"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dia?
FLASHBACK ON
“Kamu yakin gak mau nganterin aku ke Jepang?” Tanya Rain sambil menatap Bintang yang masih sibuk dengan laptopnya dan tak berniat menoleh pada Rain yang kini mulai berjalan maju.
“PERGI!” Teriakan Bintang membuat Rain kaget dan berlari keluar ruang kerja menuju kamarnya.
“Dasar bodoh, sudah tahu kalau Bintang gak perduli sama lo masih aja lo nanya hal yang sudah lo tahu jawabannya,” Rain merutuki dirinya sambil memasukkan bajunya kedalam koper, tanpa sadar air mata jatuh perlahan.
“Ngapain nangis sih, udah biasa kok,” Ucap Rain menguatkan dirinya sambil menghapus air matanya.
“Setelah ini kita gak akan ketemu, semoga hidup kamu semakin membaik setelah berpisah sama gue,” Ucap Rain sambil menarik kopernya karena dia merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada dirinya.
Rain masuk ke dalam taxi dan pergi menuju bandara meninggalkan Bintang yang sama sekali tak mau melihatnya pergi.
“Gue pergi ke Jepang buat ketemu clientnya tapi dia juga seperti gak perduli, andai gue gak pergi lo gak akan bisa kerja sama dengan client penting ini.”
Dengan ikhlas Rain pergi sendiri tanpa ada yang mengantarnya bahkan sampai dia sudah memasuki pesawat tak ada seorangpun yang berniat mengantarnya.
“Ah sudahlah emang sudah nasib.”
Awal penerbangan semua berjalan lancar tapi setelah beberapa menit terbang terjadi turbulensi, pesawat bergoyang hebat dan kehilangan koneksi juga kehilangan sinyal, tak lama pesawat mulai terjun bebas dan jatuh di sebuah laut.
Kabar jatuhnya pesawat yang dinaiki Rain terdengar oleh Bintang dan keluarganya. Sebenci apapun mereka sama Rain mereka tetap pergi karena mereka takut jika terjadi sesuatu pada Rain dan itu membuat mereka harus kehilangan client penting di Jepang yang sudah sejak lama mereka usahakan.
“Gimana sudah ada kabar tentang Rain belum, tadi papa lihat didaftar korban gak ada nama Rain?” tanya Doni menghampiri Bintang yang baru saja melihat beberapa kantong mayat yang baru dievakuasi dari laut.
“Belum.” Setelah Bintang menjawab terlihat petugas yang membawa kantong jenazah dan mereka langsung berlari menuju petugas itu untuk melihat siapa jenazah yang ada di dalamnya.
“Mukanya sudah hangus gak bisa dikenali,” Ucap Melisa.
“Ini Rain,” Ucap Bintang dengan pandangan yang mulai kosong.
“Gak mungkin, dari mana kamu tahu kalau ini Rain?” tanya Doni.
“Ini tas dan boneka yang pernah Bintang kasih buat dia meski sudah gosong aku masih bisa mengenalinya.”
“Kalau dia mati gimana kita menghadapi client kita?” tanya Doni yang masih saja hanya memperdulikan clientnya tanpa memperdulikan Rain.
Setelah itu mereka melakukan tes DNA dan setelah hasil keluar memang benar kalau itu jenazah Rain.
Mereka semua terduduk lemas tanpa bisa mengatakan apapun, apalagi sebelumnya Doni sempat menerima telepon dari clientnya kalau mereka tetap menyetujui kerja sama mereka meski Rain tak hadir karena sebelum berangkat pun Rain sudah mengusahakan agar kerjasama tetap terlaksana meski dia tak hadir.
Setelah kepergian Rain satu demi satu kenyataan terbuka dan mereka kaget karena terlalu banyak hal yang Rain lakukan tanpa sepengetahuan mereka.
FLASHBACK OFF
HUJAN HOSPITAL.
“Lo bilang kalau dia buka kunci mobil gue pakai sidik jari?” Tanya Bintang heran.
“Iya, gue yakin gak salah denger kok. Oh iya gue tadi sempat minta nomornya, apa mau gue telepon?”
