NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Mereka terus berjalan melewati jalur pegunungan. Selama perjalanan itu, Xavier terus menempel ke pemuda pirang dan merengek minta untuk diajari formasi sihir. Apalagi setiap kali terdengar ledakan dari jalur yang sudah mereka lewati. Saat itu Xavier pasti langsung bersemangat dan heboh sendiri. Namun pemuda pirang itu tidak menggubrisnya sama sekali, bahkan tidak meliriknya sedikitpun.

Evren hanya fokus berjalan kaki sambil menuntun kudanya. Ia bahkan tidak melirik mereka berdua sedikitpun. Selama bukan dirinya yang diganggu oleh pemuda tinggi itu, ia tidak akan memperdulikannya.

Namun langkah Evren berhenti mendadak saat merasa semak-semak di sekitar mereka bergerak bukan karena angin. Xavier serta pemuda itu pun ikut berhenti. Xavier langsung diam menghentikan segala ocehannya. Evren mulai waspada dan mengeluarkan belatinya lalu berjalan mundur merapat dengan dua rekan seperjalanannya.

Tiba-tiba sebuah anak panah meluncur dengan kecepatan tinggi dari balik pohon di samping mereka. Anak panah itu langsung terhenti di udara tepat di depan mata Xavier. Sebuah cahaya kuning berpendar di hadapan Xavier, seolah-olah ada tameng cahaya yang melindunginya. Sesaat kemudian, anak panah itu jatuh begitu saja ke tanah.

Xavier membulatkan matanya. Nafasnya tercekat dan tubuhnya membeku di tempat. Anak panah itu berhenti hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa tipis batas antara hidup dan mati. Jika tameng sihir itu terlambat sekejap saja, anak panah itu mungkin sudah menembus kepalanya.

Baru saja anak panah itu menyentuh tanah, belasan sosok berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup kain melompat keluar dari balik pepohonan dan langsung mengepung mereka. Masing-masing dari mereka menggenggam sebuah pedang panjang.

Evren sudah berada dalam posisi siap bertarung dengan belati di tangannya. Sementara Xavier dan pemuda pirang itu berdiri di belakangnya.

"Hei, pirang. Kamu bisa membuat sihir perlindungan kan?" tanya Evren.

Pemuda itu mengangguk.

"Kalau begitu, lindungi aku."

Setelah mengatakan itu, Evren langsung menerjang ke depan.

Salah seorang penyergap mengayunkan pedangnya ke arah lehernya. Evren menekuk lutut serendah mungkin hingga bilah pedang itu hanya membelah udara di atas kepalanya. Dalam posisi yang sama, belati di tangannya menyambar kaki lawan.

Darah langsung memercik.

Penyergap itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk. Sebelum sempat bangkit kembali, gagang belati Evren menghantam pelipisnya dengan keras hingga tubuhnya ambruk ke tanah.

Evren merebut pedang panjang milik lawannya, lalu menebaskannya hingga pria itu tidak lagi bergerak. Setelah itu, Evren menatap ke pembunuh yang lain lalu menyerang mereka. Suara adu pedang begitu memekakkan telinga. Sementara itu, pemuda pirang itu tetap berdiri di tempat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Evren. Setiap kali bilah pedang nyaris menyentuh tubuh Evren, cahaya kuning langsung berpendar di udara, membentuk tameng yang menahan setiap serangan.

Ia terlalu fokus untuk melihat sekelilingnya, hingga tanpa sadar ada seorang pembunuh yang berlari mendekatinya. Xavier yang melihatnya lebih dulu refleks mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangan. Tanpa sempat berpikir, ia melemparkannya sekuat tenaga.

Buk!

Batu itu tepat mengenai kepala pembunuh tersebut hingga pria itu langsung terjatuh. Pemuda itu melirik sebentar lalu menoleh ke arah Xavier.

“lemparan yang bagus,” ucap pemuda pirang. Namun Xavier tidak meresponnya karena ia masih terdiam di tempat. Xavier sendiri masih menatap batu yang baru saja dilemparkannya. Ia sama sekali tidak menyangka lemparan asalnya bisa mengenai sasaran.

Beberapa saat kemudian, hutan kembali sunyi. Seluruh pembunuh itu telah tergeletak tidak bergerak.

