NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 24

Bunyi bel yang menandakan berakhirnya jam kuliah dua jam kemudian terdengar seperti melodi surga di telinga Amerta. Kakinya sudah terasa kebas, dan betisnya berdenyut nyeri akibat berdiri kaku selama seratus dua puluh menit tanpa jeda di dalam ruang kelas salah satu gedung tua Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia [FISIP UI]. Namun, rasa sakit di fisiknya sama sekali tidak sebanding dengan harga dirinya yang hancur berkeping-keping. Di depan puluhan mahasiswa jaket kuning lainnya, ia dijadikan tontonan oleh si iblis berkedok dosen itu.

Begitu Mahesa menutup laptopnya dan mengucapkan salam penutup yang terdengar sangat berwibawa, seluruh mahasiswa langsung bergegas membereskan barang-barang mereka. Amerta tidak mau membuang waktu. Dengan langkah agak pincang, ia menyambar tas ranselnya yang tergeletak di dekat meja dosen, berniat langsung kabur dari ruangan tanpa memandang wajah pria itu.

"Amerta. Tetap di tempat," suara bariton Mahesa menginterupsi, terdengar tenang namun mutlak.

Langkah Amerta terhenti. Beberapa temannya memberikan tatapan prihatin, sementara yang lain berbisik-bisik saat melangkah keluar menyusuri koridor. Setelah pintu kelas tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua di ruangan yang mendadak terasa sempit itu, Amerta berbalik dengan sentakan kasar. Napasnya memburu, matanya mendelik tajam, siap menumpahkan seluruh lahar kemarahan yang sudah ia bendung selama dua jam.

"Maksud Bapak apa, sih?!" sembur Amerta, sengaja menekankan kata 'Bapak' dengan nada sarkasme yang kental. "Sengaja banget, ya? Sengaja mau mempermalukan aku di depan anak-anak? CEO Dirgantara Group kurang kerjaan banget sampai harus repot-repot ke Depok cuma buat menyiksa aku?!"

Mahesa tidak langsung menjawab. Dengan gerakan santai dan elegan yang selalu berhasil membuat Amerta naik darah, pria itu memasukkan laptopnya ke dalam tas kulit premium. Ia kemudian bersandar di pinggiran meja, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Amerta dengan seulas senyum tipis—hampir tak kentara—di sudut bibirnya.

"Pertama, Universitas Indonesia bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang, dan saya di sini sebagai praktisi ahli atas undangan resmi dekanat, jadi tidak ada yang 'kurang kerjaan' di sini," ujar Mahesa, suaranya tenang tanpa riak. "Kedua, kamu terlambat, Amerta. Di kelas saya, aturan berlaku untuk siapa saja. Tidak ada pengecualian, bahkan untuk mahasiswa yang kemarin baru saja saya traktir es krim premium."

"Aku enggak minta ditaraktir!" pekik Amerta, wajahnya memerah sempurna karena dongkol. "Dan aku cuma terlambat satu menit! Satu menit, Mahesa!"

"Satu menit atau satu jam, terlambat tetaplah terlambat," balas Mahesa dingin, meski tatapan matanya mengunci wajah Amerta yang sedang merengut masam. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka mengikis. Aroma parfum wood dan amber yang maskulin langsung menguar, mengintimidasi indra penciuman Amerta. "Lagipula, mengeluh seperti itu tidak akan membuat kaki pegalmu sembuh, kan?"

Mahesa tiba-tiba merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi gel pereda nyeri otot, lalu meletakkannya dengan bunyi tuk pelan di atas meja di depan Amerta.

"Oleskan itu sebelum kelas selanjutnya. Saya tidak mau mahasiswa saya pingsan di koridor kampus dan mencoreng nama baik kelas saya," ucap Mahesa ketus, namun ada kilat jenaka yang bersembunyi di balik mata birunya.

Amerta menatap botol gel itu, lalu menatap Mahesa dengan pandangan tidak percaya. Pria gila ini benar-benar tidak punya urat malu! Setelah menyiksa, sekarang berlagak peduli?

"Enggak butuh!" Amerta menyentak botol itu hingga bergeser jauh, lalu menyampirkan tasnya ke bahu dengan kasar. "Mulai besok, aku bakal datang satu jam lebih awal. Dan jangan harap Bapak bisa melihat aku bikin kesalahan lagi di kelas ini!"

