"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
"Dasar Ele kurang ajar!" gerutu Bella sambil sibuk memoles lipstik merah merona di bibirnya.
Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin lemari plastik yang sudah miring sebelah.
"Kenapa juga dia mengajak pindah mendadak begini? Aku kan belum mempersiapkan mental dan fisik! Penampilanku harus paripurna, siapa tahu di rumah mewah itu banyak pria tampan kaya raya yang sedang mencari istri!"
Bella kembali merapikan gaun selutut berwarna hitam yang membalut tubuhnya. Malam ini ia sengaja berdandan habis-habisan, memakai pakaian paling bagus yang ia miliki untuk menarik perhatian.
Sebenarnya, saat Elena meneleponnya tadi, Bella sedang sibuk menyusun lamaran pekerjaan. Jujur saja, ia kadang merasa tak sanggup lagi menjaga Noah yang semakin besar semakin cerewet, matre, dan menyebalkan itu.
Namun, di balik segala gerutuannya, Bella sangat menyayangi bocah enam tahun tersebut layaknya anak kandungnya sendiri.
Setelah selesai berdandan paripurna, Bella mengemasi seluruh pakaian dan barang berharganya ke dalam koper beroda yang rodanya sudah macet satu. Ia menarik koper itu susah payah keluar rumah, lalu mengunci pintu depan dengan gembok.
Bella berbalik, menatap sendu rumah yang selama tujuh tahun ini menjadi tempatnya dan Elena berteduh dari kerasnya dunia.
"Selamat tinggal, sayangku. Aku janji tak akan pernah melupakanmu, apalagi atapmu yang selalu bocor setiap kali hujan turun," gumam Bella dramatis sembari menghapus setitik air mata di sudut matanya. Ia lalu menarik napas panjang dan membusungkan dada.
"Semangat, Bel! Sekarang kamu nggak akan hidup miskin lagi! Kamu akan hidup di rumah mewah dan besar bak permaisuri. Setidaknya itu yang Ele katakan di telepon tadi!"
Dengan semangat baru, Bella menyeret kopernya menuju depan gang.
Langkahnya terhenti saat melihat sebuah sedan hitam mengkilap sudah terparkir manis menunggunya.
"Mobil siapa ini? Jangan-jangan pangeran berkuda besiku sudah datang?" gumam Bella kegirangan sembari menurunkan sedikit kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, padahal ini sudah malam hari.
Brak!
Pintu kemudi terbuka. Seorang pria bertubuh tegap turun dari mobil. Alih-alih supir biasa, pria itu mengenakan setelan jas hitam yang mencetak jelas dada bidang dan otot lengannya. Rambut hitam pekatnya ditata rapi ke belakang, mengekspos rahangnya yang kokoh dan tegas. Garis wajahnya begitu keras dan garang, dengan sorot mata setajam elang yang bisa membuat musuh bertekuk lutut.
Benar-benar definisi pria tampan berdarah dingin.
Namun, pesona macho dan garang itu mendadak luntur saat pria itu berjalan menghampiri Bella dengan langkah ragu-ragu dan kaku.
Sebenarnya, Joni sangat amat malas menjemput wanita bar-bar yang pernah menendang aset masa depannya tanpa ampun beberapa hari lalu. Namun, demi mempertahankan pekerjaannya ia terpaksa menelan gengsinya.
Mata Bella membelalak sempurna dari balik kacamata hitamnya. Tangannya refleks menunjuk wajah pria itu.
"Kamu?!" pekik Bella kaget.
Joni langsung menghentikan langkahnya, menjaga jarak aman sekitar dua meter dari jangkauan kaki Bella.
Pria itu menundukkan kepala sedikit, namun wajahnya sengaja dipalingkan ke arah tiang listrik di sebelah kiri.
"Selamat malam, Nona. Saya ditugaskan oleh tuan muda Noah untuk menjemput anda malam ini," ucap Joni datar, formal, dan sama sekali tidak memandang Bella.
Bella berkacak pinggang, merasa tersinggung. "Hei! Kenapa kamu terus menatap ke samping begitu? Aku ada di depanmu, tahu! Apa aku ini tembus pandang?!"
Joni berdeham pelan, masih menolak menatap Bella. Tangannya refleks menyilang menutupi bagian bawah perutnya.
"Maaf, Nona. Saya hanya sedang berjaga-jaga. Saya takut kejadian waktu itu terulang kembali. Saya tidak mau aset berharga saya terluka untuk kedua kalinya. Biaya pengobatannya tidak ditanggung asuransi perusahaan."
