Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Luna tersentak kaget, ia memutar tubuh kembali, wajahnya berubah pucat. Di hadapannya berdiri Bian, mantan kekasihnya yang tiba-tiba muncul dengan wajah penuh amarah yang tertahan.
"Bian..." bisiknya gemetar, segera melangkah mundur selangkah. "Kau... apa yang kamu lakukan di sini? Pergi! Jangan ganggu aku!"
Bian melangkah maju, menatapnya tajam dengan senyum miring yang mengancam. "Mau lari ke mana kamu, Lun? Kamu pikir bisa membuangku begitu saja? Mungkin kamu bisa begitu saja melupakan semua yang pernah kita lalui, tapi tidak denganku!"
"Itu sudah berlalu!" desis Luna pelan namun panik, melirik sekeliling takut ada orang yang mendengar. "Kita sudah selesai lama. Jangan mempersulit keadaan!"
"Selesai?" Bian tertawa sinis, lalu merogoh saku jaketnya dan mengangkat ponsel ke arah wajah Luna. "Kita belum selesai sampai aku bilang begitu. Dengar baik-baik, batalkan pertunangan itu. Aku punya ratusan foto dan rekaman kita berdua. Menurutmu, bagaimana kalau calon tunanganmu itu melihatnya?"
Wajah Luna semakin pucat, lututnya terasa lemas. "Kamu tidak berani... itu fitnah!"
"Coba saja," tantang Bian dingin. "Besok pagi seluruh kota akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik wajah suci dan pertunangan megahmu. Kamu pilih kembali padaku, atau hancur bersama impianmu itu."
Luna melangkah maju dengan wajah memerah menahan amarah dan ketakutan, suaranya bergetar namun berusaha keras terdengar mengancam.
"Kamu gila! Kamu benar-benar tidak tahu malu ya, Bian?! Berani-beraninya kamu mengancamku begini?!"
Bian justru tertawa meremehkan, tak sedikit pun terguncang oleh kemarahan Luna.
"Jangan berlagak suci di hadapanku, Lun. Aku tahu semuanya tentangmu. Mudah saja untuk menutup mulutku. Serahkan seratus juta sebagai uang tutup mulut. Kalau tidak... kamu tahu sendiri apa akibatnya."
Luna tersentak hebat, matanya terbelalak tak percaya. "Seratus juta?! Kamu pikir aku memegang uang sebanyak itu, hah?!"
"Itu bukan urusanku," jawab Bian dingin sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Kau punya waktu sampai besok sore. Bawa uangnya ke tempat biasa kita ketemu. Kalau sampai waktu habis dan uang tidak ada... aku pastikan kamu hancur, Lun."
Bian melangkah pergi begitu saja tanpa menoleh lagi, meninggalkan Luna yang gemetar hebat di tepi mobil. Dada sesak, kepalanya pening, impiannya yang sempurna kini terancam runtuh hanya karena orang yang dulu pernah ia percayai.
Dengan amarah yang meledak-ledak, Luna menghentakkan kakinya ke ban mobil.
"Sialan! Dasar pria tak tahu diri!" umpatnya keras, kepalan tangannya mengepal erat di sisi tubuh. "Berani-beraninya kamu memerasku seperti ini! Kita lihat saja nanti, aku akan buat perhitungan denganmu!"
Ia merapikan rambutnya dengan kasar, menyeka air mata yang hampir menetes, lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Pintu dibanting tertutup, dan mesin menderu keras seolah mencerminkan kekacauan di dalam hatinya. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyetir menuju gedung perkantoran Baskara Group untuk menenangkan diri sejenak sebelum memikirkan cara untuk memenuhi tuntutan Bian.
-
-
-
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Kania berdiri dan melangkah tenang menuju ruang tengah. Suara televisi yang menyala rupanya sudah memecah keheningan ruangan itu sejak tadi.
Dan saat ia berdiri tepat di depan layar, sepasang mata itu menatap tajam ke arah gambar yang bergerak.
Di layar, pembawa berita menyampaikan dengan nada antusias. Di samping teks berita, terpampang jelas foto Luna yang tersenyum lebar berdiri di samping Haris yang tampak kaku.
"Minggu depan akan digelar pesta pertunangan paling ditunggu tahun ini, penyatuan antara keluarga Wijaya dan keluarga Baskara..."
Napas Kania tertahan sejenak. Perlahan, jari-jarinya saling meremas erat, buku jarinya memutih karena kekuatan yang ia tekan. Rasa sakit lama kembali berdenyut di dadanya, namun tak lagi berubah menjadi tangisan atau keputusasaan. Ia hanya menggenggam lebih erat, seolah menahan semua rasa itu agar tak tumpah, dan mengubahnya menjadi api yang makin panas.
"Bersenang-senanglah kalian," bisiknya pelan, tak ada amarah yang meledak, hanya kepastian yang dingin. "Semakin megah pesta yang kalian bangun di atas penderitaanku, semakin keras pula bunyi runtuhnya saat aku kembali datang mengetuk pintu kalian."
