NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:423.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30

Dokumen-dokumen penting yang biasanya tersusun rapi kini terabaikan. Ningsih berjalan bolak-balik di depan meja kerjanya dengan langkah gusar, menggenggam ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Pihak sekolah baru saja mengabari bahwa Luna sudah pulang, namun bukan dijemput oleh sopir pribadi yang Ningsih utus.

Tok! Tok! Tok!

Pintu diketuk terburu-buru, dan Pak Roni masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya dipenuhi peluh dingin.

"Mohon maaf, Ibu Ningsih. Saya sudah memeriksa seluruh cctv di sekitar area sekolah Luna, dan saya juga sudah menyuruh tim keamanan mencari ke rute biasa. Tapi kami belum menemukan keberadaan non Luna, Bu."

"Bagaimana bisa, Pak Roni?!" suara Ningsih meninggi, tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan yang membakar dadanya. "Sekolah itu punya sistem keamanan yang ketat! Siapa yang berani membawa putriku?!"

Tepat setelah kalimat itu terlontar, ponsel di tangan Ningsih bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal memanggil. Tanpa membuang waktu, Ningsih langsung menggeser layar ke atas.

"Halo! Siapa ini?!" cecar Ningsih habis-habisan.

Dari seberang telepon, terdengar suara kekehan santai yang sangat familiar, suara yang seketika membuat darah Ningsih mendidih.

"Tenang, Ningsih, tenang. Jangan berteriak seperti orang kesurupan begitu. Anak kita aman bersamaku."

"Mas Hendra?!" Ningsih menegakkan tubuhnya, matanya berkilat murka. "Di mana kamu? Apa yang kamu lakukan pada Luna?!"

"Luna sedang asyik makan es krim cokelat kesukaannya di kafe seberang mall pusat kota. Kalau kamu mau menjemputnya, datanglah sendirian sekarang. Aku menunggumu," ucap Hendra sebelum langsung memutus sambungan telepon sepihak.

Ningsih menatap Pak Roni dengan tajam.

"Ada apa Bu?"

"Aku akan menemui mantan suamiku itu sendirian. Kamu tunggu Luna di mobil."

*

*

Tiga puluh menit kemudian, Ningsih melangkah masuk ke dalam kafe yang ditunjuk Hendra. Begitu masuk, ia mendapati Luna sedang duduk di pojok ruangan, menikmati segelas besar es krim dengan wajah polos tanpa dosa.

Di hadapannya, Hendra duduk sembari bersedekap dada, mengenakan kemeja seragam sopirnya yang ketat, menampilkan kesan tegap yang sengaja ia tonjolkan.

"Mama!" seru Luna riang saat melihat ibunya datang.

Ningsih memaksakan diri tersenyum lembut pada putrinya. "Luna sayang, ikut pak Roni dulu ke mobil di depan ya? Mama ada urusan sebentar dengan papa."

"Oke, Mama!" Luna yang cerdas menangkap ketegangan itu langsung menurut dan berjalan keluar menemui Pak Roni yang sudah berjaga.

Begitu Luna hilang dari pandangan, Ningsih langsung menggebrak meja di hadapan Hendra.

"Bisa-bisanya kamu membawa Luna tanpa izinku, Mas?! Apa kamu sudah kehilangan akal sehat?!"

Hendra tidak gentar, ia justru berdiri perlahan, memamerkan senyum sombongnya yang penuh percaya diri.

"Kenapa harus minta izin, Ningsih? Dia itu masih putri kandungku! Di dunia ini, tidak ada yang namanya mantan ayah, bukan? Aku punya hak penuh untuk menemuinya kapan saja."

"Aku tahu!" bentak Ningsih, menahan volume suaranya agar tidak menjadi pusat perhatian pengunjung lain. "Tapi setidaknya jangan membuatku khawatir sampai setengah mati! Kamu menculiknya dari sekolah tanpa kabar!"

Melihat kemarahan Ningsih, Hendra justru menangkapnya dengan cara yang salah. Rasa percaya dirinya yang setinggi langit setelah kemarin dilamar oleh anak konglomerat membuatnya merasa di atas angin.

