NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Antara Ibu dan Anak

Malam di pinggiran Jakarta tidak pernah membawa kesejukan; ia hanya mengganti terik matahari dengan hawa pengap yang diam dan menindas. Di dalam kamar kontrakan berukuran tiga kali empat meter itu, udara terasa begitu tebal, seolah-olah setiap oksigen yang tersisa harus diperebutkan dengan sisa-sisa napas keputusasaan. Sengat nyamuk yang mendengung di sekitar bohlam kuning redup menjadi satu-satunya melodi yang menemani sunyi mencekam di antara Reza dan Ningsih.

Ningsih berbaring miring di atas kasur busa tanpa seprai yang mulai berbau apek. Kulitnya yang biasanya dingin oleh embusan pendingin udara kini lengket oleh keringat yang bercampur dengan debu semen yang tipis. Tubuhnya yang ringkih sesekali menggeliat, memprotes rasa sakit pada pinggang dan persendiannya yang tidak terbiasa bersentuhan dengan kasur yang keras.

"Reza..." rintih Ningsih, suaranya parau, memecah keheningan dengan nada yang sarat akan tuntutan. "Ibu tidak bisa tidur. Punggung Ibu rasanya mau patah. Nyamuk-nyamuk ini juga terus menggigit. Apakah tidak ada obat nyamuk? Rumah macam apa ini... bahkan penjara mungkin lebih manusiawi dari ini."

Reza yang duduk bersandar pada dinding tripleks yang lembap tidak bergerak sedikit pun. Kedua tangannya memeluk lututnya sendiri, sementara matanya menatap kosong ke arah pintu plastik kamar mandi yang miring. Wajahnya yang kusam tampak sangat tirus di bawah cahaya bohlam yang sesekali berkedip. Pikiran Reza tidak berada di ruangan itu; pikirannya melayang pada tumpukan surat penolakan kerja, sisa uang puluhan ribu rupiah di saku celananya, dan bayangan noda darah di sudut bibir Naya yang terus menghantuinya setiap kali ia memejamkan mata.

"Reza! Kamu mendengar Ibu tidak?!" suara Ningsih naik satu oktav, tidak sabar karena diabaikan. Ia membalikkan tubuhnya dengan kasar, menatap punggung anaknya dengan pandangan yang mulai dihiasi oleh rasa kesal yang tertahan. "Sejak siang kamu hanya diam seperti patung! Di mana tanggung jawabmu sebagai laki-laki? Kita tidak bisa terus-menerus hidup seperti binatang di lubang cacing ini!"

Reza menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti embusan angin dari kuburan. "Lalu Ibu mau aku melakukan apa?" tanyanya, suaranya terdengar sangat datar, kehilangan seluruh nada hormat yang biasanya ia pelihara. "Uang kita habis, Ibu. Tidak ada perusahaan yang mau menerimaku. Jangankan membeli obat nyamuk, untuk makan besok pagi saja aku belum tahu kita harus membeli apa."

Ningsih mendengus sinis, perlahan-lahan mendudukkan dirinya di tepi kasur. Sisa-sisa keangkuhan sosialita Menteng masih tampak pada dagunya yang terangkat, meski rambutnya yang biasanya disasak rapi kini awut-awutan bagai benang kusut.

"Semua ini karena kamu tidak becus, Reza!" tuduh Ningsih tiba-tiba, jarinya yang keriput menunjuk tepat ke arah wajah anaknya. "Bagaimana bisa seorang manajer sukses sepertimu tidak memiliki tabungan rahasia? Bagaimana bisa kamu membiarkan perempuan udik itu mengelabui kita selama tiga tahun? Kamu terlalu lemah! Kamu tertidur di atas kenyamanan hingga membiarkan istrimu sendiri menusuk kita dari belakang!"

Kata-kata itu mendarat di telinga Reza bagai tetesan minyak tanah yang menyiram bara api di dadanya. Perlahan, Reza memalingkan wajahnya. Matanya yang merah dan cekung menatap ibunya dengan tatapan yang belum pernah Ningsih lihat sebelumnya—sebuah tatapan yang dingin, tajam, dan penuh dengan akumulasi rasa muak yang selama ini ia pendam di bawah doktrin anak berbakti.

"Aku yang tidak becus, Ibu?" tanya Reza, suaranya bergetar menahan ledakan emosi di tenggorokannya. "Atau Ibu yang terlalu serakah?"

Ningsih terperanjat. Bibirnya yang dilapisi sisa gincu yang memudar terbuka kecil, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apa... apa kamu bilang?"

