Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Malam itu datang begitu pelan. Langit di luar jendela tampak gelap tanpa bintang dan hanya diterangi cahaya rembulan yang sesekali menyelinap melalui celah gorden, memantulkan bayang-bayang samar di lantai kamar Aisyah. Perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu baru saja menyelesaikan salat Isya. Mukena putih yang masih melekat di tubuhnya belum sempat dilepas. Ia duduk bersimpuh di atas sajadah, jemarinya dengan khusyuk memindahkan butiran demi butiran tasbih kayu cendana yang selalu menemaninya selepas salat.
"Subhanallah..."
"Alhamdulillah..."
"Allahu Akbar..."
Suaranya lirih dan nyaris tak terdengar. Beberapa hari terakhir pikirannya dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan. Sejak kakaknya, Salsa, divonis mengalami kerusakan permanen pada rahimnya hingga membuatnya tidak bisa mengandung, suasana rumah berubah begitu sunyi. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi candaan. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah murung dan helaan napas panjang setiap kali nama Salsa disebut.
Aisyah tahu, tak ada luka yang lebih menyakitkan bagi seorang perempuan selain mendengar dokter berkata bahwa dirinya tak akan pernah bisa mengandung. Ia ikut menangis ketika mendengar kabar itu. Bahkan malam-malamnya dipenuhi doa agar Allah menghadirkan keajaiban untuk sang kakak.
"Ya Allah, berikan mukjizat mu untuk bisa menyembuhkan penyakit kak Salsa. Kalau memang masih ada jalan, tunjukkanlah."
Aisyah mengusap wajahnya perlahan. Belum sempat ia melanjutkan dzikirnya, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Aisyah."
Suara berat itu begitu dikenalnya, yang tak lain adalah ayahnya.
"Iya, Yah."
"Bisa keluar sebentar?"
"Sebentar, Ayah."
Aisyah meraih ujung mukenanya, lalu berdiri. Tasbih itu masih berada dalam genggamannya ketika ia membuka pintu kamar. Di luar, ayahnya telah berdiri dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dibanding beberapa bulan lalu. Kerutan di dahinya terlihat semakin dalam sementara sorot matanya terlihat letih.
"Ayah belum tidur?"
"Belum, ayah lagi menunggumu. Kemari lah."
Tanpa banyak bicara, pria paruh baya itu berjalan lebih dulu menuju ruang keluarga yang membuat Aisyah mengikuti dari belakang. Ia mengernyit. Jam dinding di ruang keluarga sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Biasanya pada jam seperti ini ayahnya sudah beristirahat, namun malam ini ada sesuatu yang berbeda. Ruang keluarga tampak lengang, hanya lampu utama yang menyala redup. Di atas meja tersedia dua cangkir teh hangat yang sudah mulai kehilangan uapnya.
"Ayah sengaja membuat teh?" tanya Aisyah pelan dan membuat ayahnya mengangguk singkat.
"Duduklah."
Aisyah menurut. Ia duduk di sofa tunggal tepat berhadapan dengan sang ayah sementara tasbih masih berada di sela-sela jemarinya. Entah mengapa, dadanya mulai dipenuhi firasat yang tidak enak. Ayahnya hanya diam. Tatapannya kosong mengarah ke cangkir teh di atas meja. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya Aisyah membuka suara lebih dulu.
"Apa ayah ingin membicarakan sesuatu sama Aisyah?"
Pria itu menghela napas panjang.
"Pernahkah kamu membayangkan kalau suatu saat keluarga kita harus mengorbankan satu orang demi menyelamatkan yang lain?"
Pertanyaan itu terdengar aneh dan membuat Aisyah mengernyit.
"Aisyah kurang mengerti."
Pak Umar mengangkat wajahnya. Tatapannya kini tepat mengunci kedua mata putrinya.
"Kamu sayang sama Kak Salsa?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, maukah kamu berkorban demi dia?"
Jantung Aisyah berdegup sedikit lebih cepat.
"Kalau memang itu bisa membantu Kak Salsa, selama Aisyah mampu, tentu Aisyah akan melakukannya."
Jawaban itu keluar tanpa berpikir panjang. Baginya, Salsa bukan sekadar kakak. Sejak kecil, perempuan itu selalu melindunginya. Saat Aisyah jatuh dari sepeda, Salsa yang menggendongnya pulang. Saat ia dibully di sekolah, Salsa yang membelanya. Bahkan ketika ibu mereka meninggal dunia beberapa tahun lalu, Salsa mengambil peran sebagai sosok ibu bagi dirinya. Tak ada alasan baginya untuk tidak berkorban, Namun ia sama sekali tidak menyangka bentuk pengorbanan yang dimaksud ayahnya. Pak Umar menarik napas dalam lalu dengan suara pelan namun begitu jelas, ia berkata,
"Kalau begitu, Menikahlah dengan Ammar."
