Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
Jam makan siang tiba. Suasana kantin kantor berubah menjadi sangat ramai. Suara percakapan, denting sendok garpu, dan aroma masakan memenuhi ruangan luas itu. Rima membawa nampan berisi nasi, sayur, dan es teh ke arah meja paling pojok di ujung ruangan. Tempat yang biasanya sepi dan tenang.
"Hari ini penuh banget ya," gumamnya pelan sambil melihat setiap meja yang sudah terisi karyawan. "Semoga kursi di ujung itu masih kosong."
Benar saja, satu meja bundar di dekat jendela masih kosong. Rima langsung berjalan cepat ke sana, meletakkan nampan di atas meja, lalu duduk dengan lega. Ia belum tahu bahwa meja itu adalah tempat khusus yang selalu dipesan untuk Andre. Tempat yang tenang, jauh dari keramaian, sesuai dengan kebiasaannya yang tidak suka gangguan saat istirahat.
Rima baru saja mengambil sendok, saat suasana di sekitarnya tiba-tiba sedikit berubah. Beberapa karyawan yang berjalan melewati meja itu menoleh kaget, lalu berbisik pelan sambil menunjuk ke arahnya. Rima bingung, tapi sebelum sempat berpikir, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya dari jendela di sebelahnya.
Ia mendongak kaget. Andre berdiri di sana dengan nampan di tangan, wajahnya datar tanpa ekspresi, menatapnya diam-diam.
Jantung Rima berdegup kencang lagi. Ia segera berdiri tegak sampai kursi di belakangnya berdecit.
"Maaf Pak! Saya tidak tahu ini tempat Bapak! Saya pindah sekarang juga!" serunya tergesa-gesa.
Dengan tangan gemetar ia mengangkat nampannya, berbalik badan dengan cepat, dan berniat lari ke meja lain. Namun karena terlalu panik, ia tidak melihat ke belakang.
Bruk!
Nampannya menabrak nampan gadis lain yang baru mau lewat. Nasi dan kuah sedikit tumpah ke seragam keduanya, gelas es teh Rima terguling dan membasahi lantai.
"Aduh! Maaf! Maaf banget!" Rima langsung menunduk berkali-kali sambil mengambil tisu. "Saya nggak sengaja! Saya buru-buru jadi nggak lihat jalan! Seragammu...? Nanti saya ganti ya, atau saya bantu cuci sekarang!"
Gadis yang ditabraknya, teman magang lain bernama Laras,hanya tertawa kecil. "Santai saja Rim, nggak apa-apa. Aku ambil nampan lagi saja."
"Tapi kan ini salahku..." Rima masih sibuk memungut pecahan es dan mengelap meja orang lain, lalu berbalik meminta maaf pada karyawan di meja sebelah yang terkena percikan kuah. "Maaf ya Bu, tumpah ke meja Ibu. Saya lap segera!"
Sementara itu, Andre tetap berdiri di tempatnya sebentar, menatap pemandangan itu. Ia melihat Rima yang sibuk meminta maaf ke kiri dan kanan, wajahnya cemas tapi tulus, berusaha membereskan kekacauan yang ia buat sendiri tanpa menyalahkan siapa pun. Perlahan ia melangkah maju, meletakkan nampannya di meja itu, lalu duduk tenang.
Rima baru menyadari itu setelah selesai mengelap lantai. Ia berdiri mematung di sana, memegang nampan yang isinya sudah berantakan.
"Pergilah duduk di tempat lain," ucap Andre pelan sambil mulai makan. "Bersihkan dulu sisa tumpahannya."
"I-iya Pak! Maaf sekali lagi Pak!" Rima buru-buru berjalan menjauh, kali ini dengan langkah hati-hati, dan duduk di meja kecil di dekat pintu keluar bersama beberapa staf kebersihan yang ramah.
Sepanjang makan siang itu, Andre sesekali melirik ke arah pojok pintu. Ia melihat Rima berbagi makanannya dengan staf kebersihan yang hanya membawa sedikit lauk, tertawa mendengar cerita mereka, dan sesekali melirik ke arah mejanya dengan tatapan khawatir.
Andre diam-diam menyadari satu hal. Gadis itu memang sering menimbulkan kekacauan, tapi ia tidak pernah lupa sopan santun, dan hatinya selalu terbuka pada siapa saja tanpa memandang jabatan.
Setelah selesai makan, Dino datang menghampiri sambil tersenyum.
"Pak, tadi Mbak Rima kira Bapak marah besar karena duduk di meja Bapak. Padahal Bapak jarang pakai kalau jam makan siang ramai begini kan?"
Andre menaruh sendoknya pelan. "Dia tidak tahu. Dan dia berusaha memperbaiki kesalahannya tanpa banyak alasan. Itu sudah cukup baik."
Rima yang kebetulan lewat mendengar sepatah kata itu, langsung mempercepat langkah dengan senyum kecil di bibirnya. Hari ini ia salah tempat lagi, tapi setidaknya ia tidak lari dari tanggung jawab.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