NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri

"Sekarang mendingan lo pergi jauh-jauh dari depan kamar gue! Gue nggak ada urusan sama cewek udik yang mukanya kusam kayak pantat panci begini! Mana ada bidadari semalem berubah jadi reog pagi ini? Pergi lo! Gue mau lanjut tidur lagi, bye!" bentak Rakha kejam.

Brakkk!!!

Pintu kamar dibanting dengan kekuatan penuh tepat di depan hidung Alin, menyisakan embusan angin yang menerpa wajahnya.

Alin berdiri mematung seperti patung pancoran di lorong kos yang dingin. Jantungnya berdegup kencang bukan karena jatuh cinta, melainkan karena kaget setengah mati sekaligus rasa sakit hati yang mendalam menghantam dadanya.

Kalimat "cewek udik yang mukanya kusam kayak pantat panci" itu terus bergema berulang-ulang di telinganya seperti kaset rusak.

Dengan tangan yang gemetar hebat karena syok, Alin perlahan meraba permukaan kulit wajahnya. Ia segera merogoh kantong celananya, menyalakan layar ponsel, dan membuka aplikasi kamera depan dengan jantung yang berdebar ngeri.

Saat layar ponsel menampilkan refleksi dirinya, Alin hampir saja menjerit histeris. Wajah bidadari yang putih bersih, halus, dan glowing merona tanpa cela semalam... kini telah lenyap tak berbekas! Yang ada di layar ponselnya sekarang adalah wajah aslinya: Alin yang kusam, dengan lingkaran hitam di bawah mata, kulit agak gelap karena sering terpapar asap dapur, dan sama sekali tidak ada aura mewah sedikit pun!

Mampus... sihir ubi rebusnya udah habis total karena semalam aku nggak makan ubi lagi! batin Alin menjerit kepedihan dalam hati.

Lalu... kalau mukaku balik jadi kusam kayak gini, gimana nasib kerjaanku di butik Oma Karin jam 9 nanti?! Dia kan mau rekrut aku karena wajah bidadariku semalam!

Alin menatap pintu kamar Rakha yang tertutup rapat, lalu beralih menatap pantulan dirinya di ponsel dengan perasaan campur aduk antara ingin menangis atau menelan ubi mentah-mentah sekarang juga.

****

Alin masih berdiri mematung seperti patung pancoran di lorong kos yang dingin. Layar ponselnya masih menyala, menampilkan refleksi dirinya yang kusam, dengan lingkaran hitam di bawah mata akibat kelelahan. Sihir ubi rebusnya resmi kedaluwarsa karena tadi malam ia melewatkan makan ubi akibat kekenyangan ayam kecap.

"Mampus... sihir ubi rebusnya udah habis total!" batin Alin menjerit kepedihan. "Lalu... kalau mukaku balik jadi kusam kayak gini, gimana nasib kerja baktiku di kamar Rakha sekarang?! Semalam kan dia mau neken kontrak babu karena ngira aku ini bidadari?!"

Alin menatap pintu kamar nomor sebelah yang tertutup rapat setelah dibanting Rakha tadi. Otaknya yang mulai kehabisan oksigen terpaksa berputar secepat mesin jet tempur. Ia tidak boleh membiarkan Rakha tahu soal rahasia ubi magis ini. Jika Rakha tahu wajah bidadarinya palsu, cowok arogan itu pasti akan langsung melaporkannya ke polisi dengan tuduhan penipuan visual.

Maka, hanya ada satu jalan ninja: Alin harus menciptakan karakter baru. Sebuah alter ego konyol demi menyelamatkan harga dirinya.

Dengan sisa-sisa keberanian yang dikumpulkan dari lantai koridor, Alin—dengan semangat membara yang jelas-jelas salah alamat—kembali melangkah ke depan pintu kamar Rakha. Ia menarik napas dalam-dalam, mengubah ekspresi wajahnya menjadi sok galak, lalu kembali menghujam pintu kayu di hadapannya menggunakan kepalan tangan.

Tok! Tok! Tok!

"Ini aku!! Aku mau bersihin kamar kamu sesuai perjanjian semalam! Buka pintunya!" seru Alin lantang. Suaranya yang cempreng bergema menabrak dinding koridor yang pengap.

Di dalam kamar, Rakha yang baru saja kembali menempelkan kepalanya ke bantal setelah mengusir "cewek jelek" tadi, merasa kepalanya seperti dihantam palu godam. Baru saja merem dua detik, ketukan brutal itu kembali merusak paginya yang damai.

Dengan nyawa yang baru terkumpul sepuluh persen dan sisa sembilan puluh persennya masih tertinggal di alam baka, ia bangkit dengan gusar. Ia menyeret kakinya yang lemas, sementara rambut atasnya mencuat ke segala arah, persis seperti sarang burung yang baru saja diterjang badai puting beliung.

Cklek!

Rakha kembali menyembul dari balik pintu dengan mata merah sekor kepiting rebus dan wajah bantal yang sangat berantakan.

