Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
.
Malam semakin sunyi, Arga duduk sendirian di ruang kerjanya. Ruangan yang biasanya menjadi tempatnya mencari ketenangan kini terasa begitu sempit dan menyesakkan, seolah udara di dalamnya mulai habis.
Arga mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah bingkai foto kecil yang terletak di atas meja kerjanya, foto pernikahannya dengan Rania yang diambil tiga tahun lalu. Dalam foto itu, mereka tersenyum begitu bahagia. Menahan sesak di dada, jari-jari Arga menyentuh wajah istrinya yang kini mungkin sudah membencinya.
Dadanya terasa sesak luar biasa. Dan tanpa ia sadari air matanya kembali menetes jatuh di atas wajah Rania dalam bingkai kaca. Arga memejamkan matanya rapat-rapat, mendekap foto itu dengan dua tangannya, seolah sedang memeluk Rania.
“Maaf… maafkan aku…” bisiknya lirih.
Beberapa saat lamanya hingga pria itu menjadi lebih tenang, lalu kembali menatap wajah dalam foto itu lekat-lekat sebelum kemudian meletakkannya kembali di atas meja.
Baru saja pria itu menjaga air mata yang membasahi pipinya, pintu ruang kerjanya terbuka secara tiba-tiba. Ibunya masuk dengan wajah merah padam.
“Kamu masih belum juga mengurus perceraian dengan wanita mandul itu?” tanyanya langsung tanpa basa-basi.
Arga mengangkat kepala perlahan, rasa lelah yang mendalam terlihat jelas di matanya. “Bu… aku sudah menjatuhkan talak, Rania juga sudah keluar dari rumah ini. Apakah bagi Ibu itu belum cukup?!”
“Tentu saja belum cukup,” jawab Bu Ratih tegas. Ia duduk di kursi depan meja putranya, tatapannya menjadi semakin tajam. “Bisa saja suatu saat nanti dia datang kembali ke rumah ini karena belum ada surat cerai resmi. Orang-orang dari keluarga miskin seperti mereka, akan memakai segala cara untuk bisa hidup enak!”
“Cukup, Bu!" Arga tangannya erat-erat. "Jangan pernah menghina Rania. Dia bukan wanita seperti itu!”
“Ibu tidak peduli!” ucap Bu Ratih dengan tegas. “Atau jangan kamu masih berharap rujuk dengannya?”
Keheningan Arga menjadi jawaban yang jelas. Wajah wanita itu semakin mengeras. “Ibu tidak akan membiarkannya!!”
Arga memejamkan mata rapat-rapat. Ia sudah lelah. Sangat lelah. Hidupnya tidak pernah bebas memiliki pilihan. Ibunya selalu saja mengatur untuk dirinya harus ini dan itu.
“Besok kamu harus segera mengurus surat cerai,” ulang Bu Ratih. “Tidak usah membawa ini ke pengadilan. Suruh saja pengacara yang mengurus semuanya,” lanjut bu Ratih tegas. “Aku tidak mau wanita miskin itu membuat drama di pengadilan yang akan membuat.nama keluarga kita tercoreng.
Arga menggeleng pelan. Semuanya terasa salah. Sangat salah. Rania-nya bukan wanita seperti itu. Bahkan wanita itu sudah keluar dari rumah Pratama tanpa diminta. Namun sebelum ia sempat mengeluarkan pembelaan…
“Kalau kamu tidak segera menyelesaikan masalah perceraian ini…” Bu Ratih menatapnya dengan mata dingin sambil tersenyum tipis, namun senyum itu terlihat mengerikan membuat Arga menelan ludahnya.
“... Aku akan melakukan apa saja agar perempuan itu pergi dari hidupmu.”
Tubuh Arga langsung menegang. “Bu! Jangan gila! Apa yang akan ibu lakukan?!”
“Aku serius, Arga.” Suara Bu Ratih terdengar datar dan dingin. Namun justru karena itu, Arga semakin merasa takut. “Aku tidak ingin menyakitinya, tapi kalau kamu memaksa….”
Keheningan tebal memenuhi ruangan. Arga merasa sama sekali tidak mengenal ibunya sendiri.
“Bu…” Arga menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“... Jangan salahkan kalau suatu hari terjadi sesuatu pada Rania.”
Dan Arga tahu itu bukan sekedar ancaman. Harga tahu persis bagaimana sifat ibunya, yang akan melakukan apapun untuk mencapai keinginannya dan akan menyingkirkan siapapun yang menghalanginya.
