NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

****

Derit engsel pintu kayu kamar utama terdengar pelan saat Raden Mas Baskoro mendorongnya terbuka. Langkah kaki pria berusia tiga puluh lima tahun itu melangkah masuk dengan ketegangan yang masih menyisa di bahunya yang tegap. Sepasang mata hitamnya yang dalam seketika tertuju pada sosok di tepi ranjang jati.

Larasati sedang duduk bersandar di sana, meremas halus selendang sutranya. Wajah remajanya yang berusia sembilan belas tahun memancarkan kegelisahan yang tipis; bayangan hinaan Nyai Gayatri di taman tadi masih menyisakan sedikit riak di benaknya.

Melihat raut wajah istri kecilnya, seluruh keangkuhan dan sisa amarah Baskoro pada tamu dari kadipaten itu menguap seketika, digantikan oleh kepiluan dan rasa bersalah yang mendalam.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Baskoro mengikis jarak. Pria perkasa yang ditakuti seluruh perbukitan Joglo itu mendadak merendahkan tubuhnya. Ia berlutut di atas lantai kayu tepat di hadapan Larasati, lalu perlahan membenamkan wajah tegapnya di atas pangkuan istrinya yang beralaskan kain jarik gading.

Larasati tersentak pelan. "Mas Baskoro..."

"Maafkan aku, Laras... Maafkan suamimu ini, Nduk," bisik Baskoro parau, suaranya terendam di lipatan kain pangkuan Larasati. Jemari besarnya yang kasar mencengkeram erat pinggang Larasati yang kini kian berisi. "Aku telah membiarkan wanita asing dari kota itu masuk ke tanahku dan melontarkan kata-kata kejam yang melukai hatimu dan merendahkan keberadaan anak kita."

Larasati menatap kepala suaminya yang tertunduk di pangkuannya. Tidak ada rasa marah di dadanya, melainkan luapan kehangatan yang luar biasa membuncah. Perlahan, jemari halus Larasati terangkat, menyusup di antara helai rambut hitam Baskoro, mengusapnya dengan kelembutan yang amat murni.

"Tidak usah meminta maaf, Mas," ucap Larasati lembut, suaranya mengalun bagai usapan angin sore. "Saya tidak marah. Dari balik pintu selasar tadi... saya mendengar semuanya. Saya mendengar bagaimana Mas Baskoro membelaku di depan Nyai Gayatri."

Baskoro mendongak perlahan, menatap wajah cantik permaisurinya dari bawah. Manik matanya yang sedalam sumur tua berkilat oleh rasa haru yang transparan.

"Saya sangat terharu, Mas," lanjut Larasati dengan mata yang kaca-kaca oleh air mata bahagia. Ia mengusap rahang tegap Baskoro yang ditumbuhi janggut tipis. "Anda tidak ragu pasang badan mempertahankan harkat diri saya dan kehormatan rahim ini di depan wanita kaya dari kota. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan betapa besarnya rasa cinta Anda pada saya."

Baskoro berdiri perlahan, merengkuh tubuh mungil Larasati ke dalam pelukan hangatnya yang teramat erat, mengecup puncak kepala istrinya berulang kali dengan rasa kasih yang tak terhingga.

"Kamu adalah kehormatanku, Larasati. Siapa pun yang merendahkanmu, berarti menantang nyawaku," bisik Baskoro mantap di telinga Larasati.

Malam pun jatuh memeluk perbukitan Joglo. Angin malam berhembus lembut, menepuk-nepuk jendela kayu kamar utama. Lampu teplok minyak menyala temaram, melemparkan pendar keemasan di balik kelambu sutra yang melingkupi ranjang jati kuno.

Baskoro merayap naik ke atas kasur kapuk setelah memutar kunci besi pintu dari dalam. Pria tiga puluh lima tahun itu telah menanggalkan beskapnya, membiarkan dada bidangnya yang kekar dan berurat terekspos dalam kehangatan malam. Ia berbaring miring di samping Larasati, merangkul pinggang sucinya dan membenamkan wajahnya di leher harum istrinya.

Larasati menyandarkan kepalanya di dada bidang Baskoro, menikmati detak jantung suaminya yang berdegup tenang dan teratur. Tangan besar Baskoro yang hangat merayap turun, mendarat pelan di atas perut membulat Larasati yang dilapisi kain mori tipis.

Pria itu mengusap rahim istrinya dengan sangat telaten, membisikkan doa keselamatan untuk janin berusia empat bulan lebih itu. Namun, tepat saat telapak tangan Baskoro menekan pelan di sisi kanan perut Larasati, sebuah keajaiban kecil terjadi.

Dut.

Sebuah sentakan halus, denyut kehidupan yang nyata dan mungil, menendang lembut telapak tangan besar Baskoro dari dalam rahim.

Baskoro seketika membeku seutuhnya. Pria perkasa itu menahan napas, matanya membelalak lebar dalam kegelapan temaram. "L-Laras..."

Larasati terkekeh pelan, mengusap punggung tangan suaminya. "Iya, Mas... anakmu sedang bergerak. Dia tahu bapaknya sedang menyapa."

Napas Baskoro berburu pendek, dadanya kembang-kempis oleh gelombang keharuan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sepanjang tiga puluh lima tahun hidupnya. Air mata bening menetes melewati pipi tegap sang penguasa tanah. Dengan jemari gemetar, ia mengecup bagian perut Larasati tempat gerakan itu terasa.

"Terima kasih, Ya Gusti .... Terima kasih, Nduk..." bisik Baskoro parau dengan suara yang pecah oleh keharuan. Ia mendongak, menatap Larasati dengan binar cinta paling murni yang pernah ada. "Anak kita... dia benar-benar tumbuh kuat di dalam dirimu."

