"Ahh!"
"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"
Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.
Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.
Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.
Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.
"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"
Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Leon D'Alterio menatap kosong ke arah luar jendela mobil antipeluru yang membawanya membelah jalanan kota. Di luar sana, kegelapan malam tampak begitu pekat, namun lampu-lampu jalanan dan sorot lampu dari beberapa kendaraan yang masih melintas seolah menjadi bukti bahwa langit malam yang hitam tidak pernah menjadi penghalang bagi denyut nadi kota. Leon mengalihkan pandangannya, menatap ke arah layar ponsel pintar di genggamannya, lalu menyalakan dayanya hingga binar cahayanya menerangi sepasang matanya yang dingin.
"Tuan, sebentar lagi kita akan tiba di lokasi tujuan," ucap Black dari kursi depan, memecah kesunyian malam yang langsung dijawab dengan anggukan kepala pendek dari Leon.
"Aku akan menghubungi mansion terlebih dahulu, Black. Entah mengapa ... sejak tadi perasaanku benar-benar tidak enak. Bocah nakal itu pasti sedang membuat ulah lagi di sana," gumam Leon rendah.
Tangannya bergerak lincah di atas layar ponsel, mencoba menghubungi sambungan telepon rumah utamanya. Tidak membutuhkan waktu lama, panggilan tersebut langsung diangkat di seberang sana, dan suara Lula, sang pengasuh setia putranya terdengar menyapa telinganya.
"Lula, masuk dan cek kamar tidur putraku sekarang juga. Pastikan apakah dia benar-benar sudah tidur dengan nyenyak atau belum," perintah Leon mutlak sembari melemparkan pandangan matanya kembali lurus ke depan menembus kaca mobil.
Dari seberang telepon, suara Lula terdengar ragu-ragu. "Tuan ... Tuan Kecil sama sekali tidak mau membuka pintu kamarnya sejak siang tadi. Beliau mengunci pintunya dari dalam rapat-rapat."
Jawaban itu seketika membuat kening Leon mengkerut dalam-dalam, guratan kecurigaan langsung tercetak jelas di wajah matangnya. "Itu tidak mungkin, Lula. Anak itu tidak akan pernah kuat menahan rasa lapar dalam waktu yang lama jika terus mengurung diri, dan kamu tahu betul tabiatnya, bukan?" ucap Leon dengan nada suara yang kian serius. Firasat buruk yang membayanginya sejak meninggalkan rumah kini terasa semakin nyata dan tidak keruan.
"Iya, Tuan, saya paham. Tapi mungkin saja Tuan Kecil sengaja membawa beberapa camilan masuk ke dalam kamarnya sejak siang tadi secara diam-diam. Sebentar, Tuan, coba saya cek kembali ke kamarnya sekarang," ucap Lula di seberang sana.
Leon menghela napas kasar, dipenuhi rasa dongkol yang membuncah. Ia menarik ponselnya menjauh dari telinga, meletakkannya di atas pangkuan sembari menatap lurus ke depan. Mobil mewah yang ditungganginya perlahan mulai memasuki area pelataran parkir sebuah hotel megah dan berhenti dengan sempurna. Mereka telah sampai di tempat penginapan yang akan Leon gunakan selama beberapa hari ke depan selama berada di pusat kota. Hotel bintang lima ini merupakan salah satu dari sekian banyak aset legal miliknya yang beroperasi di sektor pariwisata.
Black dengan sigap turun dari pintu kemudi terlebih dahulu, melangkah cepat menuju pintu belakang untuk membukakan pintu bagi Leon. Sementara itu, dari dua mobil pengawal yang terparkir di garis depan dan belakang, belasan pria berjas hitam langsung turun dan dengan cekatan menyebar, menjaga ketat seluruh situasi sekitar demi memastikan tidak ada ancaman yang mendekat. Leon membenarkan letak kerah jas hitamnya sejenak sebelum bersiap melangkahkan kaki keluar dari kabin. Namun, tepat sebelum sepatunya menginjak lantai, ponsel di genggamannya kembali berdering keras. Layarnya menampilkan nama Lula. Leon segera mengangkatnya tanpa membuang waktu.
