Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_15
"Leonard, berangkat sekarang juga." ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi tekad, sementara sorot matanya tidak pernah lepas
dari kotak kayu yang berada di atas meja.
"Baik, Tuan." jawab Leonard mantap. Wajahnya dipenuhi semangat, sementara ia segera merapikan seluruh berkas penyelidikan ke dalam map.
"Saya ikut." sahut Nathan serius. Wajahnya dipenuhi keyakinan, sementara kedua tangannya mengepal pelan.
Adrian menggeleng perlahan.
"Tidak." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketegasan. "Kau tetap di sini dan awasi Rani."
Nathan tampak sedikit bingung.
"Mengawasi Bu Rani?" tanyanya heran. Alisnya sedikit berkerut.
"Aku tidak ingin dia mengetahui penyelidikan ini." jawab Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kehati-hatian. "Kalau memang dia adalah gadis itu, aku ingin mengetahui semuanya terlebih dahulu."
"Baik, Tuan." balas Nathan mengangguk. Wajahnya dipenuhi pengertian.
Leonard melangkah menuju pintu, tetapi Adrian kembali memanggilnya.
"Leonard." panggil Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi keseriusan.
Leonard segera berhenti.
"Ya, Tuan?" jawabnya hormat. Wajahnya dipenuhi rasa siap.
"Jika kau menemukan sesuatu sekecil apa pun, segera hubungi aku." ucap Adrian tegas. Tatapannya begitu tajam.
"Saya mengerti." jawab Leonard mantap.
Tak lama kemudian Leonard meninggalkan ruangan.
Sementara itu...
Rani sedang membantu Bibi Sari menyusun
bunga segar di ruang tamu.
"Bu Rani, bunga yang ini diletakkan di meja dekat jendela saja." ucap Bibi Sari ramah. Wajahnya dipenuhi senyum hangat.
"Baik, Bi." jawab Rani lembut. Wajahnya dipenuhi ketulusan, sementara tangannya mulai merapikan bunga-bunga itu.
Nathan berjalan melewati ruang tamu.
"Selamat sore, Pak Nathan." sapa Rani sopan. Wajahnya dipenuhi senyum tipis.
"Sore juga, Bu Rani." balas Nathan ramah. Wajahnya dipenuhi keramahan, tetapi matanya tanpa sadar memperhatikan wajah Rani lebih lama dari biasanya.
Rani tertawa kecil.
"Ada apa? Kenapa Bapak melihat saya seperti itu?" tanyanya penasaran. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Nathan sedikit gugup.
"Tidak... tidak ada apa-apa." jawab Nathan cepat. Wajahnya dipenuhi rasa canggung.
Bibi Sari tersenyum geli.
"Pak Nathan pasti sedang melamun." godanya sambil terkekeh. Wajahnya dipenuhi keisengan.
Nathan hanya tersenyum tipis.
"Mungkin." balas Nathan singkat.
Rani kembali menyusun bunga.
"Aneh..." gumam Nathan dalam hati. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Semakin lama melihat Bu Rani, semakin terasa ada sesuatu yang sangat akrab."
Sementara itu...
Mobil Leonard melaju menuju Desa Sukamaju.
Di sepanjang perjalanan, Leonard terus membuka kembali berkas penyelidikan.
"Semoga kali ini ada jawaban." gumam Leonard pelan. Wajahnya dipenuhi harapan.
Beberapa jam kemudian...
Mobil berhenti di depan balai desa yang tampak sederhana.
Leonard turun sambil membawa map cokelat.
"Permisi." ucap Leonard sopan. Wajahnya dipenuhi kesantunan.
Seorang pria tua keluar dari dalam balai desa.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.
"Saya sedang mencari informasi tentang seorang anak perempuan bernama Rani yang pernah tinggal di desa ini sekitar dua puluh tahun lalu." jelas Leonard. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.
Pria tua itu berpikir sejenak.
"Kalau soal masa lalu, mungkin Pak Lurah lama lebih tahu." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi keraguan.
"Apakah beliau masih tinggal di sini?" tanya Leonard penuh harap.
"Masih." jawab pria tua itu mengangguk. "Rumahnya berada di ujung desa."
"Terima kasih." ucap Leonard sopan.
Beberapa menit kemudian...
Leonard tiba di sebuah rumah kayu tua.
