NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 - Hanya Karena Tanggung Jawab

Luka Alya membuat seluruh kompleks ribut.

Bu Niken datang membawa sup ayam. Bu Wati membawa pisang goreng. Ibu-ibu Persit lain datang bergantian dengan alasan menjenguk, padahal sebagian ingin melihat langsung istri komandan yang terkena peluru.

Alya tersenyum sampai pipinya lelah.

"Saya baik-baik saja."

Kalimat itu dia ulang begitu sering sampai Joko menulisnya di kertas dan menempelkannya di meja pos kesehatan.

Dokter Alya baik-baik saja. Jangan tanya lagi.

Alya menatap tulisan itu.

"Pak Joko."

"Saya membantu efisiensi komunikasi, Dok."

Rina tertawa.

Damar tidak tertawa saat melihat kertas itu.

Dia mencabutnya dari meja.

"Tidak lucu."

Joko langsung berdiri tegak. "Siap, Dan."

Alya yang duduk di kursi pemeriksaan menatap Damar.

"Padahal cukup membantu."

"Kamu istirahat."

"Saya sudah istirahat sejak pagi."

"Baru empat jam."

"Untuk orang yang tidak operasi besar, itu lumayan."

Damar meletakkan kantong obat dan makanan di meja.

"Minum antibiotik tepat waktu."

"Rina sudah mencatat."

"Jangan ganti balutan sendiri."

"Saya dokter."

"Justru itu. Dokter paling buruk kalau jadi pasien."

Rina mengangguk refleks.

Alya menatapnya.

Rina langsung pura-pura mencari termometer.

Damar melanjutkan, "Malam ini kamu tidur di rumah utama kompleks."

"Apa?"

"Rumah dinas perwira. Ada kamar kosong. Lebih dekat dengan pos penjagaan."

"Tidak perlu."

"Perlu."

"Mayor Damar, luka saya di lengan, bukan di akal sehat."

"Itu masih bisa diperdebatkan."

Alya ingin berdiri, tapi rasa nyeri membuatnya bergerak lebih pelan.

"Saya tidak akan pindah hanya karena luka serempetan."

"Itu bukan permintaan."

"Dan ini bukan barak."

Suasana pos kesehatan langsung beku.

Damar menatapnya. Alya menatap balik.

Rina dan Joko seperti ingin menghilang dari ruangan.

Akhirnya Damar berkata, "Kita bicara di luar."

Alya mengambil kerudung luarnya dengan satu tangan.

"Baik."

Mereka berjalan ke samping pos. Sore mulai turun. Cahaya matahari memantul di dinding semen, membuat bayangan mereka panjang.

Damar berhenti di dekat pohon ketapang.

"Kamu selalu menolak bantuan?"

"Saya menolak dipindahkan seperti barang."

"Aku ingin memastikan kamu aman."

"Karena saya terluka di area operasi Anda."

"Karena kamu terluka."

Alya terdiam sebentar.

Damar menghela napas.

"Kemarin peluru itu untukku."

"Saya tahu."

"Kalau kamu tidak mendorongku..."

"Anda mungkin bisa menghindar."

"Jangan membuatnya ringan."

"Saya tidak."

"Kamu selalu begitu."

"Apa?"

"Mengubah sesuatu yang serius menjadi kalimat datar."

Alya tertawa pendek.

"Menarik. Saya belajar dari Anda."

Damar diam.

Kalimat itu membuat wajahnya sedikit berubah.

Alya menatap tanah.

"Saya tidak akan pindah. Kalau Anda khawatir soal keamanan, tambah patroli di area rumah dinas tenaga medis. Bukan hanya rumah saya. Rina juga tinggal di sana."

"Alya—"

"Kalau saya menerima perlakuan khusus, besok semua orang akan bilang saya memanfaatkan status. Lusa mereka bilang saya membuat Komandan repot. Minggu depan mereka bilang saya memang datang untuk mencari perhatian Anda."

Damar menatapnya lama.

"Kamu peduli pada omongan mereka?"

"Saya hidup di tengah mereka."

"Kamu tidak seperti yang mereka katakan."

Kalimat itu membuat Alya mengangkat wajah.

Damar tampak tidak nyaman, tapi tidak menariknya.

"Lalu saya seperti apa?" tanyanya pelan.

Damar tidak langsung menjawab.

Di kejauhan, dua prajurit lewat. Mereka memberi hormat lalu segera menjauh.

Damar menatap Alya.

"Dokter yang keras kepala."

Alya hampir tersenyum, tapi menahan.

"Itu bukan pujian."

"Di wilayah ini, itu bisa jadi pujian."

Sesuatu di dada Alya melunak.

Dia membencinya.

"Saya akan istirahat di rumah sendiri," katanya. "Tapi saya terima patroli tambahan kalau itu untuk semua area."

Damar akhirnya mengangguk.

"Baik."

Mereka kembali ke pos.

Alya mengira pembicaraan selesai.

Ternyata belum.

Malamnya, dia mendengar suara Damar dari luar pos komando saat hendak mengambil obat tambahan. Pintu ruang rapat tidak tertutup rapat. Dia tidak berniat menguping, tapi namanya disebut.

"Dan, Dokter Alya berani sekali. Kalau bukan dia, peluru itu mungkin kena Komandan," suara Kapten Rendra terdengar.

Damar menjawab setelah jeda.

"Dia tidak seharusnya melakukan itu."

"Tapi dia menyelamatkan Komandan."

"Karena dia dokter. Dia punya naluri menyelamatkan orang. Jangan buat cerita macam-macam."

Alya berhenti.

Kapten Rendra berkata pelan, "Saya tidak membuat cerita. Saya hanya bilang Komandan terlihat sangat khawatir."

Hening.

Lalu suara Damar datang, dingin.

"Dia istriku di atas kertas. Dia terluka karena operasi satuanku. Wajar kalau aku bertanggung jawab."

Di atas kertas.

Bertanggung jawab.

Alya merasa lucu karena kata-kata itu tidak seharusnya sakit.

Bukankah dia sudah tahu?

Bukankah sejak awal semua hanya status?

Tapi rasa hangat yang bodoh itu sudah telanjur tumbuh dari nasi kuning, senter kecil, tangan yang menangkapnya, dan suara Damar yang bergetar saat melihat darahnya.

Sekarang rasa itu dipadamkan dengan sangat rapi.

Alya mundur pelan.

Sayangnya, kakinya menyenggol ember kosong di dekat dinding.

Suara ember jatuh membuat pintu ruang rapat terbuka.

Damar keluar.

Mata mereka bertemu.

Alya melihat perubahan di wajahnya. Dia tahu. Dia tahu Alya mendengar.

"Alya."

Alya tersenyum tipis.

"Maaf. Saya hanya mau ambil obat."

"Kamu dengar?"

"Sebagian."

Damar melangkah mendekat.

"Aku—"

"Tidak perlu menjelaskan."

"Alya."

"Anda benar. Saya terluka di operasi satuan Anda. Anda bertanggung jawab. Itu saja."

Dia melewati Damar menuju lemari obat.

Tangannya sedikit gemetar saat mengambil antibiotik, tapi dia berhasil menyembunyikannya.

Damar berdiri di belakangnya.

"Aku tidak bermaksud seperti itu."

Alya menutup lemari.

"Lalu maksud Anda apa?"

Dia berbalik.

Damar menatapnya, tapi tidak ada kata yang keluar.

Itu jawaban paling jelas.

Alya mengangguk pelan.

"Selamat malam, Komandan."

Dia pergi.

Malam itu, Alya minum obat, mengganti balutan dengan bantuan Rina, lalu pulang ke rumah dinasnya. Patroli tambahan benar-benar ada. Dua prajurit berjalan bergantian di area rumah tenaga medis.

Damar menepati kesepakatan.

Dia selalu begitu.

Menepati hal-hal yang bisa diperintah.

Yang tidak bisa diperintah, dia biarkan menggantung.

Alya duduk di tepi matras, menatap luka di lengannya. Nyeri fisik terasa jelas. Mudah dipahami. Mudah diberi obat.

Yang di dada jauh lebih merepotkan.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari nomor Damar.

Minum obat.

Alya menatap layar.

Dia mengetik.

Sudah.

Lalu setelah beberapa detik, dia menambahkan.

Komandan tidak perlu khawatir. Tanggung jawab Anda aman.

Pesan terkirim.

Tidak ada balasan.

Di pos komando, Damar menatap kalimat itu lama sekali.

Kapten Rendra yang duduk di seberang tidak berani bersuara.

Akhirnya Damar meletakkan ponsel menghadap meja.

"Rendra."

"Siap, Dan."

"Kalau lain kali aku bicara bodoh, pukul saja."

Rendra terdiam.

"Itu perintah resmi?"

Damar menatapnya.

"Keluar."

"Siap."

Setelah Rendra pergi, Damar bersandar di kursi. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia merasa kalah dalam perang yang bahkan belum dia mengerti cara memenangkannya.

Besok paginya, Alya tidak datang ke latihan.

Secara medis, itu keputusan benar. Secara emosional, itu juga lebih mudah. Dia tidak perlu melihat wajah Damar, tidak perlu menebak apakah pria itu akan menjelaskan lagi, dan tidak perlu pura-pura pesan semalam tidak melukainya.

Tapi pukul enam lewat lima belas, Rina masuk sambil membawa termos.

"Dari pos komando."

Alya menatap termos itu.

"Kalau isinya perintah, buang saja."

"Isinya bubur ayam."

Alya diam.

Di tutup termos ada kertas kecil.

Makan dulu. Marah boleh setelah itu.

Alya membaca kalimat itu dua kali.

Dia ingin tetap marah.

Masalahnya, perutnya berbunyi duluan.

Rina pura-pura tidak mendengar. "Saya keluar ya, Dok."

Alya membuka termos. Aroma bubur hangat memenuhi ruangan.

Menyebalkan.

Damar bahkan membuat marah terasa butuh tenaga.

Siangnya, Alya mengembalikan termos itu lewat Joko.

"Bilang terima kasih," katanya.

Joko mengangguk. "Ada pesan lain?"

Alya berpikir sebentar.

"Bilang juga, saya masih marah."

Joko tampak sangat menikmati tugas itu.

Ketika pesan itu sampai, Damar hanya mengangguk.

"Dia makan?"

"Habis, Dan."

"Bagus."

Rendra yang mendengar dari sudut ruangan berbisik, "Marah tapi habis. Kemajuan."

Damar menatapnya.

Rendra kembali membaca peta terbalik.

Sore itu, Alya tetap tidak membalas pesan Damar.

Tapi termosnya kembali bersih, tutupnya tertutup rapi, dan di dalamnya ada satu permen jahe.

Joko menyerahkannya ke Damar dengan wajah sangat serius.

"Dari Dokter, Dan."

Damar membuka termos, melihat permen itu, lalu menutupnya lagi.

Rendra melirik.

"Itu tanda damai?"

Damar menyimpan permen itu di saku.

"Itu tanda dia masih marah, tapi tenggorokanku boleh selamat."

Rendra mengangguk bijak.

"Kemajuan lain."

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!