Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Hari-hari telah berlalu dengan beban yang terasa kian berat, hari mereka dipenuhi kesedihan yang menyesali jiwa, hujan terus turun seakan menangis menemani harapan seseorang. Semesta saja ikut merasakan kesedihan, mengasihani jiwa yang tak kenal lelah berusaha demi meraih kebahagiaan.
Sudah satu minggu, permata keluarga mereka, belum juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Harapan itu bergerak perlahan, meski sangat lambat. Valeska, sedang melawan penyakit yang merenggutnya, ingin kembali berkumpul dengan orang-orang yang mencintainya.
Keputusan keluarga dan tim medis untuk terus berjuang mempertahankan hidupnya mulai mengembalikan secercah harapan. Di ruang ICU yang penuh kesunyian ini, Valeska hanya membuka matanya sekali dalam satu minggu, kemudian ia kembali terjatuh dalam kegelapan. Namun hari ini, tepat pukul 08:30, di hadapan dokter Rijal, mata Valeska perlahan terbuka lagi. Meski demikian, gadis itu tetap terdiam, tak ada niat untuk mengucapkan sepatah kata. Tatapannya kosong, dan hanya suara erangan kecil yang terdengar saat rasa sakit datang di beberapa titik tubuhnya.
Selama satu minggu ini, dokter Rijal dan dokter Fahru bergantian menjaga Valeska dengan penuh kesabaran. Mereka menunggu, menaruh harapan, meskipun kesadaran pasiennya terbilang sangat sulit dicapai.
Detak jantung Valeska belum stabil, dan ia masih memerlukan observasi lebih lanjut. Lima menit kemudian, dokter Fahru datang, tersenyum lembut saat melihat Valeska membuka matanya. Meski belum ada yang bisa dianggap sepenuhnya positif, keduanya bersyukur karena Tuhan memberikan izin untuk Valeska merasakan secercah kebahagiaan, meski hanya dalam bentuk detik-detik harapan yang tipis.
Dokter Fahru duduk di samping brankar, menyentuh tangan Valeska dengan lembut. Matanya melirik tubuh gadis itu, semakin terlihat kurus, bahkan tulang-tulangnya menonjol. Jari-jemarinya bergerak perlahan, seakan memberi isyarat bahwa ia ingin merasakan sentuhan lebih dekat. Tanpa ragu, dokter Fahru meraih tangan kanannya, sementara dokter Rijal menggenggam tangan kiri Valeska.
"Terima kasih karena terus berjuang," ucap dokter Fahru dengan suara lembut, seolah menyemangati meski harapan tak selalu terang.
Di ruang ICU yang penuh bau antiseptik, Valeska hanya terdiam, matanya kosong, menatap langit-langit rumah sakit yang seakan tak memberi jawaban atas harapan yang sudah lama terpendam. Tanpa bisa berbicara, ia mengangkat tangannya yang lemah, mengusap dadanya yang terbuka untuk merasakan keberadaan alat medis di tubuhnya.
Nafasnya terengah-engah, seakan ia sadar bahwa sebagian organ tubuhnya telah rusak. Dengan penuh kasih, dokter Rijal menyingkirkan sebagian rambut yang menutupi wajah Valeska, mengingatkan dirinya akan masa lalu yang penuh keceriaan pada gadis itu. Pipinya kini tak lagi tembem, kurus, beda seperti dulu waktu Valeska sering bermain dengan putrinya yang bernama Prisha.
Semua ini adalah akibat dari penyakit yang datang tanpa diduga. Dokter Fahru bangkit dan mencoba mengalihkan pandangan Valeska dengan melambaikan tangan di depan wajahnya.
"Lihat sini, dek," ujarnya pelan, berharap bisa membuat mata Valeska berpindah arah.
Namun, Valeska tetap diam, matanya tertuju kosong ke atas. Dokter pun menghela napas panjang, lalu menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut tebal.
"Dok, apakah kita harus memanggil keluarganya?" tanya dokter Fahru pelan.
"Mungkin Valeska ingin bertemu mereka."
Dokter Rijal memandang dengan bijak. "Jangan dulu. Biarkan dia beradaptasi dengan kondisinya yang sekarang. Wajar jika dia masih merasa bingung, karena ini efek dari koma yang lumayan lama."
Tiba-tiba, Valeska mengedipkan mata, dan tubuhnya mulai bergerak meski rada kesulitan. Dalam kekosongan matanya, ia mencari sesuatu, atau seseorang.
"Dokter ..." suara itu hampir tak terdengar.
Valeska berusaha mengangkat kepala, napasnya tersengal, membuat dokter segera bertindak. Sesaat, keluarga yang mengamati dari luar ruangan mulai merasakan perubahan yang signifikan saat mereka melihat kedua dokter bergerak cepat untuk menangani permata mereka.
Ketegangan terasa ketika tubuh Valeska kembali membungkuk, mencari udara yang semakin menipis. Kepalanya terasa sangat sakit, seolah ada yang menghancurkannya dari dalam.
"Sakit ..." suaranya nyaris tak terdengar, namun erangan itu cukup jelas bagi yang mendengar.