"Lula, cepat berikan—"
"TUAN KECIL HILANG, TUAN!"
Teriakan histeris Lula dari seberang telepon seketika membuat ekspresi wajah Leon berubah drastis dalam sekejap mata. Seluruh otot wajahnya menegang kaku, rahangnya mengeras hebat, dan sepasang manik matanya menajam, memancarkan kilat amarah yang teramat mengerikan.
"Hilang?" desis Leon, suaranya mendadak berubah menjadi serendah dan sedingin es yang membekukan atmosfer sekitar.
"Iya, Tuan! Tadi saat saya mencoba masuk ke dalam kamarnya dengan menggunakan kunci cadangan yang saya ambil, kondisi kamarnya ternyata sudah kosong! Tuan Kecil tidak ada di dalam sana, saya sudah meminta seluruh pengawal yang tersisa di mansion untuk membantu mencari ke seluruh sudut area!" ucap Lula dengan nada suara yang dipenuhi kepanikan luar biasa hingga terdengar gemetar.
Tangan kiri Leon mengepal kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang siap meledak menghancurkan apa saja. "Benar-benar tidak berguna!" desis Leon tajam sebelum langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Black, batalkan semua agendaku! Kita kembali ke mansion sekarang juga!" titah Leon keras, memutar tubuhnya dengan kasar dan berniat untuk kembali masuk ke dalam kabin mobil.
"Tuan! Mohon tunggu sebentar, Tuan!"
Seruan tertahan dari Black seketika membuat Leon mengurungkan niatnya untuk melangkah masuk. Pria itu menolehkan kepalanya dengan dahi mengkerut dalam, menatap ke arah bagian belakang mobil di mana Black baru saja membuka pintu bagasi. Tatapan mata tangan kanannya itu tampak terpaku menatap ke dalam ruang bagasi dengan ekspresi wajah yang sarat akan keterkejutan yang luar biasa, seolah-olah baru saja melihat hantu.
Leon melangkah lebar mendekati Black, berniat melihat apa yang sebenarnya sedang disaksikan oleh bawahannya tersebut. Dan tepat saat matanya menjangkau isi dalam bagasi, seluruh kata-kata Leon mendadak tertahan di tenggorokan.
"Bocah nakal ini ...," desis Leon dengan suara yang bergetar menahan amarah yang mendadak bercampur dengan rasa tak percaya.
Bagaimana tidak? Jauh di dalam ruang bagasi yang sempit dan dikelilingi oleh udara pengap, ia melihat putra kandungnya sendiri, Enzo, sedang tertidur dengan sangat lelap. Bocah mungil itu meringkuk pasrah di antara sela-sela koper besar miliknya, dengan sebuah ransel kecil yang masih terpasang erat di punggung kecilnya. Anak itu rupanya telah menghabiskan waktu berjam-jam berada di dalam bagasi mobil yang melaju tanpa diketahui oleh siapa pun.
Leon menatap wajah damai tanpa dosa putranya dengan sepasang mata yang menyipit tajam. Aura di sekeliling tubuh sang pemimpin tertinggi Cosa Nero seketika menggelap secara ekstrem, memancarkan hawa dingin yang mengintimidasi hingga membuat Black yang berdiri di sampingnya refleks menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"Sepulang dari kota nanti ... Daddy benar-benar akan memberikanmu sebuah pelajaran yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan seumur hidupmu, Enzo. Mulai detik ini ... tidak akan ada lagi kelonggaran untukmu," desis Leon dengan nada suara yang teramat mutlak, mengunci takdir sang penerus di dalam kegelapan malam.
🤣
Kamu dan s' Hitam Aku pantau...
Onty Jum cuma banget...
bagi lh catu...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