NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUTUS - Part 2

Semenjak konfrontasi sore itu, hubungan Gea dan Jay bergerak semakin jauh, merenggang, dan mendingin. Atmosfer di antara mereka terasa begitu asing. Beberapa teman di himpunan bahkan mulai berbisik dan bertanya langsung apakah mereka sudah putus. Namun, Gea selalu

memberikan jawaban aman yang sama, mereka hanya sedang sama-sama sibuk.

Tidak seperti biasanya di mana mereka hampir selalu terlihat bersama di koridor kampus, belakangan ini pemandangan itu lenyap. Jay menghabiskan seluruh waktunya bersama keempat sahabatnya, begitu pula dengan Gea yang hanya terlihat bersama tiga sahabatnya. Hingga di suatu siang, sebuah pesan singkat dari Jay memecah rutinitas dingin itu. Pria itu mengajaknya bertemu.

Ajakan Jay hari itu sempat memberikan secercah harapan kecil di sudut hati Gea yang terdalam, berpikir bahwa mungkin ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu untuk memperbaiki keretakan mereka. Namun, begitu mereka duduk berhadapan dan kalimat pertama meluncur dari

bibir Jay, Gea langsung tahu bahwa firasatnya keliru. Bukan hal baik yang akan datang siang ini.

“Kamu tau kenapa kita terus-terusan berantem?” tanya Jay membuka percakapan, sorot matanya datar.

Gea menarik napas perlahan, mencoba menjawab dengan tenang dan lembut. “Karena kita gak pernah bener-bener ngobrolin masalah kita, Ay. Tiap kali aku mencoba mulai, kamu selalu menghindar.”

“Aku udah capek, Ya,” potong Jay mendesah berat, menyandarkan punggungnya ke sandaran

kursi. “Aku udah capek sama perasaan aku sendiri. Aku capek menahan rasa cemburu. Aku capek dengan perasaan kalau… rasanya cuma aku sendirian yang berjuan di dalam hubungan ini.”

Mata Gea bergetar, melebar seketika. Jatungnya mencelos. Dia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.

“Kita putus ya,” ucap Jay. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, santai, kontras dengan

tatapan mata Gea yang mulai berkaca-kaca menahan guncangan di dadanya.

“Kamu perlu tahu, Jay,” suara Gea bergetar, namun ia menolak untuk terlihat lemah di depan pria ini lagi. “Bukan cuma kamu yang ada di hubungan ini, tapi aku juga. Bukan cuma kamu yang tau rasanya menyayangi, tapi aku juga sayang banget sama kamu.”

“Tapi aku udah gak bisa lagi, Ya. Aku udah terlalu capek,” sahut Jay defensif, membuang muka ke arah lain. “Aku bahkan udah gak bisa ngontrol emosi dan diri aku sendiri, sampe aku sering bingung sama jalan pikiran aku belakangan ini.”

Gea terdiam. Detik itu juga, suara Jay yang terus bergumam setelahnya mendadak terdengar samar, seperti sebuah speaker yang volumenya ditekan habis hingga ke mode mute. Tak ada lagi kata yang benar-benar masuk ke dalam pendengaran Gea. Pandangannya kosong, menembus lurus ke arah gelas di hadapannya. Hatinya sudah telanjur mati rasa, terlalu pilu untuk terus menerus mendengarkan daftar tuduhan Jay.

“Udah?” kata Gea akhirnya memotong, menatap langsung ke dalam mata Jay. Ia mengulas sebuah senyuman tipis, senyuman pamit. “Gue cabut ya.”.

Jay tampak tertegun sejenak mendengarkan perubahan kata ganti yang digunakan Gea. “Aku anter, Ya.”

Gea menggelengkan kepala pelan, menolah dengan tegas namun tetap tenang dan berkata, “gak usah, Jay. Gue mau sendiri. Thank you ya, buat sepuluh bulannya. Maafin aku…, aku banyak salah sama kamu, dan maaf gak bisa jadi pasangan yang selama ini kamu mau. Nanti hati-hati ya pulangnya.”

Tanpa menunggu balasan, Gea bangkit berdiri, meraih tasnya, dan melangkah meninggalkan tempat itu. Ia terus berjalan dengan punggung tegak, mengabaikan rasa perih yang meremas dadanya, hingga langkah kakinya membawa gadis itu sampai ke sebuah halte bus yang sepi.

Gea mendudukkan tubuhnya di bangku besi yang dingin, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kian melemah. Di bawah temaram siang yang terik, ia hanya diam menunggu taksi online datang untuk membawanya pulang.

Gea hanya ingin pulang. Ia ingin merebahkan diri di kamarnya sendiri. Seluruh tubuhnya, hatinya, dan otaknya, sudah teramat lelah menanggung beban kandasnya hubungan mereka.