"Mau apa lagi sih lo?! Ganggu tidur gue aja tau gak?! Pagi-pagi lo udah ngerusak pemandangan dan polusi mata gue!" sentak Rakha dengan suara serak yang seksi tapi penuh emosi. Ia memelototi gadis udik di depannya. "Kan udah gue bilang, gue gak ada urusan sama cewek udik nan jelek kayak lo. Gue mau lanjut tidur lagi, bye!"

Sebelum daun pintu jati itu tertutup rapat untuk kedua kalinya dan berpotensi meratakan hidungnya, Alin dengan gerakan secepat kilat menahan daun pintu itu menggunakan ujung kaki kanannya.

"Tunggu dulu!! Aku ke sini mau bersihin kamar kamu, Tuan Muda!" seru Alin menahan perih di jempol kakinya yang terjepit.

"Gue nggak pernah nyuruh lo bersihin kamar gue," sahut Rakha dingin, matanya menyipit sinis.

Alin melongo, tangannya spontan berkacak pinggang di depan dada. "Lho, kamu amnesia ya? Semalam di depan minimarket kan kamu sendiri yang ngancem-ngancem aku buat bersihin kamar ini biar utangku lunas?!"

Rakha mengerutkan kening, menaikkan sebelah alisnya setinggi Gunung Merapi. Ia memperhatikan gadis di depannya dengan saksama—rambut kusam diikat karet gelang, kulit agak gelap, dan wajah yang jauh dari kata "cantik paripurna" yang ia temui semalam di bawah lampu neon minimarket.

"Gue emang nyuruh orang buat bersihin kamar gue semalam, tapi orang itu bukan lo!" tukas Rakha mutlak. "Orang yang gue suruh itu cewek glowing tanpa pori yang namanya Alin. Nah, lo ini siapa? Sepupunya yang tinggal di sebelah kamar dia, ya? Lo juga ngapain ke sini? Apa lo mau gantiin dia? Jangan bilang si Alin sengaja nyuruh lo karena dia takut sama gue? Tolong ya, bilang sama sepupu lo yang cantik itu, cepetan datang ke sini sekarang juga! Kalau nggak, gue bakalan laporin dia ke polisi atas kasus penipuan ganti rugi! Cepetan lo pergi... huss... huss... cewek jelek!"

Rakha mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah Alin, seolah-olah sedang mengusir seekor lalat hijau yang mengganggu tidurnya.

Alin tersentak, dadanya naik turun menahan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun. Heh, lo pikir gue ini bunglon yang bisa ganti kulit tiap jam?! makinya dalam hati. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia harus segera meluncurkan kebohongan konyolnya sebelum Rakha curiga lebih jauh.

"Oh... eumm... iya! Betul banget! Kamu pinter deh!" ucap Alin dengan nada suara yang sengaja dibuat agak melengking dan manja, berbeda dengan suara aslinya, sambil menyisipkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya.

"Kenalin, namaku Hanindya. Panggil aja Hanin, aku sepupu jauhnya Alin yang lagi numpang menginap di kamarnya. Alin-nya sekarang lagi sibuk banget, dia udah berangkat kerja dari jam empat subuh tadi, jadi nggak bisa datang ke sini buat menunaikan tugasnya."

Rakha menyipitkan matanya, menatap "Hanin" dengan pandangan penuh kecurigaan tingkat tinggi. "Lo mau bohongin gue ya? Gue nggak percaya sama omongan lo. Kerja apa jam empat subuh? Perasaan tempat dia kerja di warung makan itu baru buka jam sebelas siang!"

"Bukan kerja di sana, tapi di tempat lain yang aku maksud! Alin kan kerjanya banyak, maklum rakyat jelata mencari sesuap nasi, nggak kayak kamu yang kerjaannya cuma meratapi lambung!" sahut Hanin/Alin sewot, mulai kehilangan kesabaran.

"Ckk!! Sialan banget tuh sepupu lo, dia sengaja mau ngehindar dari gue rupanya. Awas aja kalau ketemu nanti," geram Rakha dengan seringai licik. Ia berbalik badan, mengambil ponsel pintarnya di atas nakas, berniat menelepon nomor Alin tepat di depan hidung "Hanin" untuk membuktikan kebohongan gadis itu.

Drrttt! Drrttt! Tarari-tari-tampol!

Saku celana training Hanin mendadak bergetar hebat. Suara musik dangdut koplo bervolume maksimal yang menjadi ringtone ponsel jadulnya memecah keheningan koridor kosan dengan sangat tidak elitnya.

Alin langsung membeku dengan wajah pucat pasi seputih mayat. Ia menatap layar ponselnya yang menyala menampilkan nomor asing—yang tak lain dan tak bukan adalah nomor Rakha.

"H-hallo, ini siapa ya? Ada yang bisa dibantu?" tanya Hanin dengan nada bicara yang dibuat-buat seramah mungkin, mencoba tetap tenang meski lututnya sudah gemetar.

Rakha menaikkan sebelah alisnya, menatap aneh sekaligus heran ke arah gadis udik di hadapannya yang menjawab telepon dengan suara langsung yang terdengar di telinganya. "Ini gue, orang ganteng pemilik black card yang lagi ada di hadapan lo sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!