua.
Di lantai atas, suasana masih sangat tenang.
Ketiga anak Nathan masih tertidur pulas di kamar masing-masing. Hari itu akhir pekan, biasanya mereka baru bangun menjelang siang.
Namun, hari itu mereka lupa satu hal. Di rumah itu sekarang ada Arabelle. Dan Arabelle tidak mengenal konsep bangun siang.
Ara mengetuk pintu kamar Alya, tidak ada jawaban. Pintu kamar Elang berikutnya dan kamar Theo masih tidak ada respons.
Ara menghela napas panjang. "Luar biasa." Gumamnya. "Tidur seperti kebo."
Ara menggedor pintu Alya, pintu Theo dan pintu Elang. Suara keras itu menggema sepanjang koridor.
Di dalam kamar masing-masing, ketiga penghuni langsung menggerutu kesal. Alya menarik selimut ke atas kepala. Theo menutupi telinganya dengan bantal. Sedangkan Elang membuka mata dengan ekspresi ingin membunuh seseorang.
"Bangun!" Teriak Ara. "Rumah kebakaran!"
Seketika ketiga pintu terbuka hampir bersamaan. Alya muncul dengan rambut acak-acakan. Theo masih setengah mengantuk. Sedangkan, Elang terlihat seperti singa yang baru dibangunkan dari tidurnya.
Ara memperhatikan mereka satu per satu, lalu tertawa kecil.
"Hahaha..."
Ketiganya langsung menatap tajam.
Ara menunjuk mereka bergantian.
"Dasar Sumala."
Elang mengusap wajahnya kasar. "Pagi-pagi sudah bikin emosi naik."
Ara pura-pura tidak mendengar.
"Kalian mandi."
"Tidak." Jawab Elang cepat.
Ara langsung menunjuknya. "Kamu terutama."
"Aku tidak ada urusan."
"Ada."
"Apa?"
Ara menyilangkan tangan. "Hari ini periksa skripsimu."
Wajah Elang langsung berubah. "Aku tidak mau."
"Senin pengajuan ulang, kan?"
Elang terdiam, Ara melanjutkan.
"Kalau gagal lagi terus mau sampai umur empat puluh masih jadi mahasiswa?"
Urat di pelipis Elang langsung berkedut. Ia memang sedang frustrasi karena beberapa kali revisi dan pengajuannya selalu ditolak dosen pembimbing. Melihat Elang diam, Ara beralih ke Theo.
"Kamu juga punya tugas."
Theo langsung curiga. "Apa?"
"Nanti," kemudian Ara menoleh ke Alya.
"Dan kamu juga."
Alya langsung mengeluh. "Aku kenapa?"
Ara menunjuk wajahnya. "Perempuan itu harus bangun pagi."
"Kenapa?"
"Biar dapat jodoh orang kaya, tampan, mapan." Ara berhenti sejenak.
"Lalu bukan mokondo."
Alya langsung melotot. "Aku masih SMP!"
"Nggak ada salahnya persiapan." Jawab Ara santai.
Theo langsung tertawa tetapi kemudian ia bertanya,
"Apa dulu ka—"
"Ibu." Potong Ara cepat.
Theo mengerjap. "Apa?"
"Panggil aku ibu."
Theo langsung menunjukkan ekspresi jijik.
"Ogah."
Ara mengangkat alis, Theo menghela napas.
"Baiklah..." Ia menggumam pelan.
"Ibu."
Ara tersenyum puas. "Nah begitu."
Theo lalu menunjuk kamar Nathan yang sudah tidak ada.
"Kalau ibu bangun pagi terus, makanya dapat Ayah?"
Ara terdiam beberapa detik. Kemudian menunjuk mereka bertiga.
"Aku bangun terlalu pagi sampai dapat bentukan Sumala semua."
"Hah?!" Seru ketiganya bersamaan.
Ara tidak peduli. Ia langsung menunjuk jam dinding di koridor.
"Kalian punya waktu lima belas menit."
"Untuk apa?" Tanya Alya.
"Mandi."
"Kalau tidak?" Ara tersenyum manis.
Senyum yang membuat ketiganya merinding.
"Kalau dalam lima belas menit tidak ada di meja makan..." Ia berhenti sejenak.
"Nggak usah makan."
Ketiga anak itu membeku.
"Puasa saja sampai besok." Ancaman itu membuat Theo langsung melotot. Alya membuka mulut lebar. Bahkan, Elang sampai kehilangan kata-kata. Namun, sebelum mereka sempat membalas, Ara sudah berbalik pergi. Langkahnya santai menuruni tangga. Sedangkan di lantai atas, pintu kamar Elang dibanting. Pintu kamar Theo menyusul dan terakhir kamar Alya.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