Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Proses perceraian ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang Nadia bayangkan. Bukan hanya karena harus bolak-balik menghadiri persidangan, tetapi juga karena setiap sidang memaksanya kembali membuka luka yang belum sempat sembuh. Di hadapan majelis hakim, ia harus menceritakan bagaimana rumah tangganya hancur, bagaimana Reno mengkhianati kepercayaannya, hingga bagaimana ia memilih pergi demi mempertahankan harga dirinya.
Sidang demi sidang berganti. Agenda mediasi tidak membuahkan hasil. Reno tetap bersikeras tidak merasa bersalah. Menurutnya, ia hanya ingin bertanggung jawab kepada perempuan yang sedang mengandung anaknya. Bahkan di hadapan mediator, Reno masih beberapa kali berusaha meyakinkan Nadia agar mencabut gugatan dan menerima Karin sebagai istri kedua.
"Tidak akan pernah," jawab Nadia setiap kali Reno mengulang permintaannya. Baginya, rumah tangga yang dibangun di atas kebohongan tidak lagi layak dipertahankan.
Di luar ruang sidang, Reno juga tidak berhenti memberikan tekanan. Sesekali ia mengirim pesan yang meremehkan kemampuan Nadia mencari nafkah. Di lain waktu, ia mengungkit soal hak asuh Kian, berharap Nadia takut lalu mengalah. Namun yang tidak diketahui Reno, setiap ancaman itu justru membuat tekad Nadia semakin kuat.
***
Sementara itu, kehidupan harus terus berjalan. Pagi hari Nadia mengantar Kian ke sekolah. Sepulangnya, ia langsung duduk di depan mesin jahit, menyelesaikan pesanan pelanggan hingga larut malam.
Jika jadwal sidang tiba, ia meminta izin kepada pelanggan dan berangkat ke pengadilan dengan membawa map berisi dokumen. Selesai sidang, ia kembali menjahit seolah tidak ada waktu untuk larut dalam kesedihan.
Tubuhnya memang lelah. Pikirannya sering kali dipenuhi kecemasan. Tetapi setiap kali melihat Kian belajar atau tertidur dengan tenang, Nadia selalu menemukan alasan untuk bertahan. Ia sadar, perceraian bukanlah akhir dari perjuangannya. Justru setelah palu hakim mengetuk meja nanti, perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Karena setelah statusnya berubah menjadi seorang janda, tidak akan ada lagi tempat bergantung selain pada dirinya sendiri.
Nadia telah berjanji, apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah kembali kepada laki-laki yang pernah mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan mengemis untuk kembali.
***
Sidang hari itu baru saja selesai. Nadia melangkah keluar dari gedung pengadilan sambil menggenggam map berisi berkas-berkas persidangan. Ia berjalan menuju halte kecil di depan kompleks pengadilan. Beberapa menit lagi, angkot yang biasa ia tumpangi akan melintas.
Sejak mengembalikan mobil kepada Reno, angkot menjadi satu-satunya moda transportasi yang mampu ia jangkau. Sesekali ia memesan ojek daring jika benar-benar terburu-buru, tetapi lebih sering ia memilih menghemat setiap rupiah yang dimilikinya.
Uang hasil penjualan maharnya bukan untuk dihabiskan. Uang itu adalah napas bagi dirinya dan Kian sampai usaha jahitnya benar-benar berjalan. Saat Nadia sedang berdiri menunggu angkot, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu perlahan turun. Reno. Masih dengan senyum meremehkan yang sama.
"Wah..." ujarnya sambil melihat ke arah halte. "Sekarang ke mana-mana naik angkot?" Nadia menoleh sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke jalan raya. "Kasihan juga." Tidak ada jawaban. Reno justru turun dari mobil dan bersandar di pintunya. "Gimana?" tanyanya sambil menyilangkan tangan di dada. "Sudah menyesal belum?" Nadia tetap diam. "Aku sih dari dulu sudah bilang." Reno tersenyum tipis. "Hidup itu nggak cukup modal gengsi." Ia melangkah sedikit lebih dekat. "Uangmu masih aman?" Nadia menatapnya datar. "Aku penasaran." Reno terkekeh kecil. "Tabunganmu tinggal berapa sekarang?" Keheningan kembali menyelimuti mereka. "Cukup nggak buat sebulan ini?"
