SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aula Para Kaisar yang Terlupakan
BAB 35: Aula Para Kaisar yang Terlupakan
Kabut putih yang menyelimuti Gerbang Makam Para Kaisar Abadi perlahan menghilang.
Di balik gerbang batu raksasa itu terbentang sebuah aula yang begitu luas hingga batasnya nyaris tak terlihat. Langit-langitnya menyerupai langit malam, dipenuhi bintang-bintang yang bergerak perlahan seolah benar-benar hidup. Pilar-pilar hitam menjulang tinggi, masing-masing dipahat dengan naga, burung phoenix, dan makhluk-makhluk purba yang bahkan Ethan hanya pernah melihatnya sekali selama lima ratus tahun kehidupannya di Dunia Kultivasi.
Di tengah aula berdiri puluhan singgasana batu.
Sebagian telah hancur.
Sebagian tertutup lumut waktu.
Namun sebelas singgasana di bagian terdalam masih utuh.
Aura yang terpancar dari masing-masing singgasana cukup untuk membuat kultivator biasa kehilangan kesadaran.
Ethan berhenti melangkah.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Sebelas singgasana..."
Suara Penjaga Tanpa Nama terdengar dari belakang.
"Itulah tempat para Kaisar Abadi pertama dunia ini."
Ethan tidak menoleh.
"Jadi legenda itu benar."
"Sebagian."
"Lalu sisanya?"
"Disembunyikan."
Ethan menghela napas pelan.
Jawaban itu sesuai dugaannya.
Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang bertahan hidup.
Semakin jauh mereka memasuki aula, semakin berat tekanan spiritual yang memenuhi udara.
Lantai batu mulai dipenuhi retakan bercahaya.
Rune-rune kuno menyala satu demi satu.
Kemudian...
Sebuah suara bergema.
"Pewaris..."
Suara itu begitu tua hingga terdengar seperti berasal dari awal terciptanya dunia.
Seluruh aula bergetar.
Sebelas singgasana memancarkan cahaya berbeda.
Emas.
Perak.
Merah darah.
Hitam pekat.
Biru samudra.
Hijau zamrud.
Ungu.
Putih.
Abu-abu.
Jingga.
Dan...
Singgasana terakhir.
Tidak memiliki cahaya sama sekali.
Hanya kegelapan.
Tatapan Ethan membeku.
"Itu..."
Penjaga Tanpa Nama ikut melihat ke arah singgasana hitam itu.
"Aku tidak bisa mendekatinya."
"Mengapa?"
"Karena itu bukan milik dunia ini."
Kalimat itu membuat Ethan mengernyit.
Bukan milik dunia ini?
Tiba-tiba udara berubah dingin.
Suara logam bergesekan terdengar dari segala arah.
Clang...
Clang...
Clang...
Puluhan zirah kosong muncul dari balik pilar.
Masing-masing membawa tombak hitam.
Aura mereka berada di Alam Pendirian Fondasi Bintang 8 hingga Inti Emas Bintang 2.
Namun jumlah mereka...
Lebih dari seratus.
Penjaga Tanpa Nama langsung menghunus pedangnya.
"Mereka Penjaga Makam."
Ethan menggeleng.
"Jangan bergerak."
"Apa?"
"Mereka belum menyerang."
Benar saja.
Seluruh zirah berhenti sekitar lima belas meter dari Ethan.
Kemudian...
Seratus tombak menghantam lantai secara bersamaan.
DUM!
Suara itu menggema ke seluruh aula.
Lalu salah satu zirah melangkah maju.
Di balik helm kosongnya terdengar suara berat.
"Pewaris."
"Buktikan."
"Bukan dengan kekuatan."
"Tetapi dengan pilihan."
Lantai aula berubah.
Retakan cahaya menyusun sebuah papan raksasa.
Seperti papan catur.
Namun buah caturnya adalah para penjaga itu sendiri.
Ethan menyipitkan mata.
"Formasi Strategi Kaisar."
Penjaga Tanpa Nama tampak terkejut.
"Kau mengenalnya?"
"Dulu aku pernah menghancurkan formasi serupa."
"Kalau begitu kita bisa menang."
Ethan menggeleng pelan.
"Tidak."
"Formasi ini tidak bisa dihancurkan."
"Lalu?"
"Kita harus menyelesaikannya."
Seluruh penjaga mulai bergerak mengikuti pola tertentu.
Setiap langkah mereka menciptakan perubahan posisi energi spiritual.
Jika salah satu diserang...
Seluruh formasi akan aktif.
Dan Ethan dapat merasakan kekuatannya akan meningkat berkali-kali lipat.
Ia memejamkan mata.
Lima ratus tahun pengalaman bertempur mulai bekerja.
Bukan mencari celah kekuatan.
Melainkan pola.
Satu.
Tiga.
Lima.
Delapan.
Dua belas.
Matanya terbuka.
"Bukan formasi perang."
"Tetapi ujian kepemimpinan."
Penjaga Tanpa Nama menatapnya heran.
"Maksudmu?"
"Mereka menunggu komandan."
Ethan melangkah ke papan cahaya.
Puluhan tombak langsung mengarah kepadanya.
Namun ia tetap berjalan.
Tenang.
Perlahan.
