Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kisah Hewan Penjaga
"Pak Ade, belang boleh di pegang, gak?" Tanya Bagas.
"Jangan! Nanti dia marah kalau di pegang." Kata Dipta yang menyahut.
"Iya, Mas. Belang cuma mau di pegang sama Romo dan Mamas aja." Timpal Bima.
"Belang juga mau sama Mamas?" Tanya Bagas yang di jawab anggukan oleh Bima.
"Tuh sana, nanti Radenmu ngambek." Kata Arjuna yang berbicara pada belang karena melihat wajah Aka yang di tekuk.
Belang tetap tak beranjak. Ia masih saja menempelkan kepalanya di bahu Arjuna. Namun, tak berselang lama, ia berdiri dan mengaum ie arah hutan dengan keras.
"Huuuaa! Astaghfirullah." Seru Satrio dan Bagas. Mereka berdua memeluk Dipta dengan erat karena terkejut dengan suara auman keras dari si Belang.
Sementara itu, Bima yang terkejut pun memeluk Aka yang ada di sampingnya dengan erat. Meski sudah beberapa kali melihat Belang dari jarak dekat, namun, baru kali ini Bima mendengar auman Belang dari dekat.
"Ya Allah, serem banget." Lirih Bima yang menyembunyikan wajahnya di pelukan Aka.
Setelah mengaum, Belang kembali duduk dengan santai. Bahkan, kali ini ia merebahkan diri dengan kepalanya yang berada di pelukan Arjuna.
"Eleh... Eleh... Ngalemnya." Kekeh Arjuna sambil mengacak-acak bulu kepala Belang.
"Eh... Eh! Itu ada anu!" Kata Dipta sambil menunjuk ke arah semak-semak tempat Belang pertama kali muncul tadi.
"Anu apa to, Dip?" Tanya Arjuna yang sedang asyik mengusap-usap kepala Belang.
"Itu! Ada Belang satu lagi, Pak Ade." Seru Satrio sambil menunjuk ke arah yang sama.
Mendengar itu, Arjuna langsung menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah Dipta dan Satrio menunjuk.
"Ah! Ini, terakhir kali aku lihat waktu ritual empat bulanan Aka." Ujar Arjuna sambil melihat seekor Harimau muda yang masih berdiri di tempatnya.
"Ini punyaku!" Kata Aka yang akhirnya tersenyum riang.
Aka pun menepuk tanah sebanyak tiga kali, seperti apa yang dilakukan oleh Romonya. Perlahan, Harimau muda itu mendekati Aka dan dengan tenang duduk di sebelah Aka.
Aka kemudian menyentuh dahi Harimau muda itu sambil berkomat-kamit. Setelah itu, ia mengusap sayang kepala Harimau muda yang besar itu.
"Namamu Aden! Kalau aku dan Romo panggil Aden, kamu datang, ya." Ujar Aka yang masih mengusap sayang kepala Harimau muda itu.
"Ini maksudnya gimana, Mas? Kok sekarang ada dua? Ini anaknya Belang, gitu?" Tanya Dipta.
"Anaknya Belang itu sebenarnya banyak, Dip. Belang juga seperti hewan pada umumnya. Dia juga mencari betina untuk bereproduksi. Tapi, dari sekian anak Belang, yang ini lah yang terpilih untuk meneruskan tugas belang." Jelas Arjuna yang membaca hal itu dari Kitab Para Bopo.
Di Kitab itu, di katakan bahwa Hewan yang menjaga Desa Banyu Alas, akan berumur panjang. Namun, tugasnya akan selesai dan akan di lanjutkan oleh keturunannya yang terpilih.
"Lalu, kalau Belang udah mewarisi tugasnya ke Aden, dia gimana?" Tanya Dipta.
"Aku juga gak tau, Dip. Di sana -Kitab- gak di jelasin hal itu. Tapi, aku pasti akan lebih sering datang ke sini untuk melihat keadaan Belang." Jawab Arjuna.
"Belang ini udah tua sekali. Dia sudah dewasa waktu Yang Kung masih remaja. Sampai sekarang, dia masih ada di sini sama kita." Imbuh Arjuna sambil menatap ke arah Belang yang berada di sampingnya.
"Berarti, kita panggil Belang itu, Mbah Uyut, ya, Mo?" Tanya Bima yang di jawab anggukan oleh Arjuna.
"Mungkin menurutnya, sudah waktunya dia buat istirahat, karena Tuannya -Abimanyu- juga udah istirahat." Kata Arjuna sambil tersenyum pahit.
Ada rasa sedih di hatinya, yang ia juga tak tau kenapa hal itu bisa datang. Mungkin itu hanya perasaannya saja, atau mungkin sebuah pertanda, Arjuna juga belum bisa memastikan.
