NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Dinding Es

Citra membuka pintu ganda kayu ek besar menuju ruang kerja Adrian. Ruangan ini jauh lebih modern daripada ruang kerja di rumah. Dinding bagian luar sepenuhnya terbuat dari kaca tebal berkekuatan tinggi, menyuguhkan panorama seluruh kota Jakarta dari ketinggian yang menakjubkan.

"Masuklah ke pintu sebelah kanan itu, itu ruang istirahat pribadi Tuan Muda. Letakkan jas di sana, lalu taruh kotak dokumen di atas meja utama ini," instruksi Citra dengan terburu-buru karena ponselnya tiba-tiba berdering. "Aku harus menerima telepon penting ini dulu. Kamu bisa keluar sendiri setelah selesai."

"Baik, Ibu Citra."

Kirana melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang kosong itu. Aroma parfum maskulin mewah milik Adrian yang khas langsung memenuhi indra penciumannya, membuatnya merasa seolah-olah pria itu sedang berdiri di dekatnya.

Ia berjalan menuju ruang istirahat pribadi—sebuah kamar minimalis yang dilengkapi tempat tidur kecil dan kamar mandi dalam—dan menggantung jas abu-abu gelap itu dengan rapi di dalam lemari.

Setelah selesai, ia keluar kembali ke ruang kerja utama untuk meletakkan kotak kayu di atas meja. Namun, tepat saat ia meletakkan kotak itu, pintu penghubung ke ruang rapat di sisi lain ruangan tiba-tiba terbuka dengan sentakan keras.

Adrian melangkah masuk dengan langkah besar yang sarat akan amarah yang dingin. Di belakangnya, dua orang direktur paruh baya berjalan mengekor dengan wajah yang pucat pasi dan pelipis yang bersimbah keringat dingin.

"Aku tidak menerima alasan 'kesalahan teknis' untuk kerugian lima puluh miliar dalam proyek pelabuhan baru," suara Adrian terdengar sangat rendah, namun ketegasannya yang mematikan membuat kedua pria tua itu gemetar hebat. "Kalian memiliki waktu hingga besok pagi untuk melacak ke mana aliran dana itu pergi. Jika tidak... kalian tahu sendiri bagaimana Keluarga Arseto menyelesaikan masalah dengan para pencuri."

"B-Baik, Tuan Muda! Kami akan segera melacaknya!" kedua direktur itu membungkuk hampir sembilan puluh derajat sebelum berbalik pergi dengan tergesa-gesa melalui pintu luar, seolah-olah baru saja lolos dari cengkeraman singa.

Suasana ruangan seketika menjadi hening dan pekat. Adrian berdiri membelakangi ruangan, menatap lurus ke luar jendela kaca besar dengan kedua tangan yang bertumpu di pinggang. Napasnya terlihat memburu menahan geram.

Kirana yang berdiri di sudut ruangan menahan napasnya. Alih-alih bersembunyi atau menyelinap keluar dengan diam-diam agar tidak terkena imbas amarah sang majikan, Kirana justru melangkah maju perlahan, mendekati meja kerja.

"Tuan Muda Adrian," panggil Kirana dengan suara yang lembut, bagai petikan harpa di tengah badai yang bergemuruh.

Adrian tersentak kecil, lalu berbalik dengan cepat. Matanya yang tajam menatap Kirana dengan kilatan keterkejutan yang bercampur kesal. "Mengapa kamu ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kantor ini?"

Kirana tidak mundur. Ia mengisyaratkan kotak kayu di atas meja dengan pandangan matanya. "Ibu Maya yang mengutus saya untuk mengantarkan dokumen penting ini dan jas tambahan Anda, Tuan Muda. Saya baru saja selesai meletakkannya."

Adrian menghela napas kasar, memijat pelipisnya yang tampak berdenyut tegang. Sifat tegas dan kejamnya biasanya membuat semua orang di kantor ini langsung tiarap jika ia sedang marah, namun gadis pelayan ini tetap berdiri di sana dengan wajah riang yang tenang, seolah kemarahannya tidak lebih dari sekadar angin lalu.

"Tugasmu sudah selesai. Keluar," perintah Adrian dingin, namun tidak ada nada mengancam yang mematikan seperti yang ia berikan pada kedua direktur tadi. Ada setitik retakan di dinding esnya yang memperlihatkan rasa lelah yang amat sangat.

Kirana melihat retakan itu dengan ketajaman otaknya. Ia melangkah memutari meja kerja besar itu, berjalan mendekati Adrian hingga jarak mereka kembali terkikis.

"Saya akan keluar, Tuan Muda," ujar Kirana dengan nada manja yang samar namun penuh percaya diri. "Tapi sebelum saya keluar... bolehkah saya memberikan satu saran kecil yang cerdas?"

Adrian menyipitkan matanya, menatap gadis cantik di hadapannya ini. "Saran apa?"

Kirana sedikit berjinjit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Adrian, membuat aroma harum tubuhnya yang segar bercampur aroma sabun mandi kediaman tercium oleh Adrian.

"Kemarahan membuat garis di dahi Anda yang tampan ini semakin tebal, Tuan Muda. Jika Anda terus seperti ini, dalam waktu dua tahun Anda akan terlihat seperti pria berusia empat puluh tahun. Dan itu... akan sangat merugikan bagi saya yang menyukai wajah tampan Anda ini."

Setelah membisikkan kata-kata yang sangat berani dan menggoda itu, Kirana mundur dua langkah, memberikan senyuman manisnya yang paling memikat dengan binar mata bulatnya yang nakal.

Adrian terpaku di tempatnya berdiri. Rahangnya mengeras, namun bukan karena marah, melainkan karena jantungnya memberikan reaksi aneh—sebuah letupan detak yang tidak biasa setiap kali gadis ini berada terlalu dekat dengannya. Ia berpura-pura seperti tidak terpengaruh, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi sedatar papan tulis.

"Kau benar-benar tidak takut mati, Kirana," ucap Adrian dengan suara rendah yang bergetar tipis.

"Saya hanya takut jika Tuan Muda tidak bisa menikmati kopi buatan saya lagi besok pagi," balas Kirana dengan tawa kecil yang renyah. Ia membungkuk hormat dengan sangat anggun. "Saya pamit kembali ke kediaman, Tuan Muda. Jangan lupa memakai jas pilihan saya untuk pertemuan nanti."

Kirana berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang santai dan penuh kemenangan. Di balik mejanya, Adrian berdiri diam, menatap pintu yang tertutup setelah kepergian Kirana. Tangannya perlahan meraba pelipisnya sendiri, lalu beralih ke kotak kayu yang dibawa gadis itu.

Untuk pertama kalinya di dalam ruang kerja kantor yang dingin itu, sudut bibir sang penguasa dunia bawah berkedut membentuk sebuah senyuman tipis yang tulus yang tidak diketahui oleh siapa pun di dunia ini, kecuali oleh keheningan ruangan itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!