NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Jiwa Cermin Nirwana

Dua manik mata Yang Chan bergerak lincah, melebar, lalu menyipit dengan tempo yang cepat. Di dalam pupil hitamnya, sebuah rekaman ulang sedang terputar seperti film lama. Ia sedang melihat bayangan ibunya, Bing Chan, yang mengibaskan tangan dengan sangat santai saat menghalau hantaman keras sore itu.

Gerakan itu begitu anggun, namun memiliki daya hancur yang luar biasa mengerikan.

Berdiri tegak di tengah hamparan tanah subur dimensi Taman Poket, ia mencoba mengingat setiap jengkal pergerakan ibunya. Beberapa urat di lengan kanan Yang Chan mendadak berkedut aneh.

Secara refleks, pemuda itu mengangkat tangan kanan, lalu memutar pergelangan tangannya dengan sudut yang presisi. Gerakan itu persis sama dengan gaya mematikan ibunya saat menghempaskan Li Hao tanpa ampun.

Seketika, hembusan angin dingin yang tajam tercipta dari ujung jarinya.

Bersamaan dengan selesainya gerakan itu, udara di depannya bergetar hebat. Layar holografik sistem tiba-tiba meledak muncul di hadapan wajahnya, memancarkan pendaran hijau terang yang sedikit menyilaukan mata.

[Anomali Genetik Terdeteksi. Bakat Pasif Terbangkitkan: Jiwa Cermin Nirwana.]

Yang Chan mengerutkan dahi, menatap telapak tangannya sendiri yang kini diselimuti oleh kabut es tipis beraroma murni. Kulitnya terasa beku, namun anehnya ia tidak merasakan sakit sama sekali.

'Menyalin murni dari ingatan visual?' batin Yang Chan dalam hati. 'Jadi ini rahasia di balik sirkulasi Qi Ibu?'

Pandangannya beralih dari teks sistem yang melayang tenang ke seluruh penjuru dimensi Taman Poket. Suhu di dalam ruangan penuh energi kehidupan tersebut anehnya langsung merosot tajam, anjlok drastis hingga menyentuh titik beku.

Di sekeliling kakinya, hamparan rumput hijau yang semula segar kini tertutup lapisan es tipis yang berkilau. Bahkan dedaunan terdekat mulai membeku, memancarkan uap putih yang dingin.

Rasa penasaran di dalam kepalanya seketika berubah menjadi ketakjuban yang mendalam saat ia menyadari potensi dari warisan yang baru saja bangkit ini.

Namun, kesenangannya tidak bertahan lama. Layar hijau sistem di depannya mendadak berkedip-kedip tidak stabil, berubah warna menjadi keemasan yang terang benderang.

Bunyi peringatan yang melengking rendah mulai bergema di seluruh sudut dimensi.

Tanpa membuang waktu, Yang Chan langsung melangkah cepat ke arah ceruk Mata Air Kehidupan. Rasa perih yang asing mulai menjalar di sepanjang urat lengannya akibat beban memaksa teknik tingkat tinggi yang belum matang. Ia segera membenamkan seluruh telapak tangannya yang berlapis es tebal ke dalam air keperakan tersebut.

Sensasi hangat yang menyejukkan langsung menyapu rasa beku di kulitnya. Es yang membungkus lengannya meleleh dengan sangat cepat, menyatu kembali dengan mata air spiritual di bawahnya.

Di atas kepalanya, teks emas sistem mulai berjalan dengan cepat, mengurai baris demi baris informasi tentang bakat barunya.

[Jiwa Cermin Nirwana memiliki batas yang kejam. Secara alami, bakat ini hanya bisa meminjam sebagian teknik yang dilihat secara visual dengan bayaran beban fisik yang sangat merusak tubuh penggunanya.]

Namun, hukum itu tidak berlaku bagi Yang Chan saat ini. Fondasi fisiknya baru saja direndam secara menyeluruh oleh esensi Air Kehidupan yang sangat murni.

Sistem mendeteksi adanya kecocokan sempurna, lalu mulai menggabungkan teknik tiruan tersebut ke dalam struktur tubuhnya. Tanpa cacat sedikit pun. Tanpa rasa sakit yang menyiksa.

Sekali ia melihat teknik itu, maka teknik tersebut akan menjadi miliknya seratus persen untuk selamanya.

