Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Masing-masing Terasa Sepi
Malam kian larut. Jam digital di atas nakas telah menunjukkan pukul 23.30, tetapi Jelita yang sudah berbaring diatas ranjangnya masih belum benar-benar terlelap. Cahaya lampu tidur yang redup memantulkan nuansa hangat ke seluruh ruangan, sementara suara angin dari pendingin ruangan menjadi satu-satunya bunyi yang menemani kesunyian.
Amora berbaring di sisi kiri ranjang, sedangkan Jelita berada di sebelah kanannya. Keduanya sama-sama memandang langit-langit tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pikiran yang terlalu penuh membuat mata mereka enggan terpejam.
Beberapa saat kemudian, Jelita memecah keheningan.
"Ra..."
Amora menoleh perlahan.
"Hm?"
Jelita mengembuskan napas panjang sebelum berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Kakak masih merasa bersalah sama kamu."
Kalimat itu membuat Amora tersenyum kecil.
"Masih kepikiran? udahlah kak, yang lalu biar berlalu aja." Amora kembali menenangkan.
Jelita mengangguk pelan.
"Tapi kakak enggak bisa berhenti mikirin semuanya? Kalau waktu itu Kakak enggak kabur, kamu enggak akan berada di posisi sekarang."
Nada suaranya dipenuhi penyesalan. Amora menggeser tubuhnya hingga menghadap sang kakak sepenuhnya.
"Kak, aku enggak papa. Dan aku enggak marah sedikit pun sama kakak.."
"Tapi..."
Amora memotong ucapan Jelita dengan senyum lembut.
"Mas Razka memperlakukan aku dengan baik. Memang hubungan kami masih canggung karena baru saling mengenal, tapi semuanya berjalan baik. Jadi Kakak enggak usah terus menyalahkan diri sendiri. Seenggaknyaaku beneran baik-baik aja, Kak."
Jelita memejamkan mata sejenak.
"Kakaktetap enggak bisa tenang. Harusnya kamu bisa menikah dengan orang pilihan kamu. Orang yang benar-benar kamu cintai."
Ucapan itu membuat senyum Amora perlahan memudar. Ia terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara.
"Enggak semua orang mendapatkan jalan hidup sesuai keinginannya, Kak."
Suaranya terdengar tenang.
"Mungkin memang ini jalan yang Allah kasih buat aku."
Jelita menatap adiknya dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Amora buru-buru mengembangkan senyum agar suasana tidak kembali sendu.
"Udah, jangan bahas ini lagi. Besok kita harus bangun pagi."
Ia menarik selimut hingga sebatas dada, lalu membalikkan badan membelakangi Jelita. Namun sesaat setelah wajahnya tak lagi terlihat, senyum itu perlahan menghilang.
Tatapannya kosong menembus gelapnya ruangan.
Enam bulan... Batas waktu yang telah disepakati bersama Atharazka kembali terlintas di benaknya. Pernikahan ini hanya sementara. Setelah semuanya selesai, mereka akan kembali menjalani kehidupan masing-masing.
Amora mengembuskan napas pelan. Semoga saat semuanya berakhir nanti, dia benar-benar bisa mengikhlaskan semua ini.
Ia memilih menyimpan pikiran tersebut rapat-rapat. Jelita tidak perlu mengetahui soal ini. Tidak ada gunanya menambah beban pikiran sang kakak.
Di sisi lain ranjang, Jelita akhirnya memejamkan mata. Napasnya mulai terdengar teratur.
Sementara Amora masih terjaga beberapa menit lagi. Ia menghitung hari-hari yang baru dimulai.
Baru dua hari, dan entah mengapa, enam bulan terasa begitu panjang untuk dijalani.
Perlahan rasa lelah mengambil alih kesadarannya. Kelopak matanya semakin berat hingga akhirnya ia ikut terlelap, membiarkan malam menutup seluruh kegelisahan yang belum sempat terucapkan.
.
Di unit apartemen lantai 17 yang malam itu terasa begitu lengang, Atharazka justru belum berhasil memejamkan mata. Sejak beberapa saat lalu ia terus membolak-balikkan tubuh di atas ranjang, mencari posisi yang nyaman. Sayangnya, rasa kantuk tak kunjung datang. Yang justru semakin terasa adalah perutnya yang mulai memprotes karena mendadak merasa lapar.
