Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahta Kepalsuan yang Hancur
Pagi itu, ruang kerja utama Mahendra Capital dilingkupi keheningan yang mencekam. Bara Mahendra duduk di balik meja kaca besarnya dengan rahang yang mengeras kaku. Di depannya, Rian berdiri tegak dengan tatapan mata yang teramat serius. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rian meletakkan sebuah tablet digital di atas meja, lalu menekan tombol play pada folder fail enkripsi rahasia yang baru saja ia unduh dari kamera pengawas portabel semalam.
Layar tablet itu seketika menampilkan rekaman video sudut lebar dengan resolusi tinggi. Di sana, di dalam sudut mati koridor belakang penthouse, terpampang nyata adegan kekejaman yang dilakukan Olivia Wijaya. Bara membelalakkan matanya saat melihat Olivia melayangkan tamparan keras ke pipi Senja hingga tubuh mungil istrinya terbentur rak besi.
Namun, gelombang amarah yang sesungguhnya baru meledak di dalam dada Bara saat interkom audio merekam suara desisan ancaman pembunuhan terhadap Darma Amartya, disusul adegan di mana ujung sepatu hak tinggi Olivia menginjak dan memutar paksa punggung tangan Senja yang terluka dan sedang berlutut di atas lantai hingga kembali berdarah menodai kain kasa yang membalut nya.
Brak!
Bara memukul meja kerjanya dengan hantaman tinju yang begitu keras, membuat cangkir kopi di sampingnya terguling dan pecah berkeping-keping. Napas pria tegap itu memburu hebat, matanya memerah sempurna memancarkan kilatan amarah predator yang sangat mengerikan. Seluruh tubuhnya gemetar bukan lagi karena salah tingkah, melainkan karena rasa murka yang tak terbendung melihat wanita yang diam-diam telah ia cintai disiksa dan diancam secara tidak manusiawi di bawah atap rumahnya sendiri.
"Siapkan mobil, Rian," desis Bara, suaranya merendah namun sarat akan gemuruh badai maut.
"Kita ke kantor Wijaya Perkasa sekarang juga."
______________________________________________
Gedung pencakar langit milik keluarga Wijaya siang itu mendadak gempar. Tanpa memedulikan protokol keamanan atau janji temu formal, Bara Mahendra menerobos masuk melewati barisan resepsionis dan sekretaris dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Ia mendorong pintu ruang kerja direktur interior dengan sentakan kasar, membuat engsel kayu itu berdentum nyaring menghantam dinding.
Di dalam ruangan mewah itu, Olivia Wijaya yang sedang memeriksa sketsa desain seketika tersentak kaget. Wajah cantiknya langsung memancarkan binar kegembiraan yang dibuat-buat saat melihat kedatangan Bara.
"Bara? Ada apa? Kenapa kamu mendadak ke kantor—"
Kalimat Olivia terputus di tenggorokan saat Bara melemparkan tablet digital milik Rian tepat ke atas meja kerjanya dengan benturan yang kuat. Layar tablet itu masih memutar video penganiayaan di koridor belakang dalam mode berulang (loop).
"Lihat itu, Olivia Wijaya," ucap Bara, suaranya sedingin es, menatap Olivia dengan mata elang yang siap menguliti jiwanya.
"Jelaskan padaku, bagian mana dari rekaman ini yang kau sebut sebagai kecerobohan jatuh dari rak besi?"
Melihat kedok kebusukannya terpampang nyata secara digital, seluruh warna di wajah Olivia lenyap seketika dalam sekejap. Tubuhnya mendadak gemetar hebat, dan tablet di tangannya nyaris terlepas.
"Bara... ini... ini tidak seperti yang kamu lihat! Perempuan sialan itu yang memancing amarahku lebih dulu! Dia kurang ajar padaku!"
Olivia langsung berlari mengitari meja, mencoba meraih lengan kekar Bara dengan pandangan memohon yang sangat panik. Air mata kepalsuannya mulai tumpah membasahi pipi.
"Bara, aku mohon dengarkan aku dulu! Aku melakukan semua ini karena aku terlalu mencintai kamu! Aku tidak tahan melihat perempuan itu terus-menerus menggodamu dan membuatmu salah tingkah! Aku hanya ingin melindungimu, Bara! Tolong mengerti perasaanku!"
"Cukup, Olivia!" bentak Bara, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga membuat kaca-kaca jendela bergetar. Ia menyentakkan lengannya dengan kasar, membuat tubuh Olivia terhuyung mundur hingga menabrak kursi.
"Jangan pernah berani menyebut namamu bersanding dengan kata cinta! Kamu bukan mencintaiku, kamu hanya sesosok monster munafik yang telah berani menyentuh milikku yang paling berharga di rumahku sendiri!"
