Athena clarisa mahendra. Adalah sosok gadis tangguh yang hidupnya penuh dengan siksaan yang ia dapat justru dari keluarganya sendiri. Di tindas oleh abang kembarnya dan selalu di siksa oleh ayahnya sendiri. Selama hidupnya bahkan tak pernah sedikit pun merasakan hidup bahagia. Keluarganya justru lebih menyayangi anak angkatnya yang memiliki sifat lembut,pintar dan baik hati.tanpa mereka tahu jika dibalik wajah lugu anak angkatnya itu tersimpan sifat licik dan maipulatif. Karna perlakuan keluarganya itu sudah mencapai batas sabar dan membuat Athena memiliki dendam dan janji untuk menghancurkan keluarga gilanya itu. Lalu bagaimana dengan kelanjutan hidup Athena?,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: NIAT JAHAT
Berbanding terbalik dengan suasana di rumah sakit, suasana di Mansion Mahendra sore itu terasa begitu tegang. Kenan yang sudah diperbolehkan pulang duduk di ruang tengah dengan para temannya yang datang untuk menjenguk.
"Kak Thea jahat banget, ya, buat Abang Kenan patah tangan," ucap Sita tiba-tiba, menggiring opini jelek untuk Athena.
"Emang dasar anak enggak tahu diri!" ucap Kenan kesal. Sebenarnya, dibanding rasa sakitnya, rasa tidak terimanya jauh lebih besar.
"Athena melakukan sesuatu pasti ada sebabnya, enggak mungkin tiba-tiba," ucap Devan acuh tak acuh.
"Devan... ini kenapa selalu belain Kak Thea sih?" tanya Sita dengan nada merajuk yang terdengar menjijikkan di telinga Devan.
"Lah, gue mah lihat mana yang bener dan mana yang nipu," ucap Devan dengan menatap tajam Sita.
"Lo apa-apaan sih, Dev?! Lihat tuh Sita sedih gara-gara lo!" bela Reyhan.
"Bacot lu! Mending lu diem kalau enggak tahu apa-apa," ujar Devan.
"Ck, enggak usah sebut nama jalang satu itu. Jijik gue," ujar Kenan.
"Hmm, betul apa yang dikatakan Kenan," ujar Brama membenarkan dengan sesekali membelai lembut kepala Sita.
"Sekumpulan keledai bodoh," ucap Devan sarkas lalu pergi dari Mansion Mahendra.
"Menjijikkan," ketus Kenzie saat sedari tadi diam memperhatikan.Melihat Kenzie yang pergi dan mengucapkan kata menjijikkan membuat Sita berkaca-kaca.
"Kenapa Abang Kenzie dan Devan selalu belain Kak Thea?" tanya Sita dengan air mata yang sudah bercucuran.
"Udah, enggak usah dipikirin," ucap Brama.
"Tapi mereka tidak menyayangi Sita lagi karena Kak Athena," ucap Sita justru menyalahkan Athena, padahal Athena sendiri tidak ada di sana.
Melihat Sita yang menangis sesenggukan, Reyhan yang tak tega pada gadis itu mulai tersulut emosi.
"Ini enggak bisa dibiarin gitu aja! Kita harus susun rencana buat kasih pelajaran sama jalang itu," ujar Reyhan dengan mata berkilat emosi.
"Dia udah buat Kenan patah tangan, permaluin bos di sekolah, sekarang malah bikin Sita nangis," lanjutnya berapi-api.
"Permaluin Brama?" beo Kenan bingung.
"Iya, Bang. Waktu Abang di rumah sakit, Kak Thea permalukan Kak Brama di kantin sekolah," adu Sita pada Kenan dengan nada yang sengaja dibuat memelas.
Kenan yang mendengar hal itu langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras menahan amarah.
‘Anak sialan itu selalu bikin malu nama keluarga. Nggak, ini nggak bisa dibiarin. Kalau bisa, lebih baik singkirin Athena selamanya,’ batin Kenan yang sudah sepenuhnya diliputi rasa amarah yang membakar dada.