Dokter Fahru berusaha menenangkan, mengelus pelan kepala Valeska, sementara dokter Rijal menambahkan oksigen dan menghubungkannya dengan ventilator. Tubuh Valeska semakin lemas, matanya bergerak cepat, berputar seakan mencari sesuatu yang hilang.
"Kamu hebat, Nak. Terus berjuang," kata dokter Rijal dengan penuh perhatian.
Melihat keadaan ini, dokter Fahru segera menemui keluarga yang sudah menunggu di luar.
"Dok, anak saya baik-baik saja, kan?" tanya Delina dengan cemas.
"Valeska sudah sadar, namun kondisinya masih belum stabil. Jika ingin menjenguk, kami persilakan, tapi jangan berbicara tentang hal-hal berat dulu," jawab dokter Fahru.
Keluarganya pun datang, dengan harapan yang terpendam, mereka mendekati Valeska. Delina, dengan hati yang hancur, mengusap pipi anaknya.
"Adek ... Mama rindu, dek," ujarnya lirih.
Hanya ada kedipan mata sebagai respons. Delina menahan air mata yang hampir jatuh, lalu berkata dengan lembut.
"Jangan menangis, sayang, nanti kepalamu sakit lagi. Kita semua senang melihat perkembangan ini, apakah adek merasa bahagia melihat kami di sini?"
Dengan tangan yang penuh lebam dan bengkak karena infus, Delina mengelus lembut tangan putrinya. Dia tak mampu membayangkan betapa sakitnya Valeska.
"Sakit sekali ya, sayang?"
"Jika Adek ingin sembuh, kita akan berobat kemana pun yang adek mau, demi monster di kepala adek hilang," lanjut Delina, berusaha memberikan semangat.
Valeska hanya bisa mengedipkan mata, menandakan bahwa rasa sakitnya begitu luar biasa. Bukan hanya kepala, tapi seluruh tubuhnya merasakan perih akibat kemoterapi yang menghancurkan sel-sel sehatnya.
Delina mundur, memberi ruang untuk Girga dan Kaivandra agar lebih dekat dengan Valeska. Keduanya menatap seseorang yang amat berharga dengan mata penuh sendu.
Girga dengan lembut membelai rambut putrinya, merasakan betapa beratnya perjuangan Valeska. Namun, tak lama setelah itu, monster dalam tubuh Valeska kembali menyerang.
"Shh ... shh ..." erangan itu kembali mengisi ruangan, menghancurkan harapan yang baru saja tumbuh.
Perawat yang berjaga segera memberikan pertolongan. Dengan hati yang kembali hancur, Girga pun mundur, sedangkan Kaivandra memeluk mamanya yang sudah mulai menangis tak terkendali. Begitu keluar dari ruang ICU, Delina jatuh pingsan. Kaivandra menangis sambil berusaha membangunkan mamanya yang sudah terjatuh. Girga hanya bisa menatap Delina, segala harapan yang ada kembali hancur. Begitu dekat, namun begitu jauh. Duka kembali menyelubungi mereka.
****
3 jam kemudian, seorang perawat kembali mempersilakan pihak keluarga untuk masuk.
"Cantiknya abang." Sapa Kaivandra dengan penuh keceriaan.
Valeska berusaha memfokuskan pandangannya, tapi apalah daya, penglihatannya mulai kabur.
"Hebat sekali cantiknya abang ini, bisa bangun lebih cepat demi abang, dan demi Mama, Papa."
Valeska memandang sayu, dengan pikiran yang bingung karena sulit mencerna perkataan abangnya yang lumayan panjang. Kaivandra yang menyadari adiknya dilanda kebingungan, langsung kembali berkata.
"Nggak apa-apa, abang hanya senang aja. Nggak usah dipikirin."
Sementara Girga, dia mengalihkan pandangannya ke arah monitor yang menampilkan bahwa kondisi Valeska mulai stabil. Melihat putrinya yang sedikit tenang dari sebelumnya saja Girga sudah lega.
"Kalau hari ini semakin membaik, adek bisa keluar lho dari ruangan ini. Dan kita pun akan lebih leluasa menjenguk adek." Ucap Girga, membuat Valeska mengangguk.
Matanya yang mengerling ke setiap sudut, membuat Kaivandra paham. Adiknya itu sedang mencari seseorang.
"Nanti cantik, habis dipindahkan ke ruang rawat, Abang pasti kasih tahu teman-teman a dek buat ke sini. Adek rindu mereka?"
Valeska mengangguk, dia ingin mengatakan sangat rindu, tapi mulutnya tertutup oleh masker oksigen.
"Adek kuat banget, Mama bangga sama kamu," ucap Delina, tampak lebih semangat.
"Kata dokter, kalau dua jam ke depan kondisi adek makin stabil, maka adek bisa dipindahkan ke ruang perawatan khusus," Girga berkata, begitu lembut dan pelan-pelan agar mudah dipahami oleh putrinya.
Valeska menatap satu persatu anggota keluarganya, lalu sebuah senyuman pun terlihat di balik masker oksigen.
