Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. ( Lain Di Mulut, Lain Di Hati )
Seperti orang kesetanan, Lucien memarkirkan mobil di halaman rumah sakit lalu berlari masuk ke dalam. Dengan nafas terengah-engah dia bertanya pada perawat.
"Gadis muda, hidungnya kecil mancung, matanya bulat dan wajahnya sangat menggemaskan. Di kamar mana dia dirawat?"
William yang baru saja kembali dari membeli air minum, terpaku heran mendengar kalimat barusan. Ini dia tidak salah dengar kan? Bosnya menggambarkan sosok Andrea sebagai gadis muda berhidung mancung, bermata bulat dan berwajah sangat menggemaskan? OMG, ternyata tiran jahat ini bisa punya pemikiran yang manis juga tentang seorang gadis.
"Pasien seorang gadis muda yang baru saja masuk sepertinya masih berada di UGD, Tuan," sahut perawat sambil tersenyum. Mungkin tergelitik mendengar gambaran ciri pasien yang disampaikan oleh tamu ini.
"Oke. Terima kasih," sahut Lucien. Dan ketika berbalik badan, dia dikejutkan oleh keberadaan William yang tengah menatapnya sambil tersenyum aneh. "Apa yang kau lakukan di situ? Tersenyum seperti orang gila. Tidak tahu apa kalau aku sedang panik!"
"Hehe, Anda sedang panik ya?"
"Memangnya apa kalau bukan panik?"
"Bukannya saat di perusahaan tadi Anda bilang tidak mengkhawatirkan Nona Andrea? Kenapa sekarang jadi panik?" ledek William dengan sengaja. Jackpot besar. Kapan lagi dia bisa punya kesempatan untuk membuat tiran jahat ini salah tingkah dan tak bisa berkutik.
Munafik. Julukan ini cocok sekali diberikan pada Lucien sekarang. Lain di mulut lain juga di hati. Kini dia tertangkap basah oleh bawahannya sedang menjilat air ludah sendiri. Berkata sombong seolah tak peduli, nyatanya kini Lucien menjadi orang yang paling panik setelah tahu kondisi Andrea.
"Tidak usah malu begitu, Tuan. Saya sangat memaklumi alasan Anda bersikap acuh pada Nona Andrea. Pasti ada hubungannya dengan pekerjaan 'kan?" tanya William menerka-nerka.
"Bicara apa kau ini? Aku tidak mengerti," elak Lucien gugup. Dia lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, kebiasaan yang selalu terjadi saat dirinya merasa salah tingkah.
"Owh, aku tidak bicara apa-apa. Ya sudah lebih baik sekarang kita temui Veroz saja. Siapa tahu Nona Andrea sudah sadar."
William tertawa keras dalam hati saat bosnya dengan patuh mengikutinya menuju ruang UGD. Andai tak takut dipecat dia pasti sudah menggodanya habis-habisan.
"Tuan?" sapa Veroz pelan. Dia segera mundur dan membiarkan bosnya duduk di sisi ranjang yang ditempati Nona Andrea. "Masih belum sadar. Dokter bilang Nona Andrea terkena anemia. Tekanan darahnya sangat rendah."
Lucien tertegun. Matanya menatap lekat wajah pucat Andrea yang seputih kertas. Bagaimana mungkin orang seaktif ini bisa mengidap anemia?
"Ponselnya tidak bisa dihubungi karena lupa dicas. Dan alasan kenapa Nona Andrea tidak masuk kantor karena semalaman begadang penuh. Akhirnya masuk angin dan pingsan sampai sekarang."
"Buang ponselnya."
"Kalau Nona Andrea marah?"
"Aku akan memasukkannya ke rumah sakit jiwa." Resah, Lucien menggenggam erat tangan Andrea yang dingin. "Dasar bodoh. Aku memberi ponsel bukan untuk membiarkanmu begadang, tapi agar mudah dihubungi. Bisa tidak sih kau berpikir dengan otak yang cerdas?"
Tahu kalau bosnya butuh ruang untuk mengeluarkan unek-unek, Veroz mengajak William pergi dari sana. Di sisi lain, dia agak terenyuh melihat bagaimana bosnya jatuh cinta pada orang yang tidak peka.
"Lebih baik aku dibuat jengkel setiap hari daripada harus melihatmu diam begini, An. Cepatlah sadar. Masih ada banyak hal yang harus kita perdebatkan," lirih Lucien sedih. Jujur, ini adalah pertama kali dalam hidupnya jantung berdetak tak beraturan. Tulang di kedua kakinya seperti melebur setelah diberitahu kalau gadis ini pingsan dan sedang dibawa menuju rumah sakit. "Sebenarnya aku ini kenapa. Apa gunanya aku bicara denganmu? Kau itu sangat merepotkan, Andrea. Tapi ... aku mulai terbiasa dengan kecerawetanmu. Harus bagaimana sekarang?"
Detik berganti menit hingga tak terasa satu jam sudah Lucien duduk menemani Andrea di UGD. Perih, hatinya seperti teriris melihat gadis yang beberapa minggu ini aktif berdebat dengannya terbaring tak sadarkan diri di brankar rumah sakit.