...****************...

Hari-hari setelah kalimat putus itu keluar dari mulut Jay, Gea bertransformasi layaknya seorang manusia autopilot. Ia bergerak, melangkah dan bernapas hanya mengikuti jadwal serta rutinitas harian yang sudah tertata. Tanpa emosi. Tanpa suara tawa yang riang yang biasa menghidupkan suasana.

Sorot matanya beralih sendu dan sayu, bahkan tidak jarang tatapannya kosong menerawang entah ke mana. Begitu seluruh kegiatannya di kampus selesai, dia akan langsung memilih untuk pulang. Mengunci diri dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah luar biasa.

“Gea! Ge! Gea Aster!”

Suara panggilan dari balik pintu kamar memecah keheningan sore itu.

“Apa, Abang?” sahut Gea agak keras dari balik selimutnya.

“Abang mau keluar beli lontong sayur, kamu mau titip apa?” tanya Kian, masih berdiri depan pintu kamar adiknya.

“Aku belom laper, Bang,” tolak Gea pelan.

Suasana kembali hening selama beberapa saat. Gea mengira abangnya sudah melangkah pergi,

namun ketukan pelan kembali terdengar disusul suara Kian yang melunak.

“Mau Abang bikinin kwetiau siram pedes pake udang?”

Kwetiau siram buatan kakak pertamanya itu adalah makanan paling enak yang selalu menjadi andalan Gea. Salah satu comfort food terbaik yang selalu sukses mengembalikan suasana hatinya.

Mendengarnya, pertahanan Gea sedikit goyah kemudian berkata, “mau… tapi nanti aja ya, Bang.

Aku masih capek dan belom laper.”

“Oke. Nanti Abang bikinin. Abang jalan beli lontong sayur dulu ya.”

Gea hanya berdeham pelan sebagai jawaban. Tentu saja, gumaman lemah itu tidak akan bisa

menembus pintu kamar dan didengar oleh Kian.

Sejak hari perpisahan itu, Gea memang jauh lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Jika Ibun, Papa, atau abang-abangnya mulai bertanya, Gea hanya akan memberikan alasan klasik yang aman, tugas kuliahnya sedang menumpuk. Kalaupun dia tidak di kamarnya, dia akan ada di kamar Kian. Ia akan membajak kamar sekaligus komputer canggih milik kakaknya itu untuk mengerjakan tugas studionya yang sudah terlalu berat menggunakan laptop. Menariknya, jika Gea sudah mengungsi di sana, Kian bahkan tidak bisa masuk ke kamarnya sendiri karena Gea akan langsung mengunci pintu dari dalam. Kian yang pengertian pun memilih mengalah tanpa protes.

“Tumben jam segini udah pulang?” tanya Ibun lembut sembari menyambut dan mengecup sekilas pipi Gea yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.

“Iya, Bun. Cuma satu matkul hari ini. Gak ada kegiatan apa-apa juga di kampus,” jawab Gea dengan suara pelan, menyandarkan tubuhnya sejenak pada sang ibu.

“Gak pilates?”

“Nanti sore, Bun, bareng Nindy. Bun, aku ke kamar ya.”

“Gak makan dulu?” tanya Ibun sedikit berteriak karena Gea yang sudah terburu-buru melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua.

“Udah makan, Bun, tadi di kampus!” sahutnya berbohong agar tidak perlu dicecar pertanyaan lagi.

Di ruang makan bawah, Jamal yang sedang mendapatkan jatah libur kerja memperhatikan interaksi tersebut. Ia berjalan mendekati kulkas, mengambil sebutir buah apel, lalu menggigitnya

pelan.

“Gea tumben banget loyo gitu, Bun,” komentar Jamal, menatap ke arah tangga tempat adiknya menghilang.

Ibun menghela napas berat, wajahnya seketika dipenuhi guratan rasa khawatir yang mendalam.

“Ibun juga bingung. Udah dari minggu kemaren dia kayak gitu terus.”

“Berantem kali, Bun, sama cowoknya,” tebak Jamal asal. “Dia gak ada cerita emangnya sama

Ibun?”

Ibun menggelengkan kepalanya lemah kemudian berkata, “sama sekali gak ada. Makanya Ibun

kepikiran terus, Bang,” Ibun menoleh, menatap anak laki-laki keduanya dengan penuh harap. “Kamu coba ajak ngobrol adikmu. Siapa tau kalo sama kamu dia mau terbuka.”

Jamal terdiam sejenak, lalu mengangguk pasti sembari menepuk bahu sang ibu menenangkan.

“Iya, Bun. Nanti biar Jamal ajak ngobrol anaknya.”

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!