Larasati tersenyum manis, merengkuh wajah tegap suaminya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi bayang-bayang cemburu atau pemicu masa lalu. Jiwa dan raga mereka kini telah menyatu seutuhnya.

Keharuan yang luar biasa itu perlahan membakar gairah asmara di antara keduanya—sebuah gairah murni yang lahir dari rasa syukur dan cinta yang mendalam. Baskoro mendongak, mendekatkan wajahnya lalu menyatukan bibir mereka dalam cumbuan yang teramat manis, hangat, dan dalam.

Larasati membalas cumbuan suaminya dengan penuh kerelaan dan kepasrahan sejati. Tangannya melingkar mesra di leher kekar Baskoro, membiarkan jemari besar suaminya dengan lembut melepaskan kebayanya satu per satu, menyingkap keindahan raga remajanya yang kian ranum dan bersinar alami.

Dengan kehati-hatian tingkat tinggi demi menjaga janin di rahimnya, Baskoro merebahkan raga mungil Larasati di atas kasur kapuk. Pria perkasa itu memposisikan tubuh kekarnya di atas istrinya, menumpu berat badannya dengan kedua sikut yang kokoh di sisi kepala Larasati.

Sentuhan bibir Baskoro merayap turun dari bibir manis istrinya, menyusuri ceruk leher yang harum cendana, hingga membenamkan wajahnya di antara dada Larasati yang kian montok di usia kehamilan ini.

"Ahhh... hhh... Mas Baskoro... nggghhh..." desah Larasati merdu, matanya terpejam rapat saat kenikmatan manis merayapi seluruh saraf badannya. Kepalanya bergerak gelisah di atas bantal kapuk, jemari kecilnya mencengkeram otot bahu suaminya yang sekeras batu.

Baskoro menggeram rendah, suara baritonnya yang berat berbaur dengan desah nikmat yang tertahan di tenggorokan. Tangan besarnya merangkul pinggang Larasati, menuntun pergerakan pinggulnya dengan ritme yang lambat, dalam, dan teramat lembut menghunjam rahim istrinya.

"Nggghhh... Laras... Nduk... nikmat sekali, sayang..." erang Baskoro parau tepat di telinga istrinya. Gesekan raga mereka yang hangat membawa sensasi kenikmatan murni yang membakar kelambu sutra.

"Ahhh... Mas... Mas Baskoro...hhh... dalam sekali, Mas... ahhh... nikmat... nggghhh..." Larasati mendesah semakin panjang, dadanya naik-turun memburu saat gelombang kenikmatan penyatuan mereka memeras seluruh sisa tenaganya dalam kehangatan yang memabukkan.

Malam itu, tidak ada lagi dinding pembatas di antara mereka. Gerakan Baskoro yang konstan dan sarat akan kehati-hatian membimbing Larasati mencapai puncak pelepasan asmara yang teramat indah. Larasati memekik pelan, mendongakkan leher jenjangnya saat gelombang kenikmatan puncak menghantam jiwanya, melingkarkan kakinya rapat-rapat di pinggang Baskoro.

Baskoro menyusul tak lama kemudian. Pria paruh baya itu menggeram panjang dan nikmat, membenamkan wajahnya di leher Larasati saat benih kehangatan cintanya tumpah seutuhnya di bagian terdalam rahim permaisurinya.

Goncangan asmara itu perlahan mereda, menyisakan suara hembusan napas keduanya yang berkejaran di keheningan kamar. Baskoro menarik tubuhnya perlahan, lalu berbaring miring, memeluk Larasati dari samping dengan sangat erat dan protektif. Telapak tangannya mboten pernah lepas mengelus lembut perut membulat istrinya yang kini kembali tenang.

Larasati menyandarkan kepalanya di dada bidang Baskoro yang basah oleh peluh dingin, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup kencang namun menenangkan. Di bawah naungan kelambu jati, dalam pelukan hangat pria tiga puluh lima tahun yang teramat dicintainya, Larasati akhirnya memejamkan mata, menyambut tidur terlelapnya dalam kedamaian cinta yang abadi di atas bukit Joglo.

Bersambung

1
partini
👍👍👍
Maya Audina
di awal baca juga 35 kak,Larasati 19...
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄
falea sezi
kapok😒 makanya uda tua sadar diri jangan cemburuan nuduh g jelas
Fauziah Daud
rasakan
Maya Audina
waah bikin masalah ini namanya nduk🤣
falea sezi
🤣🤣 tua bangka
partini
mampus Luh pak tua
Maya Audina
like&vote buatmu thor
Maya Audina
maaf Thor di awal Baskoro berusia 35, kok sekarang 40th
Maya Audina
Larasati gak jadi bersih2 dong yah, td katanya mau hapus riasan,eh nangis dan tau2 juragan masuk🤭
falea sezi
cerai aja laki tololl uda tua bangka g tau diri
Neni Abu Triana
udah dong jgn terus konflik please cape ,keren novel tp trs ajh konflik
partini
Laras maklum aja lah dia kan udah otw tuir jadi begitu
partini
randen mas kamu kan yg jebol tuh gawang apa ga ngerasain seyeeet busettt dah gitu aja udah kalap kata orang Jawa ngapak ada ini reden mas ledhoooooooooo 😂😂😂🤭
imel
masa gak bisa ngerasain waktu pertama kali main😏
partini
perasaan kemarin 40 th ko jadi 35 th Raden Baskoro
Fauziah Daud
trusemangattt
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!