Deg! Aisyah merasakan waktu seakan berhenti berputar. Mata Aisyah membulat, jari-jarinya yang sedari tadi menggenggam tasbih mendadak melemas.
Prak...
Butiran-butiran tasbih kayu itu terlepas dari genggamannya dan berhamburan memenuhi lantai. Suara benturannya menggema di ruang keluarga yang sunyi. Aisyah sama sekali tidak bergerak. Ia hanya menatap ayahnya dengan wajah pucat.
"A-Ayah?" Suaranya itu bahkan nyaris tak keluar. "Ayah... barusan bilang apa?"
Pak Umar menundukkan kepalanya sesaat seolah kalimat tadi juga terasa berat baginya.
"Ayah ingin kamu menikah dengan Ammar."
Suasana di ruang keluarga itu benar-benar hening. Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun. Aisyah bahkan merasa telinganya berdenging. Ia berharap, Tidak. Ia memohon dalam hati agar apa yang didengarnya barusan hanyalah salah dengar.
"Ayah," Suara Aisyah bergetar. "Itu... itu suami Kak Salsa. Ayah juga tahu kalau dia juga kakak ipar Aisyah."
"Ayah tahu."
"Lalu kenapa Ayah mengatakan hal seperti itu?" Nada suara Aisyah mulai meninggi tanpa disadari. Dadanya terasa sesak mendengarkan ayahnya mengatakan hal itu. "Ayah," Air mata Aisyah mulai menggenang. "Ini tidak masuk akal."
Pak Umar kembali menghela napas.
"Keluarga Adhitama menginginkan seorang pewaris." Kalimat itu menggantung di udara. "Mereka tidak mungkin membiarkan perusahaan keluarga sebesar itu tidak memiliki penerus."
"Ayah..."
"Kamu juga tahu kondisi Salsa. Dokter sudah memastikan bahwa rahimnya tidak bisa lagi mengandung."
Aisyah langsung menggeleng kuat-kuat.
"Tidak. Pasti ada jalan lain. Pasti ada." Pak Umar tidak menjawab. "Ayah, sekarang dunia kedokteran sudah maju. Banyak pasangan yang berhasil memiliki anak lewat program bayi tabung atau mungkin pengobatan di luar negeri. Kita bisa mencoba lagi. Dokter juga bisa saja salah. Kak Salsa masih punya harapan."
Semakin berbicara, suara Aisyah semakin dipenuhi harapan. Ia seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini belum berakhir, bahwa masih ada pilihan lain.
Namun ayahnya hanya memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya berkata pelan,
"Keluarga Adhitama tidak menginginkan cara itu."
Kalimat sederhana itu langsung mematahkan harapan Aisyah.
"Maksud Ayah?"
"Mereka menolak bayi tabung. Mereka juga tidak ingin menggunakan donor ataupun metode medis lain. Menurut keluarga mereka, Seorang pewaris harus lahir secara alami dari darah daging keluarga Adhitama."
Aisyah benar-benar tak habis pikir.
"Kenapa? Ayah... Kenapa harus seperti itu?Kalau tujuannya memiliki anak, bukankah bayi tabung juga anak mereka?"
Pak Umar menggeleng pelan.
"Kamu tahu sendiri bagaimana keluarga Adhitama. Mereka keluarga terpandang, memegang teguh prinsip turun-temurun. Nama baik dan garis keturunan adalah segalanya. Mereka tidak akan mengubah keyakinan mereka."
Air mata Aisyah akhirnya jatuh.
"Tapi... Itu bukan alasan untuk menikahkan aku dengan suami Kak Salsa."
Aisyah menggigit bibir bawahnya. Kalimat itu terasa begitu pahit saat diucapkan. Dadanya semakin sesak. Bayangan wajah Salsa memenuhi kepalanya. Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin ia harus menjadi istri dari laki-laki yang selama ini dipanggilnya kakak ipar? Bagaimana ia bisa menatap mata kakaknya nanti? Bagaimana perasaan Salsa?
Dan bagaimana dengan Ammar? Apakah lelaki itu tahu rencana gila ini? Atau jangan-jangan semua ini memang berasal dari keluarga Adhitama? Aisyah menatap ayahnya dengan matanya yang mulai memerah.