Uhuk!
Bella langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya seketika memerah padam menahan malu mengingat insiden tendangan mautnya waktu itu.
"Ya ampun! Itu kan karena waktu itu aku mengira kamu penculik!" bela Bella gelagapan, salah tingkah. "Lagian siapa juga yang mau menendang benda itu lagi! Cepat bantu angkat koperku ini!"
Masih dengan pandangan lurus ke arah bagasi, Joni memanjangkan tangannya, meraih gagang koper Bella dengan gerakan kaku seperti robot, lalu memasukkannya ke dalam bagasi secepat kilat.
Bella mendengus sebal, lalu buru-buru masuk dan duduk di kursi penumpang belakang, sementara Joni kembali ke kursi kemudi.
Di dalam mobil, suasana hening dan canggung. Joni mengemudi dalam diam, pandangannya lurus ke jalan raya, sama sekali tak melirik Bella dari kaca spion atau sekadar mengajaknya berbasa-basi.
Bella melipat kedua tangannya di depan dada, menatap punggung Joni dengan bibir mengerucut kesal.
"Dingin sekali pria ini. Padahal kalau dilihat-lihat dari belakang, lumayan tampan juga sih. Bahunya lebar, wangi maskulinnya enak. Tapi kelakuannya mirip kulkas dua pintu! Menyebalkan!" gerutu Bella dalam hati sambil matanya tak sengaja memindai bahu tegap Joni dari belakang.
Sementara itu di kursi depan, Joni diam-diam menghela napas panjang. Ia benar-benar malas berurusan dengan wanita bar-bar, cantik tapi mematikan yang duduk di belakangnya ini.
*
*
"Ikut aku!" seru Leon tiba-tiba dengan penekanan.
Pria itu benar-benar tak tahan lagi. Entah kenapa ada yang panas saat melihat tangan Elena yang sejak tadi dengan genit bersentuhan dan melayani Xander.
Tangan besar Leon langsung mencengkeram pergelangan tangan Elena dengan protektif.
"Lepaskan aku! Kamu mau membawaku kemana, hah?!" seru Elena panik. Ia mencoba memberontak dan menarik tangannya, tapi tenaga Leonard jelas dua kali lipat darinya.
Tarikan pria itu begitu mutlak dan tak terbantahkan.
Melihat ibunya diseret paksa, Noah langsung melompat dari kursinya. "Hei! Lepaskan Mama!"
Namun, sebelum kaki kecilnya bisa mengejar, Xander dan Naomi dengan sigap menahan tubuh bocah itu.
"Kakek, Nenek, kenapa menahan ku?! Mama dibawa Paman singa aneh itu!" seru Noah memberontak menggemaskan di pelukan Xander.
Xander tersenyum penuh arti, menahan tawa melihat wajah garang cicitnya.
"Paman singa itu papamu, Noah. Dia papa kandungmu."
Bukannya terkejut dan menangis terharu seperti di sinetron, Noah justru mendengus kasar.
"Cih! Aku sudah tahu," balasnya dingin ala bos mafia cilik.
"Hah? Sudah tahu?!" pekik Xander tak percaya, matanya membelalak menatap Naomi yang ikut melongo.
"Malam itu dia menginap di rumah kami karena alerginya kumat parah. Mama yang menyelamatkannya," jelas Noah santai seraya melipat kedua tangan di depan dada dengan pose angkuh andalannya. "Saat pertama melihatnya, aku merasa kami ini sangat mirip. Ketampanannya, hidungnya, persis! Awalnya itu hanya dugaanku, dan ternyata benar."
Noah menghela napas berat, meniru gaya orang dewasa yang sedang banyak beban hidup.
"Huft, aku punya saingan berat sekarang untuk memperebutkan perhatian mama!"
Sementara itu, Leon berhasil menyeret Elena masuk ke dalam sebuah ruangan kosong dan mengunci pintu rapat-rapat. Kini hanya ada mereka berdua. Napas Leon memburu, dadanya naik turun menahan emosi campur aduk yang tak bisa ia jelaskan.
"Leon, kamu gila ya! Aku mph—"
Ucapan Elena terputus. Tanpa menunggu aba-aba, Leonard menarik pinggang wanita itu dan langsung meraup bibirnya dalam sebuah ciuman yang menuntut, membuat mata Elena membulat sempurna saking terkejutnya.