"Permisi..." panggil Leonard sopan. Wajahnya dipenuhi harapan.
Seorang kakek berusia sekitar delapan puluh tahun keluar perlahan sambil membawa tongkat.
"Siapa?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
"Perkenalkan, saya Leonard." jawab Leonard hormat. Wajahnya dipenuhi kesopanan. "Saya ingin bertanya tentang seorang anak perempuan bernama Rani."
Mata sang kakek langsung berubah.
"Rani?" ulangnya lirih. Wajahnya dipenuhi kenangan.
Leonard langsung memperhatikan perubahan ekspresi itu.
"Apakah Kakek mengenalnya?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi harapan.
Kakek itu mengangguk perlahan.
"Aku mengenalnya." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi nostalgia.
Jantung Leonard langsung berdegup lebih cepat.
"Kakek masih mengingatnya?" tanyanya penuh antusias.
"Bagaimana mungkin aku lupa." jawab sang kakek sambil tersenyum tipis. Wajahnya dipenuhi kenangan lama. "Anak itu sangat baik hati."
Leonard segera mengeluarkan buku catatan.
"Tolong ceritakan semua yang Kakek ingat." pintanya sopan. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.
Sang kakek menghela napas panjang.
"Rani sering membantu siapa saja." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi senyum hangat."Kalau ada orang tua membawa barang berat, dia pasti menolong."
Leonard terus menulis.
"Selain itu?" tanyanya serius.
"Dia juga selalu membela seorang anak laki-laki." jawab sang kakek. Wajahnya dipenuhi ingatan yang mulai kembali.
Leonard langsung mengangkat kepala.
"Anak laki-laki dari keluarga miskin itu?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
"Iya." jawab sang kakek mantap. "Anak itu sering dipukul dan diejek teman-temannya."
"Apakah Kakek ingat namanya?" tanya Leonard penuh harap.
Sang kakek memejamkan mata beberapa saat.
"Kalau tidak salah..." gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi usaha mengingat.
Leonard menunggu tanpa berkedip.
"Namanya..." lanjut sang kakek perlahan.
"Tolong ingat baik-baik, Kek." ucap Leonard hati-hati. Wajahnya dipenuhi harapan.
Beberapa detik berlalu.
Sang kakek akhirnya membuka matanya lebar.
"Aku ingat!" serunya. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Leonard langsung berdiri.
"Siapa namanya?" tanyanya tidak sabar. Wajahnya dipenuhi ketegangan.
"Namanya..." ucap sang kakek perlahan.
Belum sempat kalimat itu selesai...
"Tunggu!"
Suara seorang nenek terdengar dari dalam rumah.
"Kakek jangan asal bicara." ucap nenek itu pelan. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran."Masih ada satu orang lagi yang mengetahui kejadian sebenarnya."
Leonard langsung menoleh.
"Siapa?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
Nenek itu menatap Leonard dalam-dalam.
"Bu Sulastri..." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Mantan guru SD di desa ini."
"Mengapa beliau?" tanya Leonard.
"Karena hanya Bu Sulastri yang pernah menyimpan buku data murid dan foto-foto sekolah mereka." jelas sang nenek. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Mata Leonard langsung berbinar.
"Apakah buku itu masih ada?" tanyanya penuh harap.
Sang nenek mengangguk pelan.
"Kalau belum dibuang, pasti masih disimpan olehnya." jawab sang nenek.
Leonard segera menutup buku catatannya.
"Terima kasih banyak, Kek... Nek." ucap Leonard tulus. Wajahnya dipenuhi rasa syukur.
Ia segera berlari menuju mobilnya.
Di dalam hati, Leonard merasa penyelidikan mereka kini semakin dekat dengan jawaban yang selama bertahun-tahun tersembunyi.
Sementara itu, tanpa seorang pun menyadarinya, dari balik pepohonan di seberang rumah, sepasang mata sedang mengawasi setiap gerakan Leonard.
Pria misterius itu perlahan mengangkat ponselnya.
"Leonard sudah mulai menemukan jejaknya." bisiknya pelan. Wajahnya dipenuhi senyum licik.
"Kalau begitu..." lanjutnya lirih sambil mengepalkan tangan. "Bu Sulastri harus dibungkam sebelum semuanya terlambat."