"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama di Kandang Macan
Suasana di dalam apartemen mewah Elena mendadak riuh rendah ketika jam dinding baru saja melewati angka sebelas malam. Pintu depan apartemen terbuka dengan ketukan ritmis yang sudah sangat dihafal oleh Elena. Sosok bocah kecil dengan piama merah muda kedodoran dan rambut yang sedikit berantakan melangkah masuk dengan santai.
"Leon!" Elena yang sejak tadi tidak bisa duduk tenang langsung berlari dan berlutut, memeluk putra laki-lakinya itu dengan sangat erat. "Astaga, kamu membuat Mama jantungan! Bagaimana bisa kamu kabur dari rumah besar itu sendirian?"
Leon melepaskan pelukan mamanya perlahan, lalu mendengus bangga sambil membetulkan letak topi hitam yang kini sudah kembali ke kepalanya. "Mudah saja, Ma. Sistem keamanan gerbang belakang rumah itu menggunakan enkripsi usang. Aku hanya perlu mematikan dayanya selama tiga puluh detik untuk keluar. Lagipula, pria tua itu sudah tahu."
Elena tersentak, menatap Leon dengan mata membelalak. "Arthur... sudah tahu kalau kalian kembar?"
Sebelum Leon menjawab, sebuah kepala kecil menyembul dari balik selimut di sofa. Lia, yang sudah berganti pakaian dengan baju santai milik Leon, berlari menghampiri kembarannya. Kedua bocah itu berdiri berdampingan, saling memandang seolah sedang berkaca.
"Leon! Kamu hebat sekali bisa lolos!" seru Lia dengan mata berbinar kagum.
"Tentu saja. Tapi rumah pria tua itu sangat membosankan, Lia. Banyak hiasan kuno dan kamarmu terlalu banyak warna merah muda, membuat mataku sakit," keluh Leon dengan gaya dewasanya yang khas.
Elena yang melihat kedua buah hatinya akhirnya berkumpul di depan matanya merasa separuh jiwanya yang hilang telah kembali. Namun, kalimat Leon tentang Arthur yang sudah mengetahui rahasia mereka membuat dadanya kembali berdegup kencang. Jika Arthur sudah tahu, maka pria itu tidak akan tinggal diam. Besok pagi di kantor pusat Grup Arkananta akan menjadi medan perang yang sesungguhnya.
"Mama," Leon menarik ujung blazer Elena, membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. "Aku sudah mengunduh seluruh data keuangan rahasia dari laptop kerja pria tua itu ke dalam flashdisk ini sebelum aku pergi. Jika dia mencoba mengancam Mama besok, gunakan ini untuk membuatnya berlutut."
Elena menerima flashdisk hitam kecil itu dari tangan Leon. Sepasang mata cokelatnya berkilat tajam. Ketakutan yang sempat hinggap di hatinya kini menguap, digantikan oleh tekad yang membara. "Terima kasih, Leon. Sekarang, kalian berdua harus tidur. Besok, permainan yang sebenarnya baru akan dimulai."
Keesokan paginya, sinar matahari Jakarta yang terik menyinari fasad kaca gedung pencakar langit Grup Arkananta. Atmosfer di lobi utama terasa berbeda dari biasanya. Para karyawan tampak berbisik-bisik, sementara beberapa petugas keamanan berjaga dengan posisi lebih siaga di dekat lift khusus eksekutif.
Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak berhenti di depan lobi. Pintu belakang terbuka, dan Elena melangkah keluar dengan keanggunan yang mutlak. Hari ini, dia mengenakan setelan celana dan blazer formal berwarna putih gading, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna senada. Rambutnya disanggul rapi di belakang kepala, menampilkan leher jenjangnya yang indah dan anting berlian yang berkilau.
Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas abu-abu formal yang membawa tas kerja kulit tebal. Pria itu adalah pengacara internasional ternama yang sengaja disewa Elena dari Swiss untuk melindunginya.
Elena berjalan melewati lobi dengan dagu terangkat. Setiap langkah kakinya memancarkan aura dominasi yang kuat. Ketika dia memasuki lift khusus eksekutif menuju lantai tiga puluh, tidak ada satu pun orang yang berani menyapanya, melainkan hanya menatap dengan pandangan penuh rasa segan dan penasaran.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai tertinggi. Asisten pribadi Arthur, Evan, sudah berdiri menunggu dengan wajah yang tampak sangat pucat dan tegang.
"Selamat pagi, Nona Vance," sapa Evan dengan suara yang sedikit bergetar, membungkuk hormat. "Tuan Besar sudah menunggu Anda di ruang kerja pribadinya. Beliau meminta Anda langsung menemuinya sebelum meninjau area proyek."
Elena tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat Evan semakin berkeringat dingin. "Tentu. Mari kita temui CEO Anda."
Elena melangkah menuju pintu jati besar di ujung koridor. Tanpa mengetuk, dia mendorong pintu tersebut terbuka lebar, membiarkan suara ketukan sepatu hak tingginya memecah keheningan ruangan yang luas itu.
Di dalam ruangan, Arthur Arkananta berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota Jakarta dari balik dinding kaca besar. Setelan jasnya tampak sempurna, namun aura yang dipancarkannya begitu pekat dan berbahaya. Mendengar suara pintu terbuka, Arthur perlahan berbalik.
Sepasang mata elang Arthur tampak memerah, dikelilingi lingkaran hitam tipis pertanda pria itu tidak tidur selangkah pun semalam. Tatapannya langsung terkunci pada sosok Elena. Ada kemarahan yang tertahan, kerinduan yang mendalam, sekaligus rasa dikhianati yang campur aduk di dalam bola mata gelapnya.
