NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Aura hampir tidak bisa menelan sarapannya pagi ini. Pikirannya tersita sepenuhnya oleh rencana gila yang Devan tawarkan semalam di depan gang kosnya. Menjadi pacar pura-pura dari Devanandra Bratadikara? Memikirkannya saja sudah membuat lambung Aura melilit karena cemas.

Begitu melangkah melewati gerbang Universitas Ganesha, atmosfer kampus terasa berbeda. Aura bisa merasakan beberapa pasang mata yang semalam mengasihaninya kini menatapnya dengan pandangan penuh selidik. Rupanya, desas-desus mengenai hilangnya berkas draf akademiknya dari server kampus mulai terendus oleh mahasiswa hukum lain, memicu spekulasi bahwa beasiswa Aura sedang diambang pencabutan akibat ulah Devan.

"Aura!" Tari menghadang langkah Aura tepat di depan pintu masuk gedung perpustakaan. Wajah sahabatnya itu panik luar biasa. "Ra, lo serius gak apa-apa? Gue denger dari anak-anak sekretariat, sistem rektorat semalam error dan draf skripsi lo gak bisa diakses. Ini gara-gara Devan, kan? Dia beneran nekat mencabut beasiswa lo?"

Aura menggigit bibir bawahnya, teringat instruksi Devan untuk tetap bersandiwara sampai Devan sendiri yang memulai pergerakan. "Aku... aku sedang mengurusnya, Tari. Jangan khawatir."

"Gimana gue gak khawatir? Devan itu—"

Ucapan Tari terputus saat suara deru mesin mobil sport yang sangat familiar memekik di area drop-off lobi utama Fakultas Hukum. Sebuah mobil Porsche hitam metalik berhenti tepat di depan tangga. Pintu pengemudi terbuka, dan Devan keluar dengan setelan yang membuat seisi koridor menahan napas. Ia tidak memakai jaket kulit belelnya hari ini, melainkan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap dengan kancing atas yang sengaja dibuka, dipadukan dengan celana kain hitam potongan slim-fit yang rapi. Rambut hitamnya yang biasa berantakan kini disisir rapi ke belakang, memberikan kesan elegan khas pewaris klan kaya raya.

Bram dan Kenzo sudah menunggu di anak tangga teratas, memasang gestur tubuh yang tegak dan waspada, seolah sedang mengawal seorang pangeran.

Devan berjalan menaiki tangga lobi dengan langkah mantap. Pandangannya lurus menyapu koridor, hingga matanya terkunci pada sosok Aura yang berdiri bersama Tari di dekat pilar perpustakaan. Bukannya memberikan tatapan mengintimidasi seperti kemarin, sepasang mata elang Devan kali ini memancarkan binar yang berbeda—lembut, namun penuh kepemilikan yang mutlak.

Devan melangkah memotong kerumunan mahasiswa yang langsung membisu, memberikan jalan untuknya. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Aura.

"Gisela Aura," panggil Devan. Suaranya yang berat terdengar begitu tenang, namun bergaung jelas di koridor yang mendadak senyap bak kuburan.

Aura meremas tali tas ranselnya, berpura-pura gugup. "Ada apa lagi, Devan? Jika ini soal tugas laporanmu, aku sudah—"

Sebelum Aura menyelesaikan kalimatnya, Devan melakukan gerakan yang membuat Tari di sebelahnya hampir menjerit karena terkejut. Devan mengulurkan tangan kanannya, dengan lembut namun pasti menyisipkan beberapa helai rambut Aura yang berantakan ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan jemari Devan yang hangat di kulit pipinya membuat Aura tersentak murni—ini tidak ada di dalam skrip draf semalam. Jantung Aura berdegup gila-gilaan saat jarak mereka mengikis.

"Gue gak peduli soal laporan itu lagi, Ra," ujar Devan pelan, namun nadanya sengaja dibuat agar bisa didengar oleh telinga-telinga kepo di sekitar mereka.

Devan kemudian meraih tangan kiri Aura, membawa telapak tangan mungil itu ke dalam genggaman eratnya yang protektif. Ia membalikkan tubuhnya sedikit, menghadap ke arah kerumunan mahasiswa yang sedang menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

"Denger semuanya," Devan mengangkat suaranya satu oktav, memecah keheningan koridor dengan penuh otoritas. "Mulai hari ini, jangan ada satu orang pun di kampus ini yang berani mengusik, mengasingkan, atau membicarakan hal buruk tentang Aura. Siapa pun yang punya masalah sama dia, berarti punya masalah langsung sama gue."

Keheningan yang mencekam sesaat melanda koridor, sebelum akhirnya gemuruh kasak-kusuk pecah seperti bom yang meledak.

"Maksudnya apa tuh?"

"Gila, Devan ngelindungin anak beasiswa?"

"Mereka... pacaran?!"

Bianca Valerie, gadis kaya dari klan pengusaha yang sejak semester satu terobsesi pada Devan, tiba-tiba menerobos kerumunan dengan wajah memerah menahan marah. "Devan! Apa-apaan ini? Kamu bercanda, kan? Kenapa kamu membela pelayan kopi udik kayak dia di depan umum?"

