NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemberontakan yang Bungkam

Matahari baru saja menampakkan semburat jingganya di ufuk timur ketika Fatimah akhirnya memutar selot kunci kamarnya.

Suasana rumah masih begitu sepi, hanya terdengar deru halus mesin penanak nasi dari arah dapur.

Dengan mengenakan gamis hitam longgar, khimar lebar yang senada, serta cadar yang telah terpasang rapi, Fatimah melangkah keluar.

Di pundak kanannya, sebuah tas ransel besar berayun berat. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti memijak duri, namun tekadnya sudah bulat.

Saat melewati ruang tengah, Fatimah tertegun. Di atas sofa tua, Faisal tampak tertidur pulas dengan posisi meringkuk, masih mengenakan sarung dan kaus semalam.

Di atas meja di dekatnya, berserakan beberapa lembar brosur universitas swasta—brosur yang kemarin malam didekap Fadia dengan penuh tawa.

Fatimah memalingkan wajahnya dengan cepat. Rasa nyeri kembali menusuk dadanya.

*Bungkam*, itulah jalan yang ia pilih sekarang. Ia tidak akan berteriak lagi seperti kemarin, karena teriakan hanya akan membuahkan cap durhaka.

Namun, diamnya Fatimah saat ini bukanlah tanda ia menyerah sepenuhnya, melainkan sebuah bentuk protes paling senyap dari seorang anak yang terluka.

"Fatimah?"

Langkah Fatimah terhenti tepat di dekat pintu depan. Di ambang pintu dapur, Ibu berdiri dengan daster batiknya, memegang sebuah spatula.

Matanya yang sembap langsung terbelalak lebar begitu melihat tas ransel besar yang bertengger di pundak putrinya.

"Kamu... kamu mau ke mana, Nak?"

Tanya Ibu dengan suara bergetar, buru-buru meletakkan alat masaknya dan berjalan menghampiri Fatimah.

"Kenapa bawa tas besar lagi? Kamu mau kabur?"

Suara Ibu yang panik rupanya cukup keras hingga membuat Faisal yang tertidur di sofa langsung tersentak bangun.

Pria itu mengucek matanya, lalu ikut terkejut melihat penampilan adiknya yang sudah siap bepergian.

"Fatimah! Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?"

Faisal langsung bangkit, menghadang langkah Fatimah yang hendak meraih gagang pintu utama.

Fatimah menunduk, menatap lantai semen di bawah kakinya. Di balik cadarnya, ia mengembuskan napas perlahan untuk mengontrol emosinya yang mulai naik.

"Fatimah tidak kabur, Bu, Mas," jawab Fatimah, suaranya terdengar sangat datar dan dingin, kehilangan kehangatan yang biasanya selalu ada.

"Fatimah hanya mau kembali ke pesantren. Kemarin Fatimah pulang terburu-buru dengan Mas Faisal, jadi sisa kitab, pakaian, dan barang-barang pengabdian Fatimah masih ada yang tertinggal di asrama."

"Tapi kenapa harus sekarang, Dek? Wajahmu masih pucat begitu," Faisal mencoba memegang tali ransel Fatimah, berniat menahannya.

"Soal barang-barangmu, nanti biar Mas yang ambilkan ke pesantren. Kamu di rumah saja dulu, kita selesaikan masalah ini baik-baik."

"Tidak perlu, Mas. Fatimah bisa ambil sendiri," tukas Fatimah tegas namun tetap menjaga nadanya agar tidak meninggi.

Ia menarik pelan pundaknya agar Faisal melepaskan pegangannya.

"Fatimah juga butuh berpamitan secara resmi dengan Ustazah Zahra dan pengurus pesantren lainnya. Tidak sopan kalau Fatimah pergi begitu saja setelah empat tahun dibimbing di sana."

Ibu berjalan mendekat, air matanya kembali mengalir mendapati sikap dingin putrinya.

"Fatimah... Ibu mohon, jangan begini. Jangan hukum Ayah dan Ibu dengan diammu, Nak."

"Ayahmu sejak subuh tadi terus menanyakanmu, tapi dia takut untuk mengetuk pintumu..."

Mendengar nama Ayah disebut, pertahanan Fatimah sempat goyah sejenak.

Namun, bayangan tentang ketidakadilan yang ia terima dan tuduhan "anak durhaka" kemarin malam kembali mengeraskan hatinya.

"Fatimah pergi dulu, Bu. Assalamu'alaikum," ucap Fatimah pendek.

Ia tidak mencium tangan ibunya, tidak juga menoleh pada Faisal. Dengan gerakan cepat, Fatimah membuka pintu depan, melangkah keluar menembus udara pagi yang dingin, meninggalkan rumahnya dalam keheningan yang mencekam.

Di belakangnya, Ibu hanya bisa terduduk di lantai teras sembari menangis, sementara Faisal menatap kepergian adiknya dengan perasaan bersalah yang teramat dalam.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!