"Kalian semua, keluar," perintah Arthur dengan suara rendah namun sarat akan penekanan yang mutlak, menatap Evan dan pengacara yang berdiri di belakang Elena.
"Maaf, Tuan Arkananta, saya di sini sebagai penasihat hukum Nona Eleanor Vance untuk memastikan—" pengacara itu mencoba berbicara, namun Elena mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan sang pengacara.
"Tidak apa-apa, Brandon. Kamu dan Evan bisa menunggu di luar. Saya bisa menangani Tuan CEO ini sendirian," ucap Elena dengan nada santai, seolah dia tidak sedang berada di dalam ruangan bersama seorang pria yang bisa menghancurkan bisnis apa pun di negara ini dengan satu jentikan jari.
Setelah pintu ruang kerja tertutup rapat, menyisakan mereka berdua dalam kesunyian yang mencekam, Arthur melangkah maju. Setiap langkah kakinya terasa berat dan mengancam, hingga dia berhenti tepat satu meter di depan Elena.
"Di mana putraku, Elena?" tanya Arthur langsung pada inti masalah. Suaranya serak, bergetar menahan gejolak emosi yang hampir pecah. "Di mana anak laki-laki yang kamu sembunyikan dariku selama lima tahun ini?!"
Elena tidak mundur satu sentimeter pun. Dia justru mendongak, menatap lurus ke dalam mata Arthur dengan binar mata yang penuh ejekan. "Putra Anda? Maaf, Tuan Arkananta, sejak kapan Anda memiliki seorang putra? Seingat saya, Anda hanya memiliki seorang putri bernama Lia yang Anda rebut paksa dari tangan saya lima tahun lalu."
"Elena!!" Arthur mengerang frustrasi, mencengkeram kedua bahu Elena dengan erat, memaksa wanita itu untuk merasakan kedalaman penyesalannya. "Jangan mengujiku! Aku sudah tahu semuanya! Laporan medis dari Milan, aksi Leon yang menyamar sebagai Lia di rumahku semalam... anak itu adalah cetakan sempurnaku! Kenapa kamu begitu kejam menyembunyikannya dariku?!"
Elena menyentak tangan Arthur dari bahunya dengan kasar. Wajahnya yang semula tenang kini berubah menjadi ekspresi penuh amarah dan luka masa lalu yang membara.
"Aku yang kejam?!" Elena tertawa histeris, setitik air mata kemarahan menggenang di sudut matanya namun langsung dia usap dengan cepat. "Arthur, buka matamu luas-luas! Siapa yang sebenarnya kejam di sini? Siapa yang membiarkan istrinya yang sedang hamil besar diusir di tengah badai hujan karena memercayai fitnah busuk ibumu? Siapa yang membiarkan aku hampir mati membeku di jalanan?! Jika bukan karena kebaikan orang lain, Leon tidak akan pernah lahir ke dunia ini! Kamu tidak berhak menyebut dirimu sebagai ayahnya!"
Arthur membeku, kata-kata Elena bagai belati yang menghujam tepat ke jantungnya, mencabik-cabik seluruh harga dirinya sebagai seorang pria. Dia melihat air mata di mata wanita yang dicintainya, dan rasa bersalah itu kembali menyiksanya dengan hebat.
"Aku tahu aku bersalah, Elena... aku tahu," bisik Arthur lirih, matanya ikut memerah menahan tangis. Dia mencoba meraih tangan Elena kembali, namun wanita itu melangkah mundur, mengambil sebuah flashdisk hitam dari dalam tas mewahnya dan melemparkannya ke atas meja kerja Arthur dengan bunyi berdenting yang tajam.
"Jangan mendekat, Arthur," ancam Elena, suaranya kembali dingin dan datar, membuat jarak yang teramat jauh di antara mereka. "Di dalam flashdisk itu ada seluruh data manipulasi pajak dan aliran dana gelap yang dilakukan oleh ibu tirimu melalui perusahaan cangkang milik Grup Arkananta selama lima tahun terakhir. Leon yang mengambilnya semalam."
Arthur tersentak, menatap flashdisk itu dengan rasa tidak percaya.
"Jika kamu mencoba menggunakan kekuasaanmu untuk merebut Leon dariku, atau jika kamu mencoba menghalangiku untuk membawa Lia pergi dari rumah ini, aku bersumpah data itu akan berada di meja kejaksaan agung dalam waktu lima menit," ucap Elena dengan senyuman kemenangan yang dingin. "Sekarang, pilihan ada di tanganmu, Tuan CEO. Apakah kamu mau bekerja sama secara profesional sebagai mitra bisnis, atau kita hancur bersama-sama?"
Arthur menatap flashdisk itu, lalu kembali menatap Elena yang berdiri dengan angkuh di hadapannya. Alih-alih marah karena diancam, sudut bibir Arthur perlahan terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang penuh teka-teki. Binar matanya yang semula penuh keputusasaan kini berubah menjadi tatapan berburu yang tajam.
"Kamu benar-benar sudah berubah, Elena. Dan jujur saja, aku semakin menyukai dirimu yang sekarang," bisik Arthur dengan suara rendah yang seksi, melangkah mendekat hingga mengikis jarak di antara mereka kembali. "Aku menerima tantanganmu. Mari kita mulai permainan ini. Tapi ingat satu hal... aku tidak akan pernah melepaskanmu ataupun kedua anak kita lagi."