Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijemur?
Karena ini spin off dari novel Pesona Cassanova, diinfokan aja, ya, anak anak mereka😊
Anak Khalid& Ziza \= Dylan
Anak Ziyan&Vivian \= Emil
Anak Malik&Casaie\= Keyra
Anak Sean&Ariella\=Alen
Anak Quin \= Dira dan Vira
Anak Deva&Vina.\= Zio dan Gio
Anak Dewa&Emily \= Kian dan Azka
Anak Theo&Rubby \= Naresh dan Denish
Anak Shakti&Sheila\=Reyhan
■
■
"Kalian ngapain mau ikutan dijemur?" sindir Alen sambil menatap Reyhan, Emil dan Dylan yang tidak ikut berkelahi bersama mereka tadi. Tatapannya jelas meremehkan.
Reyhan tersenyum miring. Ngga mungkin dia, Dylan dan Emil melarikan diri dari hukuman yang baru pertama kali dijatuhkan pada kerabatnya.
"Kalo mereka ikut, lawan bakal kalah jumlah. Namanya ngga adil, kan," bela Denish santai sambil melirik Aditama yang menyeringai marah mendengarnya.
Alen tergelak, memprovokasi Aditama cs. Mahesa sampai mengeluarkan geraman marahnya. Dibanding yang lainnya, Mahesa teman terdekat Aditama.
Pagi ini tim Aditama belum full. Sudah lumrah mereka maen keroyok, karena anggota mereka lebih banyak dari Kian cs.
Berbeda dengan Kian cs yang mengandalkan tim dengan keanggotaan berdasarkan kekerabatan. Tim Aditama merekrut timnya berdasarkan pertemanan dan sebagiannya lagi karena hubungan bisnis orang tua mereka.
"Sampai kapan kita dijemur seperti ikan begini?" keluh Zio. Walaupun hari masih pagi, panas matahari sangat menyengat.
"Aku akan minta papa memberikan sanksi pada Bu Elia," geram Mahesa sambil menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Punggung seragamnya juga sudah basah. Dia memang paling gampang berkeringat. Apalagi dijemur di bawah terik matahari. Sebentar saja keringat sudah membanjiri tubuhnya. Mahesa melepas jas sekolahnya dan melemparkannya begitu saja karena tubuhnya sudah merasa sangat gerah
"Bu Elia berani sekali pada kita.," dengus Bayu, salah satu anggota tim Aditama. Dia juga melakukan hal yang sama.
"Aku juga akan meminta papa melakukan hal itu," sambungnya lagi dengan nada marah. Dia juga melempar jasnya sembarangan.
"Aku akan meminta pengawal mengantarkan seragam baru untuk kita," ucap.Reyhan. Dia juga sudah melepaskan jasnya setelah lebih dari lima menit berlalu. Begitu juga Kian dan yang lainnya.
"Ini semua karena lo. Kalo lo ngga bikin gue marah, kita ngga akan dijemur begini." Aditama menatap Kian mangkel.
"Apa, sih, yang membuat lo selalu membela babu gue, hah?!" marah Aditama lagi. Dia ngga suka ada yang mengganggu kesenangannya.
"Babu, babu. Dasar majikan yang hanya bisa ngandalin uang orang tua," ejek Kian mebuat hati Aditama tambah panas.
"Uang orang tua gue, ya, uang gue. Lo orang luar, jangan ikut campur!" sentak Aditama lagi.
"Jangan jangan si Kian beneran suka sama Wanda, Tama," kompor Bayu menyahuti. Tawa merremehkannya terdengar. Temen temannya juga ikut mengurai tawa.
Aditama menyeringai.
"Drama tuan muda yang menyukai gadis miskin." Mahesa ikut mengejek.
Tangan Kian mengepal.
"Lebih bagus lagi drama tuan muda yang menyukai babunya sendiri," skak math Denish kemudian tergelak dengan perasaan sangat pu@s bersama kembarannya Naresh. Alen juga ikut mengeluarkan tawa kerasnya
Wajah Aditama merah membara. Harga dirinya dijatuhkan di depan teman dan lawannya.
"B@ngs@aaatt!" Tinjunya terarah pada Denish yang sudah mengeluarkan kalimat merendahkannya.
"Aku lawanmu, pecundang!" Kian yang ambil alih perkelahian ini.
Seperti dikomando, Mahesa dan yang lainnya langsung menghajar Denish cs. Perkelahian ngga berimbang pun terjadi. Reyhan, Dylan dan Emil terpaksa ikut serta dalam perkelahian ini. Tim Kian cs menang dari segi kuantitas dan kualitas.
Peluit kencang dan kepanikan para sekuriti kembali terdengar. Mereka yang diminta menjaga anak anak donatur ini kini berusaha keras meleraikan perkelahian mereka lagi.