Devan menoleh, menatap Bianca dengan pandangan sedingin es yang langsung membuat nyali gadis kaya itu menciut. Seringai miring Devan kembali muncul, tajam dan mematikan. "Gue gak pernah bercanda soal milik gue, Bianca. Aura adalah pacar gue. Ada pertanyaan lagi?"

Jawaban mutlak Devan menyumpal mulut Bianca sepenuhnya. Gadis itu menghentakkan kakinya dengan kesal dan pergi dari koridor sambil menahan tangis malu.

Aura hanya bisa berdiri mematung di sebelah Devan, merasakan telapak tangannya yang mulai berkeringat di dalam cengkeraman erat cowok itu. Ia melirik Devan dari samping, terpana melihat betapa tenangnya wajah cowok itu saat membalikkan logika seluruh kampus dalam hitungan detik.

Devan kembali menatap Aura, senyumannya melunak menjadi sebuah ekspresi hangat yang tampak sangat nyata. "Ayo, Ra. Gue anter lo ke kelas jam pertama. Kenzo udah nunggu di dalam buat mastiin kursi lo gak ada yang berani nempatin lagi."

Dengan genggaman tangan yang tidak terlepas, Devan menuntun Aura berjalan membelah kerumunan mahasiswa yang kini menatap Aura dengan pandangan yang sepenuhnya berubah: bukan lagi tatapan kasihan kepada korban perundungan, melainkan tatapan segan—dan penuh rasa takut—kepada wanita yang kini berdiri di samping sang calon penguasa klan Bratadikara.

Di saat yang sama, di sebuah ruangan VIP kafe yang terletak tepat di seberang gerbang utama kampus, seorang pria muda dengan setelan jas rapi berwarna biru tua sedang duduk sambil mengamati layar tabletnya. Layar itu menampilkan foto siaran langsung suasana koridor Fakultas Hukum yang dikirimkan oleh salah satu informannya di dalam kampus.

Pria itu adalah Gavin Mahendra.

Gavin memperbesar gambar tangan Devan yang sedang menggenggam erat jemari Aura. Sepasang matanya menyipit penuh selidik, mencari tahu apakah ini sebuah taktik pengalihan atau sebuah kelemahan baru yang murni dari rival utamanya.

"Gisela Aura..." gumam Gavin, mengecap nama gadis itu di lidahnya dengan nada dingin. "Jadi, cewek ini yang bikin lo kelabakan sampai harus merombak draf audit di pelabuhan kemarin, Devan?"

Seorang anak buah Gavin melangkah maju dari balik bayangan ruangan. "Tuan, apa kita perlu menyisir draf akademik gadis itu seperti perintah Anda semalam? Sistem rektorat mereka sempat mengalami gangguan subuh tadi."

Gavin menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewah, mengetukkan jemarinya di atas meja kaca. "Gak perlu. Gangguan sistem itu pasti ulah si kutu buku Kenzo untuk memancing kita. Devan gak akan sebodoh itu memperlihatkan otak taktisnya di depan umum. Tapi dengan menjadikan cewek ini sebagai pacarnya..." Gavin tersenyum licik, sebuah senyuman penuh konspirasi yang mengerikan. "Dia baru saja menyerahkan kelemahannya di atas piring perak untuk gue."

Gavin mematikan layar tabletnya dengan sentakan kasar. "Pantau terus gerak-gerik cewek itu di luar kampus. Begitu dia keluar dari zona perlindungan klan Bratadikara, kita ambil dia. Kita lihat seberapa jauh seorang Devanandra Bratadikara mau bertaruh nyawa demi seorang good girl kampus."

Sementara itu, di dalam ruang kelas Hukum Pidana II, suasana mendadak senyap begitu Aura masuk dengan didampingi Devan di ambang pintu. Mahasiswa yang kemarin sengaja pindah ke baris belakang kini buru-buru merapikan meja di baris kedua, memberikan ruang luas untuk Aura dengan sikap yang sangat sopan.

Devan melepaskan genggaman tangannya perlahan begitu Profesor Wijaya memasuki ruangan kelas. Sebelum melangkah pergi menuju kursinya di pojok belakang, Devan menunduk sedikit, berbisik di dekat telinga Aura.

"Sandiwara tahap dua sukses, Ra. Fokus Gavin resmi bergeser dari otak lo ke hubungan kita," bisik Devan rendah. "Tapi ini berarti lo harus siap untuk terus berada di dekat gue, baik di dalam maupun di luar kelas."

Aura menatap Devan yang berjalan menjauh dengan langkah santai menuju kursi belakangnya. Kardigan abu-abu yang ia pakai terasa menghangat, sehangat debaran aneh yang kini mulai menetap di dalam dadanya. Aura tahu, sandiwara pacaran ini adalah permainan berbahaya yang membakar dua sisi mata pisau; melindungi nyawanya dari klan Mahendra, namun di saat yang sama, perlahan-lahan meruntuhkan dinding pertahanan hatinya dari pesona sang mafia kampus.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!