Menurut teorinya, Ningsih marah karena masih memiliki perasaan mendalam padanya.

Hendra melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Sebelum Ningsih sempat menghindar, tangan kekar Hendra bergerak cepat menarik pinggang Ningsih, memaksa wanita itu merapat ke tubuh tegapnya.

"Lepas, Mas!" desis Ningsih, tubuhnya menegang karena muak.

Hendra justru menurunkan wajahnya, berbisik dengan nada suara yang sengaja dibuat sok cool.

"Khawatir? Kamu sebenarnya khawatir pada Luna... atau khawatir padaku, Ningsih? Mengaku sajalah, kamu sengaja bersikap sekaku ini karena kamu takut... kamu takut jatuh cinta lagi padaku, kan? Kamu belum bisa melupakan pesona mantan suamimu ini."

Ningsih membuat bola mata malas, mengekspresikan rasa jijik yang luar biasa. Dengan satu sentakan kasar yang kuat, ia menampik tangan Hendra dari pinggangnya, lalu mundur dua langkah.

"Jaga jarak, Mas! Jauhkan tangan kotormu itu!" ketus Ningsih sembari merapikan blazernya yang kusut. "Kita ini bukan suami istri lagi! Batasan kita sudah jelas sejak akta cerai itu keluar!"

Hendra terkekeh sombong, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Batasan bisa diubah, Ningsih. Kita masih bisa rujuk. Aku tahu kamu kesepian sendirian memimpin perusahaan besar itu. Kamu butuh pria gagah seperti aku untuk menjagamu dan Luna kembali."

Ningsih tertawa hambar, sebuah tawa meremehkan yang langsung menusuk harga diri Hendra.

"Rujuk? Dalam mimpimu yang paling liar pun, itu tidak akan pernah terjadi, Mas Hendra! Aku tidak akan sudi sujud dan kembali pada pria pengkhianat, bermulut besar, yang sekarang nasibnya luntang-lantung ditendang dari perusahaanku!"

"Kamu jangan sombong, Ningsih! Roda itu berputar!" balas Hendra, wajahnya mulai mengeras karena tersinggung. "Sebentar lagi nasibku akan berubah total, bahkan mungkin bisa melampaui PT Adiwangsa milikmu!"

"Oh, ya? Baguslah kalau begitu. Urus saja hidupmu yang penuh khayalan itu, dan jangan pernah berani menyentuh Luna lagi tanpa izinku. Kalau sampai hari ini terulang, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke jeruji besi atas pasal penculikan anak di bawah umur," sahut Ningsih dengan senyuman dingin yang mematikan.

Tanpa menunggu balasan dari Hendra, Ningsih membalikkan badannya dengan anggun. Ia melangkah keluar dari kafe dengan dagu terangkat, meninggalkan Hendra yang berdiri mengepalkan tangan, merutuki keteguhan hati mantan istrinya yang ternyata tetap sekeras berlian dan tidak bisa diluluhkan dengan modal percaya diri semata.

"Sial!" umpat Hendra tertahan, memukul meja kafe dengan kepalan tangannya setelah punggung Ningsih hilang di balik pintu kaca.

Napasnya memburu, bukan hanya karena amarah, melainkan karena gejolak lain yang tiba-tiba membakar dadanya. Hendra menatap telapak tangannya yang baru saja menyentuh pinggang Ningsih tadi. Kulitnya masih merekam kehangatan tubuh mantan istrinya itu.

"Kenapa dia jadi jauh lebih cantik dan menggoda setelah bercerai dariku?" gumam Hendra dengan mata menggelap penuh gairah.

Dulu, saat masih menjadi istri penurut di rumah, Ningsih tampak biasa saja di matanya. Tapi sekarang, dengan setelan kerja yang ketat membungkus tubuh sintalnya, aura angkuh yang dipancarkan Ningsih justru membuat Hendra benar-benar ingin mengurung wanita itu di ranjangnya, menaklukkan kesombongannya sampai tak berdaya.

Hendra meraup wajahnya dengan frustrasi. "Apa dulu mataku benar-benar sudah dibutakan oleh Arumi? Sampai aset se-seksi Ningsih malah aku sia-siakan?"

