NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:561.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 pelayan khusus

Alis Deni dan Anggun terangkat bersamaan.

“Pelayan khusus?” ulang Anggun, matanya menyipit penuh curiga.

Yuda menyandarkan punggungnya ke sofa, menautkan jemari dengan santai, seolah yang ia minta bukan sesuatu yang aneh. “Iya. Tapi bukan di rumah ini.”

“Terus di mana?” tanya Deni.

“Di kontrakan aku.”

Anggun menatap anaknya lama. “Buat apa? Bukannya Ning masih bisa beres-beres sendiri?”

Yuda tersenyum tipis. “Justru karena itu.”

Deni mengernyit. “Maksud kamu?”

“Papa tau kondisi Ning,” lanjut Yuda, suaranya kini lebih pelan tapi tegas. “Dia masih pakai kruk. Masih maksa berdiri lama. Aku enggak mau dia kecapekan, tapi aku juga enggak mau dia ngerasa… enggak berguna.”

Anggun terdiam. Ada sesuatu di nada suara Yuda yang jarang ia dengar—perlindungan tanpa pamer.

“Makanya,” Yuda melanjutkan, “aku mau ada orang yang bantu. Diam-diam. Ning enggak perlu tau.”

“Diam-diam?” Anggun mendengus kecil. “Kamu ini licik dari mana sih?”

“Dari Mama,” jawab Yuda ringan.

Deni tertawa kecil, lalu menghela napas. “Terus, maunya siapa aja?”

“Satu tukang masak. Dua orang buat bersih-bersih,” jawab Yuda tanpa ragu. “Datangnya pagi buta. Pulangnya sebelum Ning bangun. Jangan ribut. Jangan ninggalin jejak.”

Anggun menatap anaknya lama, lalu berdiri. “Ikut Mama.”

Mereka masuk ke ruang kerja kecil di belakang. Anggun membuka buku catatan lama—daftar orang-orang kepercayaan yang pernah bekerja di rumah besar itu.

“Ini Bu Mar,” katanya sambil menunjuk nama. “Masaknya sederhana. Enggak neko-neko.”

“Cocok,” kata Yuda.

“Ini dua orang ini,” lanjut Anggun lagi. “Kerjanya cepat, mulutnya rapat.”

Yuda mengangguk mantap. “Aku mau mereka mulai besok pagi.”

Anggun menutup buku itu, menatap anaknya dengan tatapan yang sulit dibaca. “Kamu beneran serius sama Ning, ya?”

Yuda tersenyum kecil. “Dari awal.”

petang itu, Yuda menepikan motornya di depan Rumi’s Salon. Bel pintu berdenting pelan saat ia masuk.

Rumi yang sedang membereskan kuas make up mendongak—lalu membeku.

“Loh, Yuda?” refleks ia menyebut nama itu, sebelum cepat-cepat menarik ucapannya.

Yuda hanya tersenyum sopan, seolah benar-benar orang asing. “Permisi, Bu. Saya mau jemput istri saya.”

Rumi berkedip, lalu melirik ke arah Ning yang baru keluar dari ruang rias. Ning berhenti melangkah begitu melihat Yuda.

“Mas?” matanya berbinar.

“Iya,” jawab Yuda lembut. “Udah selesai?”

Ning mengangguk. “Udah, Mas.”

"Oh iya. Bu Rumi, ini Mas Yuda, suami Ning." Ning berganti pada Bu Rumi, memperkenalkan suaminya.

Yuda mengulurkan tangannya, "Yuda, Bu Rumi."

Rumi menelan ludah, potongan-potongan di kepalanya mulai menyatu—cara Anggun tadi mengamati Ning, sikap tersinggung yang aneh, dan kini… Yuda.

“Oh,” Rumi akhirnya tersenyum formal. Ia membalas jabatan tangan ponakan nya sendiri. “Rumi. Jadi, kamu suaminya Ning, ya?”

“Iya, Bu,” jawab Yuda tenang. “Terima kasih udah jaga istri saya.”

"Selamat ya, udah nikah, Nak Yuda."

Ning menoleh ke Rumi, sedikit aneh dengan sikap Bu Rumi, tapi tersenyum. “Bu, Ning pulang dulu.”

“Iya… hati-hati,” jawab Rumi, suaranya agak tertahan.

Begitu pintu salon tertutup, Rumi langsung meraih ponselnya. Lalu menelpon Anggun.

"Mbak. Mau ngomong sekarang, aku ke rumah, ya?" katanya tanpa basa basi.

"Hah? Ngapain?" sahut suara di seberang sana."Tumben banget pake telpon. Ngomong aja langsung."

Bukan ketus, tapi memang begini bahasa Anggun. Dan Rumi sangat hapal. "Aku ketemu suaminya Ning."

Hening sebentar.

"Oke, langsung ke sini, ada yang mau kami bicarakan juga."

****

"Ning! Pegangan dong."

"Udah, Mas."

"Pegangannya yang bener dong."

Yuda menarik tangan Ning sampai melingkar di perutnya.

Di atas motor, Ning memeluk jaket Yuda pelan. Pipinya bersemu merah. Jalanan malam itu ramai, tapi hati Ning terasa tenang.