Tetapi, setelah Belang memperkenalkan keturunannya padanya dan Aka, mulai saat ini Arjuna harus lebih sering mencari keberadaan si Belang. Jangan sampai, nantinya ia tak sempat mengucapkan salam perpisahan pada hewan penjaga yang setia menjaga para Bopo.
"Gimana cara bedain Belang sama Aden, Mo?" Tanya Bima.
"Gampang. Lihat ini..." Kata Arjuna sambil menghadapkan wajah Belang ke arah Bima.
"Belang ada corak lingkaran hitam dengan satu titik merah di tengah, pada bagian hidung." Ujar Arjuna.
"Kalau Aden, corak yang sama itu ada di dahinya." Jawab Arjuna yang membuat mereka menatap ke arah Aden.
"Weh, kok iya, ya?" Kata Dipta.
"Corak ini kan, tanda khas, dari hewan penjaga Desa, Dip. Sanca kembar dan Buaya juga punya tanda dengan pola yang sama." Jelas Arjuna. Ia tentu tau hal itu dari Kitab Para Bopo.
"Apa sanca kembar sama Buaya juga sama kayak Belang, Mas? Dia juga akan digantikan tugasnya dengan keturunannya?" Tanya Dipta yang di jawab gelengan oleh Arjuna.
"Menurut Kitab Para Bopo, Sanca kembar dan Buaya itu adalah hewan yang sama sejak Bopo pertama meminta mereka menjaga wilayah Desa Banyu Alas." Jawab Arjuna.
"Dia gak meninggal, Mo?" Tanya Bima.
"Konon katanya, dulu, waktu leluhur si Belang mau di kasih ilmu panjang umur, dia menolak, yang menerima cuma Sanca kembar dan Buaya. Maka dari itu, mereka ini mewarisi tugas secara turun temurun seperti Para Bopo." Jawab Arjuna.
"Waah, keren... Kayak di dongeng-dongeng." Komentar Bagas yang sedari tadi menyimak dengan baik cerita Arjuna.
"Ya inilah tanah leluhurmu, Gas. Tanah yang harus terus kita jaga beserta adat dan budaya di dalamnya." Kata Arjuna sambil tersenyum.
"Tapi kan. Aku jauh di Kota." Kata Bagas.
"Walaupun jauh, tapi kamu harus tetap ingat dengan Desa Banyu Alas dan keajaibannya yang di luar nalar." Jawab Arjuna.
Krrruuuukkkkk!
Semua orang menoleh ke arah Bima yang memegangi perutnya sambil cengar-cengir.
"Aku lapar lagi." Kata Bima yang membuat mereka semua tertawa.
"Kamu sih, Bim. Sok-sokan mau makan sedikit." Kekeh Arjuna.
"Nanti kalau aku makan banyak-banyak, yang lain gak kebagian." Jawab Bima.
"Kan ada banyak ayam sama sosisnya." Sahut Aka. Ia kemudian menggeser ayam bakar dan sosis bakar yang masih cukup banyak tersisa ke hadapan Bima.
Malam itu, mereka kembali melanjutkan obrolan sembari menikmati sisa sosis dan ayam bakar.
"Udah malam, ayo tidur." Ajak Arjuna.
"Belang sama Aden kok belum pergi? Mau nungguin kita, ya, Pak Ade?" Tanya Satrio.
"Iya, mau ngelonin kamu, Kak." Jawab Dipta.
"Ih! Yayah ini. Kalo nanti aku dimakan, gimana? Yayah gak punya anak kayak Kakak lagi." Kata Satrio.
"Nanti Pakde Dipta sama Bude Lia tinggal beli lagi aja, anak kayak Kak io. Kan Pakde sama Bude uangnya juga banyak, kayak Romo." Jawab Bima dengan entengnya.
"Ya Allah, bener-bener cucunya Aksa. Lambene sukur njeplak persis koyok Aksa. (Mulutnya asal bicara persis seperti Aksa)." Ujar Dipta.
"Ya itu, Bopo sama Ponakanmu, Dip." Sahut Arjuna sambil tertawa.
lhah gimna Romo mu gk tau Mas 🤭🤭🤭 wong Romo juga sakti mandra guna 😀😀😀 tp sok ben luweh sakti Mas Aka ✌️✌️✌️ piihhhh Mas Jun jangan marah 😀😀😀
Alah2 Bima leh so sweetttt 🤭🤭🤭 padine kangen Mas Aka 3 dino ora kepetuk ora ng sg dijarak i 🤣🤣🤣
wong romo-mu bopo istimewa
tapi masih istimewa dirimu kok Ka
apapun itu semoga bermanfaat tnpa ada efek berbahayanya
lah mama's mama's aneh bin ajaib romomu kuwi titisan bopo pertama loh