Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya karena kecelakaan yang dialami suaminya. Dimas, sebelum kepergiannya ia menitipkan pesan pada Dinda istrinya, untuk mendonorkan jantungnya pada pasien di rumah sakit yang sama. Dengan persetujuan Dinda akhirnya jantung itu di donorkan pada seorang pasien.
Setahun kepergian Dimas, Dinda mulai mencari kesibukan lagi. Walau belum hilang rasa sedih serta rindunya pada Dimas. Dinda bekerja di sebuah perusahaan dengan rekan-rekan yang sangat baik padanya salah satunya Ana. Ana juga sahabat Agra CEO perusahaan tempat mereka bekerja dan juga orang yang mendapatkan donor jantung Dimas.
Diawal pertemuan, Dinda dan Agra ada rasa ketertarikan pada mereka berdua. Tapi, Dinda dan juga Agra tidak terlalu menggubris hati mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu Agra memahami hatinya yang telah jatuh cinta pada Dinda. Dengan berbagai alasan, Agra mengajak Dinda untuk menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Mawarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Agra Memimpikan Dimas?
Beberapa saat keheningan menyelimuti ruang kerja Agra. Ana mengerutkan dahinya melihat Agra yang tak kunjung cerita.
"Gra? Kenapa?" tanya Ana lembut.
"Aku mimpi buruk An. Aku mimpi Dinda sudah tahu kalau aku yang menerima donor jantungnya. Lalu dia sangat marah dan dia bilang dia sangat membenciku", jelas Agra tertunduk sedih.
" Waduh, serem banget Gra. Kira-kira pertanda apa ya? Tapi apa mungkin Dinda akan semarah itu jika dia tau?" Ana juga bingung.
Agra hanya bisa menggeleng menjawab pertanyaan Ana.
"Kalau gitu kamu jujur aja sama Dinda..... ", Ana belum selesai menjelaskan solusinya.
"Nggak, belum saatnya An. Aku belum siap. Belum siap membuatnya sedih. Dan aku juga belum siap melihatnya menjauhi ku", sela Agra takut.
"Terus sampai kapan kamu menyembunyikannya? Bisa jadi makin memperparah keadaan loh Gra", Nasehat Ana.
" Aku rasa memang sudah semakin parah An. Tadi pagi aku ketemu dia lagi di taman dan kami joging bareng", cerita Agra.
"Bagus dong. Berarti ada kemajuan", ucap Ana senang.
Agra menggeleng lalu ia menyender ke badan sofa.
" Saat lari aku teringat lagi mimpiku dan beberapa saat aku melamun aku melihat Dinda telah jauh berada di belakangku dengan wajah kecewanya. Terus dia pergi menjauh".
"Tunggu dulu, pantesan aja dari tadi Dinda nampak murung gitu. Gak seceria seperti biasanya. Oh.. jadi itu gara-gara kamu", ucap Ana ikut duduk di samping Agra lalu, mencubit badan Agra.
" Aduuhh!" Agra kesakitan.
"Ini tidak sebanding Gra. Kamu udah buat sahabatku murung seperti itu. Kamu harus bertanggung jawab!" ucap Ana geram.
"Tunggu, aku belum selesai. Kamu tau aku ketiduran di taman terus almarhum suami Dinda masuk ke dalam mimpiku".
" Ha? Serius kamu?" tanya Ana tidak percaya.
Tok.. tok.. tok.... Suara ketukan pintu.
Sontak membuat keduanya terkejut. Mereka saling melihat dengan pikiran masing-masing.
"Masuk!" ucap Agra ragu.
Lalu, seseorang masuk dan orang itu ternyata Bowo. Membuat Ana dan Agra merasa lega.
Bowo langsung menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya kepada Agra.
"Ini berkas yang harus bapak tanda tangani", ucap Bowo.
Agra mengambil semua berkas itu dan meletakkan dimeja kerjanya. Sedangkan Ana lagi memperhatikan bowo sambil pikirannya Travelling lagi.
Ana terus melihat Bowo sampai keluar dari ruangan. Bowo menutup pintu dengan pelan tidak seperti Ana yang barbar.
Setelah itu Ana menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membubarkan pikirannya tentang Bowo.
"Terus Gra kelanjutannya gimana?" tanya Ana setelah sadar dari lamunannya.
Di sisi lain Dinda datang ke arah ruangan Agra. Ia ingin minta maaf pada Agra tentang kejadian tadi pagi. Hatinya terus merasa bersalah meninggalkan Agra begitu saja. Ia tidak ingin Agra menjadi salah paham dengannya. Bagaimanapun Dinda adalah seorang karyawan di perusahaan Agra. Menurutnya tidaklah baik jika mereka mempunyai hubungan yang tidak baik.
Sampai di depan pintu ruangan Agra, Dinda ingin mengetuk pintunya. Tapi, ternyata Dinda dapat melihat jika ada Ana di dalam karena pintu tidak tertutup dengan rapat.