Evren mengembuskan napas pelan lalu berjongkok di samping salah satu mayat. Penampilan mereka berbeda dari para pengejar sebelumnya. Ia membuka penutup wajah mereka satu per satu, lalu memeriksa lengan atas masing-masing.

Tidak ada.

Tato organisasi pembunuh yang selama ini mengejarnya sama sekali tidak ditemukan.

“apa Kaisar mengirim kelompok yang berbeda lagi?” tanyanya, “sebenarnya apa salahku sampai diincar sebegininya?” keluhnya yang merasa semakin frustasi dengan apa yang terjadi.

“mereka datang untukku,” ucap Xavier membuat Evren langsung menoleh ke arahnya dengan raut sedikit terkejut.

Xavier berdiri di samping salah satu pembunuh sambil memegang selembar kertas dan sebuah liontin di tangannya.

“mereka ingin membunuhku,” gumam Xavier namun masih terdengar jelas di telinga Evren dan si pirang.

Xavier terdiam sesaat.

"Tidak... lebih tepatnya..."

Tatapannya jatuh pada anak panah yang tadi hampir menembus kepalanya.

"Dia benar-benar ingin memastikan aku mati."

Tidak ada lagi yang berbicara. Hanya suara angin yang berembus melewati mereka bertiga.

Evren menatap Xavier dengan sorot mata yang sulit diartikan. Sementara pemuda pirang itu tetap diam. Tatapannya tidak pernah lepas dari Xavier.

Evren yang sebelumnya sedang berjongkok pun berdiri lalu menghampiri Xavier.

“apa ini ada kaitannya dengan kepergianmu ke Draven?” tanya Evren.

“...”

Xavier tidak menjawab dan terus menatap kertas serta liontin yang ia ambil dari pembunuh di depannya.

Ia diam, namun reaksi tubuhnya tidak bisa bohong.

Wajahnya sudah memerah dan tangannya mengepal kuat. Bahkan kertas di tangannya sudah lusuh tidak berbentuk lagi. Matanya berkaca-kaca dan air matanya bisa menetes kapan saja.

“aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu tapi aku merasa kita berada dalam situasi yang mirip, ada orang yang ingin kita menghilang,” ucap Evren yang entah bagaimana itu terdengar sangat menusuk di hati Xavier.

“jadi jangan terlalu diambil pusing, ada aku dan si pirang, kita juga sebentar lagi sampai di benteng. Kamu tidak sendirian,” ucapnya sambil menepuk bahu Xavier membuat satu tetes air mata Xavier meluncur dari pelupuk matanya.

Xavier tiba-tiba teringat dengan hari-harinya selama di ibu kota. Duduk belasan jam di tengah tumpukan buku sambil membayangkan dunia luar yang tertulis di dalam buku. Tidak ada teman. Bahkan kakaknya sendiri tidak pernah menemaninya. Sejak kecil, dunia yang benar-benar mengenalnya hanyalah tumpukan buku di hadapannya.

Namun kali ini berbeda. Benar apa yang dikatakan oleh Evren, sekarang dirinya tidak lagi sendirian.

Xavier mengusap cepat air mata yang sempat menetes, lalu menarik napas panjang. Senyum lebar yang biasanya menghiasi wajahnya perlahan kembali. Ada satu teman yang sudah menemaninya beberapa hari ini melewati jurang maut bersama-sama. Ia menoleh ke arah Evren dan menatapnya lekat. Lalu ada satu teman baru yang tidak suka berbicara namun sudah saling melindungi juga. Ia menoleh ke arah si pirang yang juga sedang menatapnya dalam diam.

Xavier merangkul Evren yang lebih pendek darinya. Hasilnya ia merangkul leher Evren dan hampir saja mencekiknya. Menyeretnya paksa ke arah Si pirang lalu merangkulnya juga.

Xavier di tengah menjadi yang paling tinggi, dengan dua pemuda yang lebih pendek berada dalam rangkulannya.

“LEPAS!” teriak Evren sambil mencoba melepaskan tangan Xavier dari lehernya.

Sedangkan si pirang hanya diam saja menerima perlakuan dari Xavier.

“oh iya, siapa namamu? kita sudah berjuang melewati kematian bersama-sama, sudah boleh tahu namamu kan?” tanya Xavier.

“...”

Yang ditanya hanya diam. Ia menatap Xavier dengan tatapan malas, sementara bibirnya tetap tertutup rapat seolah-olah ada ratusan gembok yang menguncinya.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!