"Ughhhhhh," ....
Lenguhan lirih terdengar dari arah ranjang. Lucien yang kaget, reflek berdiri lalu memegang pipi Andrea dan mengusapnya pelan dengan ibu jari.
"Hei, mana yang sakit?"
"Pusing," lirih Andrea masih dengan kedua mata terpejam.
"Sebentar ya aku panggilkan dokter dulu."
Bersamaan dengan itu seorang dokter dan perawat masuk ke UGD. Secara naluriah, Lucien bergeser memberi ruang. Namun, dia hanya bergeser sejauh lima senti dari posisi awal. Hal ini membuat dokter menatapnya heran lalu tersenyum maklum.
"Dia tidak sakit parah 'kan?" tanya Lucien gelisah. Andrea belum sepenuhnya sadar. Matanya masih terpejam erat, hanya bibirnya tampak bergerak pelan.
"Maaf, apakah Anda keluarga dari Nona ini?" tanya dokter.
"Ya."
"Statusnya?"
"Apa harus punya status dulu untuk bisa mengakuinya sebagai keluarga?" protes Lucien jengkel. "Dokter macam apa kau ini. Bertanya sedetail itu tentang urusan pribadi. Tugasmu itu mengobati. Tahu?"
Veroz bergegas masuk saat mendengar ada kegaduhan. Bisa dipastikan penyebabnya pasti adalah bosnya yang berulah. Khawatir mengganggu tugas dokter, dengan sabar Veroz membujuk bosnya agar mau keluar terlebih dahulu.
"Orang medis apa tidak pernah diajarkan etika saat menimba ilmu dulu. Bisa-bisanya dia meragukan statusku. Heran!" omel Lucien sambil berkacak pinggang. Dia tak terima sekali saat statusnya sebagai keluarga Andrea dipertanyakan.
"Tuan, yang dilakukan dokter adalah prosedur keamanan dari pihak rumah sakit. Saat membawa Nona Andrea kemari, saya yang menjaminkan diri sebagai anggota keluarganya. Wajar jika dokter dan perawat di dalam merasa ragu kepada Anda. Itu bukan salah mereka, saya yang salah," ucap Veroz lapang dada mengakui jika dirinyalah yang bersalah. Jalan teraman agar emosi bosnya tidak semakin meledak.
"Beraninya kau mengklaim sebagai anggota keluarga Andrea. Kau sudah bosan hidup ya!"
Veroz tak menyahut. Percuma memberi penjelasan pada orang yang sedang mabuk cinta. Alasannya tidak akan pernah diterima, jadi lebih baik diam dan pasrah saja.
"Dengan keluarga Nona Andrea?" Seorang perawat keluar.
"Aku."
Cepat-cepat Lucien maju ke depan lalu berdiri di depan perawat. Dia tak akan memberikan celah pada Veroz untuk unjuk diri.
"Untuk beberapa hari ini kami sarankan Nona Andrea tetap dirawat di rumah sakit agar kondisi kesehatannya bisa terpantau dengan baik. Kondisinya sendiri sekarang masih lemah dan tekanan darahnya cukup rendah. Beberapa saat lagi kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat inap."
"Dia tidak mungkin mati karena tekanan darahnya rendah 'kan?" tanya Lucien dengan polosnya.
"Tentu saja tidak, Tuan. Masalah ini akan ditangani pihak rumah sakit secara berkala. Jadi Tuan tidak perlu cemas."
"Harus penanganan yang terbaik ya. Aku tidak peduli berapapun biayanya, yang penting dia tidak mati."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi,"
Perawat kembali masuk ke ruang UGD, meninggalkan Lucien yang masih harap-harap cemas di depan pintu.
"Tuan Lucien, neneknya Nona Andrea belum tahu kalau saya membawanya ke rumah sakit. Saya izin pergi sebentar untuk mengabari beliau," ucap Veroz yang baru teringat pada neneknya Nona Andrea.
"Pergilah."
William yang sejak tadi diam menjadi penonton, iseng hendak mengintip ke ruang UGD. Akan tetapi belum juga melihat isi di dalam sana, tubuhnya sudah melayang lebih dulu akibat dipanggul paksa oleh Veroz.
"Apa-apaan kau ini. Turunkan aku!" jerit William histeris.
"Kau ini kenapa suka sekali sih menantang maut. Buta ya disana ada Tuan Lucien? Kalau aku tidak memaksamu pergi, bisa-bisa kau mati di tangannya!" kesal Veroz tak habis pikir.
"Aku cuma ingin melihat kondisi Andrea saja, bukan ingin merebutnya."
"Itu menurut pikiranmu. Tetapi menurut akal pikiran Tuan Lucien, kau itu adalah bahaya yang harus segera disingkirkan. Masa begini saja kau tidak sadar?"
Perdebatan sengit antara Veroz dengan William terus terjadi sampai akhirnya mobil bergerak meninggalkan parkiran rumah sakit. Veroz yang dongkol mendengar ocehan William, mengancam akan membuangnya di pinggir jurang jika masih ingin mencari masalah dengan bosnya. Baru setelah ancaman tersebut dilontarkan perjalanan menjadi jauh lebih tenang.
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