"Yang aku ingat jelas itu, Dimas... ya Dimas..... ", ucap Agra mengingat-ingat.
Deg! Dinda merasa terkejut kala Agra mengucapkan kata Dimas. Mungkinkah Dimas almarhum suaminya? Begitu pikir Dinda.
Karena penasaran, akhirnya Dinda memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Dia bilang, aku harus membuat tanganku ini menjadi penghapus air matanya. Lalu mataku ini menjadi penghangat hatinya. Dan perkataan ku ini harus menjadi sumber kekuatan untuknya. Dan dia selalu bilang kalau dirinya mengandalkan ku", Agra menjelaskan semuanya yang dia ingat sambil berjalan mondar-mandir di depan Ana yang masih duduk di sofa.
Dinda mengerutkan dahinya. Ia tahu persis kata-kata yang di ucapkan Agra.
Dinda mundur beberapa langkah perlahan. Ia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Agra. Ia memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
Tapi, dalam setiap langkahnya kata-kata itu terngiang-ngiang di benaknya. Ia ingat betul kata-kata itu pernah dia ucapkan pada Dimas.
("Asal kamu tahu mas, tanganmu ini adalah penghapus air mataku. Dan tatapan matamu ini adalah penghangat hatiku. Lalu yang paling aku suka, perkataan mu selalu menjadi sumber kekuatan untukku menjalani kehidupan ini".)
Begitulah seingat Dinda. Ia tidak mungkin salah. Lalu, sejak kapan Dimas memberitahukan itu pada Agra. Setahu Dinda, dirinya maupun Dimas tidak pernah mengenal Agra sebelumnya.
Jelas ini sangat membingungkan bagi Dinda. Ia pun mengingat lagi awal pertemuannya dengan Agra, yang pada saat itu dirinya menyangka pernah kenal dengan Agra sebelumnya.
"Ada apa ini? Kapan Agra bertemu dengan Dimas?" gumam Dinda yang berdiri di depan pintu ruangannya.
Sementara itu, di ruangan Agra hanya ada keheningan. Mereka memikirkan apa yang dimaksud Dimas mengatakan seperti itu.
"Aduh Gra, kalau yang begini-begini otakku gak nyampe deh. Mending tanya Dinda langsung", usul Ana.
" Jangan, ntar Dinda jadi tahu dong kalau aku yang dapat donor jantungnya", jawab Agra tidak setuju.
"Ya, kamu tinggal bilang alasan lain", ucap Ana lagi.
"Alasan lain apa An? Kamu pikir gampang untuk berbohong? Kalau sudah berbohong, bakalan ada kebohongan-kebohongan lagi untuk menutupi kebohongannya", Agra menjelaskan dengan kesal.
"Ah, udah deh.... Otakku buntu. Aku balik ke ruangan ku aja. Ntar kalau dapat hidayah aku kasih tahu kamu", jawab Ana sambil melangkah pergi.
Agra terduduk di sofanya sambil memijat dahinya. Bukannya mendapat jalan keluar, malah semakin pusing bicara dengan Ana menurutnya.
Sambil jalan Ana terus berusaha mencari alasan yang logis untuk membantu sahabatnya itu.
"Duh, apa ya kira-kira alasannya biar Dinda gak curiga?" gumam Ana. "Gra... Gra... kehidupan cinta kamu begini amat sih? Ribet banget".
"Em... apa ya? Duh otakku bisa sebuntu ini sih? Gak bisa diandalkan banget. Kira-kira siapa ya yang bisa nolongin tapi yang bisa di percaya", Ana mengoceh sendiri.
Tibanya di depan pintu ruangan, pandangannya tertuju pada Beno. Di mata Ana, Beno tampak seperti ada yang menyinarinya dari atas.
'Apa aku minta bantuan Beno ya? Secara dia juga udah dekat lama sama Agra. Tapi, kok aku gak yakin ya. Secara kalau di perhatikan dia kan agak lemot', Ana bicara dalam hati dan terus menyepelekan Beno.
Lalu, Ana berjalan ke meja Beno. Tapi, ia merasa aneh karena Dinda tidak ada di mejanya.
"Eh, Ben. si Dinda mana?" tanya Ana pada Beno.
Padahal, awalnya Ana ingin bertanya tentang masalah yang sedang dihadapi oleh Agra. Tapi, sepertinya ketiadaan Dinda lebih membuatnya penasaran.
"Nggak tau, tadi sih keluar. Tapi udah setengah jam yang lalu", jawab Beno.
" Hah? Lama banget? Kemana dia? Gak biasanya dia pergi selama ini kalau lagi jam kerja", Ana curiga.
Beno hanya bisa mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaan Ana.
.
.
.
.
So Happy Ending
Time Travel Lia mampir
Vio emang jahat banget sih
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir