Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Kita Akan Menikah
Keyla membuka mata, tubuhnya seakan remuk, seolah setiap inci tulangnya dipatahkan dan disatukan kembali secara paksa.
Ia melirik seprai putih yang kini menyisakan noda merah yang telah mengering, saksi bisu kehormatan yang ia tukar dengan tumpukan hutang kasino keluarganya.
Di sampingnya, pria itu masih terlelap. Wajahnya yang tegas dengan bayangan bulu halus di rahangnya tampak begitu tenang, sangat kontras dengan kegilaan yang ia ciptakan semalam.
Keyla menahan napas, berusaha bangkit perlahan tanpa suara.
"Aku harus pergi. Ibu harus tahu kalau tugas ini sudah selesai. Aku bebas," batinnya.
Namun, baru saja kakinya menyentuh lantai, sebuah suara berat yang serak khas bangun tidur menghentikan gerakannya.
"Mau kemana kau?"
Keyla tersentak, refleks menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ia menoleh dan mendapati pria itu sudah menumpu kepala dengan lengannya, menatapnya tajam.
"Aku... aku mau pulang. Bukankah tugasku sudah selesai?" jawab Keyla lirih, suaranya hampir hilang di tenggorokan.
Dominic mendengus sinis, ia bangkit duduk, membiarkan otot-otot dadanya yang kokoh terekspos. "Siapa bilang tugasmu sudah selesai? Bersihkan dirimu. Aku tunggu di bawah dalam tiga puluh menit."
Keyla mengerutkan kening, bingung sekaligus takut.
"Maksud Tuan apa? Aku tidak mau lagi berurusan dengan Tuan. Hutang keluargaku sudah lunas, kan?"
Keyla tahu watak ibu tirinya. Jika ia terus berhubungan dengan pria ini, Siska pasti akan terus memerasnya, menjadikannya sapi perah tanpa henti.
Keyla hanya ingin kembali ke kehidupannya yang normal. Kuliah, belajar, dan melupakan mimpi buruk ini.
Dominic berdiri, melangkah mendekat dengan aura intimidasi yang membuat oksigen di ruangan itu seolah menipis. "Kita akan menikah."
"A–apa? Menikah?" pekik Keyla dengan matanya membulat sempurna. "Tuan gila? Aku tidak mau menikah denganmu! Aku masih kuliah, aku punya masa depan, dan... dan aku juga punya kekasih!"
Mendengar kata kekasih, sudut bibir Dominic terangkat, membentuk senyum kecut yang menghina.
"Kekasih? Gadis mana yang punya kekasih tapi mau menjual dirinya pada pria asing sepertiku demi uang?" Dominic meraih dagu Keyla, memaksanya mendongak.
"Kekasihmu itu pasti akan sangat kecewa jika tahu apa yang kita lakukan berkali-kali semalam, bukan? Dia tidak akan sudi menyentuh barang bekas dariku," lanjutnya.
Deg!
Jantung Keyla seolah berhenti berdetak. Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hatinya.
Benar, jika pacarnya tahu, dunia mereka akan hancur. Tapi menikah dengan pria asing ini? Itu sama saja masuk ke lubang singa yang lain.
"Jangan banyak protes lagi. Aku paling tidak suka menunggu. Cepat masuk ke kamar mandi atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke sana," ucap Dominic dingin, lalu ia mulai memakai pakaiannya seolah keberadaan Keyla di sana hanya angin lalu.
Bagi Dominic, prinsip hidupnya sederhana namun kaku. Ayah dan ibunya mendidiknya dengan kode kehormatan yang keras, jika kau merusak sesuatu, kau harus bertanggung jawab.
Dan semalam, ia tidak hanya merusak, ia mengambil sesuatu yang tak bisa dikembalikan.
Jika ibunya tahu ia menelantarkan gadis perawan yang telah ia tiduri, kepalanya bisa benar-benar dipenggal oleh tradisi keluarga besarnya.
"Sial! Harusnya aku tidak terjebak dengan gadis ini," gumam Dominic pelan sambil memijat keningnya saat ia keluar dari kamar.
Tapi dalam hati kecilnya, ia tak bisa memungkiri bahwa aroma tubuh Keyla dan rintihan gadis itu semalam telah menjadi candu yang mulai meracuni logikanya.
*
*
Di luar kamar, Marco berdiri tegak dengan setelan jas yang sedikit kusut. Matanya yang merah dan kantung mata hitam yang menggantung menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak tidur semenit pun.
"Anda sudah selesai, Tuan? Mari kita pulang sekarang sebelum saya pingsan karena kurang kafein," ucap Marco dengan suara lemas.
Dominic mengeluarkan cerutunya, menyalakannya dengan tenang. "Bodoh. Harusnya kau bisa menunggu di kamar lain dan menikmati para wanita di klub ini, bukannya berdiri seperti patung di depan pintu."
Marco memutar bola matanya malas. "Yah, saya tidak suka jajan sembarangan, Tuan. Prinsip saya itu exclusive. Kalaupun mau melakukannya, saya ingin dengan wanita yang saya sukai, dan yang paling penting, wanita yang juga menginginkan saya, bukan yang harus dijaga pintunya agar tidak kabur."
"Simpan omong kosong mu. Siapkan saja berkas. Aku akan menikahi gadis di dalam itu."
Langkah Dominic tiba-tiba terhenti dan reflek Marco menabrak punggungnya dengan cukup keras.
"Aduh! Hidung saya... Tunggu, apa? Anda bilang apa tadi?" Marco mengerjapkan matanya yang mengantuk, mendadak segar karena kaget. "Anda serius mau menikahinya? Menjadikannya istri kedua? Apa anda masih waras, Tuan? Bagaimana kalau nona model em maksud saya, istri anda tahu soal ini? Dia bisa mengubah rumah anda jadi medan perang dunia ketiga!"
"Dia yang memberiku izin kemarin, bukan? Mengatakan aku boleh tidur dengan siapa saja asal tidak mengganggunya," jawab Dominic enteng sembari melanjutkan langkahnya menuju lift. "Jadi sayang jika lampu hijau darinya aku sia-siakan begitu saja."
"Lalu, kalau orang tua anda tahu? Ini bukan soal izin istri, ini soal membawa wanita asing masuk ke dalam silsilah keluarga, Tuan!" Marco mengejar di sampingnya dengan langkah tergesa.
"Urusan mereka pikirkan nanti!" Dominic menghentikan langkah di depan pintu lift, menatap Marco dengan tajam. "Yang terpenting sekarang, gadis itu harus mengandung benihku. Dia punya apa yang tidak dimiliki Clara, kepatuhan dan kesucian. Itu sudah cukup."
Marco hanya bisa ternganga. Ia memandangi punggung tuannya dengan perasaan campur aduk.
Dominic yang dulu dikenal sangat memuja Clara, kini rela mendua dan mengambil risiko sebesar ini hanya demi seorang pewaris.
"Astaga... duniaku benar-benar akan kiamat," gumam Marco sambil mengusap wajahnya. "Habis ini aku harus menyiapkan surat nikah, lalu besok mungkin aku harus menyiapkan surat cerai, atau lebih buruk menyiapkan peti mati untuk diriku sendiri kalau mereka berdua mulai jambak-jambakan atau mungkin adu tembak. Gaji ajudan memang tidak sebanding dengan beban mental ini!"
Dominic tidak peduli dengan gumaman sang asisten. Pikirannya sudah tertuju pada satu hal, Keyla. Gadis yang akan menjadi tempat pelariannya.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