"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Elena menatap curiga ke arah dua orang paruh baya berpenampilan eksentrik yang kini berdiri santai di depan gang. Ia secara naluriah menarik Noah berlindung di balik punggungnya.
"Kenapa anda datang kemari lagi? Terus, wanita di sebelah anda ini siapa?" tanya Elena dengan nada selidik.
Xander berdeham pelan, membusungkan dadanya dengan angkuh.
"Dia istriku, Naomi. Dan kedatanganku kemari untuk memberimu ini." Pria itu menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Baca dan resapi baik-baik isinya."
Dengan kening berkerut, Elena menerima amplop itu. Ia menarik secarik kertas berlogo rumah sakit dari dalamnya.
Matanya perlahan bergerak membaca rentetan kalimat medis, hingga terpaku pada angka probabilitas yang tercetak tebal di bagian bawah.
99,99% Identik!
Seketika, mata Elena membelalak lebar hingga nyaris keluar dari tempatnya.
"I–ini tidak mungkin!" gumam Elena dengan tangan gemetar.
Selama tujuh tahun ini, ia mati-matian mengira bahwa kakek genit berjubah sutra malam itulah ayah dari anaknya.
Dan ternyata bukan?!
"Kenyataannya memang seperti itu, Cucu Menantuku," sahut Naomi dengan senyum semringah yang dibuat-buat.
Kini wanita itu mulai mengerti kenapa tadi bocah kecil ini memanggil suaminya dengan sebutan papa. Rupanya ada kesalahpahaman yang sangat konyol di kepala Elena.
Wajah Elena mendadak memerah seperti kepiting rebus. Ia tersenyum kikuk, lalu buru-buru menundukkan kepala berulang kali.
"M–maafkan saya, Tuan, Nyonya. Saya benar-benar sudah salah paham selama ini! Saya kira kakek ini pelakunya!"
Xander hanya mendengus kasar memalingkan wajah, masih tak terima dipanggil kakek genit.
"Tapi..." Elena tiba-tiba mengangkat wajahnya lagi, matanya seketika berkilat penuh perhitungan. "...tetap saja saya ingin minta tanggung jawab! Anak kalian eh, cucu kalian sudah merusak masa depan saya sampai lahir Noah! Jadi, bayar ganti rugi penuh!"
Meski sudah meminta maaf hingga menunduk-nunduk, Elena rupanya tetap berpegang teguh pada pendiriannya yang mata duitan.
Kesempatan emas tidak boleh dilewatkan!
Noah langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras. Bocah enam tahun itu hanya bisa membuang napas lelah.
"Keluarlah jiwa matre mama yang sebenarnya," batin Noah gregetan.
Naomi justru tertawa, sama sekali tak tersinggung. "Tentu saja! Apapun yang kamu mau, kami akan memberikannya dengan senang hati. Aku juga akan menyeret dan memaksa cucu brengsekku itu untuk bertanggung jawab penuh dan menikahimu secepatnya!"
Elena tersentak kaget.
"Apa? Menikah?!" Ia langsung mengibaskan kedua tangannya panik.
"Kamu tidam mau?"
"Eh, tidak perlu repot-repot, Nyonya! Aku tidak ingin menikah tanpa cinta, apalagi sama orang asing. Cukup tanggung jawab secara finansial saja pada Noah. Jujur saja, selera makan anak ini, gaya busananya, bahkan sabun mandinya semuanya mirip gaya hidup putra sultan! Dan ternyata sekarang terbukti benar kalau dia keturunan orang kaya, kan? Jadi tolong transfer saja biaya hidupnya setiap bulan!"
"Tidak bisa!" potong Naomi dengan nada kekeuh dan mata melotot yang tak menerima bantahan. "Bagaimanapun juga, demi nama baik keluarga, kamu harus menikah dengan cucuku!"
Melihat aura mendominasi dari nyonya besar di depannya, Elena hanya bisa menelan ludah dan pasrah.
"Ya sudahlah, orang tua kalau sudah bicara pasti ingin menang sendiri. Nanti aku akan pikirkan cara supaya pernikahan ini batal sebelum sah. Yang penting sekarang dapat uangnya dulu!" pikir Elena dalam hati.
"Tapi, Nyonya, malam ituaku bersumpah melakukannya dengan kakek-kakek berkulit keriput! Lalu bagaimana bisa tiba-tiba pelakunya adalah cucu Nyonya yang masih muda?"
"Karena dia memakai topeng!" sahut Xander tak sabar.
Pria paruh baya itu merogoh saku mantlenya, mengeluarkan ponsel, dan menunjukkan sebuah foto. Di layar itu, tampak wajah Leonard memakai topeng silikon kakek-kakek berkualitas tinggi yang terlihat sangat nyata.
Rahang Elena jatuh. "Jadi, dia penipu kelas kakap?!"