Melihat kilatan emosi dari Kenan, Brama, dan Reyhan seketika membuat Sita tersenyum miring tanpa disadari siapapun.
‘Dasar bodoh! Tanpa perlu gue kotorin tangan gue sendiri, mereka yang akan melakukannya buat gue,’ batin Sita merasa menang atas Athena.
Di rumah sakit, kedatangan Ara ke kamar rawat VIP Mawar seketika membuat suasana ruangan itu menjadi semakin ramai dan hangat.
"Kakak Thea sakit apa?" tanya Ara dengan binar mata polosnya yang bulat.
"Kakak cuma demam, Ara," ujar Athena dengan senyum lembut, berusaha menenangkan bocah kecil itu.
"Wah... anak cantik dari mana ini?" ucap Bunda Nana spontan saat melihat Ara yang kini duduk di samping Athena di atas brankar.
Mendengar Bunda Nana yang menyebutnya cantik seketika membuat Ara tersenyum malu-malu. Pipinya merona tipis, membuat Bunda Nana yang melihatnya langsung dibuat terkekeh geli.
"Namanya siapa, anak manis?" tanya Bunda Nana ramah.
"Ara," jawabnya cicit, memilin ujung bajunya dengan malu-malu tanpa berani menatap langsung wajah Bunda Nana.
"Ya ampun, gemas sekali!" jerit Bunda Nana tertahan melihat tingkah menggemaskan Ara. Ia berjalan mendekat ke sisi brankar.
"Nama Bunda, Bunda Nana. Ibu dari Abang Arga, Abang Vano, dan Kakak Athena," ujar Bunda Nana memperkenalkan diri dengan nada selembut mungkin.
"Iya, Bunda," jawab Ara dengan mata yang sesekali melirik malu pada Bunda Nana. Masih malu-malu kucing, Ara tuh.
"Ara sudah makan belum?" tanya Bunda Nana lagi.
"Ara sudah makan, Bunda. Tadi Abang Vano belikan Ara makanan, terus disuapi juga sama Abang Vano," jawab Ara dengan polos, jujur apa adanya.
"Wah, pintarnya Ara," puji Bunda Nana sembari mengusap lembut puncak kepala Ara.
"Ara di rumah sakit juga? Sedang apa, anak manis?"
"Ara jagain Abang, Bunda. Abang Juan sakit, lalu Kakak Thea dan dua abang tampan bawa Abang ke rumah sakit deh," jawab Ara menjelaskan dengan bahasanya yang kekanak-kanakan.
"Orang tua Ara ke mana?"Mendengar pertanyaan spontan dari Bunda Nana itu, senyum di wajah ceria Ara mendadak luntur.
Bocah itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap jemari kakinya sendiri dengan raut sedih.
"Mama sama Papa sudah di surga kata Abang Juan. Ara sekarang hanya bersama Abang," jawabnya dengan suara yang sedikit parau, menahan tangis.
Mendengar jawaban jujur itu, hati Bunda Nana seketika terasa sesak bagai dihantam batu besar. Naluri keibuannya langsung bergejolak hebat. Tanpa membuang waktu, beliau melangkah maju, duduk di tepi brankar, lalu membawa tubuh mungil Ara ke dalam dekapan hangatnya.
"Ada Bunda di sini, Sayang. Mulai sekarang, anggap Bunda ini sebagai ibu kamu juga, ya?" ucap Bunda Nana lembut, mengecup pelipis bocah itu dengan penuh kasih sayang.
Tak lama kemudian, suara isakan kecil mulai terdengar dari balik dada Bunda Nana. Hati orang-orang di dalam ruangan itu mendadak mencelos mendengar tangisan penuh luka dari seorang gadis kecil.
Betapa beratnya beban hidup yang harus ia rasakan di saat usianya masih sepuluh tahun. Harus ikut banting tulang mencari uang demi kesembuhan abangnya—satu-satunya keluarga yang ia punya di dunia ini.