“Mas capek, nggak?” tanyanya lirih.

“Enggak,” jawab Yuda. “Kalau jemput kamu, malah enak. Bisa peluk-peluk gini.”

Ning tersenyum, menyandarkan dahi ke punggung Yuda. Angin malam menyapu wajahnya, membawa rasa aman yang belum pernah ia punya sebelumnya.

Sampai di kontrakan, Yuda membantu Ning turun.

"Mas, Ning bisa sendiri kok."

"Iya, tapi mas pengen peluk kamu, gendong kamu..."

Ning tersenyum lagi. Lagi. Pipinya dibuat bak kepiting rebus.

Mereka makan malam sederhana—nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening.

"Ini Mas yang masak?"

"Iya. Enak enggak?" tanya Yuda. Tadi dia pulang tak lupa membawa beberapa olahan dari rumah utama.

“Masakanku kalah sama punya Mas,” canda Ning.

Yuda menggeleng. “Oh ya? Kupikir ini agak kelebihan garam gitu.”

"Enggak, ini enak, Mas."

Yuda tersenyum kaku, ia pikir, "Hmm, besok harus buat yang kurang garam deh."

Malam turun perlahan. Mereka beristirahat lebih cepat. Ning tertidur dengan cepat, lelah yang manis menyergap tubuhnya.

****

Pagi datang. Ning terbangun saat kasur di sampingnya bergerak.

“Mas?” gumamnya setengah sadar. "Ayo subuh."

Yuda menoleh, bangun dengan malas. Setelah subuh, Yuda memikirkan cara untuk membuat Ning tidur lagi.

Ia mengusap rambut Ning pelan saat Ning selesai melipat mukena. “Ning.”

Ada keheningan hangat di antara mereka—tatapan, senyum kecil, bibir yang perlahan saling bertaut, dan napas yang menyatu. Waktu seolah melambat, lalu menghilang begitu saja di balik tirai kamar.

Ketika Ning kembali terlelap, Yuda bangkit perlahan. Ia meraih ponsel dan mengetik singkat.

Mulai sekarang.

Tak lama, suara sangat pelan terdengar dari luar—langkah kaki hati-hati, bisikan singkat. Dua orang membersihkan rumah dengan cekatan, satu orang di dapur memasak menu sederhana.

“Kali ini buat yang sederhana saja,” pesan Yuda pelan. “dan... buat agak kurang garam.”

“Siap, Mas Yuda,” jawab mereka serempak.

Yuda kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang, menatap Ning yang masih terlelap. Ia tersenyum kecil.

“Tidur yang nyenyak,” bisiknya. “Biar Mas yang urus sisanya.”

Di luar, pagi berjalan seperti biasa—tanpa Ning sadari, ada tangan-tangan yang bekerja diam-diam, menjaga hidup barunya tetap tenang.

1
Aidil Kenzie Zie
apa kakaknya Yuda yang nabrak Ning tapi orangnya udah ninggal dan dia yang diminta untuk tanggung jawab
Aidil Kenzie Zie
sifat kek gitu mana ada yang mau sama kamu Dewi
Aidil Kenzie Zie
mampir lagi
Ibrahim Efendi
😉😉😉
Sri Darwati
akhir ny yg ditunggu 2 hadir,,bahagia slalu y tuk Ning & Yuda,,semoga Ranu jg menemukan tambatan hati ny di tempat yg baru.
mama ubay
bagus jalan ceritanya.bikin betah bacanya.dan cara letak tanda bacanya jg bagus sehingga membuat mudah d baca
Cinta_manis: makasih bingang 5 nya kak. tapi masih ada yang typo. masih dalam proses revisi kak🙏🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
Alhamdulillah....akhirnya yg di tunggu Yuda dan Ning akan memberikan cucu utk ortu....Selamat ya Ning dan Yuda...sehat, aman dan lancar sampe lahiran nanti 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
nunik rahyuni
hayo...ranu kah...?. diam diam membuntuti yuda jd tau alamat rumahnya...
Sri rahayu
jangan" di Ranu yg datang
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
pasti ranu
Ibrahim Efendi
siapa ya??
Arin
Ranu kah yang datang??? Buat pamitan dan minta maaf
Yusna Wati
jgn sampai ranu atau dewi bahaya itu
Sri Rahayu
siapa yg dtng pagi2 ke rumah Ning...semoga saja tdk mara bahaya 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
Arieee
kasih ranu jodoh lah biar gak jomblo 🤧
Ibrahim Efendi
sebagai seorang suami aku merasakan apa yang Yudha rasakan ☺
mimief
ya...Giman ya yud
lu kan yg nyodorin istri lu sendiri
jangan marah lah
Sri Rahayu
bisa aja Yuda....pengen nikmati cemilan yg ada didepan nya 🤩🤩🤩🤪🤪🤪....siap2 dimakan Yuda Ning ...lanjut Thorr 😘😘😘
mimief
jgn jgn ini yg nabrak Ning sama Dewi
jadi nya alesan Yuda buat nikahin mereka
KK nya yg nabrak
Ibrahim Efendi
monggo... di lahap mas! 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!