Amarah Bara telah mencapai puncaknya, meruntuhkan seluruh sisa benteng kegengsiannya. Di depan wanita selingkuhannya itu, ia menegaskan status Senja dengan mutlak.
"Dengar baik-baik, Olivia," desis Bara tepat di depan wajah wanita yang kian pucat itu.
"Mulai detik ini, hubungan kerja sama saham antara Mahendra Capital dan Wijaya Perkasa kuputuskan secara sepihak tanpa ada kompromi sepeser pun. Aku akan menarik seluruh alokasi dana investasiku dan memastikan nama perusahaan keluargamu masuk ke dalam daftar hitam bursa efek besok pagi!"
Bara mundur satu langkah, menunjuk ke arah pintu dengan jari telunjuknya yang gemetar menahan emosi.
"Dan satu hal lagi... sore ini juga, seret seluruh barang-barang busukmu keluar dari rumahku. Jika aku masih melihat bayangan tubuhmu atau orang-orang suruhanmu berani mendekati Senja atau rumah tahanan Darma Amartya seujung kuku pun... aku sendiri yang akan memastikan kamu dan ayahmu membusuk di dalam sel penjara atas tuduhan penganiayaan berat dan ancaman pembunuhan!"
Tanpa menunggu balasan atau ratapan histeris dari Olivia yang kini luruh ke lantai dengan tangis penyesalan yang terlambat, Bara membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan tegas, meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi oleh kehancuran dari takhta kepalsuan Olivia.
Tepat setelah kepergian Bara, pintu penghubung ruang komisaris utama terbuka dengan sentakan yang tak kalah keras. Pak Hendra Wijaya, sang pemilik takhta Wijaya Perkasa sekaligus ayah kandung Olivia, melangkah masuk dengan wajah yang sudah memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Pria paruh baya itu ternyata telah berdiri di balik pintu sejak awal, mendengar setiap untaian kalimat pemutusan hubungan bisnis dan ancaman kehancuran finansial dari Bara Mahendra.
Plak!
Sebuah tamparan yang jauh lebih keras dari yang pernah Olivia layangkan pada Senja kini mendarat telak di pipi mulus putri tunggalnya sendiri. Sentakan itu membuat tubuh Olivia tersungkur di atas karpet ruang kerja dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
"Anak bodoh tidak tahu diri!" bentak Pak Wijaya, suaranya bergetar hebat menahan murka yang mendidih.
"Apa yang telah kamu lakukan, Olivia?! Kamu menghancurkan kerja sama miliaran rupiah yang telah Papa bangun selama belasan tahun hanya karena obsesi gilamu pada pria itu?!"
Olivia memegang pipinya yang terasa panas, menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya bercampur rasa takut yang luar biasa.
"Papa... Bara yang keterlaluan... dia membela perempuan itu—"
"Diam kamu!" potong Pak Wijaya kejam, menunjuk wajah putrinya dengan telunjuk yang gemetar karena frustrasi melihat kehancuran bursa efek perusahaannya besok pagi.
"Bara Mahendra bukan pria amatir yang bisa kamu setir dengan air mata buaya mu! Kamu menyiksa istrinya di rumahnya sendiri, di bawah atap kekuasaannya, dan kamu pikir dia akan tinggal diam?! Kamu bertindak bodoh tanpa pernah memikirkan akibat jangka panjang bagi masa depan keluarga kita!"
Pak Wijaya memalingkan wajahnya dengan napas yang memburu, meremas rambutnya yang mulai memutih.
"Sore ini juga, lakukan apa yang Bara katakan! Seret semua barang-barangmu keluar dari apartemen itu dan jangan pernah berani memunculkan wajahmu di depan media atau di dekat keluarga Amartya lagi! Jika Mahendra Capital benar-benar menarik seluruh sahamnya esok hari... aku sendiri yang akan memastikan namamu dihapus dari daftar ahli waris Wijaya Perkasa!"
Di atas lantai ruang kerja yang mewah namun terasa gersang itu, Olivia Wijaya hanya bisa menangis tergugu dengan tubuh yang gemetar hebat akibat syok yang bertubi-tubi. Keangkuhan, kekejaman, dan ancaman maut yang ia gunakan untuk menginjak-injak harga diri Senja Amartya kemarin sore, kini telah berbalik arah menjadi badai kehancuran yang meruntuhkan seluruh hidupnya, takhta, dan masa depannya sendiri dalam semalam. Karma telah menuntut bayarannya yang kontan, meninggalkan dirinya dalam jurang keputusasaan yang tak lagi memiliki jalan keluar.
Bersambung