Melihat pemandangan pilu itu, keputusan Athena seketika bulat. Ia tidak akan membiarkan anak sekecil Ara menderita lebih lama lagi. Athena akan membiayai semua keperluan hidup Ara dan memastikan kesembuhan Juan sampai tuntas.
‘Juan, kau berutang besar padaku,’ ucap Athena dalam hati. Sepasang mata indahnya menatap lekat ke arah Ara yang masih menangis di pelukan bunda nana.
Setelah puas menangis karena lelah, Ara akhirnya terlelap di atas sofa dengan Bunda Nana yang masih setia mendekap erat tubuh kecilnya dengan penuh kasih sayang.
"Bang," panggil Athena dengan suara setengah berbisik kepada Arga.
Arga yang melihat kode mata dari sang adik langsung melangkah mendekat ke sisi brankar. Ia tahu betul pasti ada hal penting yang akan dibicarakan oleh gadis itu saat ini.
Begitu Arga sudah berdiri tepat di hadapannya, Athena langsung mengutarakan niatnya tanpa ragu.
“Bang, gue mau pastikan Juan mendapatkan penanganan serta pengobatan medis terbaik untuk kesembuhannya." Athena menjeda kalimatnya sejenak, menghela napas pelan.
"Lalu, aku mau Ara melanjutkan sekolahnya lagi. Untuk semua biayanya, aku yang akan menanggung semuanya."
Athena mengucapkan kalimat itu seraya menatap sendu ke arah tubuh kecil Ara yang sudah tertidur pulas dalam dekapan hangat ibunya setelah lelah menangis tadi.
"Kamu tenang saja dek, yang terpenting sekarang kesembuhanmu. Urusan lain biar abang yang menanganinya" jawab Arga. Ia sangat tahu bahwa adiknya memiliki insting yang kuat dan bisa menilai dengan tepat, siapa seseorang yang memang layak atau tidak untuk dibantu.
Sementara itu, Kenzo yang memperhatikan interaksi keduanya dari arah sofa hanya terdiam seribu bahasa. Bukan hal yang mustahil baginya untuk bisa mendengar isi percakapan tersebut.
Meskipun Athena berbicara dengan suara yang teramat pelan dan jarak mereka cukup jauh, Kenzo tetap mampu menangkap setiap kata dengan sangat jelas berkat indra pendengarannya yang tajam di atas rata-rata manusia biasa.
‘Siapa kamu sebenarnya, Athena? Semua tentangmu dikunci terlalu rapat. Kau sungguh gadis misterius yang dipenuhi banyak teka-teki,’ batin Kenzo lekat, menatap sosok Athena dengan pandangan yang semakin dalam.
Cowok itu mulai menyadari dengan pasti bahwa ada banyak sekali hal besar yang sedang disembunyikan oleh gadisnya dari dunia luar.
...****************...
WELCOME TO MY 2ND BOOK! ✨
Mari kita temani Athena membalaskan dendamnya pada keluarga yang selalu menyiksanya.🔥
STAY TUNE TERUS SETIAP HARI YA GUYS! Karena bab baru akan selalu UP SETIAP PAGI DAN MALAM jam 07.00 dan 17.00 😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA. THANK YOU! 🥰
orng mh malu2 meong,ni mlah malu2 setan....🤣🤣🤣
mau blang dia bdoh,tp dia ky gt ada alasannya....tp mlai skrng,jgn jd pngmis lg y thea....luka saat ini jd luka trakhir untkmu,abs tu ksih mreka blsan yg stimpal.....gemes aku tuuhh....pgn nabok....😠😠😠😡
Aku udh mmpir,slm knal....
btw,mskpn aku udh prnh bca crta yg sma tp aku ttp bca ko....aku suka cwek kuat dn tgas,ga yg ratu drama ky yg onoh....😁😁😁....
Aku tnggu up'ny y....smngttt....