“Iya coba lo telepon, gue mau denger langsung, apa mungkin mobil gue yang lagi eror atau gimana kok bisa ada orang yang bahkan sidik jarinya gak terdaftar malah bisa buka,” Pinta Bintang dan Alexa mengambil ponselnya lalu menelepon nomor yang tadi Black kasih.
KRING KRING
Tak lama telepon diangkat dan terdengar suara perempuan dari seberang telepon tapi bukannya lega tapi jawaban dari seberang malah membuat mereka bingung.
“Halo, Embun Pagi disini, ada yang bisa saya bantu?”
Mereka saling pandang mendengar jawaban dari sebrang telepon sampai perempuan itu harus mengulang pertanyaannya beberapa kali.
“Eh iya kak, ini saya yang tadi sempat meminta nomor kakaknya di rumah sakit, tapi sepertinya saya salah nomor karena suaranya berbeda,” Jawab Alexa sedikit gugup karena dia masih kaget.
“Maaf sebelumnya kak, apa kakak tahu siapa nama orang yang ngasih nomor ini sama kakak?”
“Kalau gak salah namanya Black.”
‘Sudah gue duga pasti ulah Black yang mau promosi,’ batin perempuan yang mengangkat telepon yang tak lain itu Sira.
“Oh Black, kalau boleh tahu kakak ada perlu apa sama Black?”
“Saya hanya mau berterima kasih sama Black karena dia sudah menyelamatkan adik saya, kalau bisa ketemu saya mau ketemu langsung sama Black.”
“Kalau kakak mau bertemu Black kakak boleh datang ke restaurant kita dan membuat reservasi dari sekarang biar kakak bisa kesini besok, bagaimana?”
“Apa Black kerja disitu juga?”
“Iya kak, Black memang bekerja disini, karena kalau mau menemui Black diluar itu mungkin sulit tapi kalau kakak berkenan bisa menemui Black disini besok siang.”
Alexa menoleh pada semua orang yang ada diruangan itu seolah bertanya dan mereka semua mengangguk.
“Boleh deh kak, tapi untuk berapa orangnya nanti saya kabarin lagi.”
“Baik kak, besok sekitar jam berapa? Black akan ada disini dari jam 13:00 sampai restaurant tutup.”
“Sekitar jam 14:00 saja kak.”
“Baik, ada lagi?”
“Tidak ada itu saja, Terima kasih,” Jawab Alexa dan telepon pun berakhir.
“Kenapa harus besok, gue juga mau lihat siapa yang nolong gue,” Protes Kevin.
“Bukannya lo udah sempet lihat cewek itu, kan kemarin lo yang ngasih kunci mobil Bintang sama cewek itu?” Tanya Alexa bingung.
“Gue hanya lihat siluet cewek gak lihat mukanya dengan jelas soalnya pandangan gue udah burem.”
“Untung itu cewek beneran menolong kalian, kalau gak bisa dibuang kalian dan mobil Bintang yang dibawa kabur.”
“Ya, gue cuma mikir ada orang gue minta tolong udah gitu aja, tapi kemaren lo sempet lihat mukanya gak kak?”
“Gue lihat cuma gue gak kenal dan kalau ada yang berfikir kalau itu Rain gue juga gak tahu itu Rain apa bukan?”
“Kok lo gak tahu?” Tanya Bintang.
“Gue ini baru balik dari luar negri 3 bulan lalu setelah Rain meninggal dan gue belum pernah ketemu dia bahkan fotonya saja gue gak pernah lihat.”
‘Rain, gue sampai lupa kalau kita gak punya foto bareng bahkan foto lo saja gue gak punya, sejauh itu kah kita dulu, Rain? Maaf gue sudah menyia-nyiakan lo padahal lo slalu baik sama gue bahkan melakukan semuanya buat gue, tapi gue terlalu bodoh sampai gue gak melihat semua kebaikan lo sama gue, maaf, maafin gue,’ batin Bintang sambil meneteskan air mata.
Nyatanya penyesalan tak akan merubah apapun, apa lagi untuk menghidupkan dia yang sudah pergi untuk kita bisa menebus semua dosa kita padanya.
“Ma, Bintang mau ke makam Rain.”
BERSAMBUNG.