Setiap langkah mengikuti ritme tertentu.
Empat langkah maju.
Satu ke kanan.
Dua mundur.
Kemudian berhenti.
Seluruh penjaga tiba-tiba ikut bergerak.
Formasi berubah.
Penjaga Tanpa Nama membelalak.
"Mereka..."
"Mengikutinya?"
Ethan kembali berjalan.
Kini semakin cepat.
Gerakannya tampak acak.
Namun setiap langkah membuat formasi berubah menjadi semakin sempurna.
Tak lama kemudian...
Seratus penjaga berlutut serempak.
Dentuman logam memenuhi aula.
"Kami..."
"Mengakui..."
"Panglima."
Belum sempat Penjaga Tanpa Nama bernapas lega...
Seluruh singgasana menyala bersamaan.
BOOOM!
Gelombang tekanan luar biasa menghantam seluruh aula.
Retakan muncul di udara.
Langit-langit berubah menjadi pusaran bintang.
Satu demi satu sosok mulai muncul di atas setiap singgasana.
Bukan tubuh.
Melainkan bayangan.
Roh.
Jejak kehendak para Kaisar.
Aura mereka membuat Ethan tanpa sadar menahan napas.
Meski hanya sisa kehendak...
Masing-masing masih jauh melampaui siapa pun yang pernah ditemuinya sejak kembali ke Bumi.
Salah satu roh membuka mata.
"Kau..."
"Bukan berasal dari zaman ini."
Roh kedua berbicara.
"Kau pernah mencapai Alam Kaisar Abadi."
Roh ketiga.
"Tetapi gagal mempertahankannya."
Ethan tetap diam.
Ia tahu...
Tidak ada gunanya berbohong di hadapan makhluk seperti mereka.
Tiba-tiba singgasana hitam mengeluarkan kabut gelap.
Seluruh roh lainnya langsung terdiam.
Bahkan cahaya mereka meredup.
Kabut itu perlahan membentuk sosok manusia berjubah hitam.
Wajahnya tidak terlihat.
Namun...
Ketika sosok itu mengangkat kepalanya...
Jantung Ethan berhenti sesaat.
Wajah itu...
Adalah dirinya sendiri.
Bukan Ethan Mahendra.
Melainkan dirinya ketika menjadi Kaisar Bayangan di kehidupan sebelumnya.
Penjaga Tanpa Nama langsung mundur tiga langkah.
"Mustahil..."
"Itu..."
Sosok berjubah hitam tersenyum tipis.
"Sudah lama sekali."
Suara itu...
Benar-benar suara Ethan sendiri.
"Ethan Mahendra."
"Atau..."
"Kaisar Bayangan."
"Mana nama yang sekarang kau pilih?"
Tatapan Ethan tetap tenang.
"Aku memilih masa kini."
Sosok itu tertawa kecil.
"Jawaban yang menarik."
"Tetapi..."
"Kau tetap membawa dosamu."
Seluruh aula mendadak menjadi gelap.
Potongan-potongan ingatan mulai muncul di udara.
Perang.
Planet yang hancur.
Gunung mayat.
Lautan darah.
Para Kaisar yang gugur.
Dan...
Seorang wanita berjubah putih yang menusukkan pedang ke dada Ethan.
Pupil Ethan mengecil.
"Itu..."
Bukan pengkhianatan yang ia ingat.
Ada seseorang lagi.
Seseorang yang berdiri di belakang wanita itu.
Wajahnya masih tertutup kabut.
Namun...
Aura orang itu membuat seluruh tubuh Ethan membeku.
Aura tersebut...
Persis seperti energi yang ia rasakan sejak kembali ke Bumi.
Energi yang selalu mengawasinya dari balik bayangan.
Sosok berjubah hitam menatap Ethan tanpa berkedip.
"Kau akhirnya mulai mengingat."
"Tapi masih terlambat."
"Segel pertama telah terbuka."
"Segel kedua..."
"Sudah mulai retak."
Ethan mengangkat kepala.
"Apa yang tersegel?"
Senyum sosok itu menghilang.
"Kau sendiri."
Kalimat itu membuat seluruh aula sunyi.
"Kau pikir yang kembali ke dunia ini hanyalah jiwamu?"
"Tidak."
"Sesuatu yang lebih mengerikan ikut kembali."
Ledakan energi hitam tiba-tiba keluar dari dasar singgasana.
Retakan-retakan muncul di seluruh aula.
Seluruh roh para Kaisar berubah tegang.
Salah satu dari mereka berteriak.
"Hentikan!"
"Segelnya belum waktunya dibuka!"
Namun sudah terlambat.
Dari balik retakan ruang terdengar suara napas yang berat.
Disusul dua mata merah raksasa perlahan terbuka di dalam kegelapan.
Aura monster itu begitu besar hingga bahkan para roh Kaisar Abadi tampak waspada.
Ethan menatap lurus ke arah dua mata tersebut.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Bumi...
Ia merasakan firasat yang benar-benar buruk.
Lalu sebuah suara kuno mengguncang seluruh makam.
"Akhirnya... aku menemukanmu lagi... Kaisar Bayangan."
Dan pada saat yang sama, retakan ruang itu mulai terbuka sepenuhnya.