"Bisa dibilang begitu, Mama," sahut Noah tiba-tiba. Wajah jenius bocah itu tampak sangat gemas sekaligus licik. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Awas saja kau, pria penipu. Aku akan mengerjaimu habis-habisan karena sudah menelantarkan kami selama tujuh tahun!" tekad Noah dalam hati.
"Kalau begitu, apakah ada foto wajah asli papakandungku?" tanya Noah penasaran, mendongak menatap Xander dan Naomi bergantian.
Xander dan Naomi saling menoleh sejenak, lalu serempak tertawa canggung.
"Hahaha! Kakek lupa membawanya di ponsel ini!" dusta Xander kelabakan. Tentu saja ia sengaja menyembunyikannya agar rencana mereka pada Leon berjalan mulus. "Nanti saat di rumah, Kakek akan menunjukkannya langsung padamu. Sekarang bersiaplah, kalian akan tinggal di rumah utama Kakek, dan Kakek akan mendaftarkanmu di sekolah paling elit di kota ini!"
Mata Elena langsung berbinar mendengar kata rumah utama dan elit. Namun ia teringat sesuatu.
"Tunggu! Bolehkah aku membawa Bella, sahabatku? Dia juga ikut merawat Noah sejak bayi. Aku tidak mau meninggalkannya sendirian di kontrakan kumuh ini."
"Tentu saja boleh. Bawa seluruh isi rumahmu juga tidak masalah!" jawab Xander sombong.
Hati Elena seketika menghangat. Di balik kelakuan absurd dua orang tua ini, mereka ternyata mau menerimanya dengan tangan terbuka.
Akhirnya, mereka semua bersiap. Elena segera merogoh ponsel bututnya, mencoba menghubungi Bella yang sejak pagi tadi sudah menghilang entah ke mana bagai ditelan bumi.
"Halo, Bella? Angkat dong! Kita mau pindah ke istana nih!" seru Elena gregetan menempelkan ponsel di telinganya.
*
*
Di dalam mobil mewah yang melaju mulus menuju rumah utama, Naomi tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Elena dengan senyum penuh konspirasi.
"Dengar, Elena. Nanti saat kita sampai di rumah, tetaplah berpura-pura kalau suamiku ini adalah pria dari malam tujuh tahun lalu itu," bisik Naomi penuh semangat, matanya berbinar licik. "Goda dia. Panggil dia sayang, peluk lengannya bila perlu. Kita buat cucu brengsekku itu kepanasan sampai ubun-ubunnya mendidih!"
Elena mengerjap polos. Ia menatap wajah antusias Naomi, lalu beralih menatap Xander, sebelum akhirnya menelan ludah dengan ragu.
"Nyonya yakin meminta saya melakukan itu pada suami Nyonya?" tanya Elena hati-hati.
"Maksud saya, Nyonya tidak akan cemburu kalau saya tiba-tiba genit pada suami Nyonya? Nanti saya malah diam-diam diracun, atau dijambak lagi."
Xander langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kekhawatiran Elena.
"Tentu saja kami sangat yakin! Kapan lagi kita bisa mengerjai Leon habis-habisan? Tenang saja, istriku ini justru sutradara utamanya!"
Mendengar jaminan aman dari dua orang tua nyentrik tersebut, keraguan di benak Elena langsung menguap tak bersisa. Ia langsung duduk tegak, matanya seketika berkilat hijau membayangkan bonus dan keuntungan besar yang menantinya.
"Baiklah kalau begitu!" sahut Elena sembari menepuk dadanya bangga. "Saya akan bermanja-manja dan berakting semampu mungkin! Pokoknya demi uang jajan dan fasilitas elit, saya siap menjadi aktris peraih piala oscar hari ini!"
Tawa Xander makin menggelegar hingga wajahnya memerah. Ia sungguh sangat menyukai sifat blak-blakan wanita ini.
"Hahaha! Bagus! Aku suka semangatmu!" puji Xander kegirangan.
"Peloroti saja hartaku, Elena! Kuras semuanya, minta apa saja yang kamu mau! Tak masalah sama sekali jika hartaku diporoti oleh calon cucu menantuku sendiri. Lagipula, uangku tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan!"
Noah, yang sejak tadi duduk terjepit di antara mereka, hanya bisa memutar bola matanya.
"Astaga, keluarga baruku ini sepertinya komplotan orang kurang waras," batin bocah itu pasrah.
Meski begitu, obrolan absurd nan hangat di dalam mobil itu membuat senyum kecil terbit di bibir Noah.
kamu belum bertemu semua anggota keluargamu yang di luar negri
semuanya sombong🤣🤣
🤣🤣🤔🤔
bukan hanya mengerjai
TPI akan menjadi musuh bebuyutanmu
sebab sedari awal bertemu
kalian sudah saling bertengkar🤣🤣🤣
asik nih gak sabar menunggu kelanjutannya
Oma Naomi saya mengagumi anda🤣
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip
Elena pasti panik melihat Naomi , berasa jadi wanita simpanan
🤣🤣
Leon siap siap jadi asisten opa dan oma mu🤣