Arga menatap nanar wajah ibunya, kedua tangannya mengepal kuat sampai kuku menekan telapak tangan. Tubuhnya bergetar karena rasa marah, sakit, bersalah dan tidak berdaya yang campur aduk menjadi satu. Tapi pada akhirnya… ia tetap kalah. Sama seperti hari-hari sebelumnya.
“Baik,” suaranya terdengar serak dan lelah. “Aku akan mengurus semuanya. Segera.”
Bu Ratih akhirnya tersenyum puas. “Itu baru anak Ibu yang patuh.”
Setelah mengatakan itu, Bu Ratih meninggalkan ruangan tanpa melihat ke belakang. Meninggalkan Arga sendirian di tengah kegelapan dan kesendirian.
Pria itu terduduk lemas di kursinya, tangan Arga kembali terulur untuk mengambil bingkai foto pernikahannya dengan Rania. Air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya, lalu menetes ke atas bingkai foto.
“Maafkan aku….” bisiknya lirih, nyaris tidak terdengar. “Maafkan aku, Rania….”
Namun tidak ada yang menjawab. Dan tanpa Arga sadari, keputusan yang diambil malam itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
*
*
*
Pagi itu, Rania baru saja melangkah masuk ke area kantor saat resepsionis segera menghampirinya.
“Selamat pagi, Mbak Rania.”
“Pagi. Ada apa?” tanya Rania sambil tersenyum tipis.
“Ada kiriman khusus untuk Mbak. Tadi dikirim lewat kurir langsung ke sini.”
Rania mengernyit sedikit, merasa bingung, Karena ia merasa tidak pernah mengirim paket apapun. “Untuk saya? Apa tidak salah alamat?”
“Benar, Mbak. Ini buat Mbak Rania kok. Ada tertulis jelas nama dan ruangan Mbak Rania,” jawab resepsionis sambil menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar.
“Terima kasih banyak,” ucap Rania menerimanya. Awalnya ia mengira itu hanya berkas kerja atau dokumen dari klien. Namun entah kenapa, saat jari-jarinya menyentuh permukaan amplop itu, hatinya tiba-tiba terasa berdebar tidak nyaman seolah firasat buruk melintas di hatinya.
Rania segera membawa amplop itu menuju ruangannya. Menutup pintu rapat-rapat dan langsung duduk di kursi kerjanya. Perlahan ia membuka segelnya.
Ternyata masih ada amplop lagi di dalamnya. Dan Rania matanya langsung membelalak saat membaca logo dalam amplop tersebut. Darah di seluruh tubuhnya seolah mendadak berhenti mengalir. PENGADILAN AGAMA. Wajah Rania seketika pucat pasi, dan tangannya mulai bergetar hebat saat membuka amplop kedua.
Dalam lembaran kertas itu, di posisi paling atas tertera tulisan yang sangat jelas:
SURAT PERNYATAAN PERCERAIAN
Deg.
Jantungnya terasa seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Dengan tangan gemetar, ia membaca setiap kalimat dengan pandangan yang kabur. Semakin ia baca, semakin terasa seperti ada benda berat yang menindih dadanya.
Hingga akhirnya matanya tertuju pada tanda tangan di bagian paling bawah… tanda tangan yang sangat ia kenal, yang pernah ia lihat ratusan kali dalam dokumen rumah tangga mereka.
Arga Pratama
Bruk!
Dokumen itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas meja. Untuk beberapa lama Rania hanya duduk membeku, pikirannya terasa kosong.
Meskipun sudah mendengar sendiri talak itu keluar dari mulut Arga, dan tahu hubungan mereka sudah berakhir. Tapi melihat tulisan hitam di atas kertas, dengan tanda tangan resmi… rasanya jauh berbeda. Jauh lebih menusuk. Kini semuanya benar-benar selesai.
Air mata perlahan menetes membasahi pipinya. Satu tetes, lalu semakin deras mengalir tanpa bisa ditahan. Bohong jika dibilang tidak terluka, bohong jika dibilang dia tidak patah hati. Karena selama ini dia tidak pernah mengenal pria lain selain Arga.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu terdengar, namun Rania terlalu tenggelam dalam kesedihannya hingga tidak menyadari jika pintu ruang kerjanya terbuka perlahan. Pikirannya hanya terpaku pada satu nama… Arga. Pria yang pernah berjanji menemaninya sampai tua, yang pernah menjadi seluruh dunianya.
“Rania?”
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.