Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagalnya Jebakan Pertunangan²
Kediaman Raja Shezheng
"Benarkah ada seorang Nona dari Keluarga Xue yang memohon audiensi denganku?"
Di arena latihan, pria itu menurunkan busur panjang dari tangannya. Seorang pelayan segera menyodorkan kain sutra, yang digunakannya untuk membersihkan telapak tangan dengan gerakan tenang.
Usianya kira-kira pertengahan dua puluhan. Meski baru selesai berlatih bela diri, ia tetap mengenakan jubah berlengan lebar berwarna merah menyala.
Warna seperti itu jarang dikenakan pria, sebab mudah menimbulkan kesan ringan dan kurang pantas. Namun pada dirinya, justru warna itu menegaskan pesona dan ketampanan yang mencolok.
Di atas jubahnya terukir naga emas berlapis-lapis, tampak megah dan berwibawa. Setiap langkahnya memancarkan keanggunan yang lahir dari kemewahan serta kekuasaan.
Sebagaimana sosoknya sendiri—menonjol tanpa tandingan, seakan tiada duanya.
Hiasan bermotif naga bukanlah pernak-pernik yang boleh dikenakan sembarang orang. Hanya mereka yang memiliki darah kekaisaran berhak atasnya.
Yelu Yunxiao, adik kandung mendiang kaisar, saat ini—selain kaisar muda—adalah satu-satunya orang di Yeguang yang berhak mengenakan simbol tersebut.
"Benar, Yang Mulia. Nona itu menyampaikan bahwa ia memegang sebuah rahasia besar yang berkaitan dengan masa depan Yeguang, dan hanya ingin menyampaikannya langsung kepada Anda."
Jenderal pengawal menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani mengangkat pandangan.
"Masa depan Yeguang?"
Sudut bibir Yelu Yunxiao terangkat dingin.
"Apakah negeri ini masih memiliki sesuatu yang layak disebut masa depan?"
Sebagai Raja Shezheng Yeguang, ia mengucapkan kalimat yang nyaris terdengar durhaka itu tanpa sedikitpun berusaha merendahkan suara, seolah tak peduli siapa yang mendengarnya.
"Keluarga Marques Wu Yuan dan putranya kini berada di ibu kota, benar?"
Kunjungan Cheng Zhilan dan ayahnya ke ibu kota kali ini bersifat pribadi, bukan urusan kenegaraan. Karena itu, secara adat mereka tidak diwajibkan menghadap kaisar.
Terlebih lagi, selama bertahun-tahun terakhir, kaisar muda memang tidak pernah menerima audiensi pejabat luar. Apa yang disebut menghadap istana biasanya hanya berupa sujud hormat di luar gerbang.
"Benar. Hari ini Adipati Wen Chang'an mengadakan jamuan. Marques Wu Yuan beserta putranya hadir. Di hadapan umum, Tuan Pewaris Cheng mengajukan pembatalan pertunangan dengan alasan bahwa Nona dari Keluarga Adipati Wen Chang'an telah lama terlibat hubungan terlarang dengan pria lain."
Peristiwa itu baru saja terjadi, tetapi kediaman Raja Shezheng telah memperoleh laporan lengkapnya.
Hal ini menunjukkan betapa rapat dan luas jaringan informasi di bawah kendalinya.
"Cara yang murahan."
Nada Yelu Yunxiao tetap datar, tanpa emosi.
"Dengan tipu muslihat seperti itu, mereka masih berani bermimpi menguasai dunia?"
Ia meletakkan kembali kain sutra ke atas baki dan berkata singkat,
"Biarkan dia masuk."
Yelu Yunxiao menemui Xue Yao di paviliun taman Kediaman Raja Shezheng.
"Keberanianmu patut diperhitungkan. Dalam keadaan seperti sekarang, kau masih berani datang menemuiku."
Ia pernah beberapa kali melihat Xue Yao sebelumnya.
Dalam ingatannya, gadis itu selalu bersikap sangat hati-hati—pandangan tertunduk, ucapan seperlunya, dan tak pernah berani berbicara lebih dari yang diperlukan.
Itu dapat dimengerti. Ibu kandung telah wafat, sementara di kediaman terdapat selir tercinta yang menguasai segalanya. Berjalan di atas es tipis adalah satu-satunya cara baginya untuk bertahan.
Namun kini, ketika namanya hampir tercemar sepenuhnya, ia justru datang sendiri menemuinya.
Apakah ia hendak meminta perlindungan?
Atau menyimpan tujuan lain?
Langkah Cheng Zhilan sendiri terlalu mudah ditebak—kasar, namun cukup manjur.
"Justru karena waktunya telah tiba, maka hamba harus datang menghadap Yang Mulia."
Xue Yao berbicara dengan suara rendah dan tenang.
"Tadi malam, hamba mengalami mimpi yang ganjil. Dalam mimpi itu muncul seekor makhluk buas menyerupai sapi, berwarna hijau, tanpa tanduk, hanya berkaki satu. Cahaya tubuhnya seterang matahari dan bulan, suaranya menggelegar seperti guntur. Makhluk itu bernama Kui. Ketika hamba terjaga pagi ini, hamba merasa seolah memperoleh suatu pertanda mujur yang luar biasa."
Melihat raut Yelu Yunxiao mengeras, Xue Yao justru tersenyum tipis.
"Hamba tampaknya mampu menggerakkan petir dan melaksanakan hukuman atas nama Langit."
Begitu kalimat itu meluncur, suhu di ruangan seakan turun seketika.
Jari Yelu Yunxiao mengetuk meja dua kali, perlahan dan tanpa irama. Ketukan itu terasa menekan, membuat suasana menjadi sesak.