Suara lirih dari perutnya membuat Mas Razka mengembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit kamar.
"Apa harus pesan makanan jam segini?" gumamnya pelan.
Matanya beralih ke ponsel yang berada di atas nakas. Sebenarnya tinggal membuka aplikasi pesan-antar, memilih menu, lalu menunggu. Namun membayangkan harus menanti kurir datang hampir tengah malam membuat rasa malasnya semakin besar.
"Kayaknya masih ada mi instan deh," katanya lagi sambil mengusap tengkuknya.
Daripada terus menahan lapar, ia akhirnya memilih bangkit. Langkahnya terasa berat ketika meninggalkan kamar menuju pantry.
Apartemen itu begitu sunyi. Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya redup dari area pantry yang menerangi sebagian ruang tengah. Dengungan kulkas terdengar samar, berpadu dengan suara kendaraan yang sesekali melintas dari jalan raya di bawah apartemen.
Atharazka membuka lemari dapur satu per satu. Setelah menggeser beberapa bungkus camilan dan bumbu instan, akhirnya ia menemukan dua bungkus mi goreng instan yang terselip di bagian belakang.
"Masih ada ternyata," ujarnya lega.
Ia segera mengambil panci kecil, menuangkan air, lalu meletakkannya di atas kompor.
Kemampuan memasaknya memang sangat terbatas. Selain merebus mi instan atau menggoreng telur, hampir semua kebutuhan makannya selama ini bergantung pada restoran ataupun layanan pesan-antar.
Sambil menunggu air mendidih, ia membuka pintu kulkas.
Udara dingin langsung menyambut wajahnya. Pandangannya kemudian tertuju pada beberapa kotak makanan yang tersusun rapi di rak tengah. Masing-masing diberi label sederhana berisi nama masakan. Rendang, Ayam woku, Sambal teri, Tuna pedas.
Atharazka mengernyit pelan.
"Ini pasti punya Amora."
Ia memperhatikan semua wadah itu beberapa saat. Jelas bukan miliknya, karena ia hampir tidak pernah menyimpan makanan rumahan sebanyak itu.
Sebenarnya ia sudah berniat menutup kembali pintu kulkas. Namun tangannya berhenti di tengah jalan. Setelah berpikir sejenak, ia kembali membuka pintu kulkas lebih lebar.
"Ambil sedikit nggak bakal ketahuan kali, ya," gumamnya sambil terkekeh tipis. "Lagian porsinya juga banyak."
Ia masih sempat menimbang beberapa detik sebelum akhirnya mengambil dua potong rendang dan beberapa iris tuna pedas. Semuanya dipindahkan ke piring kecil, lalu dipanaskan sebentar menggunakan microwave.
"Kayanya ini bakalan cocok buat teman makan mi goreng."
Tidak lama kemudian aroma mi goreng yang gurih bercampur dengan harum rendang memenuhi area dapur. Atharazka menata makanannya di meja makan kecil dekat jendela, lalu duduk menikmati hidangan sederhana itu.
"Besok aja bilang sama Amora," ujarnya pelan sebelum mulai makan. "Sekarang juga dia pasti sudah tidur."
Suapan demi suapan masuk tanpa terasa. Rendang yang empuk berpadu dengan mi goreng hangat, sementara tuna pedas memberi sensasi rasa yang membuat selera makannya semakin bertambah. Padahal biasanya ia tidak terlalu menyukai makanan pedas, tetapi malam itu semua lauk tersebut justru habis lebih dulu daripada mi di piringnya.
Setelah perutnya terisi, tubuhnya terasa jauh lebih rileks. Ia menyandarkan punggung ke kursi sambil memandangi gemerlap lampu kota dari balik jendela apartemen.
Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.
"Masakannya ternyata enak juga."
Sesaat kemudian ia bangkit membawa piring dan peralatan makannya menuju wastafel. Setelah semuanya dicuci bersih, lampu pantry dimatikan, lalu ia kembali memasuki kamar.
Sebelum tidur, Atharazka sempat menggosok gigi sekali lagi. Begitu tubuhnya merebah di atas kasur dengan perut yang sudah kenyang, rasa kantuk yang sejak tadi enggan datang akhirnya perlahan menghampiri.
Tidak sampai beberapa menit kemudian, napasnya mulai teratur. Apartemen itu kembali tenggelam dalam keheningan malam.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