*
*
*
Ezra-adik Ziza-maminya Dylan, diminta mewakili keluarga Kian cs datang menghadap guru BP. Laki laki yang masih menjomblo di usia tiga puluhan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat seragam keponakan dan kerabatnya yang sudah kotor berlumuran tanah dan rumput. Wajah dan rambut mereka juga acak acakan.
Mereka berada di ruangan yang terpisah dari Aditama cs.
"Kalian maunya apa, sih Berantem melulu," omel laki laki yang belum laku itu gusar.
Kakaknya terpaksa menelponnya agar mengurus Dylan dan yang lainnya karena hari ini kebetulan para mami mereka sedang belanja bareng di Singapura. Butuh waktu dua jam untuk kembali dan mengurus masalah anak anak mereka di sekolah.
Sedangkan daddy daddy mereka kebetulan sedang sibuk meeting di.luar kota. Ezra yang berada di Jakarta terpaksa harus mengurusi masalah yang kerap terjadi ini.
Efek dari pergulatan kedua yang dilakukan di lapangan, Bu Elia akhirnua memutuskan untuk memanggil orang tua mereka lagi. Sekarang beliau sedang berada di ruang sebelah, tempat dimana Aditama cs berada bersama para walinya.
"Bukan kita yang mulai," cuit Gio membela diri. Kancing seragamnya hilang dua hingga kaos dalamnya terlihat jelas.
Harusnya kalian abaikan mereka, sungut Ezra dalam hati
"Kok, om, yang datang. Mami mana?" Dylan bertanya dengan heran. Baru kali ini maminya ngga datang ke sekolah.
"Mami kalian sedang shopping di Singapura." Ezra menatap penampilan keponakannya dengan miris. Bisa dia bayangkan perasaan Ziza yang selalu shock setiap tau putranya kerap berkelahi di sekolah. Mungkin bukan hanya Ziza saja, tapi mami mami mereka yang lain pasti juga punya perasaan yang sama.
Ezra merasa aneh dan pusing dengan generasi anak kakaknya yang hobi berantem adu kekuatan fisik di sekolah. Beda dengan generasinya dulu, juga generasi daddy daddy mereka yang jauh dari perkelahian seperti ini.
Kian cs hanya ber oo aja meresponnya.
"Bu Elia mana? Kita mau pulang sekarang aja. Aku gerah mau mandi." Alen melihat ke arah pintu.
"Gara gara Om Ezra datangnya telat, Bu Elia ke tempat si lemah itu duluan," omel Gio dengan lirikan kesal ke arah Ezra yang reflek mendelikkan matanya.
"Masih untung aku bisa datang, anak nakal." Ezra balas mengomel.
"jadi kita harus berterimakasih?" sindir Azka.
"Sepertinya begitu." Naresh yang sejak tadi diam saja mengeluarkan keluhannya. Dia susah tidak tahan dengan kondisi tubuhnya. Basah dan kotor.
"Kalian ini....." Belum lagi Ezra meneruskan rutukannya, pintu ruangan terbuka.
Bu Elia datang. Wanita muda itu menatap Ezra dengan tatapan aneh, kemudian melihat ke sekitarnya.
Dia siapa?
Biasanya dia akan menemukan wajah wajah cantik yang tersenyum lembut ke arahnya.
Elia berjalan pelan diiringi tatap ngga sabar dari para murid bengalnya. Sorot tatapan itu sama seperti yang dia dapatkan di ruang sebelah. Mungkin kalo dia bukan anak kepala sekolah Dharmawarsa, semua orang pasti akan memarahi tindakannya yang sudah berani beraninya menjemur anak anak dengan kekayaan dan kekuasaan yang hampir tanpa batas.
"Bu Elia, apakah kita sudah boleh pulang?" tanya Kian sambil berdiri setelah gurunya berjalan di dekatnya. Ucapannya terdengar sangat sopan.
"Kami mau mandi dan ganti baju, bu," sambung Denish. Walaupun AC sudah mendinginkan suhu tubuhnya, tapi tetap saja dia tidak suka lama lama mengenakan baju yang bekas keringat dan kotor.
"Aku belum pernah berkeringat dan sekotor ini, bu," sambung Alen ikut merengek menyuarakan isi hati yang lainnya juga.
Anak anak ini, batin Elia gemas. Jika saja tidak melihat kelakukan mereka di luar tadi, orang orang pasti akan menduga mereka anak anak yang manis. Apalagi mereka juga berprestasi.
"Bisa kita bicara sekarang? Maaf, waktu saya tidak banyak." Ezra juga ikut menyela sambil melihat jarum jam tangannya.
Elia melirik sebal pada satu satunya laki laki dewasa yang ada di ruangan ini. Perasaan dongkolnya makin menjadi jadi