"Apakah kau menyadari," ucapnya pelan,
"Bahwa hal yang paling kubenci adalah orang-orang yang mengaku sebagai utusan dewa?"
Para Kaisar Yeguang pada generasi sebelumnya dikenal sangat mempercayai dewa, khususnya Dewa Naga.
Mereka meyakini naga sebagai penguasa segala makhluk, dan kaisar sebagai putra naga sejati yang dilindungi Langit demi menjaga negeri.
Namun pada masa kaisar muda sekarang—entah karena usia yang terlalu belia atau sebab lain—ritual pemujaan Dewa Naga yang dahulu dilakukan setiap tahun perlahan ditinggalkan. Beberapa upacara memang masih ada, tetapi kemegahannya telah jauh berkurang.
Di kalangan rakyat bahkan beredar desas-desus bahwa Raja Shezheng sengaja mengabaikan ritual tersebut demi melemahkan legitimasi naga sejati sang kaisar.
Makhluk Kui yang disebut Xue Yao juga tercatat dalam kitab-kitab kuno.
Kui dikenal sebagai makhluk roh berkaki satu, menyerupai naga, dan berfungsi sebagai utusan naga.
"Saat hamba meninggalkan Kediaman Adipati Wen Chang'an, ibu susu hamba—karena menyimpan niat jahat—kehilangan lengannya akibat sambaran petir. Dengan mata dan telinga Yang Mulia yang tajam, kabar ini tentu telah sampai. Hamba bertubuh lemah, bagaimana mungkin mampu mengatur peristiwa semacam itu dengan tenaga manusia?"
Yelu Yunxiao sedikit mengangkat tangan. Seorang pelayan yang menunggu di luar segera masuk.
Setelah menerima bisikan singkat, pelayan itu membungkuk dan pergi. Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah laporan tertulis.
Usai membaca laporan itu, pandangan Yelu Yunxiao terhadap Xue Yao berubah—lebih dalam dan lebih tajam.
Ia paham betul bahwa luka akibat sambaran petir hampir mustahil direkayasa.
Menurut laporan mata-mata, pelayan perempuan di kediaman Adipati Wen Chang'an memang mengalami luka akibat petir. Bahkan saat jamuan berlangsung, sejumlah tamu menyaksikan kilatan petir menembus langit, memecahkan genteng, dan menghantam paviliun tempat tinggal Nona keluarga Wen Chang'an.
Yelu Yunxiao lalu berkata kepada pelayan di sisinya,
"Pergi ke Penjara Zhao. Bawa ke sini orang yang ditangkap kemarin."
Perintah itu segera dilaksanakan. Dalam waktu singkat, sesosok tubuh berlumuran darah diseret masuk.
Tubuh itu dilempar begitu saja ke lantai, tepat di depan kaki Xue Yao.
Percikan darah mengenai sepatu bersulam dan ujung gaun biru pucatnya.
Namun wajah Xue Yao tetap tenang, tanpa perubahan sedikitpun.
"Apa yang Yang Mulia kehendaki hamba lakukan?"
Yelu Yunxiao tersenyum samar.
"Kemarin orang ini berusaha menyusup ke istana untuh membunuh kaisar. Ia tertangkap di tempat. Dua belas hukuman berat Penjara Zhao telah diterapkan, tetapi ia tetap membisu. Jika kau benar-benar menerima pertanda Langit dan mampu memanggil petir untuk menghukup kejahatan, maka buktikan lah di hadapanku. Hukum orang yang berniat mengguncang dasar negeri ini."
Ia bersandar santai di kursinya, sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar.
Ia sadar betul—jika petir itu nyata, tak seorang pun dapat memastikan kemana sambaran itu akan jatuh di ruangan ini.
Sebagai Raja Shezheng, musuh yang menginginkan kematiannya pun tidak sedikit.
Menatap Yelu Yunxiao, Xue Yao perlahan mengangkat tangan kanannya. Jemarinya yang ramping bergerak, seolah menorehkan pola tak kasat mata di udara.
"Langit dan bumi disucikan, petir dari sembilan lapis angkasa turun."
Begitu ucapannya berakhir, cahaya menyilaukan membelah ruang.
Disusul dentuman guntur yang memekakkan telinga.
Saat cahaya itu lenyap, sosok berlumuran darah di lantai telah kehilangan kedua kakinya.
Namun ia masih bernapas.
Seorang pelayan di samping nyaris pingsan. Lututnya melemas dan ia jatuh berlutut.
Para penjaga yang mendengar kegaduhan segera masuk. Beberapa sosok ahli muncul tanpa suara, berdiri mengelilingi Yelu Yunxiao—jelas merupakan pengawal rahasianya.
Memanggil petir dengan tubuh manusia—peristiwa semacam ini belum pernah terdengar sebelumnya.
Namun Yelu Yunxiao tetap tenang. Tatapannya tertuju pada dua kaki yang telah hangus menjadi arang.
"Orang yang berniat mengguncang dasar negeri, mengapa hanya dipatahkan kedua kakinya? Hukuman Langit yang kau sebutkan tampaknya tidak sepenuhnya mutlak."
Xue Yao tersenyum ringan.
"Mengguncang dasar megeri? Yang Mulia Raja Shezheng, ia hanyalah seorang *desertir. Mematahkan kedua kakinya—itulah hukuman paling tepat yang dijatuhkan oleh Langit."
Mendengar jawaban itu, barulah di mata Yelu Yunxiao tampak kesungguhan yang sebenarnya.
(*Desertir : Prajurit yang melarikan diri dari tugas militer.)