Nadia mengembuskan napas pelan. Ia sadar, Reno sengaja memancing emosinya. Kalau dulu, mungkin ia sudah menangis mendengar kalimat-kalimat itu. Namun hari ini, entah mengapa, ia justru merasa kasihan. Kasihan kepada laki-laki yang mengukur kemenangan dari banyaknya harta yang dimiliki. Nadia tersenyum tipis. "Rezekiku nggak perlu kamu hitung." Reno mengangkat sebelah alisnya. "Yang jelas," lanjut Nadia tenang, "meski aku naik angkot, aku masih bisa tidur nyenyak."
"Maksudnya?"
"Aku nggak perlu berbohong kepada siapa pun sebelum memejamkan mata." Senyum Reno perlahan memudar. Nadia melanjutkan, "Kalau suatu hari nanti aku benar-benar kehabisan uang, aku masih bisa bekerja." Tatapannya lurus menembus mata Reno. "Tapi kalau seseorang sudah kehabisan rasa malu, aku nggak tahu harus mencarinya di mana."
Wajah Reno langsung mengeras. Tepat saat itu, sebuah angkot berhenti di depan halte. Nadia melangkah masuk tanpa menoleh lagi. Ia membayar ongkos, lalu duduk di dekat jendela. Dari balik kaca, ia melihat Reno masih berdiri di samping mobilnya dengan rahang mengeras. Untuk pertama kalinya, Nadia tidak lagi merasa rendah karena naik angkot. Justru di dalam angkot sederhana itu, ia merasa jauh lebih merdeka daripada saat duduk di kursi penumpang mobil mewah yang dikemudikan seorang suami yang telah mengkhianatinya.
Nadia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak meninggalkan pengadilan, sebuah mobil hitam terus mengikuti angkot yang ditumpanginya. Reno sengaja menjaga jarak. Ia ingin tahu, setelah keluar dari rumahnya, di mana sebenarnya Nadia tinggal bersama Kian.
Angkot berhenti di depan sebuah gang kecil. Nadia turun sambil membawa map berisi berkas persidangan. Ia berjalan menyusuri gang sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil. Di kanan kirinya berdiri rumah-rumah sederhana yang saling berdempetan.
Beberapa menit kemudian, Nadia berhenti di depan sebuah rumah kontrakan bercat krem yang catnya mulai mengelupas. Ia baru saja hendak membuka pagar kecil ketika suara pintu mobil dibanting terdengar dari belakang.
"Nadia!"
Nadia menoleh.Wajahnya langsung menegang saat melihat Reno berjalan cepat menghampirinya. "Kamu ngapain ke sini?"
Reno melirik rumah kontrakan itu dari atas sampai bawah. Tatapannya penuh ejekan. "Jadi..." katanya sambil terkekeh pelan. "Ke gubuk ini kamu bawa anakku?"
Nadia mengepalkan tangan. "Jaga ucapanmu."
"Gubuk ya tetap gubuk." Reno menggeleng sambil mencibir. "Aku benar-benar nggak nyangka kamu tega."
Nadia berdiri di depan pagar, seolah menjadi benteng agar Reno tidak masuk lebih jauh. "Apa maumu?"
"Aku cuma kasihan sama Kian." Reno menunjuk rumah kontrakan itu. "Kian itu dari kecil biasa hidup enak. Kamar ber-AC, rumah besar, diantar mobil ke sekolah." Tatapannya kembali kepada Nadia. "Sekarang apa?" Ia tertawa kecil. "Tinggal di tempat sempit begini. Nadia..." Reno menggeleng pelan. "Kamu nggak kasihan sama anakmu?"
Nadia menarik napas panjang. "Yang bikin hidup Kian berubah bukan aku."
"Oh ya?"
"Kalau kamu tidak berselingkuh, Kian masih punya keluarga yang utuh."
Reno mendecak. "Kamu ini keras kepala. Kalau bukan karena ego kamu, Kian nggak akan tinggal di sini."
Nadia menggeleng pelan. "Bukan egoku."
"Lalu apa?"
"Harga diriku."
Reno mendengus. "Tolonglah, Nad." Ia melangkah mendekat. "Atau sebenarnya kamu begini karena terlalu cinta sama aku?" Nadia mengernyit. "Aku tahu kamu cemburu." Senyum Reno penuh rasa percaya diri. "Kamu nggak sanggup berbagi."