Bagaimana jadinya jika kamu mengakhiri sebuah hubungan tanpa sebab lalu meninggalkan kekasihmu begitu saja karena suatu alasan?
Begitu pula dengan Serena, ia meninggalkan kekasih nya begitu saja hanya karena suatu alasan yang kurang jelas. Hingga suatu saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan ternama milik mantannya dan bahkan saat ini seorang president.
apakah yang akan terjadi pada kehidupan Serena selanjutnya?
guyss mampir yuk, istirahat sebentar dinovel aku❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Austrea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Ex²⁵
Sore harinya, rapat besar yang dihadiri para direktur akhirnya selesai.
Satu per satu peserta rapat meninggalkan ruangan, menyisakan suasana yang jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya.
Dirga menutup map di tangannya lalu berdiri dari kursinya.
Di belakangnya, Serena dan asisten Zayn sudah menunggu seperti biasa.
Keduanya berdiri dengan sikap profesional, meski Serena berusaha keras mengabaikan keberadaan pria itu.
Dirga merapikan jasnya sebelum berbalik menghadap mereka.
"Kalian berdua ikut denganku ke tempat tunanganku," ucapnya datar.
"Tidak ada *penolakan*."
Kata terakhir itu ditekan dengan jelas sembari matanya tertuju lurus ke arah Serena.
Serena langsung memahami maksudnya.
Pria itu masih mengingat kejadian beberapa hari lalu, saat ia berusaha menghindari berbagai alasan untuk tidak ikut dalam urusan pribadi Dirga.
"Asal tuan senang," jawab Serena dengan senyum tipis yang jelas tidak tulus.
Asisten Zayn yang berdiri di sampingnya langsung menunduk, pura-pura sibuk melihat tablet.
Ia bisa merasakan aroma perang dingin yang mulai muncul di antara keduanya.
Dirga mengangkat satu alis.
"Bagus. Saya senang anda akhirnya mulai patuh."
"Kalau tidak patuh, nanti saya dituduh melanggar perintah direktur."
"Setidaknya anda sadar posisi anda."
Serena mengepalkan tangannya diam-diam.
Entah kenapa setiap kali berbicara dengan Dirga, pria itu selalu berhasil membuat emosinya naik turun dalam hitungan detik.
"Kalau begitu, apakah ada instruksi lain, tuan?" tanyanya dengan nada sopan yang dipaksakan.
Dirga menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
"Ada."
"Apa?"
"Nanti saat bertemu tunanganku, jangan pasang wajah seperti orang yang sedang menghadiri pemakaman."
Asisten Zayn hampir tersedak ludahnya sendiri.
Sedangkan Serena membeku selama beberapa detik.
Lalu dengan senyum yang jauh lebih manis dari sebelumnya, ia menjawab,
"Tentu saja tidak, tuan. Saya bahkan akan tersenyum selebar mungkin."
"Bagus."
"Supaya tunangan anda tahu betapa bahagianya saya melihat kalian berdua bersama."
Keheningan langsung menyelimuti lorong itu.
Asisten Zayn menoleh ke kanan, lalu ke kiri, berharap ada jalan keluar darurat untuk menyelamatkan dirinya dari percakapan tersebut.
Sementara Dirga hanya menatap Serena tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
Untuk sesaat, senyum di wajahnya justru semakin dalam.
Seolah ia menemukan sesuatu yang ingin ia lihat.
Kecemburuan.
Dan untuk pertama kalinya, Serena tidak cukup cepat untuk menyembunyikannya.
Ruang rapat terasa begitu sesak hari itu. Serena memilih menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan gejolak yang memenuhi dadanya.
Meski berusaha terlihat tenang, ia tak bisa memungkiri bahwa dirinya sedang mati-matian menahan rasa cemburu yang perlahan menggerogoti hatinya.
Serena tidak mengerti. Mengapa Dirga seolah begitu menikmati melihatnya hancur seperti ini?
Apakah pria itu memang ingin membalas semua rasa sakit yang pernah ia tinggalkan di masa lalu?
Namun, andai saja Dirga mengetahui alasan sebenarnya.
Andai saja ia tahu bahwa Serena memilih pergi bukan karena berhenti mencintainya, melainkan karena ingin melindungi mereka berdua.
Mungkin semua tidak akan berakhir seburuk ini.
Dirga masih terus menatap ke arah Serena.
Tanpa ia sadari, tatapannya perlahan berubah semakin dalam.
Seolah menyimpan begitu banyak emosi yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Di sisi lain, Zayn memperhatikan semuanya dalam diam.
Sebagai orang yang sudah lama bekerja untuk Dirga, ia dapat menangkap setiap perubahan kecil dalam sikap sang atasan.
Zayn tahu, jauh di dalam hati mereka, Dirga dan Serena masih menyimpan perasaan yang sama.
Terutama saat melihat cara Dirga memandang Serena.
Tatapan itu bukan milik seseorang yang telah berhenti mencintai.
Meski Dirga selalu bersikap dingin, arogan, dan seolah dipenuhi kebencian, Zayn justru melihat sesuatu yang berbeda di balik semua itu.
Ia melihat cinta yang masih bertahan, terperangkap di antara luka dan dendam yang belum pernah benar-benar sembuh.
Menyadari suasana mulai berubah, Zayn segera berdeham pelan, membuyarkan keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Bersambung.....
Hai para readers kesayangan Author, terimakasih sudah menjadi para pembaca yang setia dan selalu menemani hari² author💞🌹 Love You buat kalian semua yang selalu tinggalkan jejak sehat dan bahagia selalu ya🍃