NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Sinar fajar baru saja memecah kegelapan kota, namun kompleks Gedung Pusat Simulasi Klinis Nasional sudah nampak bernyawa. Udara pagi itu terasa dingin menusuk tulang, membawa kabut tipis yang berarak di antara pilar-pilar beton rumah sakit pendidikan. Di sepanjang koridor utama, suasananya begitu mencekam, mirip dengan ruang tunggu sebelum sebuah vonis besar dijatuhkan. Puluhan dokter muda yang biasanya ceria dan penuh tawa kini bertransformasi menjadi sosok-sosok asing berwajah pucat. Mereka mengenakan jas putih yang disetrika sangat rapi, memegang tumpukan kertas jilid, kamus saku, atau buku saku algoritma medis dengan tangan yang kentara gemetar. Beberapa di antaranya bahkan komat-kamit dengan mata terpejam, menghafal dosis obat dan urutan resusitasi seolah sedang merapalkan mantra keselamatan hidup.

Hari ini adalah hari yang paling ditakuti sekaligus paling dinantikan dalam garis waktu pendidikan seorang calon dokter: Ujian OSCE (Objective Structured Clinical Examination) Nasional. Ini adalah setengah bagian krusial dari ujian negara UKMPPD yang akan menguji seluruh kompetensi klinis mereka di hadapan para penguji dari berbagai universitas di Indonesia. Di sinilah teori bertahun-tahun diperas, dinilai melalui tindakan nyata, ketenangan mental, dan kecepatan tangan dalam menyelamatkan nyawa pasien simulasi. Salah melangkah sedikit saja, atau membiarkan rasa panik menguasai kepala selama sepuluh menit di dalam bilik ujian, maka gelar dokter yang sudah berada di depan mata akan menguap begitu saja.

Di sudut lorong yang agak sepi, tepat di bawah jendela kaca besar yang menghadap ke arah taman dalam rumah sakit, Adila berdiri dengan posisi tegak. Berbeda dengan rekan-rekan seangkatannya yang nampak seperti kehilangan pegangan hidup, Adila justru memancarkan ketenangan yang luar biasa. Tatapan matanya lurus menatap dedaunan yang basah oleh embun pagi. Di sampingnya, Maya sedang berulang kali meneguk air mineral dari botol plastik, mencoba meredakan debaran jantungnya yang berdentum begitu keras hingga terasa ke kerongkongan. Sementara itu, Sari berdiri bersandar pada dinding marmer sambil terus memijat pelipisnya sendiri, mencoba mengusir rasa pusing akibat kurang tidur semalam.

"Dila, sumpah demi apa pun, rasanya jantungku mau copot dan melompat keluar dari dada," bisik Maya, suaranya terdengar sangat kecil dan bergetar hebat saat meletakkan kembali botol minumnya. "Bagaimana kalau nanti di stasiun anak aku kedapatan kasus resusitasi neonatus, lalu mendadak otakku nge-blank dan aku lupa urutan langkah VTP atau kompresi dadanya? Aku bisa langsung tidak lulus nasional, Dil."

Adila menoleh perlahan, mengulas senyuman lembut yang begitu menenangkan. Ia mengulurkan tangan, menepuk-nepuk bahu Maya dengan kehangatan seorang sahabat sejati yang telah berjuang bersama sejak hari pertama kuliah kedokteran. "Maya, dengarkan aku. Kamu sudah melewati ratusan malam jaga di bangsal anak. Kamu sudah memegang puluhan bayi dan melakukan tindakan itu di bawah pengawasan konsulen dengan sukses. Begitu kamu melangkah masuk ke dalam bilik itu nanti, melihat manekin bayinya tergeletak, dan mendengar keluhan skenario, memori ototmu akan mengambil alih. Tanganmu akan bergerak sendiri secara otomatis sebelum otakmu sempat panik. Percayalah pada proses yang sudah kamu lewati."

