“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Bab 8: Bayangan di Balik Jendela Ruko
Hujan deras di luar jendela ruko perlahan mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kecil yang berketukan pelan pada kaca jendela. Bau tanah basah dan udara dingin petang itu masih melekat kuat. Di dalam ruangan lantai dua yang hangat, Keisha Zahra Aurellia masih duduk di sofa dengan mengenakan hoodie hitam kebesaran milik Rangga. Secangkir teh hangat di genggamannya kini sudah hampir mendingin, namun sisa-sisa kehangatan dari cairan itu masih merambati telapak tangannya.
Rangga berdiri beberapa langkah darinya, bersandar pada kusen jendela sambil melipat kedua tangan di depan dada bidangnya. Matanya sesekali melirik ke arah luar, memantau situasi jalanan di bawah ruko yang mulai lengang setelah diguyur badai. Pikiran pria itu tidak sepenuhnya tenang; ancaman dari kelompok Viper yang sempat memburu Keisha di sekolah tadi siang menjadi sinyal bahaya bahwa ruang gerak mereka mulai diawasi.
"Keisha," panggil Rangga dengan suara baritonnya yang tenang, memecah keheningan yang sempat tercipta selama beberapa menit terakhir.
Gadis itu mendongak perlahan, menatap punggung tegap Rangga yang membelakangi ruangan sebelum akhirnya pria itu berbalik dan menghadapnya. "Ya, Kak?" jawab Keisha pelan.
"Mulai besok, ada beberapa hal yang harus kita ubah," ujar Rangga melangkah mendekat, lalu kembali berdiri di hadapan Keisha dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan mutlak. "Lo nggak boleh lagi jalan sendirian, baik waktu berangkat sekolah, istirahat, maupun pas pulang. Satria atau Bara bakal standby di sekitar kelas lo kalau gua lagi ada urusan penting."
Keisha langsung menggelengkan kepalanya pelan, ekspresi keberatan terukir jelas di wajahnya. "Tapi, Kak... itu berlebihan banget! Kalau anak-anak sekelas atau guru-guru lihat aku dikawal sama anak buah Kak Rangga, aku bakal jadi bahan gosip satu sekolah. Hidup aku bakal makin nggak tenang!"
Rangga mendengus pelan, menampilkan seulas senyuman miring yang khas. "Biarin mereka gosip. Mau pilih jadi bahan gosip tapi selamat, atau mau jadi target empuk Viper di luar sana?" Pertanyaan retoris itu langsung membungkam mulut Keisha seketika. Gadis itu terdiam, menyadari bahwa tidak ada pilihan aman baginya selain mengikuti aturan main yang dibuat oleh sang ketua geng.
"Lagi pula," lanjut Rangga dengan nada suara yang sedikit melunak, seraya berjongkok di hadapan Keisha untuk menyetarakan tinggi mata mereka berdua, "keamanan lo adalah prioritas utama gua sekarang. Jangan bantah perintah ini, Keisha."
Sentuhan mata yang begitu lekat itu membuat jantung Keisha berdegup kencang. Ada ketulusan yang teramat nyata di balik sikap protektif berlebihan tersebut. Gadis itu akhirnya mengangguk kecil, tanda menyerah. "Baiklah... aku ngerti, Kak."
Keesokan paginya, suasana SMA Nusantara terasa jauh lebih hidup setelah badai besar kemarin sore menyapu bersih debu dan polusi kota. Langit tampak biru cerah dengan terbitnya matahari yang menghangatkan halaman sekolah. Namun, di balik kedamaian pagi itu, aura ketegangan di antara dua geng besar—Black Raven dan Viper—dirasakan oleh beberapa siswa yang peka terhadap situasi lingkungan sekolah.
Keisha melangkah memasuki gerbang utama sekolah bersama Sintia, sahabat karibnya. Sesuai dengan janji Rangga kemarin, sebuah motor sport hitam berjarak beberapa meter di belakang mereka tampak dikendarai oleh Bara, yang sengaja mengawasi langkah Keisha dari jauh tanpa menarik terlalu banyak perhatian mencolok.
"Keish, jujur ya, dari kemarin aku perhatiin anak-anak Black Raven kayaknya lagi ngetatin penjagaan di sekitar koridor kita deh," bisik Sintia sambil menyenggol lengan Keisha dengan penuh rasa penasaran. "Emang bener ya gosip kalau lo sekarang di bawah perlindungan langsung sama Rangga?"
Keisha merona merah, salah tingkah mendengar pertanyaan sahabatnya itu. "Nggak usah ngaco, Sin. Siapa juga yang dilindungin. Aku cuma... ya, kebetulan kemarin sempat nolongin sesuatu aja makanya mereka agak baik."
"Nolongin? Nolongin ketua geng motor paling ditakuti? Yang bener aja, Keisha!" sergah Sintia tak percaya. "Tapi kalau dipikir-pikir, keren juga ya. Jarang banget ada cewek yang bisa bikin seorang Rangga Dewantara Aldebaran segitunya merhatiin orang lain. Biasanya dia kan dingin kayak es batu ke semua cewek."