Belum lama Kania berdiri terpaku di depan layar, suara langkah kaki teratur terdengar mendekat. Victor masuk ke ruang tengah, matanya segera menangkap perubahan sikap Kania yang menegang, serta berita yang sedang bergulir di televisi. Ia tidak menutup siaran itu, tidak pula menyuruh Kania berhenti menonton. Ia hanya berdiri diam di sampingnya, menatap layar sesaat sebelum beralih ke tangan Kania yang saling mencengkeram erat.
"Sekarang kamu sudah tahu alasannya bukan," ucapnya pelan namun tegas. "Alasan kamu berdiri di sini, alasan kamu belajar keras, dan alasan kamu tidak boleh membiarkan mereka menang begitu saja."
Kania menghela napas panjang, perlahan melonggarkan genggamannya meski rasa tegang itu masih terasa jelas. "Mereka berpesta tanpa peduli bagaimana keadaanku sekarang," sahutnya lirih. "Padahal kebahagiaan itu seharusnya menjadi milikku."
"Kamu akan mendapatkan itu kembali," jawab Victor tegas. "Kamu hanya perlu memastikan saat itu terjadi, kamu sudah berdiri tegak di tempat yang aman, memegang kendali penuh atas segalanya."
"Sekarang datang ke ruang kerjaku, jangan buang waktumu untuk menonton berita tidak penting seperti ini," perintah Victor tegas. "Masih banyak hal yang harus dipelajari. Dan mulai besok kita akan belajar latihan fisik."
Victor berbalik tanpa menunggu jawaban, langkah kakinya menjauh dari layar televisi yang masih menayangkan berita kemegahan itu. Punggungnya yang tegap seolah menjadi penanda bahwa rasa sakit dan kerinduan itu harus segera disisihkan, digantikan oleh ketajaman dan persiapan yang matang.
Kania menatap punggungnya sejenak, lalu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Ia menghapus sisa rasa sesak di dadanya, lalu mengikuti langkah pria itu. Sesampainya di ruang kerja, Victor sudah berdiri di samping meja, menatapnya dengan sorot mata yang kembali dingin namun penuh harapan.
"Mulai sekarang," ucapnya saat Kania duduk kembali di hadapannya. "Kamu harus menguasai tubuh dan pikiranmu sendiri. Agar tak ada satu pun celah yang bisa mereka gunakan untuk menjatuhkanmu kembali."
-
-
-
Deretan cincin berlian berkilau lembut di atas alas beludru hitam, pelayan dengan hati-hati menyusun pilihan terbaik yang sudah dipesan khusus atas permintaan keluarga Wijaya.
Luna menatap satu per satu dengan mata yang berbinar, namun di balik senyumnya terselip kegelisahan yang tak berhenti menggerogoti hati. Ia sesekali menyentuh permata itu dengan jari yang masih gemetar samar, teringat ancaman Bian yang masih bergema di telinga.
"Bagaimana dengan yang ini, Kak?" tanyanya pelan, menunjuk cincin dengan berlian bulat yang terpasang kokoh di tengah pita emas putih. "Ukurannya pas, dan kilauannya terlihat sangat mewah."
Haris berdiri di sampingnya, menatap cincin itu sekilas, lalu menatap wajah Luna. "Kamu yang paling tahu mana yang paling cocok denganmu," jawabnya lembut. "Pilihlah manapun yang kamu suka. Bagiku, yang terpenting adalah kamu yang memakainya."
Jawaban itu seharusnya menenangkan, namun justru membuat dada Luna semakin sesak. Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum tipis memaksakan diri. "Kalau begitu, ambil yang ini saja."
Saat pelayan mulai menyiapkan cincin itu, Luna menunduk sejenak, jari-jarinya meremas ujung gaun yang ia kenakan. Keraguan yang selama ini ia simpan rapat akhirnya meledak keluar, didorong rasa takut dan rasa tidak aman yang makin memuncak.
Ia mengangkat wajah perlahan, menatap manik mata Haris dengan tatapan yang memohon kepastian.
"Kak..." suaranya hampir berbisik, bergetar pelan. "Jujur saja... apakah di sudut hatimu, kamu masih sering memikirkan kak Kania?"
Haris tertegun seketika. Tatapannya memudar, sejenak terbayang wajah wanita yang pernah mengisi sebagian besar hidupnya. Ia menelan ludah susah payah, lalu mengalihkan pandangan sejenak ke arah lain sebelum kembali menatap Luna.
"Luna..." panggilnya pelan, penuh keberatan namun terpaksa menjawab. "Masa lalu tidak bisa hilang begitu saja hanya karena kita menginginkannya. Dan kamu tahu betul jika aku masih mencintai Kania."
Kalimat itu menggantung berat di udara, seketika merenggut senyuman dari wajah Luna. Ia mundur selangkah tanpa sadar, matanya membelalak tak percaya, seolah baru saja menerima tamparan paling keras di wajahnya.
"Masih... masih mencintainya?" batinnya pecah. "Dia sudah hilang, tapi kenapa bayang-bayangnya masih saja menghantui kebahagiaanku."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