"Iya, May. Apa yang dikatakan Dila itu benar seratus persen," Sari menimpali setelah mengembuskan napas panjang, meskipun suaranya sendiri terdengar agak serak akibat ketegangan yang sama. "Kita sudah latihan mandiri sampai muntah-muntah di lab keterampilan medik selama sebulan ini. Lagipula, Dila sudah berbaik hati membagikan rangkuman kisi-kisi dan catatan eksklusif dari Dokter Adrian semalam. Sumpah, catatan itu seperti rangkuman dewa. Benar-benar fokus pada inti kasus darurat Obgyn dan bedah."

Adila menunduk, melirik berkas tebal bersampul biru yang berada di dalam dekapannya. Lembar demi lembar kertas di dalamnya dipenuhi dengan tulisan tangan yang sangat rapi, tegas, dan terstruktur menggunakan tinta hitam tulisan tangan khas dr. Adrian Dewantara. Pria yang di juluki Ice Prince di rumah sakit itu mungkin terkenal kejam, kaku dan jarang sekali melontarkan kalimat pujian kepada bawahannya. Namun, dedikasinya untuk memastikan Adila siap menghadapi ujian kompetensi tingkat nasional ini benar-benar tidak main-main. Semalam, sebelum meninggalkan rumah sakit, Adrian sengaja memanggil Adila ke ruangannya hanya untuk menyerahkan berkas analisa kasus ini, memastikan asisten risetnya tidak akan goyah oleh jebakan-jebakan skenario yang sengaja dibuat rumit oleh panitia pusat.

Tett... Tett... Tett...

Suara bel panjang bersahut-sahutan, disusul oleh suara pengumuman resmi dari pengeras suara yang menggema di sepanjang langit-langit koridor. "Perhatian kepada seluruh peserta ujian UKMPPD OSCE Periode Mei 2026. Ujian untuk stasiun pertama akan segera dimulai dalam waktu lima menit. Diharapkan seluruh peserta segera menempatkan diri di depan pintu ruang ujian sesuai dengan nomor urut masing-masing. Harap tenang dan siapkan kartu identitas Anda."

Suasana lorong seketika berubah menjadi senyap seperti kuburan. Setiap dokter muda mulai berjalan dengan langkah berat menuju bilik-bilik ujian yang berjejer rapi di sepanjang koridor, dipisahkan oleh sekat-sekat kedap suara. Adila menarik napas dalam-dalam, merasakan pasokan oksigen yang bersih memenuhi rongga dadanya, mengusir sisa-sisa kelelahan mentalnya. Ia melangkah mantap menuju stasiun nomor empat, stasiun yang paling krusial bagi masa depannya: Departemen Obstetri dan Ginekologi.

Adila berdiri tegak di depan pintu kayu bernomor empat. Di samping pintu, terdapat selembar kertas skenario kasus yang tertempel. Waktu dua menit untuk membaca skenario dimulai. Mata Adila dengan cepat memindai tulisan di kertas tersebut Seorang wanita berusia 28 tahun, G1P0A0, baru saja melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3500 gram di bidan, dibawa ke IGD dengan keluhan perdarahan aktif dari jalan lahir sejak satu jam lalu. Pasien tampak lemas dan pucat. Lakukan anamnesis terarah, pemeriksaan fisik, diagnosis, dan tatalaksana kegawatdaruratan pada pasien ini!

Perdarahan Pasca-Persalinan (HPP).* Otak Adila langsung memetakan algoritma penanganan tercepat dalam hitungan detik. Tonus, Tissue, Tears, Thrombin. Penyebab paling sering adalah atonia uteri. Ia mengingat kembali setiap catatan kaki yang ditulis oleh dr. Adrian tentang pentingnya memeriksa kontraksi uterus sebelum melakukan tindakan invasif lainnya.

Kringgg!

Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Adila membuka pintu dengan gerakan tenang, mengembus napas perlahan, lalu melangkah masuk. Di sudut ruangan, seorang dokter penguji nasional berwajah kaku duduk di belakang meja dengan papan nilai digital di tangannya, siap menguliti setiap gerakan peserta. Di atas tempat tidur pemeriksaan, seorang aktris simulasi profesional sedang berbaring dengan pakaian yang sengaja diberi noda cairan merah, merintih kesakitan sambil memegangi perut bawahnya dengan akting yang sangat meyakinkan.

Wajah Adila seketika berubah total. Tidak ada lagi sisa-sisa Adila yang ramah atau Adila yang sedang dirundung masalah rumah tangga. Di dalam bilik ini, yang ada hanyalah seorang praktisi medis profesional yang siap menyelamatkan nyawa.

"Selamat pagi, Ibu. Saya Dokter Muda Adila yang bertugas di IGD hari ini. Ibu tenang saja ya, kami akan segera membantu Ibu," ucap Adila dengan suara yang sangat stabil, penuh empati, namun memancarkan wibawa yang menenangkan.

Dengan gerakan yang sangat cekatan, teratur, dan sistematis, Adila memulai tindakannya. Tangan kanannya dengan sigap melakukan palpasi pada abdomen pasien untuk menilai fundus uteri. "Izin melaporkan pada penguji, uterus teraba lembek, tidak ada kontraksi yang adekuat. Diagnosis mengarah pada Atonia Uteri."

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Adila melakukan komunikasi terapeutik kepada perawat simulasi untuk memasang infus jalur ganda dan memberikan oksigenasi. Tangannya sendiri bergerak melakukan Masase Uterus, lalu dengan teknik yang sangat presisi, ia memperagakan Kompresi Bimanual Interna (KBI)—sebuah tindakan darurat untuk menjepit pembuluh darah di dalam rahim agar perdarahan berhenti. Setiap gerakan tangan Adila nampak begitu luwes, kuat, dan penuh keyakinan. Ia tidak nampak ragu sedikit pun saat menyebutkan dosis obat uterotonika seperti Oksitosin dan Metilergometrin secara detail di luar kepala. Dari sudut ruangan, mata sang penguji nasional yang tadinya nampak dingin kini mulai berbinar, kepalanya mengangguk-angguk kecil berulang kali sembari jemarinya dengan cepat mencentang nilai sempurna pada lembar penilaian digital milik Adila. Bagi penguji tersebut, performa dokter muda di depannya ini bukan lagi sekelas mahasiswa, melainkan sudah setara dengan residen spesialis yang berpengalaman.

Waktu sepuluh menit di stasiun empat berakhir dengan bunyi bel berikutnya. Adila melangkah keluar dari ruangan dengan napas yang teratur, menuju stasiun selanjutnya. Selama berjam-jam kemudian, Adila harus berpindah dari satu stasiun ke stasiun lainnya, melintasi belasan bilik ujian yang menguji kompetensi yang berbeda-beda. Ia diuji menangani kasus krisis hipertensi di stasiun penyakit dalam, melakukan teknik penjahitan luka robek yang rumit di stasiun bedah, menghadapi pasien histeris di stasiun psikiatri, hingga melakukan pemasangan pipa endotrakeal pada manekin anak. Sepanjang proses melelahkan itu, Adila mempertahankan tingkat fokus yang luar biasa. Baginya, setiap bilik ujian ini adalah sebuah tempat perlindungan yang suci sebuah dunia steril di mana masalah pribadinya, pengkhianatan Revan, ataupun kelicikan Meisya tidak akan pernah bisa menembus dan menyakitinya. Di sini, ia adalah penguasa atas ilmunya sendiri.

Sore harinya, sekitar pukul empat lebih tiga puluh menit, bunyi bel panjang yang terdengar sangat berbeda dari sebelumnya menggema di seluruh sudut gedung. Itu adalah bel penutup, penanda bahwa seluruh rangkaian ujian OSCE Nasional untuk periode ini telah resmi berakhir sepenuhnya.

