"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Sandiwara di Depan Kilatan Kamera
Gedung serbaguna di kawasan Menteng malam itu diselimuti kemegahan yang pekat. Karpet merah membentang dari pelataran parkir hingga lobi utama, menyambut ratusan pasang sepatu mewah milik para taipan bisnis dan sosialita papan atas Jakarta. Acara amal tahunan Dewangga Foundation selalu menjadi panggung unjuk gigi kekuatan, namun malam ini, suasananya terasa jauh lebih menegangkan. Isu keretakan domestik dan gugatan hak asuh Kenzie yang ditiupkan kubu Maheswari telah menjadi konsumsi publik yang panas.
Sebuah SUV hitam berhenti tepat di depan lobi. Begitu pintu belakang terbuka, puluhan fotografer media hiburan dan bisnis langsung merangsek maju. Kilatan lampu *blitz* berkelebat beruntun, memecah kegelapan malam.
Arka melangkah keluar terlebih dahulu. Ia tampil memukau dengan setelan tuksedo hitam potongan tailor Italia yang membingkai tubuh tegapnya dengan sempurna. Wajahnya tegas, dengan rahang sekaku batu karang. Namun, alih-alih langsung berjalan menghindari media seperti biasanya, Arka berbalik. Ia mengulurkan telapak tangannya yang besar dan kokoh ke dalam mobil.
Sebuah tangan halus dengan jemari lentik menyambut uluran itu.
Naya melangkah keluar dengan keanggunan mutlak yang seketika membuat riuh bisik-bisik wartawan mereda selama satu detik. Malam ini, Naya sengaja tidak mengenakan gaun desainer luar negeri yang berlebihan. Ia memilih mengenakan kebaya modern potongan klasik berwarna hitam beludru dengan bordiran benang emas halus di sepanjang kerah, dipadukan dengan kain batik tulis bermotif parang rusak. Rambut hitamnya disanggul Jawa klasik yang rapi, mengekspos leher jenjang dan sepasang anting berlian kuno peninggalan mendiang nenek Arka.
Riasan wajahnya minimalis, namun sepasang mata bulatnya yang jernih memancarkan ketenangan menghanyutkan sekeras baja—sebuah tameng mental yang tidak bisa digoyahkan oleh ratusan kamera di depannya.
Arka tidak hanya memegang jari Naya. Sesuai strategi taktis mereka, pria itu menggeser tangannya, melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang ramping Naya, menarik tubuh istrinya begitu dekat hingga bahu mereka bersentuhan tanpa jarak.
"Kamu siap, Naya?" bisik Arka, suaranya bariton merendah, getaran napasnya terasa hangat di dekat pelipis Naya. Jantung Arka sendiri sebenarnya berdegup dengan ritme yang liar, bukan karena takut pada media, melainkan karena keharuman lavender campuran melati dari tubuh Naya malam ini benar-benar mengacaukan logikanya.
"Jalan saja, Mas. Ikuti irama langkah saya," balas Naya sangat tenang, bibirnya mengukir senyuman tipis yang sangat manis untuk kilatan kamera.
Mereka melangkah melintasi karpet merah dengan gestur sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta. Cara Arka menatap Naya setiap beberapa langkah—sorot mata elang yang penuh pemujaan dan rasa protektif yang murni—terlihat begitu hidup dan natural di mata publik, menghancurkan narasi 'pernikahan palsu' yang selama seminggu ini digemborkan di media sosial.
Namun, kedamaian sandiwara itu langsung pecah begitu mereka menginjakkan kaki di aula utama.
Di dekat panggung lelang, dua wanita dengan gaun sutra mewah sudah berdiri menanti. Clarissa Maheswari dengan gaun merah menyalanya, dan di sebelahnya, Saskia Maheswari yang mengenakan gaun malam berpotongan dada rendah berwarna perak berkilau. Kehadiran ibu kandung Kenzie itu seketika memicu kasak-kusuk pekat di antara para undangan.
Saskia melangkah maju, memotong jalur berjalan Arka dan Naya. Sepasang matanya yang dingin menatap Naya dari ujung sanggul hingga ujung selop dengan pandangan yang sarat akan penghinaan.
"Selamat malam, Mas Arka. Luar biasa sekali akting kalian malam ini," suara Saskia melengking halus, cukup keras untuk didengar oleh beberapa wartawan yang berdiri di balik barisan pembatas pembawa acara. "Aku tidak menyangka mantan suamiku rela menurunkan seleranya demi seorang wanita pajangan yang ... yah, semua orang di ruangan ini tahu berapa banyak utang keluarga yang harus kamu lunasi demi senyuman palsunya itu."
Clarissa menyunggingkan senyum sinis dari belakang, matanya berkilat penuh kemenangan, menunggu Naya runtuh emosinya atau Arka meledak marahnya di depan umum.
Arka merasakan rahangnya mengeras sempurna, tangannya yang berada di pinggang Naya mengetat secara refleks, siap melontarkan kalimat makian hukum yang mematikan. Namun, sebelum urat kemarahan Arka sempat mencuat, Naya bergerak.
Dengan keanggunan mutlak, Naya melepaskan diri sedikit dari dekapan Arka, lalu melangkah satu tapak ke depan. Ia berdiri tegak, memotong dominasi aura Saskia. Sepasang mata bulatnya yang jernih menatap mantan istri suaminya itu dengan ketenangan yang menghanyutkan—sebuah tatapan sunyi yang seketika membuat atmosfer di sekitar mereka mendingin.