Tanpa menunggu balasan dari Mahesa, Amerta membalikkan badan dan menghentakkan kakinya keras-keras, berjalan cepat keluar dari ruangan. Di belakangnya, ia bisa mendengar kekehan rendah Mahesa yang terdengar begitu menyebalkan, menggema di ruang kelas yang sepi.

Sepanjang sisa hari itu, pikiran Amerta dipenuhi oleh rencana balas dendam. Kepalanya mendidih. Ia tidak bisa membiarkan Mahesa menang begitu saja. Saat jam makan siang di kantin, Amerta duduk sendirian di pojok ruangan, mengaduk-aduk es teh manisnya dengan penuh dendam, seolah-olah es batu di dalam gelas itu adalah kepala Mahesa.

Lihat saja nanti, batin Amerta berapi-api. Kamu pikir kamu bisa mengendalikan segalanya karena kamu punya uang dan kekuasaan? Aku akan cari cara untuk bikin kamu malu, minimal bikin kamu jengkel setengah mati!

Otak Amerta berputar cepat mencari celah. Mengingat Mahesa adalah seorang perfeksionis yang sangat menjaga citra diri dan kebersihan, Amerta mendapat sebuah ide cemerlang. Esok hari, Mahesa dijadwalkan akan mengisi kuliah umum dan seminar besar di aula utama gedung pusat yang wajib dihadiri oleh ratusan mahasiswa. Sebagai salah satu panitia dari himpunan, Amerta tahu bahwa ia bisa mengambil bagian dalam mempersiapkan meja dan podium pembicara.

Malam harinya di flat, Amerta dengan penuh semangat menyusun rencana. Ia membeli beberapa bungkus permen karet kunyah beraroma stroberi yang sangat lengket dan pewarna makanan merah pekat yang sulit hilang jika terkena kulit. Rencananya sederhana namun mematikan bagi seorang clean-freak seperti Mahesa: ia akan menempelkan permen karet di bagian bawah sandaran lengan kursi pembicara, dan mengoleskan sedikit cairan pewarna yang sudah dikeringkan setengah matang di gagang mikrofon yang akan digunakan pria itu. Begitu Mahesa memegang mikrofon, tangannya akan ternoda merah seperti darah, dan saat ia mencoba duduk dengan nyaman, tangannya akan menempel di permen karet.

"Rasakan itu, Monster gila. Kita lihat apa kamu masih bisa pasang muka sok keren di depan semua orang," gumam Amerta dengan tawa jahat yang tertahan di kamarnya. Paranoia tentang suara-suara aneh dari kamar sebelah mendadak sirna, digantikan oleh obsesi murni untuk membalas dendam pada Mahesa.

Keesokan paginya, Amerta datang ke kampus sangat awal, bahkan sebelum suasana kawasan UI Depok ramai oleh kendaraan. Dengan id-card panitia seminar, ia berhasil menyelinap ke aula yang masih sepi. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin. Dengan gerakan cepat, ia menempelkan permen karet di bawah lengan kursi utama di atas panggung, lalu mengoleskan tipis pewarna makanan di gagang mikrofon, persis seperti skenarionya. Setelah memastikan semuanya terlihat normal dari luar, ia buru-buru keluar dengan senyum kemenangan yang mengembang lebar.

Dua jam kemudian, aula sudah dipadati oleh ratusan mahasiswa berjaket kuning. Riuh rendah suara penonton mendadak senyap saat MC menyambut sang pembicara utama: Mahesa Dirgantara, CEO Dirgantara Group.

Mahesa berjalan naik ke atas panggung dengan langkah tegap yang memancarkan karisma mutlak. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak sangat pas di tubuh tingginya. Amerta, yang berdiri di barisan panitia di sudut panggung, menahan napasnya dengan mata berbinar penuh antisipasi. Ia merapatkan jemarinya, tidak sabar melihat kehancuran ekspresi Mahesa.

Mahesa mendekati meja podium, lalu tangannya bergerak meraih mikrofon di atas dudukan. Amerta melebarkan matanya. Ya, pegang itu!

Namun, tepat sebelum kulit Mahesa menyentuh gagang mikrofon, langkah pria itu terhenti. Mata birunya yang tajam menyapu permukaan mikrofon selama setengah detik. Entah bagaimana, dengan ketajaman insting seorang predator, Mahesa menyadari ada kilatan aneh yang tidak wajar pada gagang logam tersebut.