Seketika itu juga, keheningan di koridor utama pecah berantakan. Suasana langsung berubah menjadi sangat emosional. Puluhan dokter muda nampak berteriak lega, saling berpelukan erat, bahkan tidak sedikit yang langsung jatuh terduduk di lantai sembari menangis histeris, menumpahkan segala beban stres yang telah menyiksa batin mereka selama berbulan-bulan.

Adila berjalan keluar dari bilik ujian terakhirnya di lantai dua. Rambutnya ada yang sedikit terlepas dari sanggulan akibat bergerak aktif, dan peluh tipis nampak membasahi kening serta lehernya. Namun, dari sepasang matanya, terpancar kilau kelegaan dan kepuasan yang teramat sangat. Dari ujung lorong, nampak dua sosok yang sangat familier sedang berlari kencang ke arahnya. Maya dan Sari langsung menghambur, memeluk tubuh Adila dengan begitu erat hingga mereka bertiga hampir saja terhuyung ke belakang.

"Kita selesai, Dila! Ya Tuhan, kita akhirnya melewati monster OSCE ini!" teriak Sari dengan suara parau, air mata kebahagiaan nampak mengalir deras membasahi pipinya yang kemerahan.

"Dila, sumpah, aku tadi gemetar sekali saat stasiun anak, tapi kata-katamu benar-benar manjur! Tanganku bergerak sendiri mengikuti prosedur!" ucap Maya setelah melepaskan pelukannya, wajahnya nampak luar biasa berseri-seri. "Gimana dengan stasimu tadi, Dil? Semuanya aman terkendali, kan?"

Adila mengulas senyuman paling lebar yang pernah mereka lihat selama sebulan terakhir ini. Ia mengangguk mantap. "Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan sangat lancar. Kasus-kasus darurat medis yang keluar tadi, terutama di bagian Obgyn dan bedah, persis seperti skenario terburuk yang sering kita bedah bersama di catatan Dokter Adrian semalam. Tidak ada satu pun poin kompetensi yang terlewat."

"Gila, hebat banget kamu, Dil! Aku sih sama sekali tidak meragukan kemampuan otakkmu," kata Maya sambil merangkul pundak Adila dengan bangga. "Sekarang tugas kita untuk tahap praktis sudah selesai total. Tinggal menunggu pengumuman resmi rekapitulasi nilai nasional sekitar tiga sampai empat minggu lagi dari panitia pusat di Jakarta. Sesuai dengan aturan dunia nyata, nilai ujian teori tertulis CBT dan ujian praktik OSCE harus digabungkan dulu, baru nanti nama-nama kita keluar di surat keputusan kelulusan. Tapi, aku berani jamin seribu persen, namamu pasti akan bertengger di peringkat teratas sebagai lulusan terbaik!"

"Amin, terima kasih banyak atas doanya. Yang penting sekarang kita semua sudah mengeluarkan kemampuan maksimal kita di dalam sana. Urusan hasil, biarlah itu menjadi kejutan indah saat hari pengumuman nasional nanti. Kita sudah melakukan bagian kita dengan terhormat," jawab Adila dengan nada suara yang sangat bijak dan tenang. Dalam dunia kedokteran, ia sangat memahami bahwa tidak ada keberhasilan yang instan atau terburu-buru. Proses penilaian nasional yang memakan waktu berminggu-minggu adalah ujian kesabaran yang harus ia lalui dengan kepala tegak.

Saat mereka bertiga sedang berjalan beriringan menuju area parkiran khusus dengan niat untuk merayakan selesainya ujian dengan makan malam bersama, langkah mereka mendadak terhenti. Dari arah berlawanan di koridor utama yang mulai sepi, nampak sesosok pria dengan postur tubuh tinggi tegap sedang berjalan dengan langkah kaki yang teratur dan berwibawa.