Pikiran licik Hendra mulai berputar liar. Rasa percaya dirinya kembali bangkit.

"Lihat saja, Ningsih. Begitu aku berhasil menguras harta Nawang dan menjadi kaya raya lagi, aku akan menyeretmu kembali ke pelukanku. Kamu tidak akan bisa lari dariku!"

1
Kembarr Kembaarr
apem bosok di tawak2ne. ngono ko yoo enek seng gelem . tp seng gelem biasane podo bosok'e
Kembarr Kembaarr
lanangan nek wes diwei apem bosok lali anak bojo.
Kembarr Kembaarr
jngn terlalu bodoh ningsih. dn jngn terlalu banyak bicara buktikn kemampuanmu dn tunjukn pd laki2 gak guna itu
Kembarr Kembaarr
lepas saja ningsih laki macam itu. gak guna. dari pd stres sendiri punya suami tak tau diri
merry
ko ning msh ksh krjaan le selingkuhan mntn laki ya 🤔🤔🤔pdhl Hendra rela keluarin uang bnyk demi arumi bli tas mewah
arniya
luar biasa kak
Elina thea
semakin lama semakin menjengkelkan sich iklan2 ini...datang gak di jemput tapi pulang harus di antar....ngeselin bangettt,lagi enak2 baca juga....
Senja: Banyk iklan skrg ya kak? kok tumben yah ntoon iklan bejibun, coba di pengaturan hapenya
total 1 replies
Lesmana
makan noh yeni kelakuan lu tuh.. elu nolak cucu dr hendra , diksh dobel ama Tuhan..skalian keturunan elu putus sampai di nawang aja..😄😄😄
Lesmana
sadis gila nih nenek lampir😡😡 hendra cacat jg gara2 nolongin nawang anak elu sndr.. astagaa nyawa gak berharga amat yah dimata nih nenek lampir😭😭
Setiawan
loh td kan udah liat2an sama ningsih & satria..kog skrng nanya mana ningsih ??🙄🙄
Dewa Nara
baru mampir Thor
Lesmana
kirain rmh mamanya pun pny satria , secara satria kan prnh ngaku sama ningsih kalo dulu msh jaman sekolah , satria msh susah ekonominya..
Lesmana
mending janda ketauan gak perawan skalian , hilang perawan nya jg jelas.. drpd gadis tp gak perawan , gak jelas siapa yg merawanin😄😄😄
Setiawan
hendra keliatan nya sdh insyaf.. tp kog aneh yah , wkt mertua nya yudha serangan jantung , katanya krn dgr alasan hendra yg ribut dgn yeni , mamanya nawang.. hendra suruh yeni jualan rmh warisan kakek nawang utk nutupin hutang hendra.. kog gak dibahas lg yah wkt yudha sembuh ?? bukannya hendra cm korupsi 10M di ktr yudha doang yah ?? masa sih hendra ada hutang juga diluaran ?? 🙄🙄🙄
Setiawan
nih si nawang yah.. dulu hendra msh calon suami aja , dia cemburu sama ningsih , gak mau lelaki miliknya diganggu cwe lain.. eh eh eh skrng dia sndr yg gangguin lelaki org.. emang wataknya ulet bulu nih cwe.. emak nya aja yg mantan ulet bulu jd ikut malu liat kelakuan anaknya😄😄😄😄
Lesmana
author sadis🤣🤣🤣 udah ky ditampol bulak balik , pake sendal jepit pula🤣🤣🤣
Lesmana
kan kan si bloon🤣🤣 jelas2 lg hamil , jatuh pula😄😄😄
Lesmana
krn ningsih mau terima satria walopun dlm keadaan lumpuh.. nah elu ?? yg ada menghina satria cacat.. ente sombong pisan euyy 🤣🤣
Lesmana
elu emang sial , hendra...dimata elu , mantan slalu dah lbh indah.. pdhl arumi cm OB , msh aja di blng lbh modis , konslet emang otak si hendra kynya nih🤣🤣🤣
Lesmana
perasaan td satria ksh nya bunga matahari , gak sebut ada bunga mawar nya🙄🙄
Senja: blm kurevisi 🤣🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!