"Adek, sangat hebat dan kuat." Ucapnya lalu mencium kening Valeska. Dan Delina pun tidak mau kalah dari suaminya, sadar atau tidak, dia mencium di tempat yang sebelumnya Girga mencium kening putrinya.
"Ini nggak bikin matikan?" tanya Valeska dalam hati. "Seandainya, aku kalah sama penyakitku ini, gimana ya?" Lanjutnya.
***
Meskipun di hari kemarin kondisi Valeska telah stabil, namun dokter Fahru memutuskan untuk tidak segera memindahkannya. Baru hari ini, pukul 09:00 pagi, saat yang ditunggu-tunggu oleh Valeska dan keluarga akhirnya tiba.
Dengan penuh harap, Valeska dipindahkan ke ruang rawat khusus. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka saat kasur pesakitan, mengantarkan Valeska menuju ruangan baru. Selama perjalanan, Valeska hanya terdiam, merasakan kelemahan yang luar biasa di tubuhnya. Mata sayu nya, tertuju pada orang tuanya yang berjalan di depan, sementara perhatian orang-orang di sekitar teralihkan pada kasur yang dipenuhi berbagai alat medis di tubuhnya. Setibanya di ruang rawat, Valeska perlahan berbicara dengan suara pelan.
"Pu-pulang ..." ucapannya begitu lembut, dan kata itu terus berulang, seolah-olah memohon pada kedua orang tuanya.
Girga dan Delina saling bertatapan, karena bingung harus merespons seperti apa. Suara rengekan Valeska semakin jelas terdengar.
"Adek, pulangnya nanti saja ya, kalau adek sudah kembali sehat," ujar Girga dengan lembut.
Valeska menggelengkan kepala, menolak keras.
"Lho, kalau adek pulang sekarang, nanti dokter bakal marah. Emangnya adek mau kena marah sama dokter?" tanya Girga dengan nada yang sangat lembut.
"Pu-pulang ... adek mau pulang," jawab Valeska, kali ini suaranya semakin jelas, bahkan sampai urat dilehernya menonjol.
"Pu-pulang, P-papa ... adek mau pulang ..." suara itu terdengar lebih memohon, dan kini Girga menatap Delina dengan tatapan mencari solusi.
Pintu pun terbuka, dan menampilkan Kaivandra, dia baru saja kembali dari apartemennya dengan membawa pakaian ganti untuk Valeska. Ia merasa sedikit bingung melihat kedua orang tuanya saling bertatapan.
"Ma, Pa, kenapa?" tanya Kaivandra, penuh rasa ingin tahu.
Delina menoleh dan menjelaskan, "Ini dari tadi, adek minta pulang, bang. Padahal baru saja sampai diruangan."
Kaivandra mengusap wajahnya pelan, kemudian mendekati sang adik. "Cantiknya abang, kan dokter bilang adek masih butuh perawatan intensif. Nggak bisa langsung pulang begitu saja. Semua ini demi kebaikan adek juga," ujar Kaivandra dengan lembut.
"Nanti, kalau dirasa adek sudah cukup sehat, baru adek boleh pulang. Kita kumpul lagi, ya? Paham?" lanjut Kaivandra, mencoba meyakinkan adiknya.
Namun ,Valeska tetap menggelengkan kepala dengan keras. "A-adek ... nggak akan se-sehat lagi, bang. K-kepala adek ... sudah rusak," katanya terbata-bata, suara itu penuh kesedihan.
"A-adek ... nggak mau ... meninggal di sini. A-adek nggak mau," lanjutnya, dan kata-kata itu membuat mereka semua terperanjat.
"Adek belum bisa pulang. Adek harus di sini dulu, tolong ikuti peraturan dari dokter!" suara Girga terdengar lebih tegas, hampir seperti sebuah perintah.
Valeska tersentak mendengar nada tinggi itu. Ia terkejut dan tidak menduga papanya akan berbicara demikian.
"Takut," ucapnya dengan gemetar, pandangannya tertuju pada Kaivandra.
"Mas, maksud kamu apa berkata demikian? Valeska baru saja keluar dari ICU, tolong jaga emosinya!" ujar Delina, dengan suara pelan namun tegas, jelas menunjukkan ketegangan yang ia rasakan.
"Maafkan saya," kata Girga, menundukkan kepala sedikit. "Adek harus di sini dulu, setidaknya tiga hari."
Valeska menatapnya, dan meski wajahnya masih penuh ketakutan, ia mengangguk pelan. Yang terpenting dirinya bisa berada di rumah, meskipun itu bukanlah rumah yang dia harapkan.
"Pa, memang nggak apa-apa?" tanya Kaivandra, masih sedikit ragu.
Girga mencoba meyakinkan mereka berdua, "Nggak apa-apa, bang. Kita harus berpikir positif. Kalau Adek bahagia, itu bisa membantu proses pemulihannya ..."
"Dan nanti juga, Mama akan menemani Valeska di rumah Papa yang satunya lagi," lanjut Girga, meskipun kata-kata itu terdengar lebih seperti janji pada dirinya sendiri, tanpa menatap istrinya.