Dr. Adrian Dewantara, Sp.OG. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna hitam di atas jas dokter putihnya yang selalu nampak licin tanpa kerutan. Kedua tangannya terbenam di dalam saku mantel, dan tatapan matanya yang tajam di balik kacamata langsung mengunci sosok Adila dari kejauhan. Ia menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan ketiga dokter muda tersebut.

Seketika itu juga, Maya dan Sari langsung membetulkan posisi berdiri mereka dan membungkuk dengan sangat hormat, "Selamat sore, Dokter Adrian."

Adrian hanya memberikan anggukan kepala yang sangat tipis pada Maya dan Sari, nyaris tidak kentara, sebelum pandangannya beralih sepenuhnya pada Adila. Ada jeda beberapa detik di mana pria itu memperhatikan penampilan Adila yang nampak sedikit lelah namun memancarkan aura kemenangan. "Bagaimana ujian nasionali-mu hari ini, Adila? Apakah ada kendala pada skenario?"

"Sama sekali tidak ada, Dokter. Semuanya berjalan dengan sangat lancar. Terima kasih banyak atas bantuan lembar catatan analisa kasus dan waktu bimbingan intensif yang Dokter berikan selama ini. Itu sangat membantu saya mempertahankan ketenangan di dalam bilik ujian," jawab Adila dengan nada tulus dan penuh rasa hormat.

"Catatan medis sedalam apa pun hanya akan menjadi tumpukan kertas sampah jika mental dan kapasitas otak orang yang memegangnya tidak siap. Tetapi baru saja aku mendapat laporan informal dari salah satu tim penguji nasional di stasiun Obgyn, mereka bilang performamu dalam menangani kasus kegawatdaruratan tadi sangat luar biasa dan tanpa cela," ucap Adrian dengan suara rendah, dingin, namun jelas mengandung nada apresiasi tinggi yang sangat jarang ia berikan kepada siapa pun. Pria itu kemudian mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam kronograf mewahnya sejenak sebelum kembali menatap Adila. "Besok pagi adalah jadwal sidang akhir untuk putusan perceraianmu di Pengadilan Agama, bukan?"

Adila sedikit tersentak di tempatnya berdiri, merasa terkejut sekaligus tidak menyangka bahwa seorang kepala departemen yang terkenal sangat sibuk dan tidak peduli pada urusan duniawi seperti dr. Adrian bisa mengingat dengan sangat detail jadwal persidangan pribadinya. "Benar, Dokter. Besok pagi pukul sembilan adalah jadwal pembacaan putusan akhir dari majelis hakim."

Adrian menatap mata Adila dengan sorot mata yang kali ini nampak sedikit berubah, ada sepercik kehangatan dan ketegasan yang mendalam di sana. "Bagus. Hari ini kamu sudah menyelesaikan gerbang akhir dengan sangat terhormat untuk masa depan karir medismu. Maka besok pagi, selesaikan juga gerbang akhir untuk membersihkan sampah dari masa lalumu. Jangan biarkan ada satu pun urusan atau hubungan yang menggantung terlalu lama dalam hidupmu."

"Saya mengerti, Dokter. Saya berjanji tidak akan mundur atau goyah selangkah pun di depan mereka besok pagi," jawab Adila dengan nada suara yang penuh keyakinan dan keberanian yang mutlak.

"Sore ini pulanglah langsung ke rumah barumu, makan makanan yang bernutrisi, dan istirahatlah yang cukup. Kamu akan membutuhkan energi psikologis yang penuh untuk melihat akhir dari kehancuran drama murahan mereka besok pagi di hadapan hakim," ucap Adrian dengan nada final yang sangat menenangkan. Setelah itu, tanpa menunggu balasan, ia berbalik dan melanjutkan langkah kakinya yang angkuh menuju ruang departemen utama, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang samar di udara koridor.

Begitu sosok dr. Adrian menghilang di balik tikungan lorong, Maya dan Sari langsung bergerak serentak, menyenggol lengan kiri dan kanan Adila dengan ekspresi wajah usil dan senyuman menggoda yang sudah sejak tadi mereka tahan di depan konsulen mereka.