Bukannya langsung memegang, Mahesa justru merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar saputangan sutra putih, dan dengan gerakan yang sangat tenang serta elegan, ia menyeka gagang mikrofon tersebut. Noda merah pekat langsung berpindah ke saputangan putihnya.

Amerta tersentak di tempatnya berdiri. Rahangnya hampir jatuh ke lantai. Bagaimana bisa dia tahu?!

Mahesa menatap noda merah di saputangannya tanpa ekspresi terkejut sedikit pun. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dari mikrofon, memutar kepalanya perlahan ke arah sudut panggung, dan matanya langsung mengunci tepat pada siluet Amerta yang sedang membeku ketakutan. Mahesa menaikkan sebelah alisnya, memamerkan senyum miring yang sangat tipis—sebuah tatapan yang dengan jelas mengatakan: Trik murahan, Amerta.

Pria itu kemudian meletakkan saputangannya yang ternoda ke dalam saku, lalu mengambil mikrofon dengan saputangan lain yang bersih, dan mulai berbicara dengan suara baritonnya yang memikat, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Sepanjang seminar berlangsung, Amerta merasa seperti sedang diadili di atas bara api. Rencana balas dendamnya gagal total dalam hitungan detik. Yang lebih parah, Mahesa tahu dialah pelakunya.

Begitu seminar selesai dan aula mulai kosong, Amerta berniat langsung kabur untuk menyelamatkan diri. Namun, baru saja ia berbalik di belakang panggung, sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya. Bukan tepukan, melainkan sebuah amplop cokelat tebal yang disodorkan tepat di depan wajahnya.

Amerta menoleh dengan gugup dan menemukan Mahesa sudah berdiri di sampingnya, tanpa jas, hanya dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung.

"Rencanamu kreatif, tapi eksekusinya payah," bisik Mahesa tepat di dekat telinga Amerta, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Lain kali kalau mau menjebak saya, pastikan kamu tidak memakai parfum stroberi yang sama dengan aroma permen karet yang kamu tempel di bawah kursi. Baunya tertinggal di seluruh area panggung, Amerta."

Wajah Amerta memucat, lalu berubah menjadi merah padam karena malu yang luar biasa. Ia benar-benar bodoh! Ia lupa kalau ia sempat tidak sengaja menyentuh bajunya sendiri setelah memegang permen karet itu saat bersiap-siap.

"Ini apa?" tanya Amerta dengan suara mencicit, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk amplop cokelat di tangan Mahesa.

"Ganti rugi untuk saputangan sutra saya yang rusak karena pewarna makananmu," jawab Mahesa dengan nada santai yang dibuat-buat. "Di dalamnya ada daftar tugas tambahan untuk mata kuliah saya minggu depan. Kamu harus meringkas tiga buku jurnal internasional tentang manajemen konflik. Anggap saja ini hukuman karena mencoba menyabotase dosenmu sendiri."

Amerta merebut amplop itu dengan sentakan kasar, matanya menyala-nyala oleh rasa frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun. "Kamu... kamu benar-benar monster paling menyebalkan sedunia!"

Mahesa hanya terkekeh rendah, suara tawanya terdengar begitu renyah dan menyebalkan di telinga Amerta. Pria itu melangkah pergi menuruni tangga panggung, meninggalkan Amerta yang berdiri sendirian sambil meremas amplop cokelat itu dengan gemetar.

"Awas kamu, Mahesa! Aku pasti bakal bikin kamu balas budi!" teriak Amerta dalam hati, bersumpah demi sisa kewarasannya yang kian menipis. Permainan petak umpet ini baru saja dimulai, dan Amerta menolak untuk kalah lagi di babak berikutnya.

1
Emily
korporat miskin...x ya. kenapa gak bawa ke dokter aneh
Emily
pokoknya tau diri ajalah kau merta
Emily
ya udah klo simahesa cuek kamu cuek juga Amerta gak usah sibuk mau tau urusan si Mahesa..di anggap numpang di rumahnya
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
up doubel thor setiap hari
bulane: bismilah ya sayang kuu
total 1 replies
Reni Anjarwani
bagus sayang upnya lama
Tunik nur Agustina: udah up lagi tuh kak
total 1 replies
bulane
seruuu
Reni Anjarwani
lanjut
bulane: terimakasih atas dukungan nya
total 1 replies
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!