Satu bulan sebelum pernikahan, calon suami Lisa yang bernama Rafli, ketahuan berselingkuh dengan sepupunya sendiri, yaitu Mela.
Hal itu membuat Lisa menjadi sangat hancur. Saat ia dan ibunya mengadukannya kepada orang tua Mela, mereka malah membela Mela dan menyuruh Lisa untuk merelakan Rafli.
Orang tua Lisa yang selalu ditindas oleh orang tua Mela karena miskin, hanya bisa mengalah dan bersabar.
Namun, hal tak terduga terjadi. Mantan pacar Mela yang juga menjadi korban, Amar, mendatangi Lisa dan memintanya untuk menjadi pengantinnya agar membalas Rafli dan Mela atas apa yang mereka lakukan. Amar ingin menunjukkan bahwa ia dan Lisa bisa bangkit tanpa mereka.
Satu hal yang Lisa tahu menjadi penyebab Mela meninggalkan Amar adalah karena dia seorang yatim piatu dan seorang kuli bangunan.
Hingga suatu hari, saat mereka diusir dari kontrakan karena ulah Rafli dan Mela, seorang pria berjas dan bermobil mewah datang, lalu membungkuk memberi hormat pada Amar seraya berkata, "Tuan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan
Lisa berjalan dibawah guyuran air hujan karena ia tak ingin orang melihatnya menangis. Ia memutuskan pulang untuk jalan kaki sambil memikirkan bagaimana caranya menyampaikan berita buruk ini pada kedua orang tuanya.
"Aku nggak nyangka, ternyata Mela dan Mas Rafli bermain di belakang ku. Mereka tega sama aku. Padahal selama ini aku selalu nurut sama Mela meski dia sering nyuruh aku bersihin rumahnya."
Lisa kembali mengingat semua perlakuan Mela selama ini padanya. Mela sering sekali menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah dan memasak makanan yang ia inginkan. Meskipun begitu, Lisa tidak pernah sekalipun marah atau menolaknya. Ia melakukan semua itu karena rasa sayangnya pada sepupunya itu. Dan sekarang, ia dapat melihat bagaimana Mela membalas semua kebaikannya selama ini.
*****
"Assalamualaikum," ucap Lisa saat memasuki rumahnya yang kecil dan sederhana yang itupun mereka punya dari bantuan pemerintah dari hasil perbaikan rumah. Sedangkan rumah mereka yang dulu hanyalah rumah dengan dinding bambu dan atap Rumbia.
"Waalaikumsalam, Nduk, kok kamu basah-basahan," ucap seorang wanita separuh baya yang tak lain adalah ibu Lisa yang bernama Marni.
"Iya, Buk, tadi nggak ada angkutan umum," jawab Lisa berbohong.
Marni segera pergi ke ke belakang dan mengambil handuk untuk Lisa.
"Kamu habis darimana toh, Nduk, pergi nggak bilang-bilang Bapak sama Ibu?" tanya Marni sambil menyerahkan handuk pada Lisa untuk sekadar mengeringkan air di wajahnya.
"Tadi ada urusan penting, Buk." Lisa mengusap handuk ke wajahnya pelan. Tidak ada bekas make up di handuk tersebut karena Lisa memang tidak pernah menggunakannya. Hanya sebatas bedak dan lipgloss saja.
"Lho, Nduk, kamu kok hujan-hujanan, seperti anak-anak saja." Bapak Lisa yang bernama Hamid datang dari arah dapur. Sepertinya ia habis mandi dengan handuk yang masih berada di lehernya.
"Nggak ada angkutan umum, Pak," sahut Marni mewakili jawaban Lisa.
"Kamu itu kan sebentar lagi mau nikah. Jaga kesehatan, Nduk, jangan cari penyakit," sambung Hamid.
Lisa hanya bisa berpura-pura tersenyum dan mengangguk meski sejujurnya, saat ini hatinya sangatlah sakit.
"Ya sudah, kamu langsung mandi, Ibu udah masak makanan kesukaan kamu, nanti kita makan sama-sama, ya," ujar Marni.
"Iya, Buk." Lisa mengangguk lalu pergi ke kamar mandi.
Setelah membersihkan dirinya, ia pun bergegas ganti baju dan ikut makan dengan kedua orang tuanya.
"Buk, tadi Bapak ketemu sama Pak RT. Katanya beliau yang akan menjadi saksi di pernikahan Lisa nanti," ucap Hamid.
Lisa yang mendengarkan, langsung menghentikan aktivitas makannya.
"Hah? Beneran, Pak? Alhamdulillah," sahut Marni.
"Iya, Buk, katanya dia juga akan membantu menyumbang tenda dan peralatan makan miliknya kepada kita sebagai hadiah."
"Wah, Alhamdulillah, Pak, artinya kita nggak usah mikirin masalah itu lagi ya."
"Iya, Buk, katanya karena Lisa itu baik banget sering bantu-bantu warga kalau ada acara hajatan di rumah. Bapak bangga sama Lisa." Hamid mengusap kepala Lisa
Lisa hanya diam saja. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya saat ini.
"Ibuk tau nggak? Pak Lurah juga mau nyumbang lagu di acara kita. Padahal dia jarang-jarang mau nyanyi di hajatan orang. Bapak nggak sabar nunggu hari H nya."
"Wah, pasti nanti ramai, ya, Pak. Ibu juga nggak sabar, Pak."
"Oh ya, Nduk, gimana soal undangannya di percetakan Pak Anto? Katanya kamu mau pesan besok bersama Nak Rafli?" tanya Marni.
Bukannya menjawab, Lisa malah menangis. Ia tak bisa lagi menahan kesedihannya setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya.
"Nduk, kamu kenapa?" tanya Marni dan Hamid dengan panik.
"Bapak, Ibuk, maafin Lisaaaaa." Lisa menghambur di pelukan ibunya.
"Ada apa, Nduk? Kamu kenapa?" Marni semakin terlihat khawatir.
"Sebenarnya aku dan Mas Rafli tadi udah putus." Tangisan Lisa semakin pecah. Untungnya suara hujan berhasil meredam suaranya hingga tak terdengar ke rumah tetangga.
"Putus kenapa, Nduk? Kalau karena selisih paham, itu wajar, masih bisa diperbaiki." Hamid menimpali.
"Bukan itu, Pak, Mas Rafli ketahuan selingkuh dengan Mela!"
"Apa?!"
agar kita jgan mempunyai sifat iri dan dengki yg hanya akan membuat kesengsaraan buat kita sendiri.