"Cieee... Dokter Muda Adila! Sumpah ya, aku baru pertama kali melihat Dokter Adrian bisa se-perhatian itu sama makhluk hidup!" bisik Sari dengan nada heboh yang tertahan. "Sampai tahu jadwal sidang putusan besok pagi! Itu *Ice Prince* rumah sakit lho, Dil, yang biasanya tidak peduli mau dunia ini kiamat atau tidak!"

"Iya, Dil! Tatapan matanya tadi saat bicara sama kamu itu beda banget, agak melembut gimana gitu. Wah, bau-baunya setelah ketok palu sidang besok, bakal ada lembaran baru nih yang jauh lebih berkualitas!" canda Maya sambil tertawa kecil, membuat suasana tegang pasca-ujian itu menguap sepenuhnya berganti dengan kehangatan persahabatan.

Adila hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kocak kedua sahabatnya, meski di dalam hati kecilnya, ia tidak bisa menampik rasa hangat yang menjalar akibat perhatian dr. Adrian. Kalimat pria itu benar-benar menjadi suntikan kekuatan baru yang luar biasa bagi jiwanya.

Hari ini, di bawah atap rumah sakit ini, ia telah berjuang dengan peluh dan air mata demi mengamankan masa depannya sebagai seorang dokter yang terhormat. Dan besok pagi, di dalam ruang sidang pengadilan yang dingin, dengan membawa seluruh bukti hitam di atas putih, Adila sudah sangat siap untuk menuntaskan perjuangannya sebagai seorang wanita yang merdeka. Tidak akan ada lagi ruang untuk rasa kasihan, tidak akan ada lagi kesempatan bagi Revan untuk mengemis. Adila sudah bersiap untuk menjemput kebebasan mutlaknya dan meninggalkan masa lalunya membusuk di belakang.

1
stela aza
payah bgt udh gitu aja masih di tampung si Memes ,,,, pekok bin bahlul s Revan 🤦
falea sezi
lanjutt
falea sezi
cerai lah oon di usir secara halus gk paham🤣 bego katanya. dokter masak ngemis2 ke laki🤣
falea sezi
mengejar. karir makanya g hamil🤣
falea sezi
10 tahun g hamil. mandul kahh
Suanti
mampus lah kau revan sekalian aja mantan mertua bangun dri pingsan langsung stroke 🤭
Dew666
🩵🩵🩵🩵
cinta semu
syukurin ,salah sendiri jadi suami plin-plan ...sudah dewasa masih aja mau di atur ibu yg mulut ny pedas level 1000... gunakan kedewasaan u untuk berpikir bijak Revan ...dah pulang Sono ...ngadu lagi sm ibu u ...
Sri Widiyarti
lanjut kak semangat up-nya...
Lee Mba Young
lanjut
Dew666
👑👑👑👑
cinta semu
😁😁kaki manusia ...kok q baca ny bisa senyum sendiri ...mungkin efek tegang Krn keluarga Revan nyerang Dil kali😂😂
stela aza
❤️❤️❤️❤️
stela aza
rasakan itu sampah di pungut ,,, istri luar biasa multitalent di buang ,,, pekok ora ketulungan 🤦
Sri Widiyarti
satu kata buat Kel Revan bodoh bela2in perempuan kayak Meisya...🤦🤦🤦
stela aza
lanjut thor up Double y Thor ❤️❤️❤️
stela aza
good job Dila ❤️❤️❤️
stela aza
q suka karakter s Adila ,,, yg tegas pintar dan cerdik ,,, bagaimana menghadapi para benalu dan suami bahlul bin plin-plan ,,, good job Dila
stela aza
stupid bin tongkol sampah loe pungut ,,, punya istri cerdas hebat multitalent loe ganti dg sampah bau busuk bener2 suami bahlul 🤦
Heni Setiyaningsih
untung punya perjanjian pranikah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!