"Selama tiga tahun ini, siapa yang selalu meminta barang-barang mewah?!" Reza tiba-tiba berdiri, tubuhnya yang jangkung tampak mendominasi ruangan yang sempit itu, bayangannya jatuh menutupi tubuh ibunya yang terduduk di kasur. "Siapa yang setiap bulan meminta uang puluhan juta hanya untuk pamer di depan teman-teman arisan sosialita palsu itu?! Siapa yang selalu menghina Naya setiap hari, menyebutnya pembawa sial, padahal semua makanan yang Ibu makan, baju yang Ibu pakai, dan rumah Menteng yang Ibu pamerkan itu dibayar oleh uang keluarganya?!"

"Reza! Berani-beraninya kamu meninggikan suaramu pada Ibumu sendiri!" teriak Ningsih, wajahnya pucat oleh amarah yang bercampur dengan rasa syok yang teramat sangat. "Ibu membesarkanmu dengan air mata! Ibu mendidikmu agar menjadi orang sukses! Dan sekarang kamu menyalahkan Ibu atas semua kemalangan ini?!"

"Sukses?!" Reza tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyedihkan di dalam bilik tripleks tersebut. "Aku hanya boneka kesombongan Ibu! Ibu selalu menuntutku untuk terlihat kaya, terlihat terpandang, hingga aku harus membohongi diriku sendiri. Dan puncaknya... subuh itu. Jika saja Ibu tidak memfitnah Naya mencuri uang arisan palsu Ibu itu, jika saja Ibu tidak memaksaku untuk membuangnya di jalan tol... kita tidak akan berada di neraka ini malam ini!"

Ningsih menggelengkan kepalanya dengan liar, menolak untuk menerima kebenaran yang baru saja ditelanjangi oleh anaknya. "Itu bukan salah Ibu! Naya memang perempuan ular! Dia sengaja merencanakan semua ini untuk menghancurkan keluarga kita! Kamu harusnya membenci dia, bukan membenci Ibumu!"

"Naya tidak menghancurkan kita, Ibu. Kita yang menghancurkan diri kita sendiri karena kebodohan kita!" Reza berteriak, napasnya memburu kencang. "Ibu selalu membanggakan Andi, keponakan Ibu yang saleh dan santun itu! Di mana dia sekarang?! Di mana uang hasil perhiasan Ibu yang dia bawa?! Dia melarikan diri! Dia mengkhianati kita tepat saat kita jatuh! Dan Ibu masih saja menyalahkan Naya yang selama tiga tahun ini tidak pernah sekali pun mengeluh saat Ibu perlakukan seperti pelayan?!"

Mendengar nama Andi disebut bersamaan dengan kenyataan pahit tentang pengkhianatannya, dada Ningsih terasa sesak. Air mata keputusasaan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang keriput. Namun, alih-alih melembut, ego Ningsih yang telah mengeras selama puluhan tahun menolak untuk patah. Ia memukul kasur busa di bawahnya dengan histeris.

"Cukup, Reza! Cukup! Kamu anak durhaka! Kamu menyakiti hati Ibu!" ratap Ningsih di sela-sela tangisnya. "Ibu menyesal melahirkanmu jika akhirnya kamu hanya bisa memaki Ibumu yang sudah tua dan tidak berdaya ini! Kamu laki-laki tidak berguna! Istrimu pergi, pekerjaanmu hilang, rumahmu disita, dan sekarang kamu mau membiarkan Ibumu mati kelaparan di tempat kotor ini?!"

Reza menatap ibunya yang sedang menangis tersedu-sedu di atas kasur apek. Rasa iba yang biasanya muncul setiap kali melihat ibunya menangis, kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kehampaan yang dingin. Di dalam bilik sempit ini, topeng-topeng kemewahan telah dilucuti secara paksa, menyisakan dua orang manusia kerdil yang saling menyalahkan atas kehancuran yang mereka ciptakan bersama.

Dengan langkah kaki yang berat, Reza kembali terduduk di sudut ruangan. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meredam dengung bising dari luar gang dan suara ratapan ibunya yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi desis kelelahan.

Malam kian larut, mengantarkan keheningan baru yang jauh lebih mengerikan di antara mereka. Sebuah keheningan yang terbuat dari retakan hubungan ibu dan anak yang tak akan pernah bisa direkatkan kembali. Di dalam kegelapan batin mereka, badai kemiskinan tidak hanya merenggut materi, tetapi juga mulai mengikis sisa-sisa kemanusiaan yang pernah mereka miliki di bawah atap Menteng yang kini tinggal kenangan.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!