NovelToon NovelToon
Penguasa Para Dewa

Penguasa Para Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.

Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.

Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Pil Spiritual

Angin pagi yang dingin seolah berhenti berhembus di pelataran gerbang asrama luar sekte pinggiran. Tiga murid berseragam abu-abu tertawa meremehkan, sebuah pemandangan yang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Lin Chen. Selama bertahun-tahun, ia memang selalu menjadi target hinaan dan sasaran empuk bagi semua orang di sekte ini.

Wang Hao, senior asrama yang bertubuh jangkung itu, melipat lengannya di dada dengan angkuh. "Kenapa kau diam saja, Sampah? Cepat serahkan pil spiritual jatah bulan ini padaku. Kalau kau ngoceh, aku akan patahkan kakimu seperti bulan lalu!"

Di belakang Lin Chen, pemuda gempal yang rela menembus hutan di tengah malam buta hanya demi makan daging itu kini tampak pucat pasi. Zhu Da menarik-narik ujung lengan baju Lin Chen dengan panik.

"Chen-ge, serahkan saja pilnya. Jangan melawan, atau kita berdua akan dihajar habis-habisan," bisik Zhu Da dengan suara bergetar.

Namun, Lin Chen tidak bergeming. Matanya menatap lurus, sedingin air dan setajam pedang. Sejak kebangkitannya di bawah sinar bulan semalam, ia menyadari sebuah kebenaran: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian di tubuhnya yang selama ini tersumbat kini mengalirkan tenaga yang bergejolak.

"Cih! Semut macam apa ini yang berani menggonggong di depanmu?" Tua Hitam, roh kuno yang bersemayam di dalam cincin hitamnya, kembali bersuara pongah di dalam kepala Lin Chen. "Bocah, habisi semut ini dalam satu tarikan napas! Setelah itu, seret tubuhnya dan lemparkan ke depan gadis es yang kau lihat semalam. Percayalah padaku, tidak ada wanita yang tidak jatuh cinta pada pria yang membawa hasil buruan!"

Lin Chen hanya bisa menghela napas lelah di dalam hatinya. Tua Hitam benar-benar ahli dalam memberikan ilmu merayu yang salah.Su Qingyue adalah gadis yang sangat dingin seperti es, menganggap semua orang di sekitarnya sama saja. Jika ia benar-benar melempar Wang Hao ke hadapan gadis itu, mungkin ia akan langsung dibekukan menjadi patung es selamanya.

Melihat Lin Chen hanya diam dan malah tersenyum tipis, Wang Hao merasa harga dirinya diinjak. Wajahnya memerah karena marah. "Berani kau menertawakanku, Sampah?! Mati kau!"

Wang Hao melesat maju, tangan kanannya membentuk cakar elang yang diliputi energi Qi tipis, mengarah langsung ke leher Lin Chen. Dua antek di belakangnya sudah tertawa, bersiap melihat Lin Chen tersungkur memuntahkan darah seperti biasa.

Tapi kali ini, dunia bergerak jauh lebih lambat di mata Lin Chen.

Berbekal pijakannya yang kini telah mantap di tahap paling awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh, Lin Chen mencondongkan tubuhnya ke samping dengan gerakan yang sangat halus. Cakar elang Wang Hao hanya membelah udara kosong.

Sebelum Wang Hao sempat menyadari apa yang terjadi, Lin Chen mengepalkan tangan kanannya. Tidak ada teknik rumit, tidak ada mantra mematikan, hanya ledakan kekuatan fisik murni. Tinju itu menghantam keras tepat di tengah perut Wang Hao.

BAM!

"Ukh—!"

Mata Wang Hao melotot hampir keluar dari rongganya. Tubuh jangkungnya terangkat dari tanah, terlempar ke belakang sejauh tiga meter sebelum akhirnya menabrak pilar batu gerbang asrama dengan suara hantaman yang mengerikan. Ia jatuh ke tanah, memuntahkan seteguk darah, dan langsung jatuh pingsan, tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun.

Keheningan seketika menyelimuti pelataran. Lonceng pagi sekte bahkan terasa berhenti berdentang.

Dua antek Wang Hao mematung dengan mulut menganga lebar. Lutut mereka bergetar hebat. Orang yang baru saja menerbangkan senior mereka hanya dengan satu pukulan adalah Lin Chen? Si Sampah yang meridiannya cacat?

"I-itu tidak mungkin..." gumam salah satu dari mereka, melangkah mundur perlahan.

Lin Chen menepuk-nepuk debu di lengan bajunya, lalu melangkah pelan mendekati tubuh Wang Hao yang terkapar. Ia merogoh saku jubah seniornya itu dan mengeluarkan tiga botol kecil berisi pil spiritual berkualitas rendah. Itu adalah jatah bulanannya dan Zhu Da yang selalu dirampas secara paksa.

Ia melempar satu botol ke arah Zhu Da yang masih berdiri membeku dengan rahang jatuh. Botol itu mendarat tepat di perut buncit Zhu Da, membuatnya gelagapan menangkapnya.

"Mulai hari ini," suara Lin Chen terdengar tenang namun memancarkan aura tekanan yang membuat kedua antek Wang Hao bergidik, "tidak ada lagi yang boleh mengambil barang milikku. Bawa sampah ini pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran."

Dua murid itu langsung lari tunggang-langgang, menyeret tubuh pingsan Wang Hao secepat kilat menjauhi pelataran.

Lin Chen menatap tangannya sendiri. Ini baru permulaan. Langkah kecilnya telah dimulai. Ia tahu bahwa benih-benih takdirnya sedang tumbuh di tengah kerasnya kesulitan dunia kultivasi ini. Ia tidak akan pernah berhenti melangkah, menembus setiap batas alam, hingga ke tempat paling tinggi sekalipun.

"Bagus! Pukulan yang lumayan untuk ukuran semut!" Tua Hitam tertawa puas. "Sekarang, rapikan rambutmu, Bocah! Kita harus mencari dewi es itu dan..."

"Diamlah, Tua Hitam," potong Lin Chen santai, lalu berbalik menepuk bahu Zhu Da yang masih syok. "Ayo masuk. Setelah makan babi hutan semalaman, kau butuh membersihkan diri."

1
Bernard
Mantap sekali Thor👍👍
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍💪💪💪👍👍👍
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
GEDE JAYANEGARA
bintang Toedjoe, obt sakit kepla
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
mbono keling
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
Bernard
Pleaseee.., tolong di lanjut
Sang_Imajinasi: lanjut terus kok kak tiap hari jam 3 sore
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
yoi
Bernard: Sangat bagus.., tolong lanjutkan 🙏
total 1 replies
saniscara_Patriawuha
gasss pollll manggg minnnn..
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤨🤨🤨Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🔜🔜🔜Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!