NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Duel Dua Aliran dan Patahan Pedang Giok

​Gemuruh di Koloseum Besi mencapai titik didih tertinggi sepanjang malam itu. Papan holografik raksasa di atas ring berkedip liar, menampilkan pergantian jadwal yang mendadak: Asura vs. Raden Arya. Nilai taruhan yang semula stabil kini berfluktuasi ekstrem. Bagi para penonton, Raden Arya bukan sekadar petarung; ia adalah simbol dari otoritas tak tersentuh—kombinasi antara darah bangsawan klan kuno dan bakat kultivasi yang superior di era modern tahun 2042.

​Syuuutt!

​Sesosok pemuda berpakaian jubah putih bersulam benang emas melompat turun dari balkon VIP setinggi lima belas meter. Ia mendarat di tengah ring oktagon dengan sangat ringan, bahkan tidak menimbulkan riak debu sedikit pun di atas lantai beton. Gerakan anggun tersebut langsung disambut oleh sorak-sorai histeris dari tribun penonton.

​Raden Arya berdiri tegak, memandang rendah ke arah Arkana yang masih setia dengan Topeng Asura-nya. Di pinggang Arya, sebuah pedang dengan hulu giok hijau memancarkan pendaran energi spiritual yang sejuk namun mematikan.

​"Gua akuin, pukulan lo ke Goliath tadi lumayan menghibur untuk ukuran kultivator liar," ucap Raden Arya, nadanya terdengar malas dan penuh keangkuhan. "Tapi di hadapan warisan murni Klan Kamandaka, manipulasi Qi lo yang kasar itu gak lebih dari sekadar trik sulap murahan. Berlutut, buka topeng lo, dan serahkan diri ke klan gua. Mungkin gua bakal pertimbangin buat gak mutusin jaringan meridian lo."

​Arkana tidak bergeming. Di balik topeng metalik kelamnya, sepasang mata peraknya menatap lurus ke arah kotak titanium di balkon VIP, tempat Kristal Darah Bumi berada.

​"Terlalu banyak bicara," jawab Arkana datar, suaranya berat dan terdistorsi oleh topeng. "Maju, dan mari kita lihat apakah pedangmu itu sekeras omonganmu."

​Langkah Angin vs. Ketenangan Kaisar

​TING!

​Bel pertandingan baru saja berdentang, dan tubuh Raden Arya langsung mengabur. Ia mengeksploitasi teknik gerakan batin tertinggi klannya: Langkah Angin Kamandaka. Di mata manusia fana dan sensor kamera siber di sekitar ring, Arya seolah-olah membelah diri menjadi empat bayangan yang mengepung Arkana dari segala penjuru.

​"Mati lo!"

​Sring!

​Keempat bayangan itu menghunuskan pedang giok secara bersamaan, melepaskan tebasan angin spiritual tajam yang mampu memotong lempengan baja siber menjadi serpihan kecil. Tekanan udara di dalam oktagon mendadak turun drastis, menciptakan efek vakum yang mencekik.

​Namun, di dalam visi spiritual Arkana yang telah diperkuat oleh ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga, gerakan secepat angin itu tampak berjalan seperti slide gambar yang lambat. Dari empat bayangan yang mengepungnya, hanya ada satu yang membawa fluktuasi massa energi murni.

​Arkana tidak menghindar ataupun memasang posisi bertahan. Ia hanya menggeser kaki kirinya setengah langkah ke belakang.

​Sreeet!

​Mata pedang giok Raden Arya melesat hanya sejauh satu milimeter dari permukaan kerudung hitam Arkana, memotong beberapa helai kain luarnya, namun gagal menyentuh kulit daging sang Kaisar Abadi.

​"Hah?! Sialan, cuma kebetulan!" Raden Arya terkejut melihat serangannya meleset, langsung memutar pergelangan tangannya untuk melepaskan tebasan horizontal lanjutan yang mengarah lurus ke leher Arkana.

​Patahan Logam dan Ego yang Hancur

​Kali ini, Arkana tidak membiarkan Arya memperpanjang tarian pedangnya. Tangan kanan Arkana yang terbungkus sarung tangan serat karbon bergerak maju secepat kilat petir. Dua jari tangannya—jari telunjuk dan jari tengah—menjepit mata pedang giok yang sedang melaju kencang tersebut dengan akurasi yang tidak masuk akal.

​TINGGG!

​Suara benturan logam spiritual yang nyaring bergema. Pedang giok yang dialiri oleh energi ranah Spirit Gathering Tingkat Akhir milik Raden Arya mendadak berhenti total di udara, tertahan kokoh di antara dua jari Arkana.

​"A-Apa?! Gak mungkin!" Raden Arya membelalakkan matanya. Ia mencoba menarik pedangnya dengan seluruh kekuatan batinnya, hingga pembuluh darah di lengannya menonjol merah, namun pedang tersebut seolah-olah telah tertanam di dalam gunung karang yang tak tergoyahkan.

​"Senjata yang bagus, tapi penggunanya terlalu lemah," ucap Arkana dingin.

​Arkana mengalirkan seulas energi Qi Primordial dari Dantian-nya langsung menuju ujung jarinya. Energi murni kuno tersebut mengalir masuk ke dalam struktur molekul pedang giok Arya, menghancurkan seluruh formasi penguat batin yang terukir di bilah pedang dalam sekejap mata.

​CRACK... PYAAAARRR!

​Pedang giok pusaka milik Klan Kamandaka itu hancur berkeping-keping menjadi ratusan serpihan kristal hijau yang beterbangan di udara ring. Guncangan energi balik dari hancurnya senjata tersebut menghantam dada Raden Arya dengan telak.

​Uhukk!

​Raden Arya memuntahkan seteguk darah segar, tubuhnya terlempar ke belakang sejauh sepuluh meter sebelum akhirnya bergulingan di atas lantai beton oktagon dengan sangat mengenaskan. Jubah putihnya yang semula bersih kini ternoda oleh darah dan debu arena.

​Hierarki Kekuatan Alam Semesta: "Di hadapan penguasa spiritual yang sejati, senjata pusaka ataupun silsilah darah bangsawan tidak lebih dari sekadar mainan rapuh yang siap hancur dalam sekali petik jari."

​Seluruh koloseum bawah tanah kembali dipaksa masuk ke dalam keheningan yang mematikan. Para bandar judi, elit korporat, hingga Tetua Suro yang berada di ruang VIP terbelalak dengan mulut terbuka lebar. Genius muda dari salah satu klan terkuat di pulau Jawa baru saja dikalahkan hanya dalam dua langkah oleh seorang petarung misterius bernama Asura.

​Di tengah keheningan massal itu, Arkana berjalan perlahan mendekati Raden Arya yang masih terengah-engah menahan sakit di atas tanah. Sepasang mata perak di balik topeng iblis itu menatap dingin, siap untuk mengambil apa yang sejak awal telah ia tandai sebagai miliknya: Kristal Darah Bumi.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!