"Selamat malam, Ibu Saskia Maheswari. Senang melihat Anda akhirnya ingat jalan pulang ke Indonesia," ucap Naya, suaranya mengalun sangat stabil, jernih, dan tidak memiliki sekerat pun nada tinggi. "Saya rasa ada kekeliruan dalam pilihan kata Anda. Mas Arka tidak sedang menurunkan selera. Beliau hanya akhirnya menemukan apa yang selama ini tidak pernah beliau dapatkan di rumah ini: seorang istri yang tahu cara menghormati institusi pernikahan, dan seorang ibu yang memilih mendekap anaknya saat dia sakit, bukan meninggalkannya ke luar negeri demi ego pribadi."
*Bisik-bisik tajam seketika menjalar di antara ibu-ibu sosialita yang menonton.* Hantaman kalimat Naya begitu menohok, langsung menelanjangi borok masa lalu Saskia yang menelantarkan Kenzie.
Wajah Saskia seketika memucat, berganti menjadi merah padam karena malu. "Kamu—kamu hanya wanita sewaan yang dibayar! Jangan berani-berani menceramahiku tentang Kenzie! Aku yang melahirkannya!"
"Dan saya yang merawat jiwanya yang sempat ketakutan karena kedatangan Anda, Ibu Saskia," potong Naya tegas, suaranya tetap rendah namun membawa otoritas mental yang mutlak sekeras baja. "Mengenai bantuan finansial yang Anda sebutkan tadi ... Mas Arka adalah pria yang penuh tanggung jawab. Beliau memuliakan keluarga saya sebelum meminang saya. Jika menurut Anda merawat orang tua yang sakit adalah sebuah kesalahan, maka saya maklum kenapa Anda begitu mudah meninggalkan anak kandung Anda sendiri selama bertahun-tahun."
Naya menoleh ke arah salah satu wartawan senior yang memegang perekam suara di dekat mereka, memberikan senyuman tipis yang sangat anggun. "Keluarga Dewangga dibangun di atas adab dan ketulusan, bukan sekadar transaksi saham. Kami di sini malam ini untuk menggalang dana bagi anak-anak yang kurang beruntung, jadi saya rasa pembicaraan tentang masa lalu yang gagal ... sangat tidak relevan dengan esensi acara ini."
Clarissa ternganga, sementara Saskia gemetar hebat menahan amarah yang tertahan di tenggorokan. Mereka datang dengan niat membuat Naya terpojok dan menangis karena status sosialnya, namun dalam hitungan menit, kecerdasan taktis Naya justru membalikkan keadaan, membuat Saskia terlihat seperti ibu kandung yang kejam dan tidak tahu malu di depan seluruh kolega bisnisnya.
Arka yang menyaksikan seluruh kejadian itu merasakan gelombang kekaguman dan cinta yang teramat besar meluap di dalam dadanya. Ia melangkah maju, kembali merapatkan tubuhnya di belakang Naya, lalu menggenggam jemari Naya yang halus dengan sangat erat di depan mata semua orang.
"Istriku benar, Saskia," ucap Arka, suaranya bariton mantap, bergema dengan wibawa mutlak seorang kepala keluarga Dewangga. "Waktumu untuk mengacaukan hidup anakku sudah habis. Sampai jumpa di ruang sidang hari Selasa depan. Mari, Sayang, meja utama kita sudah siap."
Arka menuntun Naya berjalan melewati Saskia dan Clarissa yang hanya bisa berdiri mematung dengan kekalahan telak di ruang publik.
Sepanjang sisa malam itu, di bawah sorotan lampu kristal aula amal, Arka tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemari Naya. Sandiwara di depan kamera malam itu telah memiliki nyawa yang utuh; bukan lagi karena paksaan kertas kontrak dua tahun, melainkan karena Arkananta tahu ... wanita bernama Nayara itu adalah satu-satunya benteng, pelindung, dan belahan jiwa sesungguhnya yang tidak akan pernah ia lepaskan dari hidupnya sampai kapan pun.
Bersambung...
arkaaaa....masih blm ke buka juga pikiranmu...
sorry mom....esmosi jd nya ...belain mantan sampe segitunya...guwwedek sy mom....
lanjut mom...makin seru....
tau seberapa dalam dan sakitnya Naya,,,,Ku pikir akan bahagia ketika main layangan di luar dan ketawa bersama itu
ternyata kesempatan Arka yang di berikan Naya tetapi di sia siakan ,,, ketika kesekolahan bersama bergandengan tangan,,,kini tinggal kenangan tak mungkin terulang kembali,,,arka lupa jalan pulang atau memang ceroboh ahirnya lewat jalur yang salah,,,karena harusnya jalan kerumah Naya dan Kenzie,,,ini ketempat gisele Yo uwis piye maneh,,,biar pelajaran buat arka yang mengabaikan perasaan Naya seolah tidak penting,,,dan sekarang barulah menyesali sudah tertutup rapat hati Naya,,, ahirnya Kenzie lah yang jadi korban nya lagi,trim mommy sudah update,,,besok kalau mommy sibuk balap karung update nya malam ga apa apa 🤩🤭hua hua