Sebelum Keisha sempat menjawab ucapan Sintia, langkah mereka tiba-tiba terhenti di dekat koridor utama. Di sana, tepat di depan mading sekolah, segerombolan siswa kelas XII dari kubu Viper—yang dipimpin oleh seorang pemuda bertubuh tinggi berbadan tegap dengan luka parut tipis di pelipis kirinya—bernama Reno, berdiri melintang menghalangi jalan.
Reno adalah wakil ketua geng Viper sekolah sebelah yang sering mangkal di sekitar area luar SMA Nusantara untuk mencari gara-gara. Tatapan mata pemuda itu tampak tajam dan penuh permusuhan saat melihat Keisha berjalan mendekat.
"Wah, wah... liat siapa yang lewat," ucap Reno dengan nada suara mengejek, melangkah maju mendekati Keisha dan Sintia. "Si anak beasiswa manis yang kemarin nyaris bikin rencana kita berantakan di parkiran."
Sintia bergidik ngeri, reflek menarik tangan Keisha ke belakang punggungnya. "Mau... mau apa kalian? Ini di dalam area sekolah!"
Reno tertawa kecil meremehkan. "Sekolah? Aturan sekolah nggak berlaku buat kita, neng. Gua cuma mau kasih peringatan kecil buat teman lo ini..." Reno menunjuk ke arah Keisha dengan jari telunjuknya. "Bilang sama bos pelindung lo si Rangga itu, jangan sok jadi penguasa jalanan kalau dia sendiri masih nyembunyiin cewek lemah buat jadi tameng."
Sebelum Reno sempat melanjutkan kata-katanya lebih jauh, sebuah suara bariton yang dingin dan mematikan mendadak memecah kerumunan dari arah belakang.
"Jauhkan tangan kotor lo dari dia, Reno."
Suara itu berhasil membuat seluruh siswa yang menyaksikan kejadian di koridor langsung membeku di tempat.
Rangga berjalan santai namun penuh ancaman dari ujung koridor, didampingi oleh Satria dan Bara di belakangnya. Aura dominasi yang gelap seketika menyelimuti area sekitar. Setiap langkah kaki Rangga terdengar bagai hitungan mundur menuju malapetaka bagi siapa pun yang berani mencari masalah dengannya.
Reno menoleh ke belakang, mendapati Rangga sudah berdiri hanya berjarak beberapa jengkal darinya dengan sorot mata kelam yang menyiratkan kemunafikan dan kemarahan besar.
"Oh, lihat pahlawan kesiangan kita dateng," sinis Reno mencoba menutupi rasa gentarnya. "Kenapa, Rangga? Takut cewek kesayangan lo ini lecet?"
Rangga tidak banyak bicara. Dalam satu gerakan kilat yang tidak sempat diantisipasi oleh siapa pun, tangan kekar Rangga langsung mencengkeram kerah seragam Reno dengan kuat, mendorong tubuh pemuda itu hingga membentur dinding mading sekolah dengan suara brukk yang cukup keras.
Suasana koridor langsung mendadak sunyi senyap. Tidak ada satu pun siswa yang berani bersuara atau mendekat.
"Satu kali lagi lo berani mendekati atau mengancam Keisha di area manapun..." bisik Rangga tepat di depan wajah Reno, suaranya terdengar sangat rendah namun penuh tekanan kematian yang mutlak, "...gua pastikan lo nggak akan pernah bisa jalan pakai kedua kaki lo lagi keluar dari wilayah ini."
Reno menelan ludah susah payah, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia bisa melihat kemarahan yang nyata di balik manik mata kelam sang ketua Black Raven.
"O... oke, lepasin!" cicit Reno dengan suara bergetar ketakutan.
Rangga mendorong tubuh Reno kasar hingga nyaris tersungkur ke lantai, lalu merapikan lengan jaket kulitnya sekilas. "Pergi dari sini sekarang, atau kalian semua bakal babak belur sebelum jam pelajaran pertama dimulai."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Reno dan kelompok kecilnya langsung kabur terbirit-birit meninggalkan koridor sekolah di bawah tatapan tajam seluruh siswa.
Rangga kemudian membalikkan tubuhnya, melangkah mendekati Keisha yang masih berdiri terpaku dengan napas memburu karena terkejut. Pria itu meneliti wajah gadis di hadapannya dengan cermat untuk memastikan tidak ada luka sedikit pun.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Rangga dengan nada suara yang melembut seketika begitu berada di hadapan Keisha.
Keisha mengangguk pelan, air mata kelegaan hampir menetes di pelupuk matanya. "Aku... aku nggak apa-apa, Kak. Terima kasih..."
Rangga menghela napas lega, lalu menepuk puncak kepala Keisha pelan di hadapan puluhan siswa yang masih terpukau menyaksikan adegan tersebut. "Masuklah ke kelas. Biar urusan di luar ini jadi tanggungan gua."
Hari itu, seluruh siswa SMA Nusantara tahu satu hal pasti: mengusik Keisha Zahra Aurellia sama artinya dengan menggali kuburan sendiri di hadapan sang penguasa jalanan, Rangga Dewantara Aldebaran.