Sebuah notifikasi baru muncul di layar antarmukanya.

[Integrasi Air Kehidupan Selesai. Teknik 'Tangkisan Es Kosong' disempurnakan. Batasan durasi dan kelemahan genetik: Dihapus.]

Yang Chan terdiam sejenak, lalu tawa pelannya pecah di keheningan taman itu. Ia meraup sisa air spiritual yang berkilau dengan kedua tangannya, lalu membasuh wajahnya agar terasa lebih segar.

"Sistem dan air ini..." gumam Yang Chan, menggelengkan kepalanya perlahan. "Kalian benar-benar kombinasi yang curang."

Ia menatap permukaan ceruk air yang tenang di bawahnya. Fokus matanya berpindah pada pantulan wajahnya sendiri di sana. Selama sepersekian detik, siluet ibunya seolah tumpang tindih secara sempurna dengan bayangannya sendiri, sebelum akhirnya memudar ditiup angin lembut.

Ada rasa puas yang luar biasa di dalam dadanya. Ia kini memegang kendali atas sebuah kekuatan absolut yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Yang Chan mengepalkan tangan kanannya yang kini bersih di udara. Sisa tetesan air di kulitnya mendadak menguap menjadi asap tipis, berkat presisi aliran Qi tingkat enam yang kini mengalir dengan sangat sempurna dan tenang di dalam nadinya.

Kesadarannya ditarik kembali ke dunia nyata secara perlahan. Sinar matahari pagi yang hangat menyelinap masuk melewati celah dinding kamarnya, menerangi debu-debu halus yang melayang di udara.

Ia segera bangkit dari ranjang, berjalan perlahan menuju pintu belakang rumah mereka. Di sana, di dekat pagar yang masih setengah rusak, bertumpuk gelondongan kayu yang belum siap pasang.

Yang Chan mengambil sebuah kapak tua, salah satu peralatan tua yang tak pernah dipakai lagi. Ukuran kapak itu biasa saja, tentu saja sudah tidak layak pakai lagi dengan karatan dan ketajamannya yang sekarang.

Ia menarik napas panjang, mencoba mengadaptasikan bakat Jiwa Cermin Nirwana yang baru ia kuasai. Ia tidak menggunakan sirkulasi es yang bisa membekukan segalanya, melainkan memilih untuk meniru presisi murni gerakan ibunya. Mulai dari tumpuan pinggul, putaran bahu, hingga ke ujung jari-jarinya yang memegang gagang kayu kapak.

Dengan gerakan yang sangat santai, ia mengayunkan kapak tumpul itu ke arah kayu besi di depannya.

Tidak ada suara ledakan yang keras. Tidak ada retakan liar yang berisik.

Hanya dengan satu sentuhan kapak yang nyaris tanpa tenaga fisik berlebih, gelondongan kayu itu terbelah menjadi empat bagian yang sangat rapi.

Yang Chan menimang-nimang kapak berkarat di genggamannya dengan senyum tipis di sudut bibir.

"Sangat efisien," bisik pemuda itu pelan, merasa sangat kagum dengan tubuh barunya sendiri. "Tidak ada setitik pun tenagaku yang terbuang sia-sia."

Dari sudut matanya, ia mendengar langkah kaki yang pelan. Dari balik jendela dapur yang terbuka lebar di sebelah kanan halaman, ia melihat ayahnya, Yang Wei, sedang berjalan santai melintas sambil menjinjing sebuah keranjang bambu berisi sayuran segar hasil kebun.

Langkah ayahnya tampak biasa saja, seperti seorang pria paruh baya fana pada umumnya yang bersiap menghadapi hari yang damai.

Yang Chan buru-buru menyembunyikan kapak berkarat itu di balik punggungnya, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di sana.

Namun, di atas tanah gembur, belahan kayu yang baru saja terbagi empat itu menyimpan sebuah keanehan kecil. Jika ada orang yang melihat lebih dekat ke dalam serat bagian dalam kayu tersebut, mereka akan menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Seluruh bagian tengah serat kayu keras yang baru terbelah itu kini dilapisi oleh jutaan jarum es tipis yang memancarkan hawa dingin abadi. Residu energi luar biasa yang tidak sengaja tertinggal di sana tampak berkilau indah di bawah siraman cahaya matahari pagi.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!